
Brugh
Radha meringis kala Gian dengan kasarnya mendorong tubuhnya hingga terhempas di atas tempat tidur. Bahkan tas ranselnya masih melekat di tubuhnya, ingin teriak namun hal itu mustahil ia lakukan.
"Kau tau kesalahanmu, Zura ... kau pikir aku akan memaafkanmu dengan muda? Hm?"
Radha menggeleng pelan, ia tahu memang ada salahnya. Mengapa ia menurut kala Haidar mengajaknya pulang. Kini tubuhnya terhimpit Gian yang hanya bertumpukan siku menahan tubuhnya.
"Iya-iya, aku tau ... maafkan aku, Kak."
Ia mencoba menahan dada Gian agar pria itu tak menutup habis tubuhnya. Radha bergetar, jemarinya seakan tak ada kekuatan lebih lama. Paham semarah apapun Gian memang suaminya berhak, namun bukan berarti ia bisa diam kala sikap kasar itu ia dapatkan.
"Apa yang kau lakukan bersamanya?"
"Kalian saling mencintai kan? Tak mungkin jika hanya duduk dan bicara!!"
Amarah itu kian membuncah, Gian mengunci kedua tangan istrinya di atas kepala. Keringat bercucuran di keningnya, Radha bahkan tak leluasa menghela napas. Ia perlu ruang untuk menjelaskan apa saja yang ia lakukan bersama Haidar, memang benar adanya tak ada hal lain selain makan siang.
"Tidak ada, Kak. A-aku hanya makan siang," ucapnya dengan sisa napas yang semakin lemah karena memang ia lelah dan panas dalam kekuasaan suaminya.
"Lalu apa lagi? Makan siang dan kau pulang sesore ini?"
Memang tidak akan ada pembelaan, semua yang Gian ucapkan benar adanya. Hari ini bahkan hampir malam, dan Radha tak punya alasan lain. Semua terjadi karena Haidar sengaja menunda-nunda perjalanan dan membuat pertemuan mereka semakin lama.
"Jawab!!"
Bentakan itu membuat Radha tak kuasa menahan tangisnya, perlakuan kasar Gian kali ini benar-bemar membuatnya ciut. Radha mulai sesenggukan lantaran air mata itu kian membanjiri wajah mulusny Meski mata wanita itu tetap terpejam.
"Kakak tidak butuh air matamu, Zura!! Berhenti menangis atau aku akan membuatmu benar-benar jera setelah ini!!"
Rahangnya mengeras, kemarahan yang awalnya bukan untuk Radha kini semakin besar begitu saja. Entah kecemburuan atau merasa di tentang membuat dada Gian sesakit ini. Bahkan ia tengah merasa di khianati, dan perasaan ini benar-benar Gian. benci.
Bukannya berhenti, air mata itu semakin deras dalam tangis tertahan yang Radha perlihatkan. Ia tak ingin meraung layaknya korban penganiayaan, karena ia paham marahnya Gian memang murni karena salahnya.
__ADS_1
"Baiklah, tampaknya kau memang harus di beri pelajaran dengan baik."
Gian tak peduli bagaimana pilunya Radha, permitaan Ardi yang ia sepakati sebagai janji tak Gian hiraukan lagi. Manakala sudah menikah, artinya Radha sudah resmi menjadi miliknya.
Sekali gerakan tangan, pria dewasa itu dengan tanpa perasaan membuka paksa baju istri kecilnya hingga kancing itu bertebaran di lantai. Radha punya kesempatan kini, tangannya tak lagi terkunci dan kini ia berusaha menahan gerakan tangan Gian yang mulai bertindak semaunya.
"Kak ... kakak.tolong," rintihnya mencoba menahan tangan kekar itu, ia terlalu lemah bahkan Gian hanya perlu menghempas pelan dan genggamanny terlepas.
Gian sejenak menelan salivanya, kagum akan pemandangan yang kini ia lihat. Pria itu memang sempat melihat tubuh Istrinya meski tak sengaja, namun saat ini berbeda. Tak dapat ia pungkiri gejolak dan naluri laki-laki dalam dirinya tak mampu ia tutupi.
