Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 216. Amarah (Lalai)


__ADS_3

Menjelang siang, Radha tak sendiri lagi. Jelita telah kembali, mungkin ia harus membagi waktu agar perhatian pada Radha tak berkurang, apalagi menantunya memang tengah hamil muda, jelas saja sebagai mertua Jelita tak ingin menantunya merasa kesulitan.


"Alhamdulillah, kamu keliatan baik-baik saja ya, Sayang, apa tidak mual-mual, Ra?"


Jelita bersyukur, lantaran menantunya sangat bugar. Berbeda dengan ia yang dulu sempat sakit pada awalnya, porsi makan Radha bahkan tak berkurang, malah lebih banyak dari sebelum hamil.


"Hm ... nggak kok, Ma, memang aku sempat baca dari beberala artikel katanya beda-beda, awal-awal cuma susah tidur sama sedikit lemas doang."


Brownies coklat di tangannya kian berkurang, beriringan dengan pembicaraan mereka yang kian luas. Jelita memberikan hal terbaik untuknya sebagai pengganti sosok ibu bagi radha, dan Radha jelas merasa dunia benar-benar berpihak padanya.


"Sehat-sehat terus cucu Oma, pinter banget si kamu."


Jujur saja, Radha masih terlampau geli dengan hal-hal yang dilakukan mertua dan suaminya. Mereka kerap berinteraksi dengan calon bayinya dengan mengelus perut Radha yang masih rata dengan kalimat lembut mereka.


Akan tetapi, Radha memang sedikit tak nyaman siapapun menyentuh dirinya, terbukti dengan beberapa kejadian gila yang sempat terjadi ketika mereka awal menikah. Berapa kali malam pertama gagal akibat dia yang terlalu geli akan sentuhan.


"Rutin periksa ya, Ra. minta Gian dampingin kamu, dan juga jangan makan yang aneh-aneh."


"Ehm, nggak aneh kok, Ma. Masih wajar dimakan manusia." Jawaban cerdas namun berhasil membuat Jelita sejenak menganga.


"Maksud Mama perhatikan apa yang kamu makan, jangan makan sesuatu yang bisa berpengaruh buruk buat kesehatan kamu dan bayi kamu, Sayang," tutur Jelita begitu lembut, ia tak ingin ucapannya membuat Radha justru tertekan.


"Iya, Ma. Paham," ucap Radha mengangguk berkali seraya tak henti mengunyah.


"Oh iya, selama Mama tinggal apa keadaan baik-baik saja?"


"Baik kok, Mau."


"Apa ada orang lain datang buat cari Mama, Ra?" tanya Jelita sewajarnya, ia hanya perlu memastikan bagaimana keadaan menantunya selama dia pergi.


"Enggak ada, Ma ... tadi pagi cuma ada Celine, tapi bukan cari Mama, dia cuma cari Papa.


"Celine? tapi dia tidak melukai kamu kan, Sayang? " tanya Jelita justru khawatir ketika mendengar nama itu, entah mengapa memang Jelita sangat tidak suka pada anak tiri Ardi dari wanita yang sangat ia benci itu.


"Enggak kok, Ma ... dia datang baik-baik," jawab Radha singkat.


Radha berusaha melupakan segala hal yang terjadi. Toh memang Celine datang hanya untuk menanyakan papaya, bukan berniat melukai Radha. Meski yang sebenarnya terjadi lebih dari itu, percakapan mereka masih terekam jelas dan sakitnya masih sesesak itu dalam benak Radha.

__ADS_1


Meski dulu Maya sempat tak menerima kedatangannya, akan tetapi saat Celine menyebut sang mama sebagai seorang istri yang tidak berguna, ia semarah itu.


"Benar begitu?" tanya Jelita tak yakin, karena yang ia tahu Celine adalah gadis brutal yang diam-diam menusuk Radha dan Ardi secara bergantian.


"Iya, Ma. Jadi, tidak perlu khawatir kok, aku bisa jaga diri."


"Walaupun begitu, Ra ... Mama beneran gak suka anak itu, mungkin karena dia putri si Dewi kali ya."


Kemungkinan paling nyata Jelita sangat membenci Celine hanya karena itu, karena pengaruh orang tuanya. Dan juga, Raka tak tinggal diam perihal bagaimana cara Dewi menyambutnya ketika dulu datang melamar Radha, masih menjadi kekesalan bagi Jelita.


"Haha iya kali, Ma."


