
Tanpa berpikir buruk, Radha berlari keluar sendirian. Ia melupakan pesan Gian untuk selalu didampingi kemanapun ia melangkah, dan kini Radha lengah.
“Celine? Mau apa?”
Terkejut, dan Radha tak berniat sama sekali untuk mengajak saudara tirinya ini untuk masuk. Kehadirannya saja sudah membuat Radha sakit mata, dan penampilan Celine yang sedikit berbeda membuat Radha diam sejenak.
“Papaku mana? Kau pasti tau dimana papaku kan?!!”
“Papaku, bukan Papamu.”
Bahkan saat bertanya, mereka masih berdebat akan hal itu. Radha yang memang putri tunggal Ardi jelas tak terima kala seseorang yang bukan darah daging Ardi menguasai papanya.
Nampaknya Celine semakin kacau, karena semenjak pesta ulang tahun itu memang Ardi lebih kerap menemuinya, bahkan di depan istri dan anak tirinya, Ardi memanjakan Radha dengan tulusnya.
“Jawab saja, Papa tidak pulang sejak beberapa hari lalu, pasti kau yang mempengaruhinya kan?!!” bentak Celine yang hanya ditanggapi Radha dengan cebikan bibir, sama sekali ia tak peduli kalaupun Celine akan mengamuk kali ini.
“Kau pikir aku punya waktu untuk itu? Bukankah Papa lebih banyak mengorbankan waktu bersamamu, lantas kenapa bertanya padaku?” tanya Radha santai yang membuat Celine semakin memanas, reaksi santai Radha justru membunuh Celine perlahan.
“Aaaarrrggghhh kau memang membuat sial, Radha!! Wajar saja papa membuangmu, persis seperti membuang mamamu.”
PLAK
Tanpa aba-aba, untuk pertama kalinya Radha melampiaskan amarahnya dengan kekesaran pada Celine. Karena baginya ini sudah kelewatan, jika selama ini dia diam, bukan berarti ia takut, dia hanya membebaskan Celine untuk tetap menari dalam kekuasaan semu yang sebenarnya sama sekali bukan untuk dia.
“Kau? Berani kau men ….”
PLAK
“Jangan membawa mamaku, mamaku hanya mengalah ketika papaku memungut sampah dari tempat kerjanya,” tutur Radha menohok dan tak peduli seberapa pedas ucapannya.
Celine masih tak percaya, wajahnya masih terasa sangat panas. Belum pernah Radha berani melakukan kekerasan padanya, seberapa parah pun Celine menyakitinya.
“Sampah katamu? Kau pikir, jika sesuatu telah dibuang, bukankah artinya itu tidak berguna … dan faktanya, mamamu yang dibuang.”
“Tolong bedakan dibuang dan memilih pergi, dan kau jangan lupa, di dunia ini tidak ada yang lebih hina daripada wanita perusak kebahagiaan orang lain, Celine.”
Mereka telah sama-sama dewasa, yang Radha bela bukan hanya mamanya sebagai bentuk perlawanan terhadap saudara tirinya. Akan tetapi, ia tengah menekan harga diri Celine sebagai wanita.
“Mamaku tidak merusak kebahagiaan kalian, tapi, memang Papa tidak menemukan kebahagiaan itu, jadi jangan pernah salahkan mamaku, Radha.”
Memang benar, pada dasarnya berdebat dengan manusia tanpa harga diri takkan pernah ada habisnya. Radha tetap terlihat santai, meski kini hatinya terguncang luar biasa, suasana hati yang selalu dijaga dengan baik, kini rusak secepat itu karena kedatangan perempuan di depannya ini.
__ADS_1
“Hm, apa ada lagi yang ingin kau tanyakan? Aku harus masuk, kak Gian melarangku bertemu orang asing.” Dengan tatapan santai, tanpa beban Radha membuat Celine bungkam.
Tangannya sudah mengepal, namun ingin membalas tamparan Radha ia tak seberani itu. CCTV belum lagi penjaga rumah tampaknya tak jauh dari mereka, Celine masih mempertimbangkan hal itu.
“Pergilah, kau bisa pulang sendiri kan?”
Saat ini, harga diri Celine benar-benar di injak Radha tanpa ampun. Niat hati ingin membuat Radha patah hati, nyatanya dirinya yang justru patah dan ciut dengan segala ucapan Radha. Bukannya mendapat kepastian dimana Ardi berada, Celine justru semakin tertekan saja.
“Dua wanitamu bertemu, Bos … apa yang harus aku lakukan?”
“Cukup awasi, aku masih menginginkan keduanya,”
Dari jarak yang tak seberapa jauh, Radha tak menyadari jika seseorang justru tengah mengawasi gerak-geriknya. Karena ia tak pernah berpikir macam-macam, selagi semua baik-baik saja baginya tidak ada yang salah.
