Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 219. Dendam Kesemsem.


__ADS_3

Hampir satu jam, dan hasilnya? Hanya membuat Reyhans menghela napas pelan. Ia masih diam, menatap Radha yang menunggu jawabannya. Namun, jika begini rasanya lebih baik Radha tak tahu untuk sementara.


"Ada apa, Kak?" tanya Radha dengan wajah cemasnya, harap-barap jawaban Reyhans tak membuatnya semakin lemah, akan tetapi pria itu justru memilih diam dan tak berkata apa-apa.


"Belum dapat petunjuk, Ra ... tolong tenang ya, Gian tidak selemah itu, kamu tau sendiri kan?"


Iya, Gian memang tidak lemah. Bahkan sangat amat kuat, akan tetapi bagaimana jika hari sial itu emang ada, dan tak menutup kemungkinan Gian juga bisa Merasakannya.


"Ya Tuhan, kemana dia."


Cukup lama mereka berkeliling menuju penjuru kota. Dan laporan salah satu anak buah Reyhans yang melihat mobil Gian menuju salah satu hotel memang menjadi angin segar, akan tetapi di sini ada Radha yang membuatnya membatasi langkah karena takut istri bosnya ini akan berpikir macam-macam.


"Hari sudah hampir gelap, apa tidak sebaiknya kamu pulang saja, Ra?"


Sungguh, Reyhans sangat berharap akan jawaban iya dari Radha saat ini. Karena jujur saja, dengan adanya Radha dia justru merasa terbebani. Karena bagaimanapun juga, Reyhans tak bisa bergerak banyak.


"Aku buat Kakak makin sulit ya? Atau bagaimana?"


Apa yang Reyhans pikirkan dapat Radha tangkap dengan jelas. Dan memang pria itu terlihat gelisah bahkan terus meminta Radha untuk pulang saja.


"Sekarang gini deh, kalau Kakak nggak mau aku ikut, aku bakal cari dia sendiri. Aku nggak bodoh ya, aku tanya Mama sama om Randy juga gak tau dimana Kak Gian, dan dari tadi Kakak cuma ngajak aku muter-muter doang begini."


Merasa Reyhans terlalu menganggapnya manja dan tak bisa apa-apa, Radha merasa tersinggung tentu saja. Karena saat ini, dia sekhawatir itu pada Gian.


"Radha, bukan begitu ... tapi masalahnya, kamu lagi hamil dan ini bukan masalah sepele, kita lapor Polisi juga percuma, kita tidak tau seberapa bahayanya Gian di luar sana."


Bukannya tenang, mendengar ucapan itu Radha makin panik tentu saja. Jangankan pulang, turun dari mobil saja ia enggan.


"Jangan berhenti sebelum Kak Gian ketemu, aku pulang jika suamiku juga pulang."


Reyhans tak punya pilihan, karena memang Radha tak semudah itu dia atur. Hujan semakin deras, dan Radha berkali-kali menggigit bibirnya berusaha menguatkan diri dan menghilangkan pikiran-pikiran buruk tentang suaminya kini.


-


.

__ADS_1


.


.


Meninggalkan hiruk pikuknya jalanan dan kacaunya pikiran Reyhans. Kini di kamar hotel, sepasang kekasih tengah berdebat menanti pria yang terbaring di tempat tidur, dia sangat lelap dan tak bisa menyadari apa yang tengah ia alami.


"Apa tidak keterlaluan?" tanya Celine menatap tak tega Gian yang masih belum sadar juga dibawah pengaruh obat, dosis tinggi dan mungkin dalam artian lain Juan ingin membuatnya tak hanya sebatas tidur.


"Kenapa? Kamu menyukai pria ini?"


Bukannya menjawab, Juan malah balik bertanya. Manik Celine tak bisa berbohong jika dia mengangumi Gian, terbukti dengan cara Celine melucuti pakaiannya sangat lembut dan hati-hati, dan itu dapat Juan tangkap dengan jelas.


"Ck, apa maksudmu? Mana mungkin aku menyukai pria lain, Juan."


"Hahah, jangan mengelak, Sayang ... mata wanita tak mampu berbohong kan pada kenyataannya."


Juan mengangkat dagu Celine, wanita ini tampak mengalihkan pandangan. Menghindari tuduhan juan yang membuatnya terancam kehilangan kekasihnya.


Walau memang, jujur saja perasaan ingin memiliki itu masih ada. Sejak dahulu, Celine sudah menyukai Gian dan fakta bahwa Gian adalah suami dari saudara tirinya membuat sakitnya Celine seluarbiasa itu.