Tubuh mulus yang kini masih terbalut tanktop putih itu tetap membuat Gian terpesona, pun ia heran mengapa ia begitu bergairah. Bahkan tubuh istrinya tak termasuk kategori seksi seperti wanita-wanita dewasa yang ia ketahui.
Gian menurunkan wajahnya, menurunkan tubuhnya lebih dekat dan lagi-lagi mendaratkan bibirnya meski tak sekasar sebelumnya. Dengan mata memerah Radha hanya mampu pasrah, meski hasrat ingin melawan itu masih ada.
Merasa kurang leluasa, Gian melepas tas yang masih berada di tubuh istrinya. Bersamaan dengan seragam putih yang tadi baru terlepas kancingnya saja.
Tak peduli kemana arahnya, Gian tak dapat bertahan lebih lama lagi. Tidak ada penolakan dari tubuh Radha, wanita itu lebih memilih diam meski dua tak punya niat untuk membalas serangan Gian.
"Aaaaakkkhhhh!!"
"Balas, Ra."
Radha menggeleng, ia tak ingin melakukan hal macam-macam. Tangan sang Suami yang kini tak dapat ia kendalikan lagi mulai lancang menjelajah kesana kemari.
Meski terkadang Radha terpejam dan terkejut lantaran Gian tak selembut yang seharusnya. Radha mencengkram ujung kemeja Gian, tak dapat ia pungkiri perlakuan Gian membuatnya tak mampu menolak.
Sreeeet
Sialan, besok pagi bagaimana? Rok itu berakhir secepat itu di tangan Gian. Pria itu benar-benar kesetanan, nyatanya Gian yang perlahan lembut bukanlah hal baik, ia masih memaksa untuk hal yang lebih lagi.
"Jangan menghalangiku!!"
Gian menatap tajam Radha yang mendorong tangannya agar menjauh. Di saat emosinya masih meradang, takkan ia biarkan apa yang diingini gagal dalam sekejab.
__ADS_1
"Jangan, Kak, a-aku belum siap."
Dengan wajah penuh kepiluan, Radha memohon ampunan pria itu. Meski Radha tahu raut itu menatapnya dengan amarah sekaligus damba yang menjadi satu.
"Aku tidak bertanya, Ra."
Gian menepis tangan mungil Radha, hendak melanjutkan apa yang menjadi kehendaknya. Seketika itu Radha lagi-lagi menggeleng dan meminta Gian agar mengurungkan niatnya.
"Lepaskan atau aku akan benar-benar membuatmu lebih tersiksa setelah ini."
Dalam dekapan paksa Gian, Radha memohon ampunan. Tapi percuma bahkan kini tubuhnya hampir selurunya terbuka. Gian pria normal, mana mungkin ia takkan bermaksud menyelesaikan apa yang ia inginkan selama ini.
"Kakak boleh menghukumku, tapi jangan dengan melakukan itu."
Tidak, Gian takkan tertipu dengan air mata yang kini tengah ia jadikan senjatanya. Radha memejamkan mata, rasanya tatapan sesendu apapun takkan membuat Gian berubah pikiran.
"Aku suamimu, Ra ... dan jika kau belum sepenuhnya milikku, kehadiran dia akan menjadi duri dalam pernikahan kita."
Radha tak mampu menjawab walau sepatah, ia takut dan bahkan tubuhnya terasa lemas tanpa tulang. Dekapan Gian makin erat dan membuatnya kesulitan bernapas.
"Lindungi aku, Tuhan." Radha membatin manakala Gian makin memaksa walau dengan kelembutan yang masih tersisa.
"****!! Bagaimana bisa dia aku lepaskan." Gian menatap lekat, dadanya berdebar dan tubuhnya terasa kian panas ingin segera ia tuntaskan.
"Aaarrrghh Papaaaaa!!"
......... Bersambung❣️🐧
Untuk Komentar terpilih, aku dah follow akunnya ya🤗 Mohon di Follback ya Bunda.
~Feny Febriyanti
~Eka Elisaa
__ADS_1
~Alinka Almaira Siswoyo
Makasih komen" unchnya🤗 Susah milih sebenernya, bahkan lama banget. Maaf ya ga bisa semuanya mueheh❣️