Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 186. Dugaan (Gian)


__ADS_3

Melangkah dengan tatapan fokus ke depan, sebenarnya Radha sedikit malu menjadi pusat perhatian. Pura-pura terlihat keren padahal hatinya kini tengah bergemuruh, ingin rasanya ia lewat jalan pintas saja agar tidak bertemu karyawan kepo maksimal yang seakan belum puas juga mengetahui tentangnya.


“Aduh buset, Sekretarisnya seksi amat.”


Meski matanya terlihat tak peduli, sambutan wanita cantik di depannya ini membuat Radha sedikit risih. Apa memang pakaian para karyawannya seperti protocol kesehatan? Ketat, pikirnya. Tidak ada Gian di ruangannya, dan apa yang Reyhans katakan Radha percaya begitu saja.


“Pulangnya kapan?”


“Mungkin sebentar lagi, Nona bisa munggu pak Gian lebih dulu … saya akan siapkan minuman untukmu.”


“Nggak usah, Kak … ini aku udah beli,” ujarnya tak ingin merepotkan, dan juga ia belum mau mendapat perlakukan spesial layaknya istri bos di luar sana.


“Baiklah, kalau ada apa-apa panggil saya saja.”


“Iya, terima kasih, Kak Rey.”


Sungguh bagaikan langit dan bumi, Gian dan Radha jauh berbeda. Gadis belia yang menurut Reyhans termasuk paling muda di antara yang pernah ia kenal. Ia mampu dewasa dan menempatkan diri sesuai keadaan.


“Pak Rey, istrinya pak Gian semakin cantik, bahagia sepertinya,” tutur Evany kala Radha sudah berada dalam ruangan Gian.


“Hm, kenapa? Kau mau seperti dia?” tanya Reyhans dengan wajah datar tanpa ekspresi, sama sekali tak asik untuk di ajak bercanda.


“Tidak, aku hanya memujinya.”


Usai sudah, ia bahkan tak menjawab lagi perkataan Evany. Sebenarnya yang bos di sini siapa, kenapa dia justru lebih merasa berjarak dengan Reyhans daripada Gian. Aneh, tapi ia tak punya waktu banyak untuk memikirkan hal semacam itu.


Pekerjaan yang Gian berikan padanya cukup menguras pikiran dan tenaga, bahkan lemak juga. Ingin ia berkata kasar kala Gian kerap memerintahkan ini itu dan waktu yang Gian berikan hanya seujung kuku.


Lain halnya dengan Evany yang dipusingkan oleh pekerjaannya, kini di dalam ruangan Gian Radha tengah mengutak atik posisi ruangan yang menurutnya sangat tidak nyaman untuk dipandang. Ruangan yang terkesan monoton dan sama sekali tidak hidup, persis museum yang sudah tutup tiga tahun lalu, pikir Radha.


“Harusnya warna coklat muda sih, kak Gian kenapa sih suka banget item-item … udah kayak paling misterius aja idupnya.”


Masih menjadi pertanyaan bagi Radha, kenapa suaminya benar-benar terobsesi dengan warna hitam. Seakan tidak ada warna lain di dunia ini,


“Hm, lumayan berat sih, tapi aku bisa mindahinnya.”


Hanya sofa pada awalnya, cukup berat tapi bukan hal yang sulit bagi Radha. Kebetulan dia sudah lama tidak berolahraga angkat beban, kali ini bukan hanya beban yang ia angkat, tapi dosa-dosanya juga. Karena sepanjang memindahkan semua itu ia mengucapkan banyak doa agar dipermudah yang kuasa.

__ADS_1


Dan tentu saja, pada akhirnya Reyhans dan Evany harus terjun ke lapangan karena kebisingan yang Radha ciptakan cukup membuat mereka khawatir. Kerja sama tim yang sangat solid, Radha sebagai mandor sekaligus pekerja, dan Reyhans yang hanya bisa melongo selagi menunggu perintah Radha.


“Ah, beres juga … terima kasih, Kak.”


“Sama-sama, Nona.” Wajah Evany sudah memerah, begini sulitnya mencari uang di ibu kota, tutur batinnya.


Brugh


“Capek juga ternyata,” tuturnya dengan napas terengah-engah, ia menatap jam di pergelangan tangannya, dua orang yang tadi sempat membantunya telah keluar ruangan.


“Lama juga dia.”


Hampir satu jam mungkin ia mengatur ulang posisi ruangan Gian. Meski sebelumnya Reyhans mencoba membantu apa yang Radha lakukan, tetap saja ia lelah. Larangan Reyhans tak ia indahkan, karena mata Radha tak nyaman dengan posisi ruangan ini sebelumnya.


