Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 221. MASA LALU (Rumit)


__ADS_3

Flashback On


BRAK


Niat memberi kejutan, nyatanya dia yang dikejutkan, bahkan jantungnya hampir berhenti berdetak.


“Reyhans!!”


“Gian?”


Secepat mungkin, Reyhans mendorong Adinda yang tengah memeluknya erat. Tak ia duga jika Gian pulang lebih cepat dibandingkan jadwal yang Jelita katakan. Pria itu kini menatapnya dengan pandangan penuh kekecewaan, hancur dan patah menjadi satu.


Reyhans mencoba melangkah, hendak menjauh dari Adinda namun wanita itu menggenggam pergelangan tangannya sembari menggeleng cepat.


“Jangan tinggalkan aku, Rey … tolong.”


“Dinda!!”


Siapapun, jika berada di posisi Gian jelas akan merasakan hal yang sama. Menjadikan Adinda satu-satunya, bahkan ia lebih khawatir bagaimana keadaan kekasihnya daripada diri sendiri, dan kini yang ia lihat justru wanita itu berada dalam pelukan pria lain.


Baru saja membaik, Gian kembali hancur. Rasanya lebih baik jika lukanya kembali berdarah dan jahitan itu lepas seketika. Luka yang kini ia dapatkan terlalu menyakitkan, cukup lama memendam kerinduan, bahkan menjadikan Adinda sebagai salah satu alasan dia kembali baik-baik saja, tapi, sayang nampaknya cinta Gian tak berbalas.


“Kalian? Brengshek!! Pengkhianat!”


Gian sudah kehilangan akal sehat, rahangnya mengeras dan sifatnya yang tak bisa menahan emosi kembali terulang. Dengan langkah pasti, padahal kakinya masih terasa sakit. Gian menghampiri keduanya, gerakan cepat menghantam wajah Reyhans hingga sudut bibir Reyhans terasa perih.


“Gian cukup!!” teriak Adinda yang tak mampu melihat pria yang ia sukai dihajar sang kekasih.


“Kau juga sama!! Dasar murahaan!”


“Aaarrrgggghhhh,” teriak Adinda kala Gian mengangkat tangannya, hendak mendaratkan tamparan tepat di wajah Adinda, namun Reyhans yang menyadari Gian juga akan menyakiti Adinda, secepat mungkin Reyhans menarik Adinda dalam pelukan.


“Gian jangan, tahan emosimu! Dia perempuan, Gi.”


Letak kesalahan Reyhans, pelukan itu ia berikan dan membuat Gian semakin yakin jika kecurigaannya benar. Menatap wanitanya yang menenggelamkan wajah dan memeluk erat sahabatnya, Gian hancur berkeping-keping.

__ADS_1


“Ternyata kau juga menyukainya? Kenapa tidak bilang dari awal, Rey?” lirih Gian menatap Reyhans sendu, ia hanya mengancam Adinda dan ingin melihat reaksi Reyhans, nyatanya diluar dugaan bahkan kini Gian merasa tengah menjadi obat nyamuk.


“Gian … aku bisa jelaskan, a-aku tidak menyukainya.”


“Diam! Tidak ada wanita lain kah, Reyhans? Kenapa harus Adinda juga? Dia milikku, dan kau tau itu.”


Suara Gian bahkan hampir putur, napasnya tak teratur, Gian bahkan menitikkan air mata di depan Reyhans. Hal yang sangat ia hindari sesulit apapun keadaan, jika ada Jelita mungkin pria itu akan meraung di pangkuan sang mama.


“Gian, kau salah paham, aku tau dia milikmu … dan aku menjaga Adinda juga untukmu, tidak ada maksud lain … Dinda, tolong menjauhlah sebentar.” Reyhans mencoba melepaskan tangan Adinda yang melingkar di tubuhnya.


“Tidak ada cara lain selain merebut milik orang, Rey?”


“Gian cukup, aku yang memilih dia … berhenti menghakimi Reyhans, kau terlalu sibuk dan selama ini yang menjagaku justru Reyhans, bahkan aku lupa jika punya kekasih.”


Belum sempat menjawab, kini Adinda turut andil dan memberi penjelasan. Sedangkan, hubungan mereka memang tak bisa berjalan sebaik itu karena Gian harus kuliah di LN, yang mengharuskannya mereka menjalani hubungan jarak jauh.


Sedangkan Reyhans yang selalu ada juga atas keinginan Gian, di luar dugaan Adinda justru salah mengartikan jika Reyhans berbuat demikian karena keinginannya sendiri.


“Baiklah, jika memang itu pilihanmu.”


“Lepaskan aku!! Kau benar-benar memperkeruh suasana, Adinda!!”


Bergantian, selepas Gian pergi kini Reyhans membentaknya. Memaksa Adinda melepaskan pelukannya. Tatapan kebencian kini mengalir dalam jiwa Reyhans, dalam sekejab mata Adinda membuat hubungannya kacau, dan Reyhans sangat memahami bagaimana watak Gian.


