
Sore itu kediaman keluarga Wijaya tampak tenang di luar. Tapi tidak di dalam kamar, bukan hanya Radha yang turun tangan kini, melainkan kedua buah hatinya.
"Aaaakkkhh!! Kama, jangan kasar dong, Sayang."
Masih menjadi misteri kenapa tangan Kama seenteng itu mendarat di tubuh Gian. Sedari tadi tampak perhatian ternyata diam-diam tangan gempal itu memukul dada papanya.
Tidak ada jawaban dari Kama, bibir mungilnya berceloteh panjang lebar tapi Gian tak mengerti apa yang ia bicarakan.
Berbeda dengan Kama, sang putri sibuk menggigit jemari Gian, terapi agar tak terasa lebih baik mungkin.
"Ini lagi satu, giginya mulai nyakitin, Ra."
Belum terlalu tampak, tapi memang Kalila tengah aktif-aktifnya dan dia tak tak bisa jauh dari benda yang bisa dia jadikan sasaran empuk.
"Bagus dong, artinya bentar lagi dia gede."
Radha menyahut dari meja rias, entah untuk apa tapi hari ini dia ingin memoles wajahnya sedikit. Melihat pantulan suaminya di kaca, sepertinya Kama dan Kalila sangat cocok diajak kerja sama.
"Tapi kenapa harus gigit-gigit? Dipikir cuma Kalila aja yang punya gigi, nih lihat gigi Papa udah seperempat abad, rapih lagi."
Gian memperlihatkan gigi rapihnya pada Kalila, sebagai istri yang waras Radha hanya menggeleng pelan menyaksikan ulah suaminya.
"Kamu kenapa geleng-geleng? Pusing?"
Siapa juga yang pusing, Radha hanya menatap sekilas dan enggan menjawab pertanyaan konyol suaminya. Dasar pria berpikiran sempit, hanya karena geleng-geleng dia pikir penyakit.
Dari tadi Gian belum mandi, dan Radha yang merasa panas. Heran kenapa kedua buah hatinya santai dan seakan tak bisa lepas dari pria itu.
"Mandi, Kak, apa nggak malu sama mereka?"
"Idih ngapain malu, sama telur sendiri kok malu."
Entah dari mana Gian dapat istilah itu, anaknya dikatakan disebut telur, andai saja Kama dan Kalila sudah mengerti, mungkin bukan hanya pukulan pelan yang Kama hantamkan pada Gian.
"Mereka masih kecil aja risih kalau nggak mandi, kok Kakak betah gitu? Kan aneh," ucap Radha dan hanya mendapat senyum tipis dari Gian.
"Nanti sore saja sekalian, Kakak capek, Ra ... dingin juga."
Bisa saja dia membuat alasan, padahal sebelumnya dia sibuk mengeluh panas dan menyumpahi matahari yang luar biasa terik itu.
Selesai dengan kesibukannya, Radha kini bergabung bersama mereka. Sejenak Gian terdiam, istrinya terlalu cantik siang ini, khawatir jika sebenarnya Radha ingin pergi meninggalkan dia hari ini.
"Mau kemana?" tanya Gian penasaran, kenapa semua orang hari ini seakan sibuk semua.
"Nemenin kak Caterine ke mall, boleh kan?"
Jelas tak mendapat izin semudah itu. Gian tak bisa bergerak banyak karena tubuhnya masih lemas dan sedikit sakit bahkan terasa sulit digerakkan.
"Ngapain? Mau beli apa memangnya?"
Seperti biasa, Gian akan banyak tanya dan tak cukup jika jawaban Radha hanya sependek itu. Tujuan istrinya harus jelas, karena memang hari ini ia tak mungkin untuk bergabung bersama Caterine, karena sudah pasti kedua buah hatinya harus ikut jika Gian ikut.
__ADS_1
"Ya nggak tau, privasi perempuan kalau kata kak Caterine."
Gian mencebik, jawaban istrinya benar-benar minta dicekik. Pria itu masih terlihat tak ikhlas istrinya pergi, namun mau bagaimana, jika dia harus terus menerus menempel bersama Radha, bagaimana dengan kepentingan wanita itu seterusnya.
