Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 146 HP UNDIAN


__ADS_3

“Udah mandinya?”


Gian melemparkan ponsel Radha ketika istrinya itu keluar dari kamar mandi, masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, Radha memerhatikan tingkah Gian yang sedikit aneh. Belum lagi ponselnya yang semula berada di atas nakas, kini tergeletak begitu saja di atas ranjang.


“Ada yang telpon aku? Siapa, Kak?”


Ia bertanya demikian karena memang yakin ada bahwa Gian mengangkat telepon yang masuk untuknya, samar memang ia dengar namun Radha jelas tak mampu mendengar dengan jelas karena dirinya berada di bawah guyuran air.


“Iya, buat kamu … katanya kamu menang undian, Ra.”


Pria itu menghampiri istrinya, berusaha berbohong dari Radha yang tengah mencurigainya. Jika istrinya tau bahwa yang menghubunginya adalah Abian, teman dekat Radha, maka usaha Gian yang dahulu memblokir Abian dari kehidupan Radha akan percuma. Sungguh kekanakan memang, Gian bahkan cemburu pada pemuda yang bahkan masih bau amis.


“Undian? Yaaaah ... kenapa Kakak gak panggil aku,” rengek Radha seakan kehilangan kesempatan hidup, bagaimana mungkin Gian melewatkan kesempatan emas ini, pikirnya.


“Astaga, Zura … sejak kapan kau begitu senang dengan telepon dari penipu macam itu.”


Gian menggelengkan kepala, benar-benar heran dengan kelakuan istrinya, jika biasanya orang akan merasa terganggu dengan telepon macam itu, kenapa Radha berbeda.


“Ih Kakak … tidak semuanya penipu, dan aku pernah menang undian dan hadiahnya memang benar-benar nyata.”


Radha begitu yakin dan hal itu hanya Gian pandangi begitu anehnya, ada apa dengan istrinya, mengapa begitu berbeda. Terlahir kaya ternyata tak membuat Radha terbatas melakukan hal-hal semacam itu.


“Dapat apa?” tanya Gian sedikit penasaran, sebesar apa hadiah yang ia dapatkan dari sebuah undian yang ta kia ketahui sejak tadi.


“Hp,” jawab Radha menunjuk ponsel keramat itu dengan dagunya.


Mengingat bagaimana dulu dia yang sedikit sulit mendapat perhatian Ardi akhirnya coba-coba mengikuti apa yang teman-temannya lakukan, ketagihan karen menyaksikan Nisya menang, Radha pun rela mengeluarkan banyak uang untuk membeli kuponnya, hingga hitungannya sama saja dengan membeli ponsel jalur berbeda.


“Jadi maksudmu? Zura kau tau itu judi, Sayang!!”


Gian menghela napas panjang, wajar saja ia menang, karena memang yang Radha ikuti murni sebuah taruhan. Dan sama sekali ia tak mengira, gadis polos seperti Radha mampu melakukan hal semacam itu dalam hidupnya.


“Apa kau tidak punya uang buat beli HP, Ra?” tanya Gian tak habis pikir, wajar saja Ardi dahulu lebih memilih mengabaikan keinginan Radha, mendengar kisahnya ini Gian semakin yakin masih banyak lagi hal-hal di luar dugaan yang pernah istrinya lakukan.


“Punya, tapi rasanya berbeda … kalau Kakak beli langsung itu ga bakal ada perasaan dag dig dug nya, Kak.”

__ADS_1


Bisa saja ia menyangkal, ingin rasanya ia penggal leher mulus istrinya itu. Sepertinya otak Radha memang tak berfungsi dengan semestinya, mempercayai hal-hal yang berhubungan dengan keberuntungan, mungkin hal itu pula yang menjadikannya siswa berprestasi jalur hoki.


“Sejak kapan kau gunakan Hp ini?” tanya Gian kini meraih ponsel istrinya itu, memang bukan seri terbaru, namun harganya juga tak main-main.


“Sejak kapan ya, kira-kira satu tahun lalu gitu,” jawabnya dengan santai dan kembali fokus mengeringkan rambutnya, dan ia tak berpikir tentang siapa yang menghubunginya itu.


“What? Dan papa tidak marah kamu begini?” tanya Gian masih tak percaya, bagaimana mungkin seorang Radha dibiarkan bebas mengikuti hal-hla yang begini, benar-benar tidak masuk akal.


“Marah apanya, Kak? Papa saja tidak peduli apa yang aku lakukan.”


Kalimat itu sejenak membuat keduanya terdiam, wajah sendu Radha membuat Gian merasa bersalah. Seharusnya Gian tak perlu bertanya, karena tanpa dijelaskan pun dari cara Ardi memperlakukan Radha dulu semuanya telah terjawab.


