
"Ra, lu kenapa? Sakit ya?"
Ujian hari terakhir telah usai, dan seharusnya wajah penuh kelegaan yang ia perlihatkan. Tapi, tidak dengan Radha. Memang sejak beberapa hari terakhir, Helena melihat perubahan dalam diri Radha, terutama wajahnya.
"Enggak, perasaan gue sehat-sehat aja deh ... cuma pegel-pegel doang sama capek dikit, mungkin karena gue belajarnya dari pagi ketemu pagi."
Bisa saja membuat alasan dan kalimat penenang untuk dirinya sendiri. Padahal sejak hari pertama ujian, Radha tak belajar sama sekali. Ambisinya untuk mendapat nilai besar ataupun predikat terbaik tak ada sama sekali, toh setelah lulus kemungkinan dia hanya akan menjadi seorang istri, pikir Radha.
"Yakin? Pucet banget gila, kek orang tipes tau gak."
Radha ingin tertawa mendengar ucapan Helena, ada saja istilahnya. Padahal dirinya sudah berusaha untuk tak terlihat lemas jika di depan Helena, bahkan pura-pura seakan paling bugar.
"Yang penting kan gue gak tipes, Ele."
Helena hanya menghela napas kasar, nampaknya Radha memang sedikit keras kepala. Padahal kekhawatiran Helena memang bukan main-main, ia takut jika teman baiknya ini terjangkit penyakit.
"Lu hati-hati deh, mending ke rumah sakit ... gue temenin sekarang."
Radha gugup luar biasa begitu mendengar kata itu. Periksa di rumah sakit, sungguh ia benar-benar setakut itu. Wajah Radha kian memucat, bukan karena lemahnya tapi juga pikirannya.
"Nggak usah, nanti sama kak Gian aja." Radha menolak, karena jika hal yang ia takutkan terjadi dan diketahui Helena, maka matilah dia.
"Yaudah, salamin ya buat kak Gian."
"Idih, ogah!! Masih aja lu minta salamin mulu, heran."
"Gue ngefans, Ra ... ngertiin gue dong."
"Serah lu dah, laki gue bukan artis, gausah ngadi-ngadi."
"Ya gapapa, ngefans sama artis itu udah biasa, sama suami temen itu baru berkelas," tutur Helena yang membuatnya kakinya harus merasakan sakit akibat pijakan Radha.
"Mampush, rasain."
Radha berlalu, tak ingin lebih lama bersama Helena yang sejak tadi hanya membuatnya semakin sakit saja. Kebetulan sekali Aryo sudah tiba menjemputnya, tak apa bukan Gian, karena memang terkadang ia benar-benar tak bebas jika Gian yang menjemputnya.
Perjalanan menyusuri jalanan kota kali ini sedikit berbeda, karena memang lalu lintas cukup padat, dan Radha merasa semakin gelisah saja.
"Kenapa, Nona?"
"Hm, tidak, Pak." Radha menyadari jika dirinya tengah menjadi perhatian Aryo, sungguh ia merasa hari ini sangat amat panas. Keringat mengalir di seluruh tubuhnya.
Sejenak ia memejamkan mata, Radha kembali memikirkan apa kata Helena. Apa memang dia tampak seperti orang sakit, dan juga tubuhnya memang sangat lemas sejak beberapa waktu lalu.
Pikiran itu kembali lagi, apa Radha perlu memastikan sendiri. Dan tanpa keraguan, ia minta Aryo untuk mengantarkannya ke Apotek sebentar. Sepertinya ia memang perlu bukti yang lebih meyakinkan.
Karena memastikan jumlah pil itu tak cukup membuat Radha tenang, karena pada nyatanya ia tak datang bulan juga sampai hari ini. Itu artinya sudah 3 minggu dia telat, jelas saja dia panik.
__ADS_1
"Bisa diulang, Dek? Nggak salah beli kan?"
"Buat Mama saya."
Seragam sekolah yang Radha kenakan menimbulkan dugaan-dugaan tak wajar dari orang yang kini ia hadapi. Memang salah, tapi jika sudah tiba di rumah kemungkinan untuk Radha keluar rumah akan lebih sulit lagi.
-
.
.
.
Radha masih menatap benda itu berkali-kali. Mimpi apa dia lulus SMA saja belum tapi sudah memegang alat itu. Tidak hanya satu, Radha bahkan membeli beberapa demi membuatnya yakin dengan sebenarnya besok hari.
Ceklek
"Ra?"
Radha terperanjat kaget, secepat mungkin ia berbalik dan menjatuhkan benda itu ke lantai agar tak diketahui Gian yang kini masuk ke kamar.
"Udah pulang, Sayang?"
