Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Berjumpa (Papa) Dan Bibit Pelakor.


__ADS_3

Kedatangan Radha dan Gian yang tak pernah ia duga mengejutkan pria berkulit putih itu, tak terlalu muda lagi namun tetap saja fisiknya menutupi usianya. Ardi, menatap lekat wajah cantik sang Putri yang kini berada di hadapannya.


Tampak begitu di istimewakan pangerannya, Ardi tersenyum dengan perasaan yang berpadu. Entah, bersalah atau malu juga menyelimuti jiwanya. Radha terlihat begitu segar, cantik dan manik indah itu persis dengan wanita yang dahulu pernah ia jadikan cintanya.


Wajah yang dahulu selalu ia rindukan, setiap hari bahkan detiknya. Tak pernah ia duga, semudah itu ia mengganti cintanya. Kehadiran orang ketiga, dan keputusan yang pernah menghantam jiwa kala pernikahannya hancur masih tetap menjadi luka.


"Andai, aku tak meletakkan dua wanita waktu itu, mungkin kau akan menjadi peri kecil Papa tanpa kecewa, Nak."


Percuma, sebesar apapun penyesalan, seluas apapun kerinduan. Jika ia sendirilah yang mengizinkan celah kehancuran itu ada, maka hanya akan jadi sesal yang teramat percuma.


"Zura, Papa rindu ... kenapa kau tak pernah menghubungi Papa, Sayang?" tanya Ardi yang membuat Radha sejenak tersentuh, namun kembali ia sebal lantaran Ardi membuatnya di posisi salah.


"Sibuk, Pa, aku harus belajar full time, maaf." Bisa saja ia mencari alasan, belajar apanya. Semenjak menikah Radha lebih banyak memikirkan perut lebih tepatnya.


"Kau terlihat gendutan, Zura ... bahagia ya, Sayang?"


Apa? Gendut? Sialan, baru saja duduk di sofa yang dahulu menjadi tempat favoritnya. Bisa-bisanya ia mendapat kalimat paling menyebalkan yang pernah ia dengar. Wajah kusutnya terlihat jelas dan Gian menyadari perubahan istrinya.


"Hahah ... Papa bisa saja, mungkin karena sudah lama tidak bertemu, dia masih sama seperti beberapa waktu lalu, Pa."


Gian berucap sembari memperlihatkan senyum manisnya untuk Radha, wanita kecilnya hanya mendelik masih terlihat kesal walau Gian sudah berusaha menghiburnya.


"Ah iya? Apa begitu, tapi kau masih mengingat janjimu dulu, kan?"


"Hm, tentu saja, Pa." Gian menjawab seadanya.


Janji? Janji apa, Radha memang penasaran. Namun untuk terlihat peduli bukan saatnya. Ia memang rindu Ardi, tapi melihat saudara tirinya yang menempel begitu lengketnya membuat Radha mengubur kerinduannya.


Sungguh, tiada kalimat lain selain kesal tiada tara melihat pemandangan di depannya. Seakan sengaja, Celine dan Dewi terlihat bak nyonya besar dan tuan putri yang kini Radha kunjungi.


"Sayang, kau menginginkan sesuatu?"

__ADS_1


Cih, bahkan jika mau Radha masih berhak untuk menguasai rumah itu. Terlalu baik terlihat, Dewi membuat Radha mengepalkan tangan. Ia menahan napas beratnya, ingin ia lemparkan emosi sebesar itu untuk kedua wanita yang memang sukses merebut kasih sayang yang seharusnya ia dapat tanpa celah.


"Tidak, terima kasih," ucapnya sembari mengalihkan pandangan, tidak ada sopan ataupun kelembutan di sana, baginya sopan tak pantas ia dapatkan.


Lain halnya dengan Celine, sejak tadi ia tak peduli bagaimanapun Radha. matanya hanya tertuju pada Gian yang sejak awal datangnya telah membutakan Celine. Wajah itu, idamannya sejak lama.


Tidak ada celah yang membuat kesempurnaan Gian berkurang, walau sedingin apapun ia menatap Celine justru membuatnya semakin tertantang.


Senyumnya, dan bagaimana ia berbicara membuat Celine luluh tanpa Gian melakukan usaha. Berbagai pujian yang Ardi berikan nyata adanya, dan di titik ini ia merasa apa yang dahulu berhasil ia rebut dari Radha seakan tak berarti.


Braaaakk


"Ra?"


Matanya begitu tajam menatap mangsanya, Gian terkejut bukan main ketika pembicaraannya dengan Ardi terpotong akibat istrinya yang tiba-tiba menggebrak meja sekuatnya. Bisa dipastikan telapak tangannya memerah, Gian mengikuti kemana arah tatapan nyalang itu Radha berikan.


