
Rambutnya masih sangat basah, mungkin pria itu tak mengeringkan tubuhnya sama sekali. Terlalu buru-buru dengan karena tangis Kalila yang terdengar olehnya.
"Kalila baru bangun ya?"
Gian menghampiri putrinya, tangisnya seakan menjadi angin segar bagi Gian. Karena ia tak perlu susah payah berusaha membangunkan Kalila, sembari menanti Radha yang hingga kini belum juga kembali.
Semudah itu, Gian tak membuka pakaian Kalila begitu sadar putrinya berkeringat cukup banyak hingga rambutnya basah.
"Sssttt, gini enak?"
Perlahan tangis itu mulai reda, manakala Gian membawa Kalila menuju balkon. Angin sepoy tentu saja membuatnya perlahan tenang, air matanya terlihat bak mutiara di mata Gian, ia usap pelan-pelan agar putrinya benar-benar tenang.
Hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya, tubuh yang belum kering sepenuhnya. Dan Kalila yang kerap merasa panas setiap harinya jelas saja menyukai apa yang Gian lakukan.
Tak lama berselang, suara itu kembali terdengar oleh Gian. Siapa lagi kalau bukan istrinya, Radha memintanya masuk segera.
"Astaga, bajunya kenapa dilepas semua, Kak?"
Radha terdiam menyadari suaminya yang kini tengah menatapnya begitu santai tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Panas, Kalila keringetan, Ra ... Kakak nggak tega."
Pandai membuat alasan, padahal biasanya juga memang Kalila kerap berkeringat, akan tetapi Radha tak pernah melepas bajunya seenak jidat.
"Tapi nggak gitu juga, semua dilepas begitu ... masuk angin yang ada, ya Tuhan."
Tubuh Kalila yang memang tengah lucu-lucunya, tumbuh kembangnya sangat baik, dan memang melebihi berat badan Kama.
"Biar sekalian, lagian dia lucu begini."
Ya jelas saja lucu, siapapun yang melihat juga pasti akan mengatakan hal yang sama. Menginjak usia 7 bulan, Kalila berhasil semua perhatian siapapun yang bertemu dengannya.
"Pakaikan bajunya, Kakak juga pakai baju sana," titah Radha dengan suara datarnya, walau ia tahu mungkin hal itu sangat Kalila sukai, akan tetapi jika nantinya berakibat buruk pada putrinya percuma saja.
"Hm, tolong siapin ya, aku mau bajunya sama seperti Kalila."
Radha mengangguk, tak apa jika memang itu membuat Gian senang. Pria itu sengaja membeli berbagai macam pakaian yang sama dengan kedua buah hatinya.
Kalila yang sejak tadi berada dalam gendongan Gian hanya fokus menggigit jemarinya. Giginya sudah mulai tumbuh, jadi wajar jika dirinya kerap gemas dengan diri sendiri.
Tidak, Gian belum mau jika Kalila mengenakan baju secepatnya. Dia masih ingin memeluk putrinya yang kini tellanjang bulat.
"Jangan cepet gede ya, Sayang ... kamu lucu begini."
Gian masih ingin menikmati kelucuan putrinya lebih lama. Beberapa bulan berjalan rasanya begitu cepat, masa-masa seperti ini akan abadi dalam kenangan nantinya.
Radha kembali, dengan membawa pakaian seperti yang telah suaminya minta. Dan tentu saja dia takkan langsung bergerak cepat, pura-pura tak mendengar perintah Radha dan terus menghabiskan waktu untuk sekadar berbagi tawa pada putrinya adalah pilihan terbaik bagi Gian.
__ADS_1
"Yaudah terserah, kamu mau masuk angin atau kenapapun itu ... awas aja aku balik Kalila masih begitu."
Lelah Radha meminta putrinya, tawa Kalila membuat Gian seakan tak menganggap kehadiran istrinya. Wanita itu berlalu, keluar kamar untuk mencari Kama. Karena memang sudah cukup lama putranya bersama Jelita, Radha hanya khawatir jika Kama mulai rewel dan lainnya.
"Jangan lama-lama," teriaknya terdengar jelas begitu Radha sudah berada di luar kamar.
Padahal sejak tadi dirinya sudah lama merayu Gian, akan tetapi pria itu mendadak tuli dan tidak menganggap bahwa dirinya ada di sisinya.
-
.
.
.
Radha menghela napas lega begitu menyadari putranya tertidur lelap di sisi sang mertua. Nampaknya kemampuan Jelita dalam membuat bayi tertidur memang tidak perlu diragukan lagi.
"Kamu istirahat aja dulu, dia baru tidur beneran deh."
Mana mungkin Jelita berikan, karena mempertahankan Kama tetap berada di sisinya saja sudah sangat sulit. Dan kini pria itu sudah mengalah, jelas Jelita akan tetap mempertahankan cucunya berada dalam pelukannya.
"Iya, Ma."
Lain halnya dengan Gian, Radha tidak pernah protes ketika Jelita meminta waktu lebih lama bersama Kama. Karena baginya, selagi Jelita tak lelah maka tak mengapa Kama bersama mertuanya.
"Dari mana?" tanya Gian.
"Katanya sakit kepala? Kok biasa aja," tutur Radha menyadari sepertinya Gian berbohong, karena sebelumnya pria itu memang terlihat sangat berbeda, dan kini tanda-tanda jika pria itu masuk angin saja tidak terlihat sama sekali.