Dengan wajah lelahnya, Gian menghampiri. Mengecup hangat keningnya, dan memeluk istrinya lembut. Entah kenapa Gian selalu begini beberapa hari terakhir, bentuknya memberikan semangat atau apa sebenarnya.
"Biasa, Caterine."
Gian tak ke kantor, meski perihal Harry sudah tuntas. Akan tetapi ia masih memiliki tanggung jawab untuk memastikan Caterine baik-baik saja. Karena meski namanya tak tersorot, wajah Harry yang ada dimana-mana tetap membuat mentalnya sakit.
"Gimana? Kak ket baik-baik aja?" tanya Radha serius, karena memang apa yang Caterine alami cukup membuat Radha tak bisa berdiri dengan tegak pada awalnya.
"Sudah lebih baik, Mama lagi di sana."
Jelita yang mengetahui fakta itu jelas tak hanya diam, meski harus ada drama berurai air mata bersama Randy. Kemarahan Jelita bahkan membuat Randy pusing tujuh keliling, ia kira usai tamparan dari Raka, nyatanya Jelita justru menghajarnya lebih sadis dari Raka.
"Mama kapan pulangnya?" rengek Radha yang mulai merasa kehilangan sosok Jelita lantaran lebih fokus pada Caterine.
"Nanti ya, kan masih ada Kakak, Ra."
Gian menarik sudut bibir, nampaknya istrinya makin sensitif. Jemarinya yang memainkan kancing kemeja Gian, hal sederhana namun sangat Gian sukai.
"Ujiannya gimana?"
"Udah kelar dong," jawabnya singkat, meminta Gian untuk duduk di tempat tidur, berusaha mengalihkan perhatian Gian agar tak melihat alat cek kehamilan yang sempat ia beli sebelumnya.
"Kamu kenapa?" tanya Gian heran lantaran Radha yang benar-benar tak melepaskannya walau sesaat.
__ADS_1
"Capek, temenin tidur siang."
Hal asing, tapi Gian suka. Biasanya dia yang menarik Radha dalam pelukan, kini Radha yang terang-terangan minta dipeluk.
"Nggak sakit kan?" Sedikit ragu, istrinya masih pucat, tapi tidak panas sama sekali.
"Nggak, kenapa pada bilang aku sakit?"
"Siapa lagi memangnya?" Gian menaikkan alis.
"Helena, pak Aryo, bi Asih sama si Lela juga ikut-ikutan ngatain aku sakit."
Bukannya panik, Gian hanya mengeratkan pelukannya. Mengusap pelan pundak istrinya sembari menarik sudut bibirnya tipis.
"Ke rumah sakit aja ya? Biar pasti," tutur Gian menatap manik istrinya.
"Enggak mau, nanti aku dibilang virusan," tolak Radha benar-benar enggan, sama sekali ia belum mau berhubungan dengan yang namanya rumah sakit.
"Yakin nggak mau? Kalau kenapa-napa gimana?" Gian tengah membujuk istrinya, karena memang dia belum 100 persen yakin dengan diagnosa mandiri yang kerap ia lakukan seperti biasa.
"Nggak, aku sehat kok."
"Hm, kalau sampai besok kamu gini terus kita ke rumah sakit ya," titah Gian tak bisa dibantah, jujur saja sebenarnya sejak beberapa hari lalu ingin ia membawa Radha ke rumah sakit segera, akan tetapi keadaan dan penolakan Radha membuatnya terpaksa menyerah sesaat.
"Kak, mau ngapain?" tanya Radha kala menyadari Gian membuka ikat pinggangnya.
"Nggak baik tidur pakek ginian, terlalu sempit di perut kamu, Ra."
"Ih maksudnya aku gendut gitu?"
"Enggak, tapi apa nggak ganggu tidur siang nggak dilepas? Hm?" Tak peduli dengan tatapan nyalang Radha yang mengira Gian tengah mengejeknya gendut.
"Terserah Kakak aja deh," ujar Radha pasrah, memang sejak dulu Gian yang berkuasa, pikirnya.
"Kakak lepas semua boleh?" Senyum liciknya dapat Radha tangkap, sangat menyebalkan, pikirnya.
"Ya Enggaklah, cabul banget sih otaknya."
"Tidak ada istilah lain kah, Ra?"
"Enggak ada, memang itu gelar yang pantes buat Kakak ... CEO OF CABUL."
"What? Memangnya Kakak sejahat itu, Ra?"
"Ho'oh, Kakak renungi diri dulu coba," ujar Radha dengan matanya yang mulai terpejam.
Rasanya percuma kuliah hingga S2 di London jika gelar yang Gian dapat hanya sebatas itu, tapi selagi Radha yang memberikan tak apa baginya.
__ADS_1
Babay❣️🧘♀