"Kau, bisakah tidak muncul selama aku di sini?" Radha dengan tatapan penuh intimidasi seakan hendak menguliti Celine hidup-hidup.


"Putri? Putri Papa hanya aku, dan Papa hanya membuat satu wanita di dunia ini yang mengandung yaitu Mama." Jawaban tak terduga Radha membuat Dewi di puncak emosi, ingin rasanya ia habisi putri tirinya itu.


"Radha!! Jaga bicaramu, Nak." Begitu lembut, kali ini Ardi memohon pengertian. Ia tak mampu marah, mungkin bentuk kecewanya sang putri padanya. Namun, ia juga tak dapat diam begitu saja lantaran Dewi sudah menjadi pilihan hidup Ardi sejak beberapa tahun lalu.


"Mas, tak apa ... kan memang begitu," ucap Dewi dengan senyum seakan paling tersakiti, ia memperlihatkan betapa terlukanya dia atas ucapan Radha.


"Sayang, maafkan putriku."


Fakta bahwa dia memang tak bisa memberikan keturunan untuk Ardi memang mimpi buruk, pernikahan mereka tak sekuat itu. Kehadiran Celine dan Radha yang tak bisa bersatu meski telah sejak lama, membuat pernikahan mereka jauh dari kata indah.


"Sudah, cukup ... Radha, kau kenapa?" Gian tak mau berlama-lama melihat drama kedua manusia munafik di hadapannya, pria itu beralih pada Radha yang masih terlihat terlampau emosi.


"Gatel banget si lu!! Udah tau bininya nongkrong dimari, bisa jaga ga tu mata, cukup emak lu aja yang ngerusak kebahagiaan orang!! Lu ga usah ikut-ikut."

__ADS_1


Bukan main terkejutnya, tata bahasa yang baru kali ini Gian dengan dari bibir istrinya. Pedas juga ternyata, dengan sesantai itu namun berhasil membuat tiga orang di sana terbeliak.


"Heh, gak usah kepedean lu!! Kalau bukan karena Papa, maaf banget gue harus ketemu sama lu gilaaa. Dan satu lagi!! Siapa yang mau rusak kebahagiaan lu."


"Pembelaan banget si, lu pikir gue gak sadar mata lu sama sekali gak kedip liat laki gue. Naksir-naksir aja, gak usah sok suci deh."


"Nyolot lu ya, dari tadi kak Gian duduk di depan gue!! Ya pas aja gue di hadepan dia, kenapa lu yang marah."


"Hahahah emang bener ya, buah jatuh gak bakal jauh dari pohonnya, Mamanya gatel eh anaknya terlatih gatel sejak dini. Kesian, gak dapet cowok lu ya," cacian yang lebih merujuk pada hinaan, dan Gian yang berada di sampingnya hanya menarik sudut bibir begitu tipis.


"Jaga mulut lu ya, tanpa perjodohan lu juga ga akan dapetin kak Gian."


"Lu gak berhak manggil dia kakak, gue gak pernah izinin dia punya adek bentukan lu."


Astaga!!! Dewi semakin malu, tingkah keduanya keluar sama buruknya. Baik Radha maupun Celine sama gilanya, Ardi bahkan memijat belakang kepalanya kuat-kuat, mungkin jika berlangsung lama ini akan membuatnya pingsan.


"Celine!!! Radha!!! Bisakah kalian bersikap dewasa?!! Kalian bukan anak kecil lagi, terutama kau, Radha!!"


Hm, sudah menjadi kebiasaan, Radha memang berakhir sebagai orang yang bersalah dalam hidupnya. Bentakan Ardi membuatnya lemah, ia menunduk namun Gian tak menginginkan Radha melakukan itu.


"Pa, jangan hanya fokus pada kesalahan salah satunya, istriku memang belum dewasa, bahkan bisa dikatakan masih anak-anak. Tapi, setidaknya di usianya yang semuda ini, dia mampu menempatkan diri."


"A-aku, bukan begitu maksudku, Gian .... Papa hanya heran, mereka tidak pernah bisa baik-baik, entah apa yang menjadi sebabnya."


"Entah? Aku harap Papa bisa paham, terima kasih ... maaf menganggu waktunya."


Gian merangkul pelan pundak Radha, berlalu melangkah pergi meninggalkan rumah itu. Rindu yang Radha rasakan sudah cukup, dan Gian tak mau membuat Radha semakin tak nyaman.


Demi apapun, takkan ia berikan kesempatan untuk Ardi lagi. Jika Radha seakan tak ada artinya bagi Ardi, maka ia akan menjadi ratunya. Tak perlu kasih sayang Ardi, dengan sendirinya Gian mampu membuat istrinya bahagia.


............ Bersambung❣️

__ADS_1


__ADS_2