
Tenangnya malam tak hanya dirasakan Radha dan juga Gian, kini di sebuah kamar mewah dengan tatanan yang begitu rapih, wanita cantik itu tengah memandangi benda pipih di tangannya.
Beberapa kenangan sempat ia abadikan kala mengunjungi Radha. Pertemuan yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi, walau dengan ketakutan bahwa Radha benar-benar tak mau menerimanya lagi, ternyata gadis kecilnya itu tetaplah anak yang membutuhkan sosok ibu.
"Maafkan Mama, Sayang ... maaf tidak menemanimu ketika berada di titik lemahmu."
Maya tahu, itu adalah dosa yang mungkin dengan cara apapun ia takkan menghilangkan luka yang pernah ia torehkan pada Radha. Akan tetapi, setidaknya Maya selalu berusaha untuk dapat kembali ada.
Lama memendam, terjebak dalam belenggu Wira yang mengatasnamakan cinta dan membuatnya harus rela kehilangan ruang untuk putrinya, keberanian itu muncul setelah beberapa tahun pernikahan, terlambat, iya dia juga paham.
Meluluhkan hati Wira dengan caranya, hingga pria itu menyadari bahwa dirinya berada di posisi salah dan tidak seharusnya membatasi ruang antara ibu dan anak apapun alasannya.
"Kamu masih merindukannya, May?" tanya Wira dengan wajah datar seperti biasa, bukan suatu hal yang aneh ataupun bentuk ekspresi marah, akan tetapi memang pria ini begini.
"Hm, setiap detik aku merindukannya, Mas."
Wira hanya menarik sudut bibirnya amat tipis, kesalahan juga terletak pada dirinya. Berusaha menurunkan ego dan menempatkan diri sebagaimana mestinya memang hal yang berat bagi Wira.
Namun mau bagaimana, ia menikahi Maya karena cinta dan tidak terima seorang wanita sebaik dia dicampakkan pria begitu saja. Hingga kemarahan itu ada dan membuat Wira memilih menjauhkan Maya dari apa yang terjadi dalam hidupnya, sayangnya rasa cinta yang ia miliki ternyata berlebihan.
"Nanti masih bisa bertemu lagi, maaf ya, aku dulu terlalu buta, aku hanya terlalu mencintaimu sampai berpikir tidak ada yang boleh kamu cintai selain aku dan anak-anak kita."
Maya hanya mengangguk, Tuhan tengah menurunkan kuasanya. Wira yang sesulit itu untuk mengerti keadaannya, kini mampu luluh tanpa ia harus mengiba.
"Terima kasih, Mas."
"Bagaimana kabarnya, dia baik-baik saja?" tanya Wira yang kini juga tertarik dengan foto bersama sang istri bersama Radha dan juga kedua putrinya.
Mereka tampak serasi, bahkan tak terlihat jika saudara tiri. Radha yang mirip sekali dengan Maya, begitupun Arunika, putri sulungnya.
"Cantik, dia gendut sekali."
"Haha iya, aku tidak menyangka putriku bisa sebesar ini sekarang," tutur Maya merasa lucu, karena memang hal itulah yang membuatnya terkejut kala datang ke rumah besannya.
"Hamil atau kenapa?"
"Iya, memasuki 5 bulan, waktu berjalan secepat itu." Maya menjelaskan dengan mata berbinarnya, tak pernah Wira temukan istrinya sebahagia ini sebelumnya.
__ADS_1
"Bukankah dia masih kecil? Apa tidak bahaya, May." Wira megerutkan dahi, karena dari yang ia lihat, Radha hanya besar badan, tapi wajahnya masih cocok jadi anak SMP.
"Itu baik ... Tuhan kasih kepercayaan untuk mereka dalam waktu singkat, aku bahagia, Mas."
"Begitu ya," ucapnya menganggukkan kepala, karena memang ketika menghantarkan istri dan anak-anaknya ia tak sempat masuk, hanya karena takut ada Randy dan dia tak bisa menahan emosinya.
-
.
.
.
Flashback (Awal pertemuan)
Masih pagi-pagi, Maya sudah berada di perjalanan. Setelah banyak berbincang bersama Gian beberapa waktu lalu, ia memutuskan untuk mendatangi kediaman putrinya dengan meminta izin sang suami lebih dulu tentu saja.
"Kamu nggak ikut masuk, Mas?" tanya Maya kala mereka sudah berada di depan gerbang istana mewah itu, cukup mudah menemukan alamat mereka ternyata.
