Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Terjebak Dalam Paksaan (Ulah Sendiri)


__ADS_3

Diam, sunyi menguasai ruangan. Gian hanya memperhatikan, ia memberikan waktu untuk Radha sendirian. Wanita itu masih terduduk diam di tepi ranjang, menatap jauh keluar sana menanti senja yang sebentar lagi tiba.


Cukup lama ia memberi ruang, dan Gian memutuskan untuk mendekati istrinya. Begitu pelan ia duduk di sisi Radha, ia mengerti bagaimana kacaunya.


"Zura," ucapnya begitu lembut sembari menepuk pelan bahu Radha, memberi kekuatan agar wanita itu tak tertunduk begitu lama.


Tak ada jawaban dari Radha, ia hanya menggangkat wajah dan balik menatap mata teduh Gian. Seakan memberikan kekuataan untuknya, Radha dapat merasakan nyamannya meski ia tak dapat mendefinisikan.


"Terima kasih ya."


Radha mengangguk, wanita itu dapat merasakan selembut apa prianya kini. Gian menariknya dalam pelukan, membiarkan wanitanya menangis jika ingin. Karena ia tahu, pada kenyataannya tak ada hal manis dari sebuah perpisahan.


"Menangislah, kau berhak untuk itu."


Selapang itu, Gian memberikan pundaknya sebagai sandaran meski yang menjadi alasan air mata istrinya adalah orang lain.


Hatinya sakit? Tentu, bagaimana tidak, Gian yang sebenarnya terjebak dalam pernikahan ini nyatanya jatuh cinta lebih dulu tanpa ia kehendaki.


Tanpa ia tahu bagaimana hati istrinya, apakah masih tetap pada cinta yang lama. Gian hanya meminta takkan ada lagi luka setelah ini, beberapa tahun menjalani cinta yang Gian dapat hanya patah.


"Tidak, aku tidak akan menangis."


Bibirnya menolak, namun matanya tak dapat berbohong. Gian menangkap pilu yang teramat dalam di mata wanitanya, belum lagi senyum kelu yang begitu Radha paksakan membuat batin Gian semakin sakit.


"Jangan berbohong, Zura, menangislah selagi Kakak izinkan ... karena setelah ini, tetes air matamu hanya boleh berurai jika itu tentangku."


Terlampau dalam makna kalimat Gian, dan Radha terjebak di dua persimpangan. Nyatanya ingin menangis itu ada, matanya tak dapat berpihak dengan apa yang ia mau.


Tidak, Radha berusaha menguatkan batinnya. Takkan ia biarkan air matanya jatuh untuk Haidar, terutama di depan Gian. Ia tak ingin menjadi hal paling sakit untuk Gian juga, cukup Haidar yang lukai, suaminya tidak akan.


"Hahaha ... Kakak lucu, menangis seakan jadi permintaan."


Mencoba membawa ucapan Gian dalam candanya, setidaknya nestapa di benaknya tak terlalu terlihat di mata Gian. Sebisa mungkin wanita itu kembali dengan senyum indahnya, dan Gian dapat membalasnya.


"Ra, Kakak tidak sedang bercanda," tuturnya menghela napas perlahan, entah ia harus senang atau sedih, memgapa takdir cinta yang ia jalani membuat sakit di banyak hati.


Radha tak menggubris ucapan Gian, karena jika semakin di perintah, bisa jadi ucapan Gian itu akan benar-benar terjadi. Mungkin mandi dan sejenak menghabiskan waktu di sana akan lebih baik, pikir Radha dan kini memilih beranjak dari tempatnya.


"Heey, mau kemana?"


Belum melangkah, ia baru saja berdiri dan Gian telah memeluk erat pinggangnya. Seakan takut jika istrinya akan pergi darinya.


"Mandi, Kak, gerah luar biasa."


Senyum usil itu terukir jelas, dapat Radha tebak apa yang akan Gian ucapkan. Dan sebelum Gian bertingkah, ia tengah memikirkan cara membuat Gian menyesal dengan permintaannya.


"Bareng ya?"


"Hmm, boleh."

__ADS_1


Sungguh terkejut, baru kali ini Radha tak menolak sama sekali. Dan tanpa kecurigaan, Ia sebahagia itu dan kini ikut beranjak, tak lupa melepas pakaiannya, menyisakan celana pendek yang membuat Radha membeliak sebegitu kagetnya.


"Heeeih kenapa Kakak buka sekarang?"


"Lalu mau kapan?"


"Ya, na-nanti kan bisa."


Berusaha memandang ke tempat lain seakan tak melihat apa yang Gian lakukan, Radha mulai menjauh dan berniat untuk segera mengambil senjatanya.


Gian bukan pria bodoh, gerak gerik istrinya terlampau kentara. Menarik sudut bibir sembari membiarkan Radha mendekati nakas dan menuju barang yang ia beli tadi siang.


Hap


"Mau apa kau?"


Dalam satu gerakan, Gian memeluknya begitu erat dari belakang dan membuat apa yang Radha rencanakan kacau. Gian memindahkan berbagai benda sialan yang menjadi incaran Radha dengan sebelah tangannya.


