
Mama, itu artinya Sheina berada di rumah ini. Dan ini adalah kesempatan bagi Gian untuk membuatnya sadar bahwa cara yang mereka tempuh benar-benar salah.
Segera Gian melangkah cepat, ingin ia menyapa mantan bibinya itu. Bagaimana kabarnya, apa mungkin masih segila dulu, sosok wanita yang kerap membuat Jelita naik darah, dan Gian cukup jelas mengingatnya.
"Siapa kau?"
Tak dapat dipungkiri, menatap Gian yang luar biasa tampan Sheina kagum sejenak. Jiwa bergelora, di umurnya yang tak muda lagi namun telah lama menjanda dan butuh belaian jelas ia terbuai dengan kesempurnaan di depannya.
"Dirgantara Avgian, Anda lupa siapa saya?"
Nama itu, jelas Sheina ingat. Keponakan Randy yang sejak kecil bahkan menjadi musuh bebuyutannya. Segila itu Gian tak menerima kehadiran Sheina ketika awal pernikahan.
Anak kecil yang dulu membencinya kini telah tumbuh besar, bahkan sangat tampan. Dia tak menyebalkan lagi di mata Sheina, andai ia masih muda mungkin akan nekat mengungkapkan rasa.
"Ah, kebetulan kita bertemu ... ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan, jadi tolong pasang telingamu dengan benar."
Oh tidak, dia masih menyebalkan, namun wajah tampannya membuat Sheina menerima meski Gian sama sekali tak hormat padanya.
"Katakan," tutur Sheina seakan dingin padanya, demi mempertahankan citranya sebagai aktris papan atas.
"Pertama, saat ini Caterine telah kembali pada Om Randy, yang artinya Caterine juga berhak mendapat perlindungan dari saya sebagai salah satu keluarganya."
"Kedua, apa yang terjadi pada Caterine sejak detik ini juga menjadi tanggung jawab saya, jangan coba menghalangi apapun yang akan saya lakukan."
"Ketiga, lepaskan Harry jika memang kalian tak mampu membuatnya mendekam di penjara ... saya tahu jika langkah keluarga Martadhinata tak sebaik bisanya, artinya kekuasaan kalian memang kalah sejal awal."
"Keempat, untuk saat ini atau kalau bisa seterusnya jangan datang jika hanya membuat rumit, biarkan apa yang menjadi hak kami berjalan dengan baik tanpa ikut campurmu."
Sesak, apa yang keluar dari mulut Gian membuat Sheina seakan hilang pondasi. Kenapa sejelas ini Gian paham jika memang sulit bagi sang papa untuk membuat Harry menerima akibat dari kesalahannya.
"Maksudmu, aku tidak berhak atas Caterine lagi begitu?"
Sheina agak tak terima dengan pernyataan terakhir Gian, namun bagaimanapun juga saat ini memang dia butuh uluran tangan. Sebab itulah dia menemui Randy saat ini, meski tujuan awalnya adalah membicarakan langkah agar dia bisa tetap bersama Caterine, namun setelah mengetahui fakta bahwa papanya kalah telak tujuannya berubah.
"Hm, akan lebih baik jika Anda memahaminya demikian, karena yang Caterine butuhkan adalah orang yang mampu melindunginya, bukan malah menghancurkan kehidupannya."
"Jaga mulutmu!! Aku tidak pernah menginginkan putriku hancur seperti ini!!"
__ADS_1
"Sheina!!!"
Teriakan itu kini memekakkan telinga. Nyatanya benar memang wanita itu hanya membuat keruh keadaan. Randy yang susah payah menjaga keadaan agar Caterine tak mendengar hal-hal semacam ini, kini tak terhindar lagi.
"Anda lihat, bagaimana tak bergunanya kau sebagai seorang ibu, mulutmu hanya mampu berteriak tapi lemah dalam bertindak ... keputusan terbaik memang dulu kalian berpisah."
"Gi," celah Randy memohon agar keponakannya tak membahas hal itu lagi, nampaknya dendam berjilid-jilid Gian yang sedari kecil tak suka Sheina sampai saat ini juga tetap tak suka.
Bahkan tanpa sopan, dan ia tak menganggap dirinya tengah bicara dengan orang yang lebih tua. Hanya karena hadirnya Randy, Gian tak bisa leluasa membuat mental Sheina hancur.