"Kamu saja sama anak-anak, lagian Raka juga tidak ada di rumah kan? Kalian perempuan semua, aku takut mengganggu kenyamanan kalian," tutur Wira mencari alasan paling masuk akal, ia hanya tak ingin membuat suasana pertemuan mereka yang diharapkan berjalan baik-baik justru rusak karena dirinya.
"Rumah siapa, Ma? Om artis ya?" Pertanyaan polos dari Arunika sejenak membuat dia membeku.
"Artis siapa?" tanya Wira menautkan alisnya, sepertinya ia tahu tanpa penjelasan.
"Randy ya, Sayang maksudnya?" begitu halus Wira bertanya pada putrinya, jika benar ingin ia hajar pria itu, bisa-bisa setelah menjadi masa lalu istrinya kini justru membuat anaknya tergila-gila.
"Iya Om itu, bukan ya, Pa?"
"Bukan, sudah cepat masuk ... nanti Papa jemput, kabari saja jika sudah, May." Tak ingin membahas lebih lama tentang pria itu, Wira mengakhiri pertanyaan putrinya.
Mobil kini menjauh, mereka bertiga mendapat sambutan baik dari Aryo dan juga Budi. Sebagai seseorang yang sudah mengabdi cukup lama, Budi masih mengenal Maya walau sudah nampak berbeda.
"Silahkan masuk, Nyonya ... Anda sudah ditunggu Nyonya besar," tutur Aryo begitu sopan.
"Besar? Siapa yang besar?" bisik Budi bertanya dengan tatapan aneh pada Aryo, sejak kapan ada panggilan itu di rumah ini.
__ADS_1
"Nyonya Jelita, Budi ... kau jangan banyak tanya."
"Terima kasih, Pak."
Maya hanya tersenyum, sungguh ia merindukan tempat ini. Peperangan dengan masa lalu yang menghadirkan sejuta kenangan kala ia menjadi kekasih Randy dan kerap menghabiskan waktu bersama Gian kecil dahulu.
Melangkah pelan, ia memasuki rumah itu. Jelita sudah menantinya di ruang tamu. Baru saja hendak menyapa, wanita itu sudah menghampiri Maya dengan pelukan eratnya.
Sebahagia ini dia, tak ia duga bisa kembali lagi ke tempat ini setelah bertahun-tahun lamanya.
"Ya Tuhan, akhirnya kamu benar-benar datang, Wira nggak ikut?" tanya Jelita antusias menatap wajah haru Maya.
"Nggak, Mba ... suamiku cuma nganter sampai depan rumah," ujar Maya dengan senyum manisnya.
"Putrimu semakin cantik, May ... ya Ampun, dia benar-benar mirip kamu, May."
Dia membelai wajah Arunika yang kini berada di sisi Maya, berpindah pada Jingga yang juga sama cantiknya, tapi wajahnya lebih mirip Wira.
"Hahah iya, adil kan, satunya mirip aku, satunya mirip papanya, Mba," jelas Maya tersenyum senang, dan memang itu fakta yang patut ia banggakan.
"Iya, beruntung kamu, anaknya perempuan semua ... aku juga ingin, tapi Tuhan kasihnya laki-laki," tutur Jelita tersenyum kelu.
"Tidak apa-apa, menantunya kan perempuan semua, Mba."
"Iya juga, ayo masuk dulu, Radha ada di kamar, aku panggilkan ya," ucap Jelita mengajak tamunya berpindah ke ruang keluarga, sembari hendak memanggilkan menantu tersayangnya.
"Dia udah bangun?" tanya Maya sedikit heran, karena dahulu dia semalas itu bangun pagi-pagi kala kehamilannya.
"Dia rajin sekali, May ... bahkan pagi-pagi kadang udah siram bunga, ikut Budi kasih makan peliharaannya, dia anak yang baik." Penjelasan Jelita sebaik itu, walau ia tak mengerti konsep Radha menyiram bunga subuh-subuh.
"Mama ..." Baru saja hendak berlalu, suara itu kini terdengar bersamaan dengan langkah kaki yang menuruni anak tangga.
"Iya, Sayang, Mama di sini," jawab Jelita tak kalah lantangnya, sudah menjadi kebiasaan jika Radha memanggil ia akan menjawab tak kalah besarnya.
"Sebentar ya, kamu jangan kaget lihat dia, kalau kaget dia marah biasanya." Penjelasan Jelita menimbulkan rasa sakit dalam benak Maya, gagal menjadi Ibu kembali ia rasakan, karena kini Jelita lebih terlihat sebagai ibu kandung bagi Radha.
TBC
__ADS_1
Mertua the best gak tuh!! Mama Rena dan Mama Jelita, semoga yang belum nikah dapat mertua sebaik Itu ❣️
Aamin!!!