
Dengan malas Randy meraih benda pipih itu, berdecak kesal sembari membuang napas kasar. Namun seketika wajahnya berubah, ada debaran tak menentu yang tiba-tiba menyergap dalam benaknya.
"Baru saja di pikirin, udah di telpon duluan."
Ia tersenyum miring, yakin betul bahwa telepon yang ia terima itu adalah jawaban Tuhan akan rindunya. Ia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur empuk itu, sengaja membiarkan wanita itu menghubunginya berkali-kali.
Begitulah Randy, serindu apapun dan bagaimanapun ia terhadap seseorang tetap saja gengsinya nomor satu. Menganggap dirinya benar-benar penting adalah hal yang Randy sukai sejak dulu.
"Tiga ... dua ... satu."
Ia menghitung mundur dering ponsel yang terdengar cukup panjang itu, mungkin jika ia yang mendapat perlakuan demikian akan murka sebenarnya.
"Hm, ada apa?"
Semudah itu ia berubah, jika sebelumnya ia sesenang itu, kini Randy berubah layaknya pria dingin yang merasa terganggu di hubungi selarut ini.
"Maaf, Bang ... mau tanya," tuturnya begitu lembut, sedikit ragu bahkan setengah berbisik.
"Ehm, bentar. Sebelum gue jawab pertanyaan lu, laki lu mane? Kagak ngamuk dia bininya nelpon duda malem-malem?"
"Mas Wira ada, dia udah tidur di kamar."
"Syukurlah, gue pikir di tinggalin."
Candaan yang sebenarnya menjadi harap bagi Randy, sejahat itu terkadang otaknya. Namun bagaimana memang ini yang ia inginkan secara nyata.
"Tadi mau tanya apa, May?"
"Langsung aja ya, gelang gue kebawa Abang nggak? Ilang soalnya, laki gue marah ini."
Randy memutar bola matanya malas, ia kira sepenting apa, bahkan otaknya terlalu percaya diri mengira Maya akan menanyakan kabarnya.
"Ge-gelang?"
Ia mengulang kalimatnya dengan mulutnya yang kini menganga. Apa tidak ada hal yang lebih konyol selain itu? Malam buta wanita itu menghubunginya hanya untuk benda kecil yang bahkan tak pernah ia lihat.
"Iya, gelang, Bang."
__ADS_1
"Gelang apaan? Lu masih hobi pakek jimat, May?"
"Jimat palelu, Gue serius, Bang."
"Lah terus apa kalau bukan jimat?"
"Gelang, dari mas Wira, Bang ... gue bingung mau carinya kemana."
"Nggak ada, lu pikir gue masih suka ngutil apa, sembarangan lu jadi manusia."
"Abang yakin? Nggak bohong kan?"
"Ck, bohong buat apaan gila? Gue bisa beli sendiri, ngapain nyolong, Maya."
Ia berdecak kesal, benar-benar tak terima dengan pertanyaan Maya yang sebenarnya tak menyudutkan dia sama sekali. Hanya dirinya saja membuat keadaan seakan tengah menjadi tersangka utama.
"Hm, baiklah, makasih ya, Bang. Maaf ganggu malem-malem."
"Hm."
Hanya itu, sungguh ia teramat kecewa. Ia menarik napas dalam-dalam kala sambungan telepon itu terputus. Wajahnya datar, namun sedetik kemudian berubah dengan senyum tipis yang perlahan kian mengembang.
"Cantik, sama seperti yang punya."
Memandangi benda itu dari jauh, berusaha tenggelam dalam mimpi usai menatap benda keramat yang mungkin akan menjadi jimat baginya.
Pandai ia bersandiwara, tak peduli bagaimana kalang kabutnya Maya saat ini. Mungkin ia tengah menghadari amarah sang suami, namun keegoisan Randy kini tengah menguasai.
"Hadeeeuh, buat apa gue maling ni benda."
*********
Hari berganti, gelapnya malam tergantikan sinar sang mentari. Gian menggeliat, tangannya tengah mencari dimana istrinya kini. Sangat tak nyaman kala ia membuka mata namun Radha tak berada di sisinya.
"Zura," panggilnya dengan suara serak, pria itu tak menunggu lama, ia beranjak dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul.
"Dimana anak kecil itu?"
__ADS_1
Pria itu menguap lebar-lebar sembari terus berjalan mencari dimana istrinya. Setakut itu Gian istrinya berlalu pergi tanpa sepengetahuannya. Wajah bantalnya itu terlihat lucu, namun tidak bagi Randy yang kini duduk manis dengan segelas susu hangat di depannya.
"Menjijikkan, cuci muka sana."
"Ck, istriku mana, Om?"
Bukannya menjawab, Gian malah balik bertanya. Tak hanya itu yang membuat Randy kesal, ponakannya masih begitu kacau, ingin rasanya ia siram wajah ngantuk Gian yang seakan belum rela berpisah dari tempat tidur.
"Heeih!! Dasar jorok, ini milikku."
"Cerewet, bisa buat lagi, Om."
Dengan bibirnya yang basah lantaran usai menegak segelas susu milik Randy, ia kembali menggeliat seakan yang ia lakukan tidak salah sama sekali.
"Itu istrimu," ucapnya sedikit kesal namun tetap begitu ramah pada Radha yang menghampirinya.
"Ya ampun, Zura ... kamu darimana saja? Suamimu ini rindu."
Ingin rasanya Randy memuntahkan sarapannya detik ini juga. Perlakuan Gian yang begitu manja pada Radha sangat menganggu sejak beberapa hari kemarin.
"Jawab aku! Darimana saja kau, hm?"
Radha merasa kaku, lantara Gian memperlakukannya begini di depan Randy. Suaminya yang terus bergelayut di lehernya membuat Radha tak memiliki keberanian untuk menatap wajah Randy.
"Aku siapin barang om Randy, mama yang minta."
"What?" Gian membeliak tak terima, jelas saja ia tak suka, Randy bukanlah bos dan istrinya bukan seseorang yang bisa di perintah sesuka hatinya.
"Dia yang mau, aku nggak minta ya tuan muda."
"Tapi tetap saja, Om memakai tenaga istriku, aku tidak pernah memberinya izin untuk itu." Ia menatap nyalang Randy yang kini memutar bola matanya malas, seakan serba salah dan membuat suasana hatinya rusak saja.
"Kak, nggak banyak kok, cuma mastiin barang-barang Om Randy gak ketinggalan, itu aja."
"Cuma itu? Kau tidak berbohong kan?"
"Ehm, enggak," jawabnya singkat, mengelus dada Gian yang kini tengah membara. Radha ingin terbahak, garpu yang kini Gian pegang sudah siap ia lempar ke arah Randy, sebelum terjadi bencana, wanita itu mengamankannya segera.
__ADS_1
...............❣️