Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Pelindung.


__ADS_3

"Ikut denganku, Zura."


Dengan wajah yang tak bersahabat sama sekali, Gian memerintahkan Radha untuk turun. Sebuah gedung megah yang sudah dipastikan di kelola kaum menengah ke atas tersebut sejenak membuat Radha tercengang.


Entah siapa yang akan ia temui, namun langkah Gian membuatnya tak bisa berucap walau hanya satu kalimat. Meski sedikit sulit, Radha mencoba menyesuaikan langkah Gian yang sedemikian cepatnya.


Tak peduli dengan pandangan dan tanggapan aneh yang ia dapatkan, Gian mempercepat langkah sembari tak melepas genggaman tangan istrinya. Sebenarnya Radha merasa tak nyaman, pakaiannya terasa mencekik dan membuatnya kesulitan bernapas.


"Pimpinan kalian ada di dalam kan?"


Wanita muda yang berada di depan ruangan itu panik dan beranjak secepat mungkin kala Gian bertanya dengan nada ketusnya.


"Maaf, Pak ... Apa anda memiliki janji sebelumnya?


Dengan ragu-ragu ia bertanya demikian, pasalnya jika sampai salah maka hidupnya lah yang akan berakhir dengan hal yang tak baik tentu saja.


"Jawab saja pertanyaanku, Nona."


Entahlah, ia merasa Gian bahkan lebih membuatnya tunduk dibandingkan atasannya. Mungkin karena ketampanan yang melekat dalam diri Gian dan ketegasan pria itu membuat pemilik rambut sebahu itu tunduk tanpa mampu melakukan perlawanan lebih.


Braak


Tanpa izinnya, Gian mendorong pintu hingga suara bising itu tak dapat terhindarkan. Masih dengan gaya datarnya, Gian begitu santai melangkah masuk tanpa persetujuan Alex, pemilik ruangan itu.


Ketukan pintu berkali-kali dari luar tak ia pedulikan, wanita itu berusaha masuk dan memastikan atasannya baik-baik saja. Namun terlambat, Gian mengunci pintu itu dengan sengaja.


"Hei!!! Bisakah kau sopan sedikit anak muda?!!"


"Hahaha ... tidak bisa, Orang tua!!"


Jawaban mengejutkan yang keluar dari bibir Gian membuat Radha susah payah menahan tawanya. Di saat tegang seperti ini, Gian membuat perutnya sakit tiba-tiba.


Jelas saja pemilik ruangan itu tak terima, seseorang dengan posisi direktur yang beberapa waktu lalu bertatap muka dengannya dapat mengenali Gian tanpa butuh banyak waktu.


"Oh kau, ada apa rupanya? Bukankah masalahnya sudah selesai?"


Pria paruh baya yang seusia papanya itu beranjak dari kursi dan kini melangkah semakin dekat. Gian tidak memakai sopan santunnya kali ini, melihat wajah angkuh pria di hadapannya sudah membuat kebaikan dalam dirinya tertutup untuk laki-laki itu.


Dengan bermodalkan alamat dan segala info yang Rey berikan, tak perlu mempertimbangkan banyak hal bagi Gian. Ia bisa menemui dan memilih salah satu dari ketiga orang yang berperang dengannya di sekolah Radha.

__ADS_1


"Selesai? Cih, tidak akan selesai sebelum putrimu itu mengakui kesalahannya di depanku."


"Ah yang kau maksud Helena?"


"Ck, aku tidak perduli siapa namanya. Putrimu perlu diberi pelajaran, jika kau enggan maka aku yang akan bertindak dengan tanganku sendiri."


Alex mengendurkan dasinya, ia suka tantangan. Dan anak muda di depannya ini tampak seperti orang yang pantas di ajak bertarung, pikirnya.


"Memangnya apa yang salah dari putriku? Bukankah anak itu diam saja ketika Helena menjelaskan bagaimana kronologi kesalahpahaman mereka?"


Memang, nyatanya Radha diam. Namun penjelasan Radha di mobil cukup menjadi jawaban untuk Gian. Dan kini pria itu merasa menang satu langkah dari Gian, diamnya pemuda ity adalah salah satu kekalahan, pikirnya.


"Haha ... lihat, kau bahkan tak mampu menjawab anak muda."


Ia dengan begitu bangga menarik sudut bibirnya. Menatap rendah Radha yang sedari tadi berada di sisi Gian. Kembali ia ingat bagaimana putrinya berbicara begitu semangat tentang salah satu hal aneh yang terjadi antara siswa dan murid di sekolahnya.


"Ah, aku rasa Helena memang benar."


Alex mengangguk beberapa kali, tersenyum remeh dan ingin ia bersorak akan hal yang ia dapatkan kini.


Gian mulai mengerti, ia kini tengah berhadapan dengan seseorang yang memandang rendah dirinya. Ia tak bodoh, bahkan hanya sekadar tatapan ia dapat mengartikan anggapan orang lain terhadapnya.


