Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 264. Malam Kelam (Gulita)


__ADS_3

"Zura, bangun dong."


Malam buta Gian membangunkan istrinya, sungguh merusak suasana. Padahal Radha tengah ngantuk-ngantuknya.


"Kenapa? Aku ngantuk banget, Kak beneran deh."


Matanya sudah sekecil itu, Radha berdecak sembari menggaruk pelan lehernya. Rengekan Gian membuatnya kesal, padahal tidak ada yang aneh di kamarnya.


"Kamarmu gelap sekali, Kakak takut ... temenin bentar, kebelet," ujar Gian yang membuat Radha menghela napas kasar, ternyata benar pria ini super penakut dengan kegelapan.


"Sendiri kan bisa, idupin dulu lampunya."


Demi Tuhan, Radha memang malas sekali. Kepalanya terasa berat lantaran Gian mengganggu tidurnya. Dan pria itu tak menerima penolakan Radha, dengan santainya memaksa Radha untuk bangun dari tidurnya.


"Ya Allah, Kak, tinggal idupin lampunya, nanti gak gelap lagi."


Radha menguap karena kantuknya masih teramat luar biasa. Hanya beberapa langkah dan Gian tetap tak kuasa melangkah dari tempat tidur.


"Nggak mau, tempat tidur kamu ada kolongnya, kalau ada yang narik gimana? Kakak takut beneran ini," cicit Gian membuat suasana kamar Radha semakin horor.


Gian memang tak semudah itu bisa di tidur di tempat lain. Terlebih lagi sejak menikah memang dia tidak pernah memasuki kamar ini.


Perbedaan suasana antara kamarnya dan kamar istrinya memang sangat kontras. Benar-benar gelap tanpa ada lampu tidur sama sekali, berbeda dengan kamarnya yang memiliki banyak sumber penerangan lain walau hanya sebatas remang-remang.


"Horor banget si otaknya, makanya nggak usah nonton yang aneh-aneh deh."


"Udah nggak pernah, tapi memang kamar kamu yang nyeremin."


Menolak kebenaran, Gian membantah jika dia kerap melakukan hal itu. Padahal dengan jelas Radha kerap menemukan Gian tengah menghabiskan waktu dengan menonton hal-hal semacam itu sembari menanti kedua buah hatinya tertidur.


"Nyalahin kamar aku, emang dasar Kakak aja yang penakut."


Dengan langkah malas, dia terpaksa beranjak dan menghidupkan lampu kamarnya. Demi suami tercinta dia rela berjalan gelap-gelap agar Gian bisa tidur lagi dengan tenang nantinya.


"Nah gini kan enak, ada kehidupan."


Padahal wajah bantal Radha menunjukkan seberapa kesal istrinya. Dan Gian dengan santainya beranjak dan menarik pengelangan tangan istrinya untuk mau menemani ke kamar kecil.


"Sendiri aja, aku di sini," titah Radha berharap Gian mau sendirian, entah kenapa suaminya tiba+tiba semanja ini.


"Ih takut dibilangin juga, kamu tunggu di pintunya aja, Kakak takut, Ra."

__ADS_1


Dia serius, Gian memang benar-benar takut. Walau dari penampilannya Gian memang terlihat tak takut pada siapapun, pada kenyataannya mental Gian teramat lemah jika masalah makhluk lain.


"Astafirullahaladzim, repot banget idupnya ya Tuhan."


Gian sebenarnya tak tega, mata sang istri kini memerah. Akan tetapi ia tak bisa menahannya sampai pagi, trauma akan kegelapan membuat Gian serabut ini pada akhirnya.


"Nahg itu dong, senyum, Sayang ... jangan cemberut."


Harus dengan cara apa agar Radha tersenyum padanya, sedangkan kini dirinya lebih rewel dari Lama dan Kalila. Dengan berat hati, kini Radha berdiri di depan pintu kamar mandi menanti Gian.


"Udah?" tanya Radha kala suaminya keluar, Gian mengangguk pelan dan tentu saja masih sempat usil dengan menempelkan telapak tangannya di wajah Radha.


"Ck, dingin, Kak ... jahil banget deh sumpah."


Dia kesal bukan main, wajah Radha sudah tampak kusut persis seperti kemeja belum disetrika. Kembali melangkah ke tempat tidur, dan kali ini Radha sengaja membiarkan lampu kamarnya menyala.


"Lampunya gimana?" tanya Gian tak ingin kebagian tugas untuk mematikan lampu itu.


"Terserah Kakak, kalau nggak bisa tidur karena gelap ya biarin aja."