"Jangan lama ya? Satu jam cukup kan?"
Pertanyaan konyol, mana mungkin selesai dengan waktu satu jam. Beberapa saat lalu Caterine menghubungi Radha untuk menemaninya mencari perlengkapan demi kelangsungan pernikahan Randy.
Tentu saja hal ini dilakukan dengan menjaga rahasia dari Gian. Mereka sepakat untuk tidak memberitahukan hal ini pada Gian, ternyata kedatangan tukang pijat gila itu ada manfaatnya juga setelah Radha pikir-pikir.
"Dua jam," tawar Radha, setidaknya ia punya waktu lebih lama, karena untuk mencari hal-hal semacam itu dan semua mendadak sepertinya takkan cukup jika waktunya sesingkat itu.
"Satu jam setengah," jawab Gian lagi, memberikan tambahan setengah jam itu sudah cukup baik menurut Gian, dan Radha merasa semua ini seakan tak adil baginya.
"Satu jam empat puluh lima menit."
Proses negosiasi mereka cukup lama, Kama dan Kalila hanya melongo mendengar pembicaraan kedua orang ini, entah sampai kapan selesai mereka pun tak paham.
"Yaudah satu jam." Gian justru mengurangi waktunya, Radha jelas panik dan lebih baik ia tak meminta tambahan.
"Yaudah iya satu jam setengah, deal!!"
Dasar orangtua prik, Kama menatap keduanya dengan tatapan penuh tanya. Mungkin batinnya sedikit bertanya kenapa lahir dari pasangan semacam ini.
"Iya, awas kalau nggak pulang dalam waktu yang udah Kakak tentukan, jangan harap bisa pergi-pergi tanpa Kakak lagi."
Yaya, jurus ancaman memang paling berpengaruh, Gian tetap melakukan hal semacam itu dan tak memberikan kesempatan Radha secara bebas untuk kemanapun tanpanya.
"Iya, bawel banget sih."
Pamit macam apa ini, keduanya sama-sama termakan emosi. Baik Gian maupun Radha, sama saja. Gian yang sejatinya mencari cara agar Radha tak pergi, dan Radha kesal dengan Gian yang sesulit itu memberikan izin untuknya.
-
Sebenarnya hal ini sangat mendesak, Radha pergi duluan ke pusat perbelanjaan yang dituju. Bukan hanya satu hal yang harus mereka dapatkan, tapi banyak. Dan untuk perhiasan, Jelita mempercayakan hal itu pada Radha.
Sembari menunggu kedatangan Caterine, Radha sudah berusaha melakukan apa yang ia bisa. Waktu yang diberikan Gian sangat sedikit, dan parahnya pernikahan Randy juga tak lama lagi.
"Cantik, saya ambil yang ini."
Tak butuh banyak berpikir, setelah meminta persetujuan dari Caterine dan juga Jelita yang kini masih berada di perjalanan Radha memutuskan pilihannya.
Randy yang akan menikah, tapi dia yang ikut berdebar. Di usia semuda ini Radha justru diminta untuk mempersiapkan segala hal, dan yang lebih membuatnya lebih tertantang ialah melakukn semua tanpa sepengetahuan suaminya.
Cukup lama jika harus menunggu Jelita, segera menuju tempat yang Jelita katakan. Radha tak ingin membuang waktu lebih lama. Meski sebenarnya ia tidak tahu ukuran Hulya, akan tetapi Radha sempat bertermu secara langsung bersama Hulya dahulu.
"Hallo? Mama dimana?"
Sungguh, demi apapun mereka memang sangat sibuk. Hanya Gian saja yang ongkang kaki dan tidak tahu kabar dunia. Sementara Haidar saja sedang menuju perjalanan pulang, pria itu rela meninggalkan sejenak pekerjaannya demi bisa menghadiri pernikahan sang paman.
"Sayang, udah ketemu?"
__ADS_1
Di waktu yang tepat, kini Jelita dan Caterine tiba. Radha menghela napas pelan, setidaknya waktu yang diberikan Gian dapat ia manfaatkan dengan benar.
