
Sejak pulang, Gian merasa Radha sangat berbeda. Meski perubahan yang istrinya perlihatkan ini benar-benar membuatnya mabuk kepayang, tak bisa dipungkiri, sejujurnya Gian menginginkan hal ini.
"Kamu kenapa sih?"
"Kenapa? Nggak boleh aku begini?"
Gian menarik sudut bibir, pelukan Radha yang begitu erat sejak tadi membuatnya berbunga. Sungguh, istrinya kini kerasukan atau bagaimana, Gian hanya bertanya, bukan menolak.
"Boleh, cuma tumben aja ... mimpi apa kamu bisa jadi begini, Ra?"
"Nggak mimpi apa-apa, lagi pengen aja."
Sejak tadi kelakuan para kaum hawa di masjid membuat suasana hati Radha berubah, entah kenapa ada ketakutan tersendiri meski yang bicara adalah gadis tengil yang Gian takkan mungkin suka itu.
"Pengen?"
Gian menatap wajah istrinya, dasar sinting, hanya satu kata itu dan pikirannya terlanjur jauh. Radha membenarkan dengan segera sebelum Gian keinginan Radha adalah hal yang lainnya.
"Pengen meluk maksudnya." Radha berucap singkat dengan nada setenang mungkin, ia tak ingin suasana justru berubah panas tanpa dia minta.
"Oh, kirain ...." Gian mengacak rambutnya, malam mulai larut dan Radha justru mengajaknya berpikir kusut.
"Sucikan pikiran Anda, Om, padahal barusan tadarus 1 juz." Radha tertawa lepas sembari menatap wajah Gian, walau sebenarnya kini dia sama saja dengan bunuh diri, ucapan semacam itu justru membuat dirinya semakin terjebak.
"Lah apa hubungannya, kan sama-sama ibadah ... gimana sih," tutur Gian menoyor kepala istrinya, memang terkadang dia kerap melakukan itu jika istrinya sembarangan.
"Beda urusannya, aku nggak mau keramas malem-malem."
"Idih gila, masa ikutan puasa juga, nggak bisa lah."
Sudah tentu, urusan ini Gian mana mau mengalah. Ini adalah haknya, dan dia tidak akan pernah mau berada di posisi salah.
"Ya bisa lah, Kakak mau aku masuk angin? Dosa loh, kan tau sendiri aku kalau sakit lama, ntar yang jagain Kama sama Kalila siapa?"
Manik polos itu menatap lekat Gian, hal ini justru membuat Gian semakin menjadi. Berapa kalipun peringatan Radha, sepertinya akan percuma.
__ADS_1
"Ck, pokoknya nggak bisa, dulu juga kamu mandinya pagi-pagi buta, sehat-sehat aja tuh. Kenapa sekarang punya alasan takut masuk angin segala, hm?"
Radha kehabisan kata, apapun yang dia ucapkan, nyatanya Gian punya kalimat yang bisa mematahkannya.
"Iya itukan dulu, sebelum punya anak ... kalau sekarang aku udah gak bisa, mudah sakit, sakit kepala, nyeri punggung, pinggul, bersin-bersin, batuk bahkan flu juga bisa akibat mand ...."
"Ssssttttt!!!" Gian menempelkan telunjuknya tepat di atas bibir istrinya, tak main-main, kepala Radha bahkan terdorong ke belakang, memang Gian sedokit bar-bar.
"Udah?" tanya Gian dengan mata yang kini tak terbaca, wajah datar andalan namun kini justru terlihat lucu, bukan lagi menyeramkan bagi Radha.
"Hahah, sebenernya masih ada ... tapi lanjut besok pagi aja."
Mata Radha juga mulai mengantuk, selagi Gian tidak agresif sepertinya malam ini akan baik-baik saja. Dia tidak perlu khawatir akan ada serangan dari negara tetangga.
"Hm, tidur sana, ntar sahur Kakak bangunin marah-marah lagi ... awas aja kalau kamu begitu lagi," ucap Gian mengingatkan, karena memang malam sebelumnya Radha sempat berteriak dan memukulnya dengan bantal guling akibat niat baiknya membangunkan Radha sahur.
"Ya Kakak juga peak, bangunin jam segitu ...." Bukan hanya jam yang Radha permasalahkan, akan tetapi sengaja membuka jendela dan memanggil nama Radha tanpa henti jam segitu adalah sumber kemarahan bagi Radha.