“Ck, ingin aku pukul Papamu itu, boleh, Ra?” tanya Gian serius meski terdengar sedikit bercanda, karena memang nafsuu untuk memukul Ardi itu nyata adanya, namun tentu saja Gian tak lupa, bagaimanapun Ardi adlaah Papa dari istrinya.


“Ya terserah, Kak … tapi di tuntut Mama Dewi mau?”


Ia berucap santai, bahkan tak ada kemarahan ketika Gian mengatakan itu. Meski bukan berarti Radha akan senang, namun sepertinya memang tak ada kesedihan di wajah Radha kini. Masih menggunakan handuk yang hanya sebatas lututnya.


“Kenapa begitu? Kan itu Papamu?” Gian mengernyitkan dahi, istrinya benar-benar tak bisa ditebak.


“Heeh, mau kemana?”


Gian menghalangi langkah istrinya, karena memang ia lupa menghilangkan jejak Abian yang menghubunginya. Ia belum menghapus riwayat panggilan dan pesan beruntun dari Abian, dan gIan tak rela jika istrinya sampai melihat pesan itu.


“Ih Kakak apaan sih,” tutur Radha mulai kesal lantaran Gian semakin menyebalkan.


“Nggak, kamu harus sekolah … nanti telat, cepat ganti baju sana.”


Dengan tanpa dosa ia mendorong istrinya hingga mundur beberapa langkah. Sebegitu takutnya Gian istrinya menyadari bahwa Abian masih mencarinya. Tanpa basa basi ia berlalu dan tentu saja membawa ponsel milik Radha bersamanya.


“Dia kenapa sih?”


Berusaha untuk tak terlalu memikirkan Gian, sekolahnya lebih penting, meski masih cukup pagi ia tak ingin telat seperti kemarin. Seragamnya sudah ia siapkan sejak tadi malam, ia berharap hari ini lebih baik.


“Gian,” panggil Jelita yang kini tengah membantu Layla menyiapkan sarapan pagi, menyadari putranya itu turun dengan langkah kaki yang tak bisa dikondisikan jelas saja membuat kehadirannya mudah diketahui.

__ADS_1


“Hm, Mama masak apa?” Gian bertanya namun matanya fokus menatap ponsel istrinya, pertanyaannya membuat Jelita sedikit heran, karena tak biasanya putrinya mempertanyakan apa yang ia masak.


“Tumben kamu tanya,” tutur Jelita mencebikkan bibirnya.


“Memangnya salah, Ma?”


Gian bertanya dengan mulut penuhnya, memasukan satu roti tawar sekali gigit jelas mengundang kemarahan Jelita untuk mendaratkan telapak tangan di pundak putranya.


“Siapa yang mengajarkanmu makan seperti itu?!!” geram Jelita lantaran kesalnya, sejak dahulu terlatih hidup selalu rapi dalam segala hal kini Gian sarapan tanpa aturan.


“Awww!! Mama kenapa? Aku salah dimanya,” tutur Gian dengan kesalnya, ia masih berusaha menelan sarapan paginya itu.


“Tidak sopan, Papa tau bisa disiram kamu,” celetuk Jelita menggelengkan kepala, entah sejak kapan putranya berubah seperti ini, dan juga membawa ponsel ke meja makan bukanlah gaya hidup Gian sejak lama.


“Ini lagi, ngapain bawa HP segala.”


Gian menghindari Jelita yang hendak merebut ponsel Radha dari tangannya. Ia memasukan ponsel istrinya ke dalam saku celana, berharap akan lebih aman bersamanya, pikir Gian.


“Istrimu mana?”


“Ganti baju, Mama lupa dia masih sekolah? Hm menyebalkan sekali, kenapa Zura harus sekolah sih, Ma.”


Lagi dan lagi keluhannya masih sama, benar-benar tak ikhlas jika istrinya itu menuntaskan tanggung jawabnya.


“Kau sendiri yang tahu jawabannya, Gian,” jawab Jelita atas keluhan putranya, karena bagaimanapun memang tak begini rencananya, pernikahan itu mereka lakukan sebagai cara untuk membuat Haidar betah, namun nyatanya malah Gian yang berada di posisi itu.


“Oh iya, tadi malam Mama kemana?”


“Rumah Randy, dan kau tahu Caterine?” Jelita menggantung pembicaraannya, terlihat kini Gian tampak penasaran.


“Caterine? Kenapa dia? Bagaimana kabar anak itu, pasti cantik sekali … ah aku merindukannya.”


Gian antusias bertanya perihal sepupunya, tanpa ia sadari seseorang yang berada tak jauh darinya menghentikan langkah begitu mendengar ucapannya.


TBC

__ADS_1


Guys tetep temenin Gian ya❣️


__ADS_2