"Tapi kamu gimana?" Gian masih bertanya, karena bagaimanapun tak mungkin ia memaksakan keadaan dan membuat Radha mengalah karena dirinya takut jika tidur di tengah keadaan gelap gulita.


Perkara lampu saja mereka berunding cukup lama, dan Radha luar biasa kesalnya. Tampak dilema namun ketika Radha sudah tak menjawab lagi Gian kini mengalah.


"Sayang, udah tidur ya?" Suaranya begitu pelan, karena takut jika nanti Radha mengamuk untuk kedua kalinya bisa-bisa Gian yang tidur sendirian.


Jaraknya dari tempat tidur cukup jauh, dan mata Gian kini terfokus ke arah kolong tempat tidur yang memang cukup gelap. Sontak pria itu berlari dan mengurungkan niat untuk mematikan lampunya.


"Aah tidur saja, kenapa kamarnya menyeramkan sekali."


Sungguh, kini Gian bahkan gemetar. Memeluk Radha begitu erat dan menenggelamkan wajahnya tepat di dada Radha.


"Ya Allah, diem dikit bisa nggak sih."


Radha membuka matanya pelan-pelan, suaminya sudah bergemul dalam selimut dan memeluknya seerat itu.


"Dia takut beneran?" batin Radha membalas pelukan suaminya pelan-pelan, setan apa yang pernah Gian lihat hingga dia setaku ini.


Hanya berharap matahari segera terbit, karena baru kali ini ia mendapati Gian seperti kerasukan. Kamar yang memang sudah lama tidak dihuni, mungkin Gian terlalu mempercayai masalah mistis hingga otaknya semengerikan ini.


-

__ADS_1


.


.


.


.


Pagi-pagi Gian masih sama, walau matahari sudah mulai meninggi bahkan Radha sudah membuka tirai kamarnya agar udara dan cahaya lebih leluasa masuk dalam kamarnya, Gian tetap pucat hingga dia tak berani menurunkan kaki dari tempat tidur.


"Kakak kenapa? Apa yang Kakak lihat sebenarnya?" tanya Radha khawatir, karena memang dia benar-benar tak tega jika harus melihat suaminya seperti ini.


"Enggak ada, cuma perasaan aja."


Suara terdengar datar, namun senyum tipis tetap ia berikan. Istrinya sudah selesai mandi pagi ini, dan dirinya terlalu sibuk dengan rasa takut hingga enggan mandi di kamar mandi Radha.


"Yakin cuma perasaan? Kakak nggak bohong kan?"


"Kamar kamu nggak pernah ada yang nempatin, Ra?" tanya Gian dengan mata yang kini mengelilingi setiap sudut kamar istrinya.


"Nggak usah nakut-nakutin, matanya kenapa harus gitu."


Radha hanya tak habis pikir, sejak kapan suaminya memiliki kekuatan merasakan hawa dari dunia lain. Rambut acak-acakkan Gian membuatnya risih, sudah sejak tadi dia meminta Gian mandi, akan tetapi Gian hanya mengeluh takut tiada henti.


"Kita pulang ya bentar lagi, Kakak nggak kuat di sini," ujarnya menggosok pundak beberapa kali.


"Lebay banget sih, alasan aja Kakak tu, bilang aja malu karena semalam kayak bayi."


Sialan, Radha tengah mengejeknya mati-matian. Walau yang Radha ucapkan tak salah sepenuhnya, tak bisa dipungkiri perasaan malu itu tentu saja ada.


"Memang kamar kamu yang menyeramkan, pasti kamu pernah pesugihan atau jangan-jangan penganut ilmu hitam, iya kan, Zura?"


"Heeeih sembarangan, Kakak tu yang wajib dicurigai, Akhir-akhir ini Kakak sensitif sama hal ginian, gelap dikit aja takut, atau jangan-jangan mata batin Kakak mulai terbuka, dan sebentar lagi Kakak bisa menguasai dimensi lain."


Berucap dengan nada serius dan hal itu berhasil membuat Gian semakin takut. Mata bulat Radha benar-benar berhasil membuat suasana di kamar ini semakin menyeramkan.


"Berhenti, Ra, matamu jauh lebih menakutkan," ucap Gian kini beranjak keluar kamar, ia tak tahan berada di kamar Radha lebih lama, sepertinya dia harus menghilangkan rasa takutnya dengan menghibur diri bersama kedua buah hatinya.


🌻


Aku up banyak, dan tolong banget nih buat minggu depan votenya lemparin ke Gian. Thengkyu

__ADS_1


__ADS_2