Sudah ia duga, dimanapun ia berada, kala bersama Gian maka anggapan orang akan sama. Seburuk itu, karena sebuah hal yang di inginkan orangtua membuat statusnya sehina itu.


"Diam kau ...." Ia menekan kalimatnya, Gian berusaha untuk tetap tenang.


"Memang benar kan? Hey kau, berapa banyak kau di bayar olehnya?" tanya Alex berusaha mendekati Radha dengan senyum yang teramat menakutkan bagi Radha.


"Badjingan!! Apa maksudmu?!!"


"Ck, ayolah ... bukankah lebih baik berbagi, hm?" ujarnya kemudian tanpa malu sedikitpun.


Tangannya tak mampu lagi menahan untuk tetap diam. Tidak lagi memikirkan bahwa pria itu lebih tua darinya, Gian menghadiahkan bogem mentah tepat di wajah pria itu. Bukan hanya sesekali, bahkan darah itu mengalir dari hidungnya.


"Jaga ucapan Anda, bahkan detik ini juga saya bisa membuatmu melarat!"


Tak puas dengan pukulan yang ia berikan, Gian yang tak terima atas ucapan Alex memiliki niat lebih dari membuatnya sengsara. Amarahnya benar-benar ingin tuntas, walau asisten pribadi Alex berhasil masuk dan mencoba melerai tak mampu membuat Gian berhenti.


"Stop!! Anda bisa membunuh atasan kami!"

__ADS_1


Gian hanya berdecih, ia masih memegang kerah Alex yang hanya terbaring dan berusaha mengambil napas meski sesulit. Bukannya berhenti, Gian justru menyakiti pria yang hanya mencoba menyalamatkan atasannya.


"Aaaarrrrrggghh!! Sialan, dasar gilaaa!!"


Caci maki pria itu keluar begitu saja kala Gian menyerang bagian vitalnya. Jika begini, bukannya menyelamatkan orang. Tapi ialah yang di pastikan sekarat.


Sedang Radha, tak sedikitpun berani bertindak. Marahnya Gian membuatnya bahkan tak mampu berdiri dengan baik. Sejak beberapa hari lalu, yang ia lihat hanya sisi buruk Gian yang semakin lama semakin terbuka.


Ingin berteriak, namun ia tercekat. Ia terlampau lemas dan hanya mampu menutup mata kala Gian membuat pria itu sengsara tanpa ampun.


Keributan di ruangan itu cukup membuat Radha tak bisa bernapas dengan leluasa. Dan betapa bodohnya, tak ada satu orangpun yang berani berkutik kala Gian mengancam dengan caranya. Wanita muda yang sempat kagum padanya hanya mengangguk pasrah ketika Gian melarangnya menghubungi siapapun.


"Haaaah!! Ingat, kita belum selesai ... jangan harap kau bisa hidup dengan nyaman seperti hari kemarin."


Gian beranjak, berdiri dan menghungi Rey secepatnya. Memastikan kalau pria itu telah menyelesaikannya dengan baik. Manakala ia telah bertindak, bisa dipastikan Alex tak akan mampu hidup dengan bergelimang harta untuk seterusnya.


Semudah itu, jika Gian mau. Alex lupa siapa Gian, jika sebelumnya sempat berurusan dengan Raka dan membuatmya terancam hancur kini ia kembali berulah dengan putranya.


"Ayo pulang, Ra."


Gian beralih pada istrinya yang kini hanya diam menatapnya. Terlihat jelas ketakutan itu dalam manik indahnya. Napasnya bahkan masih memburu, dan kini harus menenangkan Radha dalam takutnya.


Jemari itu terasa dingin kala Gian menggenggamnya, seberapa sadis yang lihat hingga Gian begitu menyeramkan di matanya. Sejenak ia menatap kedua pria yang kini tengah berusaha untuk tetap hidup di sisa kesakitannya, Radha justru mengkhawatirkan tentang Haidar dan bagaimana hidupnya nanti.


"Ya Tuhan, Papa!! Siapa dia sebenarnya."


Dalam diamnya, Radha menatap jemari yang kini Gian genggam. Tangan kokoh yang menjadi pelingdungnya itu tampak gagah, dan tak menutup kemungkinan tangan itu akan menghancurkan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya tanpa ia duga, pikir Radha lagi-lagi sebegitu buruknya.


"Radha, apa yang kau pikirkan?"


"Hah? Ti-tidak, Kak."


"Yakin?"


"............"


............... Bersambung❣️


Maaf ya telat, semalem mati lampu dan mati sayanya😭😂

__ADS_1


Aku berusaha nulis sebisanya, dengan suasana yang tak lagi sama dan berusaha tetep jalan sama mereka. See you besok" ya gaes🤗 Oh iya, gaminta banyak tapi setidaknya tap jempolnya abis baca😭 Kesyan amat liat Gian macam tuu😌


__ADS_2