Kemenangan sudah didepan mata, menggunakan Celine sebagai objek untuk membuat rencananya semakin mulus adalah pilihan paling tepat.


Sebelum membuat Gian babak belur, setidaknya ia ingin menciptakan cara agar Radha mau pergi dari pria itu nantinya. Dan dengan bodohnya, Celine tanpa banyak bertanya rela menuruti perintah Juan untuk melakukan hal gila itu.


"Wajahku terlalu jelas, aku takut Papa akan marah, Juan."


"Haha percaya padaku, apa menurutmu foto ini akan sampai diketahui Papamu? Aku rasa tidak akan, Sayang ... pria ini pasti akan menutup rapat rahasia ini."


Juan meyakinkan Celine bahwa apa yang mereka lakukan takkan melibatkan Ardi ataupun pihak lainnya.


"Terserah kamu saja, selagi kau senang," ucapnya dengan senyum lembut seakan memang tulus, sebodoh itu, entah cinta macam apa yang Juan miliki hingga meminta kekasihnya untuk mengorbankan tubuhnya bersentuhan dengan pria lain.


Wanita itu kini berlalu, dan melakukan tuntas tugasnya hingga kembali memakaikan kemeja Gian yang sempat ia lucuti, dan kini tersisa Juan menanti kesadaran pria itu.


"Hm, istrimu sepertinya akan percaya jika kau bunuh diri," tutur Juan mengangkat pergelangan tangan Gian, menatapnya dengan senyum tipis dan ia sudah tak sabar ingin mengambil langkah cepat.

__ADS_1


Ia sempat merogoh saku celananya, pisau kecil dan tajam itu sudah berhasil keluar dari sana. Juan sudah haus, apa yang Gian lakukan padanya masih terbayang jelas dalam ingatan.


Tapi tidak, tujuan Juan bukan untuk membunuhnya, tapi membuatnya perlahan tersiksa, terutama melalui Radha.


"Tidurlah kawan, aku masih baik padamu hari ini."


Juan menghela napas panjang, melepaskan mangsa padahal sudah sangat tepat begini rasanya sangat berat. Ini adalah kesempatan emas bagi Juan, jika dia mau, pria ini dapat dia habisi hanya dengan sekali tindakan, akan tetapi tujuannya bukan ini.


"Hm, waw istrimu banyak sekali menelpon, segera kabari dia, sepertinya khawatir."


Nyatanya ponsel Gian dialah yang menyimpan. Usai berhasil menjerat Gian dengan memasukan sesuatu kedalam minumannya ketika makan siang, semua memang berjalan mulus.


Tentu saja Juan tak sendiri, dengan uang dari Celine dan juga Helena yang ia jadikan sumber dana, cukup untuk menyewa jiwa haus uang untuk mau melakukan ini dan itu yang Juan perintahkan.


Dengan sekasar Itu ia melemparkan ponsel Gian di sisi ranjang, tak lupa dengan dompet dan juga kunci mobilnya. Semua ia atur seakan Gian yang pergi ke tempat ini sendirian secara sadar dan bukan karena siapapun.


Juan harus cepat, karena sudah cukup lama dia membuat Gian tak berdaya di tempat ini. Dan secara sadar ia tahu siapa Gian, mana mungkin mereka hanya akan diam saja, terutama Reyhans dan juga anak buahnya.


"Sialan!!"


Dan benar saja, seperti dugaan Juan, baru saja ia keluar dari kamar itu, beberapa orang sudah berada di tak jauh darinya. Tak salah lagi, sepertinya mereka tengah mencari bos mereka, Juan lupa jika Reyhan tak semudah itu ia bodohi.


"Jangan asal dobrak!! Kau mau kita salah kamar lagi?"


"Aktingmu yang lemah, sudah kukatakan tidak usah kaget, namanya juga hotel."


"Tapi kan ini belum malam, Jo."


"Sudah diam!! Yang kita cari itu si Bos, kenapa pikiranmu malah kesana?"


Perdebatan mereka sangat luar biasa, nekat mengaku tengah melakukan pencarian seorang buronan pada pihak hotel membuat Jonatan dan Mario mendapatkan pemandangan yang menodai matanya.


TBC


Gian diapaian Thor?

__ADS_1


Dia gasadar, cuma bobok. Dan semisal ini nggak sesuai dengan bayangan kalian yang dia bakal di hajar habis-habisan, atau yang bayangannya harusnya Radha yang diculik, nanti Gian jadi pahlawannya, eits!! Enggak ya! Aku sudah pake alur itu di kisah Raka Jelita, buat apa aku pake lagi. Dan jujur buat action itu bukan otak aku, bisanya emang cuma di komedi sayanya.


__ADS_2