Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 289. Baik Gak Harus Bilang.


__ADS_3

"Udah? Yakin cukup?"


Pertanyaan paling menyebalkan, padahal takjil yang mereka kumpulkan bahkan cukup untuk buka puasa sekeluarga besar. Lapar mata dan nafssu yang sebesar angkasa membuat Gian kalap, tak peduli walau nantinya akan habis atau justru terbuang sia.


"Cukup kok, Kakak mau nambah lagi?"


Penawaran yang tak seharusnya Radha ungkapkan, pria sinting itu jelas saja kembali berpikir. Jiwa berburunya menggebu, dan seakan mengingat makanan seperti apa yang belum dia dapatkan.


"Coba liat, yang belum kita beli apa?" tanya Gian benar-benar serius, dia tidak bercanda, dan apa yang dia katakan benar adanya.


"Udah cukup deh, Kak, daripada mubazir sayang."


Iya, Sayang nggak mubazir tenang aja."


Gian salah sangka, Radha mengungkapkan sayang jika makanannya mubazir, bukan memanggil suaminya sayang. Terlalu percaya diri terkadang memang tak baik, dan kini terbukti dengan Gian yang salah menafsirkan kalimat Rasha.


"Idih, maksud aku makananya sayang, bukan manggil situ sayang, telinga Kakak kenapa kenapa sii?"


Gian menatap datar istrinya, sungguh sebuah perkataan yang menyakiti jiwa dan raga. Ingin rasanya Gian menggigit Radha saat ini juga, dan kini dia berakting seakan tengah serangan jantung dengan kantong plastik sebesar itu masih di pangkuannya.


"Ya Tuhan, istriku membuatku terlukaa aarrrggghh."


"Lebay, kebiasaan dah."


Tidak ada takut-takutnya lagi, mana dulu Gian yang galak dan berbuat sesuka hati? Yang ada kini pria manis yang kerap melakukan hal konyol di depan Radha.


"Hm, udah pas, lumayan juga ternyata."


Gian mengabaikan perihal salah dengar tadi, walau sempat membuat dadanya seakan terhantam batu batako tapi setidaknya itu tidak akan menbuatnya berdarah.


"Lumayan apanya, banyak itu, Kak, banyak."


Memang faktanya banyak, bahkan jika Radha hitung Gian mengeluarkan uang hingga tiga ratus ribu padahal mereka tidak pergi ke tempat yang mahal-mahal, hanya jumlahnya saja yang sedikit tidak masuk akal.


"Lebih baik banyak, Sayang daripada rebutan ...."


Bibirnya tersenyum manis, Radha melihat bahwa Gian memang menginginkan semua dari hatinya. Entah akan ia apakan, namun yang pasti Radha tak mau tanggung jawab jika nanti Jelita ngamuk karena takjil yang mungkin penuh satu ember itu.


Setelah berunding, kini mereka memutuskan untuk pulang. Gian yang mengalah sebenarnya, karena dia masih ingin berkeliling sementara Radha meminta dia untuk pulang segera.

__ADS_1


Perjalanan sore ini mulai terasa sedikit terhambat, dia hanya takut jika nanti berbuka puasa justru mereka masih di perjalanan.


Hal aneh yang kini Radha rasakan, Gian tak mengomel dan mengeluarkan kata-kata mutiara ketika jalanan mulai macet dan dia tak bisa bergerak cepat. Biasanya, Gian akan mengeluarkan ajian dan membuat orang di sampingnya kerap jantungan jika keadaan begini.


Dan hal aneh lainnya lagi, pria itu mendadak jadi baik sekali. Radha tercengang begitu melihat dia sengaja menepi dan turun untuk membagikan takjil sekantong besar itu untuk beberapa orang di sana.


"Kenapa dia nggak bilang kalau mau begini," tutur Radha dalam hatinya, jujur dia kaget dengan apa yang Gian lakukan.


Biasanya pria itu akan lebih banyak bicara sebelum bertindak, dan kini justru Gian tak mengatakan sama sekali rencana itu sebelumnya.


"Sama-sama, Pak, pulang ya ... anaknya nungguin kan?"


"Terima kasih banyak, Mas," tutur pria paruh baya yang baru saja Gian hampiri.


Percakapan Gian dapat Radha dengar, pria itu benar-benar bisa berubah dengan cepat. Radha kembali dibuat terpesona, padahal sekian lama terkadang dia merasa Gian adalah penyebab emosi jiwa.


-


.


.


.