"Hahah licik juga kau ya?"


Habis sudah, Radha mencoba melepaskan diri namun pelukan Gian terlampau erat. Sungguh ia merasa geli lantaran Gian yang tak lagi menggunakan pakaian lengkapnya.


"Ays, Kakak, aku hanya ingin mandi sama mereka juga."


Dasar balita, bisa-bisanya dia menginginkan berendam bersama hewan-hewan aneh yang sungguh menjijikkan bagi Gian, mencoba berontak namun Gian dengan sengaja membuat Radha lelah tanpa hasil.


"Kakak minta berdua, bukan bersama keluarga besar mereka."


"Radha, kau bukan lagi balita, Sayang, bahkan mainan ini seharusnya untuk calon anakmu, bukan kamu."


Anak? Aaa bahasan Gian semakin membuatnya geli. Jemarinya mencekram erat lengan Gian yang melingkar di perutnya, mencoba menyikirkan namun tak ingin Gian tersinggung.


"Anak? Pala dia bahas anak, haaa setidaknya pakek celana lo, Pak ya elah!!"


Batin Radha yang sesungguhnya takut atas perlakuan Gian, menyesal ia mengiyakan permintaan Gian, nyatanya niat usilnya justru menjadi jebakan.


"Ayo cepat, kau lihat hari sudah semakin sore, aku tidak mau kedinginan di kamar mandi, Zura."


"Ka-kalau begitu kita bergantian saja, aku kepanasan, Kak. Jadi pasti butuh waktu lama."


Berdalih, Radha mencoba mencari cara agar Gian mengurungkan niatnya. Namun sayang, bukannya menyerah Gian malah berpikir tentang hal yang lebih gila.


"Hm, baiklah jika kau tak mau bergerak juga, Kakak yang akan bertindak."


"Heeeeh!! Kak, tunggu aku belum siap!!"


Berteriak sekuatnya, percuma. Gian dengan mudahnya membawa Radha bak karung beras ke kamar mandi. Suara melengking Radha bisa saja terdengar dari luar dan Gian tak peduli tentu saja.


"Aaaawwww, kenapa pakek di jatohin sii!!"

__ADS_1


Merasa Gian terlalu terburu-buru, jelas saja ia terkejut kala tubuhnya sudah berada di dalam bathup. Bahkan seragamnya belum di lepas satupun dan Gian dengan santainya membuat tubuhnya perlahan basah.


"Papa, ni menantunya ada masalah kesehatan apa gimana?"


"Maaf, Kakak pikir kau tidak akan kaget, Ra."


"Lah, kenapa ikut masuk juga?!!" Masih panik, sungguh menyesal, mungkin Radha bisa mengatakan ucapan spontan paling ia sesali adalah ini.


"Kan mandi bersama, kalau Kakak mandi setelah kau itu beda cerita."


"T-tapi, Kak ...."


"Cepatlah, Zura, ini hanya mandi tak lebih."


Radha hanya bisa pasrah sembari menelan susah payah salivanya, memilih diam dan tak berpikir untuk membuka bajunya.


"Buka," perintah Gian yang pada akhirnya terdengar jua.


"T-tidak mau, aku tidak terbiasa mandi tanpa sehelai benang seperti Kakak."


"Heeh, kau pikir ini mandi di sungai apa bagaimana?"


Bahkan untuk hal semacam itu keduanya harus berdebat lebih dahulu, dan dalam posisi ini sifat dingin dan pemaksanya adalah senjata utama.


"Kau tidak mau juga?" tanya Gian dengan nada berbeda dan membuat Radha membeku seketika, tatapan itu membuatnya takut.


"Buka sebelum aku yang membukanya, Zura ... kau tak mau kan umur baju itu hanya sehari?"


Tak ada pilihan lain, Radha terpaksa melepas pakainnya perlahan. Toh nanti ia akan memenuhi tempat ini dengan busa sabun agar Gian tak punya kesempatan melihat tubuhnya, pikir Radha mencoba untuk tenang.


"Ck, dasar lambat!! Biar aku saja!!"


"Noo!! Tidak-tidak, aku akan melakukannya."


Dengan senyum kemenangan, Gian menatap usil Radha. Matilah kau, pikirnya semerdeka itu seakan dunia tengah berpihak padanya, dan Gian tak melewatkan gerak gerik Radha sedikitpun.


"Shitt, dia terlihat menggemaskan."


Pikiran-pikiran itu mulai menguasai, dan Gian hanya terpaku seakan yang ia lihat kini adalah hal paling berharga dalam hidup.


"Santai, Ra, memangnya aku mau melakukan apa."


Menyadari wajah takut Radha, Gian terbahak dalam benaknya. Semengerikan apa memangnya ia hingga Radha setakut itu, batinnya.


"Berhenti menatapku, Kak."


"Lalu aku harus menatap siapa? Kau yang berada di depanku, lalu kenapa?"


Dasar sewot, benar-benar tak mau mengalah. Seakan tak ada lagi hal yang benar dalam hidup Radha di mata Gian, dan dalam waktu secepat mungkin ia harus segera usai dengan acara menyebalkan ini.

__ADS_1


............ Bersambung


__ADS_2