Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 248. Papa Yang Asuh


__ADS_3

Pagi-pagi Gian sudah bangun pagi, tentu saja yang menjadi tanggung jawab utamanya adalah kedua buah hatinya. Ia tak ingin ketinggalan sedikitpun kesempatan untuk bersama putranya, memandikan Kama bersama Kalila adalah hal yang sangat ia sukai akhir-akhir ini.


"Kak jangan kelamaan, keriput jarinya."


Sudah berapa kali Radha ingatkan, agar suaminya tak terlena jika tengah bersama mereka. Akan tetapi entah kenapa kebiasaan Gian jika kedua buah hatinya mandi, dia akan ikut mandi.


"Nggak, airnya anget gini," jawabnya santai tanpa sedikitpun merasa apa yang ia lakukan adalah hal yang salah.


"Ya kalau kelamaan juga tetep aja mereka dingin."


"Buktinya mereka ketawa, nggak dingin kan, Sayang?"


Gian meminta pembenaran dari kedua buah hatinya, jelas saja yang mereka pahami hanya kesenangan. Mandi adalah hal yang tak lepas dari mereka, sejak kecil air seakan menjadi teman bagi keduanya.


"Mereka masuk angin kamu tidur di luar ya, Kak," tegur Radha agar suaminya paham, karena biasanya Gian takkan pernah menurut jika tidak mendapat ancaman dari Radha.


"Iya, enggak ... ini rambut Kalila masih ada busanya, aku kelarin dulu ya, Sayang."


Bisa saja mencari alasan, entah kenapa Gian sepandai itu berdalih. Setiap pagi, bukan hanya hari ini. Putra putrinya jelas saja tak protes, mereka mana tau yang seharusnya atau tidak.


"Cepet, astaga ... kamu mandiin anak atau wisata air sih, kenapa ikutan basah-basah gitu?"


Radha menghela napas dalam-dalam, piyama Gian sudah basah kuyup, dan anak-anaknya sibuk dengan dunia mereka sendiri.


"Mereka lincah sekali, Ra, Kama main airnya ganas, Papa, sampai basah."


Menyalahkan putranya yang sejak tadi duduk manis menikmati air hangat, begitupun Kalila yang tertawa geli kala air itu membasahi wajahnya.


"Nyalahin anak, kamunya aja yang kurang kerjaan ... atau mau aku mandiin? Pakai niat sekalian," ujar Radha dengan emosi yang tertahan.


Memiliki anak kembar, nyatanya Gian justru berubah menjadi anak-anak juga. Segera Radha mengambil alih pekerjaan Gian, memang salah besar dia percaya bahwa Gian akan melakukannya dengan baik.


"Ya Allah, bibirnya udah biru, mata kamu mana sih?"


"Dia diajak berhenti nangis, Ra, aku nggak tega."


Menangis adalah hal wajar bagi anak seumuran mereka. Bukan berarti Gian memberikan kesempatan namun membuat anaknya justru celaka.


"Jangan dibiasakan, nanti dia begini terus, tolonglah, Kak ... mereka bukan ikan," tutur Radha menggendong Kama pelan-pelan, membalutkan handuk lembutnya dengan berusaha mengalihkan perhatian agar Kama tak menangis.

__ADS_1


"Siapa juga bilang mereka ikan ... Mama kamu aneh, Sayang," ujar Gian pada Kalila yang kini menatapnya bingung.


Mengikuti langkah Radha, Gian melakukan hal yang sama. Tentu saja dengan cara yang berbeda, karena putrinya tak semudah itu menurut jika dirinya yang mengambil alih.


"Udah-udah, nanti sore mandi lagi ya," tutur Gian kewahalan kala Kalila berontak, tubuhnya yang basah dan tangan Gian yang juga basah membuatnya hampir jatuh.


"Rasain, ngamuk-ngamuk tu anaknya."


Radha yang kini sudah menyiapkan pakaian mereka hanya mendelik begitu Gian mendekat. Wajahnya tanpa dosa tentu saja, dengan tubuhnya yang basah dan mengundang amarah Radha.


"Kamu mending mandi yang bener sana, baru kemari lagi."


Mengangguk patuh, namun benar-benar tanpa penyesalan. Gian memang dewasa di beberapa waktu, namun kadang dia juga berubah seperti ini.