Tampak menyesal, dia memang sempat menganggap Gian rakus dan lapar mata saja. Nyatanya dugaan Radha benar-benar salah, menatap lekat suaminya yang justru terlihat biasa saja dengan senyum usil seperti biasa, Radha jatuh cinta kembali untuk alasan yang berbeda pada Gian.


"Baik nggak harus bilang, Sayang, lagian kamu prasangka jelek mulu, nggak baik, Ra."


Gian menarik sudut bibir, sudah ia duga Radha akan berpikir macam-macam tentangnya. Namun hal itu tak membuatnya merasa marah atai semacamnya, yang jelas Gian hanya ingin melakukan hal yang bermanfaat, itu saja.


"Ya siapa tau, kan Kakak biasanya begitu."


Gian menggeleng pelan, sungguh istri yang patut diacungi jempol, pikirnya. Bisa-bisanya Radha berpikir buruk terhadapnya, padahal Gian adalah jelmaan malaikat yang terkadang berubah menjadi ibllis sewaktu-waktu.


"Kali ini enggak, gini-gini Kakak bisa baik tau, nggak selamanya nyebelin."


Sadar diri jika dirinya menyebalkan, Radha tak bisa mengatakan apa-apa. Tutur lembut suaminya membuat Radha luluh kesekian kalinya, dan naluri seorang wanita yang dibuat luluh itu nyata.


Tanpa aba-aba Radha memeluk erat Gian, dan kini masih di mobil. Secepat itu Gian mendorong tubuh istrinya setelah beberapa detik membalasnya.

__ADS_1


"Heeih!! Belum buka, kamu nggak usah meluk-meluk gini, Kakak batal bahaya."


"Kan cuma meluk doang, emangnya nggak boleh?"


Radha mendelik, apa salahnya perbuatan semanis itu, pikirnya merasa Gian mulai mengada-ngada. Gian tampak mengusap tengkuknya, bingung hendak menjawab apa namun memang dia berusaha menghindari sentuhan yang seperti ini bersama istrinya sejak tadi.


"Lebih baik dihindari, kamu tau kan nafssu Kakak sebesar apa?" Baiklah, Radha mulai paham pembicaraan Gian.


"Tau, segede gunung gede kan?" tanya Radha polos dan membuatnya mendapat tepukan di bibir.


"Lebih besar dari itu, jadi tolong jangan pancing suamimu ini ya, Sayang."


"Yeee itumah Kakak aja yang nafssuan, baru dipeluk aja langsung melejit," tutur Radha kembali membahas masalah itu, tak habis-habis mungkin nanti ketika tiba azan magrib.


"Apanya? Kamu beneran ya, dibilangin jangan mancing-mancing masih aja."


Gian tak lagi menatapnya, pria itu kini kembali fokus dengan kemudinya. Sementara kini Radha terbahak dan mengacak rambut suaminya yang kini tengah salah tingkah.


"Jangan sentuh aku, Radhania, kamu mau aku buka puasanya pakai kamu?" tanya Gian ngawur dan kini mengundang tawa Radha.


"Buahahah ya jangan dong, masa bukanya pakai saya," ujar Radha lagi-lagi masih saja terus bercanda, entah kapan akan selesai.


"Ya makanya diam, Kakak udah usahain buat kuat iman ya, Ra, kamu jangan jadi seetan dong."


Dengan alibi mengatakan hal semacam itu, padahal memang dirinya yang sedikit kurang. Hanya karena dipeluk dan itu menjadi masalah besar, sungguh Radha tak habis pikir sama sekali.


"Ntar malem taraweh, awas nggak," titah Gian untuk kesekian kalinya, entah apa yang sebenarnya ingin ia tunjukkan, apa mungkin kemampuannya ceramah, pikir Radha.


"Iya, kalau nggak kekenyangan," jawabnya enteng luar biasa.


"Tidak ada alasan, ngapain juga kamu bisa kekenyangan, Kama sama Kalila bakal dijagain Mama, kamu ikut Kakak ke masjid, paham?"


"Iya, Kak ... iyaa," tekan Radha sedikit kesal, karena memang Gian sedikit suka memaksa.


❣️


Hai-hai, maaf ya nggak rutin seperti sebelumnya. Jangankan mau crazy up, mau up rutin aja susah banget huhu, aku kangen sama Gian jadinya:( Dah semoga siang nanti bisa nambahin ya besti, btw yang hadiah Gian minggu ini ada yang sampe sebanyak itu, makasih yaa🤗


Untuk Giveaway lagi, nanti ya di karya baru.

__ADS_1


__ADS_2