Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 226. Saling (Memaklumi)


__ADS_3

Apa yang Radha takutkan benar adanya. Makan malam kini tiba, dan wajah masam Jelita telah menyambut mereka. Tatapan nyalang ia berikan, tentu saja untuk putranya.


"Bisa kamu senyum-senyum begitu, Gian?"


Rasanya ingin sekali menghantam wajah Gian dengan dada ayam panggang yang kini ada di hadapannya, entah kenapa putranya yang satu ini melebihi tetangga kanan kiri, sangat menyebalkan.


"Kalian bisa damai dulu? Ini meja makan bukan area pertempuran."


Raka mulai sakit kepala, baik Jelita maupun Gian sama saja. Hanya perkara bunga kesayangannya hancur, Jelita semarah itu. Sedangkan Gian yang mereka yakini sebagai pelakunya, hanya tersenyum memasang wajah tak bersalahnya.


"Belain aja terus, lihat sampe tua dia begini sama aku, Mas."


Tak bisa dipungkiri, memang Gian lebih patuh pada Raka daripada mamanya. Mungkin karena sejak kecil Jelita lebih fokus pada Haidar, sedangkan dia lebih kerap menghabiskan waktu bersama sang papa dan kedua Om-nya.


"Jangan marah-marah terus, Ma, nanti masuk rumah sakit ... Haidar nggak mungkin mau dipaksa pulang lagi," ujar Gian mengingatkan Jelita agar dapat lebih tenang.


"Ya Tuhan, sebarkan hatiku."


"Nah gitu dong, selesaikan semua dengan kepala dingin, iya kan, Sayang?"


Radha mengangguk, saat ini dirinya tengah diselimuti rasa bersalah. Pasalnya hancurnya bunga-bunga itu bukan sepenuhnya kesalahan Gian, akan tetapi dialah pelaku utama yang membuat pria itu tergelincir.


"Maaf ya, Ma ... besok Kak Gian bakal rapiin."


"Ganti dong, masa cuma rapiin ... hancur semua begitu, Radha ... aduh, Mama tidak paham kemana otak Gian hingga tega menghancurkan aset kesayangan Mama itu."


Jelita menggeleng pelan, menyantap makanannya dengan suapan besar karena kesal yang masih membekas dalam dirinya. Namun hendak banyak bicara ia tak bisa karena Raka membuatnya terjebak dalam situasi bahaya.


"Iya besok aku ganti, kalau perlu Mama tanam bambu sekalian di rumah ini, biar adem persis padepokan," ucap Gian asal yang membuat ketiga orang itu menganga, bagaimana jika memang benar Gian mengikuti hal-hal semacam itu.


"Maksud kamu?" Jelita mengerutkan dahi.


"Tidak ada, ayo makan ... aku lapar sekali." Cepat-cepat mengalihkan pembicaraan, tak ingin jika orang tuanya bertanya lebih dalam.


Dentingan garpu dan sendok menguasai, dengan tatapan sengit dua manusia yang hanya bisa dimaklumi masing-masing pasangannya. Radha yang sesekali menginjak kaki Gian agar berhenti berulah dan Raka yang berusaha menyabarkan Jelita akibat ulah putranya.


"Ternyata tak selamanya putra akan menjadi sabahat bagi ibunya, buktinya jelas di depan mata."


Menjadi bagian dari keluarga ini, dan Radha dapat menyimpulkan beberapa hal yang ternyata jauh dari bayangannya. Gian yang ia kira pria garang yang selalu marah itu, ternyata tidak lebih dari pria konyol dan lupa usianya.


-


.


.


.


Pagi-pagi sekali Radha sudah terbangun, entah kemana tujuannya pagi ini, yang pasti dia harus mandi terlebih dahulu. Gian yang masih terlelap tak butuh waktu lama untuk tersadar kala gemericik air mulai terdengar.

__ADS_1


"Zura ...."


Suara beratnya menguasai kamar tidur, tentu saja belum mendapat jawaban. Gian membuka pelan matanya, menyesuaikan cahaya dan menggerakkan seluruh tubuhnya yang terasa kaku.


Malam ini ia habiskan dengan baik, tidurnya cukup nyenyak lantaran tidak ada drama bangun tengah malam seperti yang Gian kira.


Baru beberapa menit menunggu, sembari mengumpulkan nyawa yang entah kemana. Mata Gian sudah tertuju pada istrinya yang kini menghampiri, kantuknya masih menguasai namun senyumnya tetap ia berikan sebagai penyambut pagi.


Cup


Momen langka yang hampir tak pernah Gian dapatkan, Radha menciumnya tanpa diminta pagi ini. Sempat terkejut dan secepat itu dia menahan wajah istrinya agar dapat merasakannya lebih lama.


"Dingin," ucapnya sembari menarik sudut bibir, tersenyum halus kala jemari itu mengusap bibir istrinya yang basah.


"Oh iya, dingin masa?" Gian mengangguk, menjawab pertanyaan istrinya dengan wajah bantal itu.


"Tumben mandi, kamu mau kemana?" tanya Gian mempermasalahkan hal yang sebenarnya biasa saja Radha lakukan sejak dahulu, hanya saja memang tak serutin dahulu.


"Mau ketemu temen, boleh kan?"


Gian Mendelik, sejak kapan istrinya meminta izin sehingga dengan percaya dirinya dia berkata seceria itu.