"Kamu nggak pengen ketemu sama Mama kamu, Ra?" tanya Jelita menatap lekat manik bening menantunya, karena jika Jelita lihat memang Radha belum terlalu memikirkan Maya, entah dia memang lupa atau belum mau menerima.


Tak ada jawaban dari Radha, ia hanya diam. Belenggu rindu itu memang nyata, namun tak bisa ia pungkiri bahwa dirinya belum bisa berdamai dengan. keadaan, terutama rasa sakitnya akan penolakan Maya dulu.


"Tidak usah jawab sekarang, Sayang ... kamu masih punya banyak waktu untuk berpikir, " tutur Jelita menenangkan menantunya, tak ingin jika radha justru terlalu memikirkan hal ini.


-


.


.


BRAK!!


"Apa? Kenapa baru bilang sekarang?!!"


Sungguh Reyhans terkejut bukan main, makan siang mereka kacau lantaran Gian yang tiba-tiba menggebrak meja. Sungguh pencuri perhatian.


"Gian." Setengah berbisik, Reyhans menyadarkan Gian bahwa kini mereka bukan hanya makan berdua, tapi banyak orang penting lainnya di meja itu.


Nampaknya pria ini lagi-lagi gila, Reyhans berusaha meminta maaf pada yang lainnya dan memohon pengertian bahwa semua baik-baik saja.


"Bukankah sudah kukatakan pada kalian? Jangan izinkan dia keluar sendirian, walaupun hanya sebatas keluar pagar, Aryo!!"


Reyhans mengerti, sepertinya penjaga rumamh Gian membuat ulah. Hingga berakhir pada amarah Gian yang tak tahu tempat.

__ADS_1


"Dasar payah!! Beruntung cuma wanita murahaaan itu yang datang, coba kalau yang lain? Kalian mau tanggung jawab jika istriku hilang?"


Gian tak peduli lagi dirinya dimana saat ini, namun laporan Aryo membuatnya murka. Kedatangan Celine yang sudah dipastikan hanya untuk cari ribut sangat tak ia sukai, sama sekali.


"Sekarang dimana dia?" tanya Gian merubahh nada bicaranya, dasar pria gila, bisa dia merubah diri dalam keadaan secepat itu, benar-benar diluar dugaan.


"Keluar, Tuan ... tapi tidak sendiri, Nona bersama Nyonya kali ini," tutur Aryo hati-hati di seberang sana.


"Yang antar siapa?"


"Sama Budi, saya harus jaga rumah kata Nyonya."


Kata Nyonya, baiklah Gian tak bisa marah jika yang memerintah adalah Jelita. Karena sebesar apapun kuasa dia, ia tak seberani itu untuk marah seperti biasa.


Suasana meja makan turut diam, mereka bahkan terhenti dan menunggu Gian selesai menelepon. Karena khawatir jika hal buruk tengah terjadi, maka dari itu mereka setia menanti apa yang akan Gian ucapkan.


"Maaf semua, saya ada urusan mendadak ... kalian teruskan saja makan siangnya."


Dan benar saja, bukan kali pertama Gian meninggalkan meja makan seperti ini. Baru beberapa suap dan bisa-bisanya Gian rela meninggalkan mereka semua.


"Tidak masalah, Pak ... terima kasih atas waktunya."


Memang benar, berharap akan menjadi seseorang yang memiliki kedekatan dengan Gian nyatanya tak semudah itu. Pria ini tak ada waktu tak sibuk, pekerjaan dan lingkungannya sama sekali tak bisa ditebak.


"Kau tetap di kantor, Reyhans... teruskan makan siangmu, kenapa harus ikut aku?"


"Karena itulah kewajiban saya." Jawaban paling tepat dan tak bisa dibantah siapapun.


"Tidak perlu, Rey, ini jam istirahat ... paling tidak hidupmu normal di saat-saat seperti ini."


Gian tengah memberikan kesempatan untuk Reyhans agar memanfaatkan waktu dan tak menyia-nyiakan waktu istirahatnya. Akan tetapi, entah kenapa Reyhans sendiri yang rela kehilangan waktu itu demi Gian.


"Mendampingimu adalah tugasku, Gian ... jadi tidak ada salahnya."


"Aku sudah punya pendamping, Reyhans, maaf sekali ... dan aku tidak berniat untuk mencari yang lain, apalagi kau laki-laki."


Cara bicara yang serius, dan sama sekali tidak ada nada candaan. Namun, Reyhans sempat terdiam mendengar ungkapan Gian.

__ADS_1


"Bu-bukan begitu maksudku, Gi, tidak mungkin juga aku menjadi yang kedua dalam hidupmu."


TBC


__ADS_2