“Kudu dibayar mahal si gue asli.” Matanya terasa lelah, menunggu Gian tak jua tiba, dan kini perlahan ia memejamkan mata.


-


.


.


.


“Pak, apa besok saya masih berada di tempat ini?” tanya Evany menatap nanr tanpa arah, ia memandangi meja kesayangannya, baru juga beberapa minggu berada di sini, alangkah sakitnya jika harus dipecat lagi, pikirnya.


“Aku rasa tidak, aku sarankan kau menyiapkan lamaran kerja ke tempat lain, Evany.”


Bukannya menenangkan, Reyhans kini menganggap semua ini bagai hiburan. Wajah cemas Evany dan sisa keringat akibat dia membantu mendorong meja ke kanan dan ke kiri masih jelas terlihat.


Harap-harap cemas, Evany menelan salivanya kala si bos besar itu kini menghampiri dengan langkah tegapnya. Bukan karena ia tengah mengagumi kesempurnaan Gian, akan tetapi ia justru takut dan memikirkan jawaban yang pas jika nanti perubahan dalam ruangannya merubah suasana hatinya.


“Kalian berdua, kenapa berada di sini?” Gian menatap aneh Evany dan Reyhans yang terlihat begitu lelah, keringat keduanya membuatnya berpikir macam-macam.


“Woah! Kalian gila?! Kenapa harus melakukannya di kantor, hah!”


Dasar sinting, belum sempat menjelaskan pikiran Gian sudah terbang jauh kemana. Entah kenapa, apa karena sudah menikah atau bagaimana hingga pikiran Gian persis air cucian beras, keruh.

__ADS_1


“Maaf, Pak … maksud anda apa?” tanya Evany yang tak mengerti dengan kelakuan bosnya, pria ini menutup mulut dengan tangan seakan tengah memergoki mereka melakukan hal tak terpuji.


“Maksud? Kau bertanya maksudku? Evany … kau baru saja aku terima beberapa minggu lalu, bisa-bisanya kau berbuat asusila di kantor.”


“Tidak seperti itu, Gian … kau salah, kami tid ….”


“Aku tidak memintamu bicara, Reyhans. Tidak kusangka, kau lebih memilih wanita daripada fokus pada apa yang aku perintahkan.”


Matanya benar-benar ingin Reyhans colok. Kenapa otak Gian seakan tak pernah dicuci. Ingin kesal pada Radha, tapi memang suaminya yang gila. Hanya mencoba bersabar, berharap pria gila ini tak mengambil keputusan sepihak dan memecat Sekretarisnya untuk kesekian kali.


“Aakh kepalaku sakit sekali, dua orang yang aku percaya ternyata mencuri kesempatan dalam kesempitan, sepertinya kalian harus dirajam,” tutur Gian sembari menepuk-nepuk kepala belakangnya.


“Gian stop! Kami tidak berzina.”


Kesabarannya terkuras habis, apa yang Gian katakan kini di luar batas. Tak peduli Gian akan marah dengan ucapannya, Reyhans hanya tengah membela diri dari fitnah paling kejam di bumi ini.


“Lalu apa kalau bukan? Kau … jika Papa tau kau bisa mati, Reyhans.”


“Astafirullah, Gian!! Kau benar-benar membuat hidupku semakin suram.”


Ceklek


“Kak Rey ada apa?”


Gian beralih menatap istrinya yang kini muncul dari balik pintu dengan matanya yang merah, bahkan suaranya benar-benar serak dan menjelaskan betapa ngantuknya Radha saat ini.


“Ada suamimu, tolong jelaskan bahwa tuduhannya tidak benar, Nona,”


“Hah? Tuduhan apa? Apa, Kak?” Nyawa Radha bahkan belum terkumpul semua, ia baru saja mulai tidurnya dan suara keributan diluar membuatnya terpaksa memotong mimpi itu sejenak.


Gian menatap Reyhans datar, asisten pribadinya itu kini berlalu tanpa menundukan kepala seperti biasa. Mungkin kesla dengan tuduhan Gian yang membuat tensi darahnya naik seketika.


“Tidak ada, Sayang … ayo kita masuk.” Tanpa peduli kini Evany masih beku, ia bingung namun bersyukur karena pekerjaannya masih selamat.


🌻


Gian minta votenya dung, mental jauh amat si Bapak🦈

__ADS_1


__ADS_2