"Hm, Sayang dada ... papa mandi dulu," pamit Gian tak lupa hendak mengecup pipi Kama, secepat itu Radha menahan keningnya.


"Eits!!! Sana, mandi dulu yang bener, baru cium-cium anak aku."


"Idih, mereka anak aku juga, Sayang."


Memang benar, ucapan Gian tiada yang salah. Akan tetapi bukannya melarang, apa yang Gian lakukan sepertinya hanya membuat pekerjaannya terganggu.


.


.


.


Aroma minyak telon menyeruak ke indra penciuman Gian. Wajah pria itu berbinar menatap putra putrinya yang sudah siap untuk dia kecup sepenuh hati.


Dirinya kini datang dengan pakaian yang sudah rapi, tapi tetap saja dasinya belum ia pasang dengan alasan ingin Radha yang memasangnya.


"Sayang, pakein."


"Kenapa warna biru? Kan aku udah pilihin warna merah," ujar Radha menyadari Gian justru tak mengambil semua yang sejak tadi ia persiapkan, bukan kecewa atau bagaimana, ia hanya bertanya saja.


"Nggak mau, seperti presiden."


Jawaban asal namun dapat Radha terima tanpa batahan. Ia hanya menurut apa yang Gian ucapkan. Kedua bayinya tampaknya tak peduli dengan dirinya.

__ADS_1


Terbukti dengan Gian yang sejak tadi memanggil nama keduanya akan tetapi tak mendapat jawaban lirikan walau hanya tatapan sekilas dari keduanya.


"Hari ini lembur?"


"Nggak, seperti biasa, kenapa nanya gitu, Ra?" tanya Gian berharap istrinya akan menjawab karena ingin menghabiskan waktu bersama secepatnya.


"Nanya aja, kalau lembur aku sama anak-anak mau tidur duluan," ujar Radha yang membuat Gian terdiam seribu bahasa, bisa-bisanya Radha berpikir demikian.


"Masa begitu? Jangan lah, mereka boleh tapi kamu jangan, tunggu Kakak pulang dulu."


Dia memang menginginkan Radha lebih dulu tidur darinya, akan tetapi bukan berarti dia rela jika pulang istrinya sudah tertidur lebih dulu.


"Masa begitu? Kalau capek gimana?"


"Pokoknya nggak, kamu tidur duluan Kakak keluarin biji matanya."


"Sialan, dasar psikopat," ungkap Radha menepuk pelan dada Gian, pelan tapi cukup untuk membuat pria itu sedikit meringis.


"Psikopat cinta," tuturnya sembari menarik sudut bibir, ingin memukul tapi rasanya tidak sopan.


Selesai dengan pakaiannya, tentu saja dia tak segera berlalu. Mencuri waktu bersama kedua belah hatinya dulu tentu saja.


"Ra, aku bawa Kama boleh?"


"Enggak, Kakak mau kerja bukan imunisasi, kemaren aja kaki Kalila gigit nyamuk."


Kesalahan Gian yang sebenarnya tak sebesar itu tetap menjadi bahan untuk Radha agar suaminya tak membawa buah hatinya kemananpun.


"Ya tapi kan itu karena Kakak ajak dia jalan sore-sore, salahin aja tetangga kita," ujarnya mencari pembelaan, sempat nekat membawa Kalila tanpa sepengetahuan istrinya sore itu, pulang-pulang Gian diamuk dua wanita sekaligus.


"Kakak tetap yang salah, usah sana kalau kerja yang bener," ucapnya penuh penekanan, sekali tidak tetap tidak, cukup sekali Gian berbuat semaunya dan membuat Reyhans ikutan repot karena ulahnya.


Bukan jahat, tapi Radha hanya tak ingin Gian membuat kesalahan lebih fatal lagi. Karena sama saja halnya dirinya mencari jalan mempersulit hidup.


"Hati-hati, jangan telat makan siang ya," ucap Radha lembut.


Tak ada yang berubah dari cara Gian memperlakukan Gian, begitupun dengan Radha. Kecemburuan dan khawatirnya Gian sebelum anaknya lahir ternyata hanya ketika Radha hamil saja.


Karena nyatanya, walaupun dengan kehadiran putranya, dia tidak merasakan kecemburuan atau takut Radha akan terfokus pada laki-laki selain dirinya.

__ADS_1


__ADS_2