
Di rumah, tepatnya di kamar, Radha masih memikirkan Gian yang tak jua kembali setelah pergi tanpa pamit itu. Khawatir? Jelas ia khawatir bukan main. Pasalnya azan telah usai sejak beberapa menit lalu, dan suaminya itu belum jua kembali.
"Dia kemana sih?"
Radha bahkan telah menyelesaikan acara mandinya, tubuhnya telah wangi dan kini penampilannya terlihat benar-benar segar. Namun ketiadaan Gian di kamar membuatnya merasa ada yang kurang, Radha berlalu keluar, menggeser pintu kaca dan memilih menunggu Gian dari balkon kamarnya.
Dingin, senja hari ini terasa damai. Sejenak Radha dapat tersenyum hanya dengan keadaan ini. Jika ia pikir lagi, terkadang harus mengucap syukur berkali-kali.
Dia bukanlah wanita sempurna, hanya gadis belia yang bahkan belum menyelesaikan sekolah. Tanpa kasih sayang bunda, dan lahir dari keluarga yang terpecah. Tak pernah ia duga memang, kedatangan Raka yang dulunya membuat Radha seakan kehilangan dunia, kini ia mendapatkan seluruh dunia yang sebenarnya.
Suami sempurna, kehidupan mewah, harta, dan juga kasih sayang ia mendapatkannya sekaligus. Tapi sayang, drama yang mengantar pernikahannya cukup menyebalkan, hingga ada hati yang tersakiti karenanya.
"Haidar, apa kabarnya? Terakhir dia masuk berita karena salah masuk mobil, kenapa bisa ya?"
Mendadak pikiran Radha jauh melayang, terakhir hubungan mereka memang berakhir dalam kebekuan mutlak. Susah payah ia melupa, cara Gian memperlakukannya mampu menghapus jejak Haidar perlahan-lahan.
Senyum di bibirnya itu terbit kala mobil putih itu memasuki pintu gerbang. Radha yang sejak tadi menunggunya kini berlari turun menghampiri Gian layaknya anak kecil yang senang akan kepulangan orang tuanya.
Melewati anak tangga dengan santainya, Radha kini sudah berada di teras rumah. Gian sudah turun dan tentu saja tatapan tak terbaca itu dia layangkan. Meski sedetik kemudian senyum itu dapat Radha saksikan.
"Kenapa di luar?" tanya Gian dengan membawa guci yang tadi sempat membuatnya kesal bukan main di sisi kanan dan kirinya.
"Kakak dari mana? Kok baru pulang," tuturnya manja dan kini bergelayut di lengan Gian.
"Kau menungguku?" Bukannya menjawab, Gian justru bertanya balik.
"Hm, masa nunggu pak Budi, Kakak aneh deh."
Gian menarik sudut bibir, ia merasa teduh meski kemarahan luar biasa itu adalah ulah Radha sendiri. Keduanya berajalan memasuki rumah itu, sembari Radha yang mulai bertanya perihal apa yang Gian bawa itu.
"Ih serius, Kakak dari mana? Ngapain bawa kendi segala pulangnya."
Sungguh ia penasaran dengan benda itu, tampaknya terbuat dari tanah liat dan itu sudah berusia ratusan tahun.
"Guci, Zura." Gian membenarkan, entah bagaimana penyebutan yang benar sebetulnya.
"Iyaa apapun namanya, Kakak nggak berguru ke suatu tempat terlarang seperti dukun atau sejenisnya kan?"
__ADS_1
Gian membeliak ketika istrinya justru berpikir bahwa dia sudah sesesat itu. Bisa-bisanya pria sepertinya menerima tuduhan serendah itu.
"Astaga, Zura ... untuk apa Kakak ke dukun, pikiranmu terlalu luar biasa."
Radha masih menatapnya curiga, ia menjauh beberapa langkah dan kini fokus menatap guci itu. Unik dan cantik, sepertinya jika ia jual akan memiliki nilai jual yang cukup tinggi, pikir Radha.
"Ya siapa tau, mungkin saja ada hal-hal yang Kakak tutupi dari aku," jawabnya cuek dan kini mencoba meraih salah satu guci yang Gian pegang, dan bodohnya Gian yang merasa terkejut dengan gerakan cepat Radha, ia menghindar dan semakin membuat wanita itu berpikiran macam-macam.
"Sudah kuduga, sepertinya kecurigaanku benar."
"Ra, apa maksudmu? Kakak cuma ...."