-
.
.
.
Reyhans menyadarkan atasannya ini, sudah hampir 15 menit dia menunggu dan Gian masih bertahan dengan posisinya. Untuk pertama kalinya ia melamun dan manatap nanar tanpa arah, dugaan pertama mungkin Gian sakit, namun sepertinya tidak demikian.
“Ck, kau mengangetkan saja, ada apa?” Bukannya sadar dia malah marah, benar-benar respon yang halal untuk dipukul.
“Kau kenapa? Apa yang kau pikirkan?”
“Hm, masa depan, Rey … kau tidak mau ikut memikirkannya juga?” tawar Gian yang sama sekali tak membuat Reyhans tertarik sama sekali.
Dia pikir Gian pusing karena hal yang berkaitan dengan dengan pekerjaan, namun nyatanya mengkhayal untuk beberapa waktu kedepan.
“Tidak, terima kasih.”
“Oh iya, boleh aku bertanya?” Gian beralih menatap Reyhans yang tengah menunggu perkataannya.
“Silahkan,” tutur Reyhans masih berusaha sopan.
“Jika anakku perempuan, akan lebih cantik dia rambut panjang atau pendek saja ya, Rey?”
Reyhans pikir Gian akan bertanya apa, nyatanya sebuah pertanyaan paling konyol yang pernah ada di dunia. Untuk apa dia menanyakan hal semacam itu, bahkan kandungan Radha masih beberapa minggu, dan bisa-bisanya Gian membayangkan penampilan putrinya nanti.
__ADS_1
“Sepertinya bayanganmu terlalu jauh, Gi, apa tidak sebaiknya untuk saat ini fokus saja menjaga kandungannya, masih sangat lama untuk sampai di tahap itu.”
“Ck, apa salahnya kita berpikir jauh, bukankah itu adalah hal baik, Reyhans?” Gian tak terima, pasalnya dia juga tahu jika hal yang Reyhans ucapkan adalah sesuatu yang memang harus ia lakukan, dan sejak saat ini telah ia lakukan.
“Iya, memang tidak ada salahnya, tapi yang kau pikirkan terlalu jauh, Bos.”
“Dasar tidak seru, kau belum merasakan jadi aku, makanya pikiranmu masih sempit,” tutur Gian seakan pikirannya paling luas sedunia.
Gian terdengar bercanda, namun tidak dengan wajahnya. Pria itu sedikit murung, tapi sepertinya bukan karena rindu pada istrinya seperti kemarin. Melainkan lebih kepada sedikit bingung dan khawatir akan hal yang ia tengah ia alami.
“Sebenarnya ada apa, Gi?” desak Reyhans lagi, karena sepertinya ada yang tidak beres dengan diri Gian.
“Kemarin Radha dapat surat, tanpa nama pengirim dan isinya membuatku sangat mual.”
Gian mulai membuka pembicaraan, karena memang hal ini menganggunya sejak tadi. Hanya di depan Radha saja ia seakan baik-baik saja.
“Surat?”
“Hm, tulisan tangan dengan tinta merah yang isinya seperti isyarat cinta dewasa, dan aku membencinya.”
Gian mengepalkan tangannya, tulisan itu melukai hatinya. Andai Radha melihat mungkin istrinya itu akan memilih untuk tak bertemu pria lain selain Gian.
“Mana suratnya?”
“Itu,” jawab Gian polos menunjuk kotak sampah, dan tanpa menunggu Reyhans segera menuju tempat sampah itu untuk memeriksanya secara langsung.
“Mana?”
“Sudah jadi abu, Reyhans … kemarin aku bakar,” tutur Gian tanpa dosa, sungguh membuat Reyhans mengurut dada, kenapa tidak sejak tadi, pikir Reyhans.
“Dasar bodooh!! Bagaimana aku bisa mencari tahu lebih lanjut jika kau musnahkan seperti itu, Dirgantara.” Untuk pertama kalinya Reyhans memaki atasan yang otaknya mungkin ketinggalan dibelakang rumah.
“Kenapa kau memakiku?”
“Maaf, aku tidak sengaja.”
Hampir saja, gaji terpotong dan jatah lembur 2 kali lipat, karena biasanya Gian akan melakukan hal semacam itu jika dia tak suka dengan perlakuan Reyhans, namun sepertinya kali ini berbeda, Gian tidak marah sama sekali dan dia hanya menghela napas pelan berkali-kali.
Babay 💔
Jangan lupa dimasukkan ke favorit ya cintaku 🧘♀ Semoga kita semua selalu baik-baik dan tetap dalam lindungan Allah, dimanapun kalian berada, jaga kesehatan.
__ADS_1