“Kenapa memangnya? Bukankah lebih baik jika dia tau?” tanya Adinda dengan wajah tanpa rasa bersalahnya.


“Tau apa? Tidak ada yang lebih baik, kau lihat yang terjadi, Adinda!!”


“Reyhans? Kamu bentak aku? Selama ini … kau anggap apa aku sebenarnya?” Mata Adinda menuntut penjelasan, ia telah menyalahkan arti kebaikan Reyhans.


“Kita? Tidak ada!! Aku baik padamu karena Gian memintaku, dan aku melakukan apapun yang kau mau demi dia, sebesar itu cinta Gian sampai memintaku menjagamu karena dia tidak bisa ada, buka matamu, Adinda!!”


Fatal. Adinda benar-benar terbawa arus. Bahasa cinta dirinya dan Gian terlalu berbeda hingga membuat Adinda menuntut lebih, dan menganggap Gian tidak bisa memberikan apa yang ia mau, terutama waktu.


“Tapi kenapa kamu harus sebaik itu padaku, Rey? Seakan semua duniamu hanya tentang aku … kenapa? Apa salah jika cinta itu tiba-tiba ada? Tidak kan!”

__ADS_1


“Salah!! Seharusnya kau paham bagaimana aku membatasimu, sebaik apapun aku … aku tidak pernah mengatakan cinta ataupun sejenisnya, Dinda, tolonglah bedakan pria baik dan pria yang mencintaimu.”


“Aku tidak bisa membedakannya, Reyhans, puas?!!” jerit Adinda dengan kekecewaan luar biasa dalamnya, karena ia pikir cara pria mencintai itu berbeda-beda, dan tak dapat ia pungkiri memang Reyhans lebih mengerti dirinya dari segala sisi.


Reyhans kehilangan cara, menatap Adinda yang kini tengah menangis dan ia bisa apa? Sungguh ia benar-benar bimbang, hendak mengejar Gian entah berada dimana.


“Maafkan aku, tapi sekali lagi aku katakan … aku tidak mencintaimu, sama sekali, Dinda.”


Sebelum kemudian berlalu, tak peduli dengan tangis Adinda yang kini meratapi nasibnya. Bukan tak peduli, tapi Reyhans harus segera akhiri. Ucapan itu adalah yang terakhir ia katakan pada Adinda. Sebelum semua keadaan berubah 180 derajat. Dunianya dan Gian sehancur itu, bahkan pria itu benar-benar mengaggap Reyhans telah tiada, miris sekali.


Flashback Off


“Rumit ya ternyata,” tutur Radha menghela napas panjang, tatapannya kini beralih pada wajah Gian yang masih begitu lelap entah kapan ia akan membuka mata dan mengusiknya seperti hari kemarin.


“Hm, rumit sekali … bisa kembali menemaninya adalah hal paling berharga bagiku, walau Gian sesulit itu kembali menerimaku.”


Salah satu alasan Reyhans rela menjadi bahan makian Gian hanya untuk menebus kesalahan. Beruntung saja Raka mengerti dirinya dan mengatasnamakan kontrak kerja yang mengharuskan dirinya menjadi asisten Gian, padahal hal itu merupakan ide bersama-sama temannya yang lain.


“Apa kalian pernah bertemu lagi setelah kejadian itu?” tanya Radha masih cukup penasaran, memanfaatkan kesempatan kala Gian belum sadar membuat Radha senam jantung sebenarnya.


“Tidak sama sekali, Ra … dan aku pastikan Gian takkan sudi."


Radha mengangguk mengerti, apa yang ia dengar dari Reyhans lagi-lagi menjadi alasannya mencintai Gian semakin dalam. Tanpa sadar kristal bening itu justru menetes di wajah Gian, cepat-cepat Radha hapus, takut jika suaminya terbangun saat itu juga.


“Lukamu sama parahnya ternyata,” lirih Radha dalam benaknya, tatapan itu sudah ia rindukan, dan tanpa ia sadari kini sudah memasuki halaman rumah dan Gian masih juga tertidur.


“Kak, gimana?” tanya Radha khawatir, karena sudah dipastikan mertuanya akan memburu mereka dengan banyak pertanyaan.


“Jangan panik, jelaskan saja jika Gian hanya kelelahan, bukan yang lain.” Reyhans memberikan solusi, meski ia tak begitu yakin bisa melewati jelmaan Gian dalam versi yang berbeda itu.


“Kakak yang jawab ya, aku takut sama Mama.” Entahlah, firasat Radha sudah lebih dulu buruk sebelum dia bertemu Jelita.


“Bismillah, semoga tidak menghebohkan satu RT,” tutur Reyhans sebelum kembali mengorbankan tenaga demi Gian.


Tbc🌼

__ADS_1


__ADS_2