"Mama, Kak Gian pelihara Jin." Belum sempat Gian menyelesaikan ucapannya, istrinya itu telah berlalu dan kini menyebarkan berita burung pada orang tuanya.
"Zura jangan macam-macam kau!!"
Gian yang bingung dan kesal lantaran tak bisa menjelaskan dengan tepat, mendadak dibuat panik ketika Radha sudah berada di depan kamar Jelita.
"Gawat!!! Mama pasti mudah percaya."
"Mmmppphhh."
Ia menepuk-nepuk lengan Gian namun tak membuat pria itu mengampuninya. Jika istrinya masih di sini dan Jelita keluar jelas akan menjadi bahaya baginya.
"Diam, atau Kakak buat kau tidak berjalan besok pagi mau?" ancam Gian membuat Radha sedikit takut sebenarnya, karena Gian tak main-main perihal ancamannya.
Secepat itu, Gian kini mengangkat Radha layaknya karung beras. Berlalu dan sedikit berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Makhluk cerewet sepertimu memang harus diberi pelajaran," tutur Gian mendorong pintu kamar, berjalan dengan langkah pasti dan membanting istrinya di tempat tidur, beruntung tidak di lantai, selamatlah tulang ekornya.
"Aaaakkhh," keluh Gian menggerakan lehernya, ternyata Radha kini cukup berat, pikirnya.
"Kenapa Kakak yang sakit, harusnya aku lah."
"Tutup mulutmu, Kakak sedang marah asal kau tau," jawab Gian ketus, namun bukannya takut Radha justru terbahak mendengarnya.
"Hahaha, marah pakek bilang ... Kakak lucu deh."
__ADS_1
"Lucu matamu, kau tidak lihat wajah Kakak seserius ini, Zura?" tanya Gian kini merangkak naik ke tempat tidur.
Memposisikan diri berada di atas istrinya, dan mengunci Radha dengan kedua tangan di atas kepala. Radha menatapnya penuh tanya, meski ia paham makna tatapan itu.
"Lihat, serius kan? Tatap mata Kakak."
Radha tak berkedip, matanya terpaku menatap manik tajam Gian. Nyaris sempurna wajah itu, garis rahang tegas, hidung mancung dan bibirnya membuat naluri wanita dewasa Radha aktif seketika.
Dadanya masih sama tak karuan, perasaan kala Gian tatap masih sama. Radha seakan jatuh cinta berkali-kali dibuatnya. Semakin dekat dan kian dekat, ia masih diam kala Gian menenggelamkan bibirnya tiba-tiba.
"Ra, kok diem?" tanya Gian setelah ia menyudahi aksi spontannya, menatap Radha yang kini mematung jelas saja ia bingung.
"Zura," tutur Gian menyadarkan istrinya, tak lucu jika adegan romantis berakhir dengan hilangnya kesadaran Radha, pikir Gian.
"Heh, kamu kenapa ... Jangan buat Kakak panik, Ra."
Gian menguncang bahu Radha, istrinya itu masih membatu tak mengucapkan apa-apa. Meski matanya tetap menatap Gian, justru itulah yang membuatnya semakin takut.
"Apa guci itu benar ada jinnya ya," tutur Gian khawatir, bagaimana jika benar, mungkin saja jin itu terganggu karena Radha, pikir Gian mulai kacau.
"Astafirullahaladzim, maafkan hamba ya Allah!! Jin itu bukan peliharaanku," tuturnya semakin panik karena kini Radha benar-benar tak berkutik layaknya patung, tatapan Radha yang biasanya Gian rindu kini terlihat menakutkan.
"Kakak sejak kapan punya kumis."
Byar, suara itu membuat Gian menghela napas kasar. Di tengah kekhawatirannya, Radha justru membicarakan hal semacam itu. Dirinya yang panik luar biasa, dan istrinya kini menanyakan hal yang luar biasa pentingnya.
"Kumis?"
"Ini, tapi tipis banget sih."
"Keturunan Papa, tidak usah protes," tutur Gian yang kini masih dibuat kesal oleh istrinya. Hingga ia tak mampu menahannya lebih lama, nampaknya Radha memang harus mendapat hukuman sore ini.
"Eeeih, sana ... Kakak belum mandi," tolak Radha mehanan dada suaminya.
"Ck, sekalian nanti setelahnya, kau mau jadi istri durhaka?" Seperti biasa, ancaman selalu bermain di setiap detiknya.
😚💦
__ADS_1