"Hahaha nanti nggak lagi, majuin deh 30 menit," tuturnya lagi, janji yang entah akan dia tepati atau tidak.
-
Mulai hening, Radha memejamkan mata walau dia belum terlelap. Detak jantung Gian adalah irama yang paling menenangkan saat ini, dalam dekapan suaminya, Radha merasakan betapa damainya dunia.
"Kak," panggilnya memecah keheningan, padahal sudah hampir tenggelam dalam lautan mimpi, Radha justru menarik Gian kembali.
"Hm, kamu mau bilang apa, Sayang?" tanya Gian kini membuka kembali matanya yang sudah 5 watt itu, istrinya kebiasaan memendam sesuatu.
"Kakak nggak akan pernah ninggalin aku kan?" Pandangan keduanya terkunci, Radha tak menduga jika Gian justru tengah menatapnya.
"Pertanyaan macam apa itu, Ra? Kamu kenapa sebenarnya?" Gian yakin 100 persen ada yang mengganggu pikiran istrinya, kalaupun memang tidak mana mungkin Radha begini.
"Jawab dong jangan balik nanya," tuntut Radha dengan suara beratnya.
"Nggak, nggak akan pernah ... kamu kan tau tanpa Kakak jawab, Ra," ucap Gian dengan lembut, takut jika istrinya justru tersinggung.
__ADS_1
"Janji kan itu? Nggak ditepatin Kakak digantung di neraka."
"Astafirullahaladzim, serem banget ucapannya Allahu Akbar, Rhadania." Bibir Radha menjadi sasaran lantaran dia berucap sembarangan, Gian mencubit bibirnya hingga wanita itu menepisnya karena kaget.
"Janji dulu makanya," pinta Radha mau tidak mau Radha harus menurut apa yang dia ucapkan.
"Iya, janji ... kalaupun suatu saat Tuhan menginginkan perpisahan, mungkin itu hanya maut, Ra ... dan Kakak minta Tuhan ambil nyawa Kakak sehari setelah Tuhan ambil nyawa kamu," ujar Gian menatap lekat manik istrinya, dia serius dan sama sekali tidak berbohong.
"Kenapa aku yang duluan?" tanya Radha penasaran, karena biasanya seseorang akan meminta dirinya lebih dulu daripada orang yang dia sayang.
"Karena Kakak tidak ingin hati kamu sehancur itu, Ra. Ditinggal pergi 1 minggu aja kamu nangis, apalagi kalau lebih dari itu."
Memang, faktanya Radha tak bisa jauh dari suaminya. Meski terlihat dari luar Gian yang tergila-gila pada istrinya, akan tetapi Radha lebih dari itu pada Gian.
"Tapi aku juga nggak mau ninggalin Kakak duluan lah, ditinggal belanja lebih dari 3 jam aja Kakak uring-uringan," balas Radha mengungkap kembali fakta tentang suaminya.
"Hahaha, ya sudah kita meninggalnya sama-sama aja," ucap Gian seakan tengah menemukan ide paling sempurna, tak sadar jika ucapan mereka terasa mengerikan.
"Ih apaan sih, kenapa bahasnya jadi gini ... masih muda ya Allah, maafkan ucapan suamiku yang gila ini, aku belum mau meninggal, anak aku masih kecil-kecil ... Kak, tarik ucapannya buruan."
"Ya Tuhan istriku, otakmu ini kemana? Kakak nggak minta Tuhan cabut nyawa kita sekarang, lagian Kakak bilang begini kan cuma jawab pertanyaan kamu yang konyol itu."
Padahal suasana sudah haru, justru kacau dan hilang akibat Radha yang tiba-tiba duduk dan menengadahkan tangan meminta maaf lantaran ucapan Gian yang menurutnya meminta umur pendek.
"Tetep aja, harusnya Kakak nggak usah jawab begitu tadi," ujar Radha tak terima Gian salahkan.
"Salah lagi, ya udah mending tidur aja udah ... salah mulu," ucap Gian menarik baju istrinya agar Radha kembali tidur dengan segera.
Brugh
Baru saja romantis ala-ala pasangan tak terpisahkan, kini Radha terhempas lantaran Gian menariknya cukup kuat.
"Biasa aja, Bro! Patah tulang punggung istrimu ini nanti."
"Maaf, Sist ... nggak sengaja." Gian menggosok punggung istrinya yang sempat Radha keluhkan akibat Gian menariknya.
__ADS_1
Janji mereka❣️