"Udah sembuh," ucapnya menarik sudut bibir, ia melirik Kalila yang ia maksud sebagai obatnya.
"Oh dah sembuh, bagus deh kalau udah sembuh."
Radha yang sebelumnya hendak ke kamar kini mengurungkan niat dan mengikuti Gian ke ruang keluarga.
"Nonton dulu, Mail masih jualan ayam nggak ya?"
Pertanyaan random yang sama sekali tak terpikirkan oleh Radha sama sekali. Kalila yang berada di pangkuan Gian sama sekali tak merasa terganggu kala Gian menciumnya tanpa henti, gelak tawanya terdengar lebih keras dari suara televisi.
"Yang nonton ini siapa sih, matiin ya?" tanya Radha serius, karena yang terjadi justru mereka yang ditonton televisi.
"Kita dong, jangan matiin ... Kalila mau lihat cara Mail bisnis, Ra."
"Dia masih kecil, mana mungkin memikirkan hal yang begituan."
"Lah, bisa aja dong, kita nggak tau loh isi pikiran putri kita ini."
__ADS_1
Menurut, ia tak bisa berbuat apa-apa. Permintaan Gian memang kerap tak masuk akal, alasan yang ia berikan sama sekali tak bisa diterima logika.
Berusaha menikmati, Radha hanya tersenyum sesekali menyaksikan interaksi Gian dan putrinya. Pria itu pasti sangat lelah, tanggung jawab Gian sebesar itu namun sama sekali tak terlihat lelah begitu dia bersama buah hatinya.
"Assalamualaikum!!"
"Astafirullahaladzim, kenapa harus teriak."
Suara itu menggelegar dan membuat Gian yang sejak tadi fokus bercanda bersama Kalila jelas terkejut begitu Randy tiba-tiba duduk di sofa lainnya dengan sapaan seperti hendak membangunkan orang sahur.
"Jawab salam itu wajib, Gian ... Kalila aja senyum, masa kamu ngamuk."
"Ya Om datang-datang ngagetin, kalau aku jantungan bagaimana?" tanya Gian dengan tatapan nyalang seakan Randy telah menghancurkan jiwanya.
"Dari tadi aku udah ucap salam, tapi cuma Radha yang jawab," ungkapnya sembari melepas jaket dan meletakkan martabak kesukaan Jelita dan Radha, jelas saja itu hasil dari usaha Jelita yang memaksa Randy untuk datang dengan membawa buah tangan.
"Biarkan, Om, memang salah dia." Radha menengahi, karena jika tidak begitu suaminya akan terus berseteru tiada habisnya.
"Gitu ya, mentang-mentang dibawain martabak Papa disalahin, Mama kamu jahat banget kan, Sayang?" Menyindir di depan adalah keahlian paling luar biasa yang Gian miliki, Radha yang sama sekali tak merasa memilih diam dan kembali berbincang bersama Randy.
"Kak Caterine kenapa nggak ikut, Om? Tumben banget," tutur Radha yang juga merasa rindu akan kehadiran Caterine.
"Biasa, dia lagi fokus sama lukisannya yang segudang itu," jelas Randy singkat.
"Wah, aku udah lama nggak lihat lukisan Kak Caterine, bakatnya memang luar biasa, berarti Om juga bisa ya?" tanya Radha penasaran, karena jika ia lihat, lukisan Caterine memang benar-benar memanjakan mata, sudah pasti Randy juga memiliki bakat yang sama.
"Bisa," jawabnya mantap dan membuat Radha tertarik dengan pembahasan mereka.
"Oh iya? Keren dong, aku boleh lihat, Om?" Radha penasaran bagaimana hasil ukiran tangan Randy.
"Udah lama nggak lukis-lukis, Ra, mungkin terakhir SMA ... janganlah, nanti kamu nyesel lihatnya." Randy menjawab sangat amat serius, seakan tiada niat bercanda sama sekali.
"Yaah, Om, aku kan pengen tau juga."
"Biarlah jadi bakat terpendam, Radha, Om tidak mau mengumbarnya," tutur Randy tak berbohong sama sekali, karena memang bakat itu adalah bakat terpendam yang memang lebih baik dipendam.
Caterine mulai kembali menemukan dunianya, ia menggeluti hobinya sebagai pelukis. Bakat alami yang diturunkan dari Sheina melekat dalam diri Caterine, jika bakat darinya mana mungkin tangan Caterine akan seajaib itu, karena dirinya hanya mampu menggambarkan pemandangan dengan dua gunung dan matahari di tengahnya.
🌻
Kalau ada typo tolong dikomentari di paragraf ya, author ha sempet periksa. Sehat selalu kalian semua.
Lagi di titik pusing yang luar biasa, capek, pengen menyerah tapi nggak bisa. Mohon do'anya buat aku tetap waras dan Tuhan berikan kesanggupan ❣️
Teruntuk pembaca Gian, doain Habie juga ya. Semoga Allah kasih kesanggupan dan selalu dalam lindungan Allah, dikelilingi orang-orang baik yang memberikan senyum di sisinya. Sehat-sehat 🌻
Butuh beribu Aamiin 🌻
__ADS_1
Makasih 🤗