"Belum, Ma ...."
Mendengar jawaban Radha, mereka segera mencari gaun itu. Walau Hulya sempat menolak untuk mengenakan gaun atau semacam itu sebelumnya, akan tetapi Caterine tak ingin jika pernikahan mereka terlampau biasa, belum lagi Hulya adalah seorang gadis yang belum pernah menikah, jelas saja harus berkesan menurut Caterine.
"Tante, aku maunya Papa pakai yang elegan titik."
"Iya, kita berikan yang terbaik untuk Randy, pengantin baru setelah lama nggak dipakek." Jelita asal ceploz dan Radha yang paham kini justru memerah, ia malu dengan ucapan sang mama.
Sibuk, mereka bertiga memiliki selera yang berbeda dan sama-sama keras kepala. Terutama Jelita dan Caterine, sudah bisa Radha tebak jika nanti Hulya akan mengenakan dari satu gaun.
Berusaha memanfaatkan waktu, sudah tentu Radha tak mau jika nanti mereka terlalu lama dan dia yang terkena imbasnya. Karena bagaimanapun Gian tak menerima alasan apapun nantinya.
-
Hampir habis waktu yang dia berikan, Radha belum juga pulang. Gian gusar dan Kama mulai rewel, biasanya Kama memang enggan minum susu yang tidak langsung dari sumbernya, kalau kata Gian, modus demi bisa menempel pada Radha.
"Astaga, bisa-bisanya dia tolak teleponku, awas kamu pulang ya, Ra."
Pria itu beranjak dari tempat tidur, hendak berlalu keluar kamar akan tetapi Kalila mulai meratapi kepergiannya.
"Astaga, iya, Sayang nggak Papa tinggalin."
Dan jika ia hendak membawa Kalila, tentu saja Kama harus ikut juga. Karena tak mungkin jika salah satunya ia tinggalkan begitu saja, walau terasa sedikit berat akan tetapi tak mengapa.
"Kemana mama kalian, hm? Harus dihukum sepertinya."
Gian menuruni anak tangga begitu hati-hati, takut jika anaknya yang kini sibuk ingin turun benar-benar terjatuh. Punya anak kembar dan hanya sendirian ternyata cukup membingungkan.
"Pap-papa ...."
Kama bersuara, dan itu bukan memanggil Gian. Melainkan pria tampan yang kini memasuki ruang keluarga, Haidar.
Pria itu datang sendirian tanpa Rury, dengan hanya membawa tas keci dan keemungkinan tidak akan lama. Sempati curiga dan berpikir macam-macam lantaran sang kekasih tak turut serta, akan tetapi untuk bertanya Gian terlalu kesal lantaran Kama memanggil adiknya dengan sebutan papa.
"Hai, Sayang."
Haidar menghampiri keponakannya, beberapa waktu lalu sempat pulang dan kesibukan membuatnya harus kembali ke luar kota. Walau memang hampir setiap hari dia menyapa keponakannya melalui video call bersama Jelita.
Secepat itu, Kama yang seakan merindukan Haidar kini merentangkan tangan dan meminta Haidar menggendongnya.
"Ih, Kama, aku papamu loh," tutur Gian heran kenapa Kama justru lebih memilih Haidar daripada dirinya.
"Aku juga rindu, Kak, cepat berikan," ujar Haidar tak bisa menolak pesona Kama, keponakannya tumbuh dengan sangat cepat, sudah lama ia menantikan waktu untuk bisa bersama Kama lagi.
"Kau pulang untuk apa?" tanya Gian singkat, karena memang dia heran akan kedatangan pria ini yang tiba-tiba.
"Memangnya tidak boleh? Ini kan rumahku juga, Kak."
Haidar berlalu, dengan Kama yang kini sudah berada di gendongannya. Kama seceria itu ketika bersama Haidar, dasar pilih kasih, pikir Gian.
__ADS_1
"Ya juga sih, kenapa semua orang aneh hari ini ya Tuhan," ujar Gian bertanya-tanya, sungguh ia bingung pada dunia.