"Pulanglah, Om percaya padamu ... tapi, tolong pertimbangkan mental putriku juga, Gi."
Randy percaya, jika hanya membuat Harry mendekam di penjara bukan suatu hal yang sulit bagi Gian. Akan tetapi, mental putrinya yang kini berusaha ia jaga, hanya itu.
"Hm, Om tenang saja, aku pergi."
Sheina menatap nyalang Gian yang kini berlalu, wajahnya terasa panas dan ingin ia hancurkan isi rumah ini sekarang.
"Aarrrggh!! Keponakan kamu tu masih aja ya, Mas!! Belagu!!" geram Sheina menghentakkan kakinya, dan hal itu sama sekali tak Randy sukai.
"Caterine, aku merindukannya."
"Tapi dia tidak rindu, jangan berharap bisa menemuinya," tutur Randy hendak berlalu, karena memang sebelumnya Caterine memilih untuk di kamar dan tak ingin ditemui siapapun.
"Apa? Akal-akalan kamu aja kan, Mas? Dia putriku, mana mungkin dia nggak mau ketemu aku."
"Terserah, jika memang dia mau bertemu denganmu ... Caterine tidak akan lari ke kamarnya setelah tau kamu datang."
Sheina memejamkan mata, basa basinya tak berhasil. Ia belum mengatakan niatnya, tapi sepertinya niat itu akan ditolak mentah-mentah oleh Randy.
"Mas ..."
"Apalagi? Kamu tidak bisa pulang sendiri?"
"Bukan begitu, tapi ... bolehkah aku tinggal di sini untuk beberapa hari?" Sheina tak peduli dengan rasa malu, persetan, pikirnya.
"Kamu tidak paham bahasa manusia atau bagaimana? Aku sudah memintamu untuk pergi, dan kamu menanyakan hal yang kamu sudah tau jawabannya, pakai otakmu, Sheina."
__ADS_1
Sungguh, baru kali ini ia mendapati Randy sekasar ini padanya. Jika dulu mantan suaminya ini selalu mengalah, kini 180 derajat berubah. Kesempatan untuk rujuk semakin tak ada bahkan takkan pernah ada.
"Dan ingat, jangan pernah datang lagi ke rumahku ... Caterine tidak butuh kamu, apalagi aku."
Tidak, kenapa Randy benar-benar tak ia kenali kini. Ia benar-benar berubah, bahkan tak ada keramahan sama sekali. Yang ada hanya tatapan nyalang tak bersahabat, sungguh sakit hati Sheina luar biasa patahnya.
-
.
.
.
"Selesaikan, kalau perlu tuntut dengan hukuman mati, gantung, cambuk, rajam atau kalau tidak kebiri sekalian, Reyhans."
"Baik, Gian ... tapi bukan berarti seperti itu juga, kau berlebihan sekali."
"Tidak ada yang salah dari ucapanku, kita harus bertindak cepat ... atur semulus mungkin dan tolong jaga nama Caterine, kau mampu melakukannya tanpa aku bicara banyak, Rey."
"Iya, Bos."
Mungkin sekarang Reyhans tengah gila dengan perintah Gian yang tak masuk akal. Meski hukum harus ditegakkan, bukankah HAM juga masih ada.
Gian menatap jauh kedepan sana, lalu lintas cukup kondusif, sehingga kesabarannya agak lebih baik di perjalanan kali ini. Seperti yang ia katakan, bahwa Radha akan ke kantor sendiri, karena Gian harus mengurus beberapa hal penting lainnya.
Karena mengandalkan Reyhans saja adalah sebuah hal yang tak baik, ia juga harus berusaha dengan caranya sendiri tentu saja.
"Apa aku pukul saja ya wajahnya? Om Randy hanya membuat lebam sebelah matanya, sepertinya kurang simetris."
Tampak menimbang keputusan, masih ia ingat bagaimana kacaunya wajah Harry ketika bertemu dengannya. Dan kini ia sudah tak tahan ingin memberikan tanda kebiruan tepat di wajah pria itu walau satu saja.
Babay!🦈
Besok My Bastard Husband Crazy Up, kesana ya!!
__ADS_1