"Siapa? Perempuan atau ...." Gian mengantung kalimatnya, memang ia tak suka jika Radha bertemu siapapun selagi dia belum bisa memastikan siapa temannya.


"Perempuan, cuma bentar, Kak ... karena nanti dia mau kuliah di Singapura, katanya bakal susah ketemu kalau nanti-nanti." Radha menjelaskan dengan dengan santainya, seakan memang izin Gian akan ia dapatkan.


"Iya, sendirian."


Di ambang kebimbangan, Gian tidak mungkin meninggalkan pekerjaan lagi dan lagi. Sedangkan hatinya ragu jika Radha pergi sendiri.


"Boleh?" tanya Radha dengan suara lembutnya, suara yang sama sekali tak bisa Gian tolak, dia seluluh itu mendengar suara istrinya.


"Harus sama Aryo, tidak Kakak izinkan kalau sendiri," tegas Gian yang membuat Radha menghela napas pelan, sudah pasti dan ia duga semua akan begini.


"Iya," ucapnya singkat dan tak banyak membantah, karena Radha tahu kalaupun menolak yang ia dapatkan justru larangan Gian yang tak memperbolehkannya pergi kemanapun.


Pagi yang baik, diawali dengan Radha yang melakukan rutinitasnya untuk merapikan tempat tidur. Seburuk apa posisi Gian hingga boneka kesayangannya terpental sejauh itu.


Selalu berusaha dan memulai melakukan dari hal kecil, Radha memilih untuk membersihkan kamarnya sendiri karena tak ingin siapapun masuk ke kamar mereka.


Sembari Gian mandi, dia menyiapkan pakaian untuk sang suami hari ini. Pilihan sesuai moodnya, dan Radha tak menerima penolakan.


-


.


.


.

__ADS_1


Sesuai janjinya tadi malam, Helena sudah menunggu di sebuah Coffe shop. Radha bersama Aryo masuk bersamaan, walau Radha sudah meminta Aryo untuk menunggu di luar, akan tetapi Gian memerintahkannya untuk tak melepaskan istrinya.


"Bapak duduk sana, masa mau gabung," pinta Radha sembari menghentakan kakinya.


"Iya, saya duduk di sini."


Baik majikan maupun supirnya sama saja. Aryo memang duduk di meja lain, tapi hanya berbeda beberapa meter saja.


Sungguh rumit, bertemu saja sesulit ini. Helena yang tengah patah hati dan dalam keadaan kacau hanya mampu menghela napas kasar, menemui Radha lebih sulit daripada menemui pejabat, pikirnya.


"Susah banget si, Ra ... lu kemana sih?" tanya Helena mengerutkan dahi, memang sejak beberapa hari lalu dia berusaha menghubungi temannya ini, namun nyatanya jangankan berhasil ditemui, nomornya saja tidak bisa dihubungi.


"Ya makluminlah, suami gue nggak bisa ditinggal, Ele."


"Kenapa? Bang Gian sakit atau kenapa tuh?" tanya Helena dengan malasnya, selalu saja alasannya sama.


"Nggak sakit kok, btw lu gimana? Ada masalah ya?"


"Hm ... masalah banget, baru kali ini gue benci sama diri sendiri, rasanya pengin sungkem sama bokap gue, nyesel banget gue, udah durhaka eh malah dikibulin." Jika dilihat dari raut wajah Helena, memang wanita ini banyak masalah.


"Maksudnya?"


"Cowok gue, abis bawa duit gue banyak banget ... selingkuh, emang B4bik!!" Emosinya sudah diubun-ubun, dan Helena seakan kehilangan dirinya.


"Dia ngaku? Atau gimana, kok bisa tau?" tanya Radha serius bahkan lupa jika di dekatnya ada Aryo.


"Ceweknya labrak gue, dia maki-maki gue lagi ... itu manusia nggak sadar diri apa gimana, gue sama bang Juan itu udah lama, lah dia ngatain gue ngerebut cowok dia, dan mirisnya kenapa harus Kakak tiri lu adooh!! Benci banget gue tau nggak."


BRAK!!!


Tersiksa batin, Radha seakan tengah menjadi wali dari Celine yang tengah menghadapi amukan Helena. Namun bagaimana, saat ini dia hanya bisa terdiam sesaat, karena saat ini memang Helena dirugikan.


"Jaga sikap anda, Nona," tutur Aryo yang tiba-tiba menghampiri mereka, sontak Helena ciut dan menunduk berkali-kali.


"Maaf, Pak ... saya emosi."


"Gapapa, Ele ... teruskan," tutur Radha menggigit bibirnya, karena mendengar nama mereka saja Radha ingin menguburnya hidup-hidup.


"Gara-gara Juan, gue harus terima keputusan orangtua gue, aduh gue makin susah deh ketemu Devano," ujarnya membenturkan kepala ke meja, penyesalan tinggal penyesalan yang mungkin sampai kapanpun akan menjadi pelajaran.


"Kalau ketemu tu cewek!! Gue pecahin bibirnya," tambahnya sekesal itu, ingin ia hancurkan saat ini juga.


"Maaf Mba, mau pesan atau tidak? Kalau cuma numpang Wi-Fi tidak boleh ya." Seorang wanita datang memecah kehusyukan obrolan mereka.


"Keluarin semuanya, Mba!! Ntar saya bayar."


Radha yang merasa tak enak, meminta maaf segera. Karena memang mereka yang salah, jika begini dunia Radha dipenuhi para makhluk emosional yang tak bisa menahan amarah sama sekali.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2