Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 147. Cemburu Yang Bagaimana


__ADS_3

“Tentu saja, beda banget sama Papanya, aduh kulitnya mulus banget.”


“Oh iya?’ Gian menyahut antusias, karena memang ia merindukan Caterine sang adik sepupunya itu.


Radha mendengar jelas mertua dan suaminya membahas wanita lain di depannya, entah kenapa tiba-tiba ada perasaan aneh dalam dirinya. Seakan panas menguasai benaknya, Radha ragu hendak melangkah, namun Jelita yang sudah menangkap kehadirannya segera berseru untuk memintanya bergabung.


“Sarapan dulu ya, Ra … kamu kok pagi banget sayang?”


Sejenak Jelita berhenti membahas Caterine, ia fokus pada menantu manjalitanya ini. Wajahnya yang cemberut pagi-pagi tak terlalu Jelita pahami. Berbeda dengan Gian yang sadar betul perubahan istrinya, ia menarik sudut bibir dan kesempatan ini adalah sesuatu yang ia tunggu.


“Mama, terusin yang tadi,” seru Gian bahkan merubah posisi duduknya, seakan Caterine adalah pembahasan hangat yang harus ia ketahui saat ini.


“Hm, dan dia juga tinggi banget, mungkin ga beda jauh lah sama kamu, Gi ….” Jelita tampak mengira-ngira setinggi apa Caterine.


Brak!!


Gian menggebrak meja yang membuat kedua orang itu kaget, bahkan Layla yang juga tengah menyiapkan kopi hitam untuk Raka juga terkejut, baru pagi dan Gian sudah berbuat ulah begini.


“Oh my god!! Mama, really?!!” serunya lagi sembari mencuri pandang Radha lewat ekor matanya, pria itu tersenyum tipis.


“Idih sok inggris,” batin Radha seraya memutas bola matanya malas, reaksi Gian benar-benar berlebihan pikirnya.


“Ck, kamu bikin kaget aja, iya … Mama serius, dia memang benar-benar cantik,” ucap Jelita seadanya, karena memang di matanya Caterine sangat cantik, tapi, tetap saja Radha akan tetap menjadi yang paling ia sayang.


“Woah!! Aku tidak sabar ingin bertemu dengannya, cewek blasteran biasanya aduhai … bodynya gimana, Ma?” Pertanyaan Gian mulai aneh, Jelita mendongak dan menatap heran putranya, apa yang sebenarnya ada di pikiran putranya.


Gian sesekali menatap istrinya, gelas susu itu tampak jadi korban kekesalan Radha. Mungkin jika gelas itu sejenis silikon sudah penyok sejak tadi. Menanti jawaban sang mama yang hingga kini tampak berpikir, Radha merasa tak nyaman bahkan roti dalam mulutnya sejak tadi belum hancur.


“Ya lumayan,” jawab Jelita belum juga sadar dengan reaksi menantunya yang kini tengah terbakar api cemburu.

__ADS_1


“Menarik,” tambah Gian yang semakin membuat Radha emosi, karena roti itu benar-benar tawar dengan santainya dia mencelupkan roti miliknya dalam susu yang Layla siapkan untuk Gian.


“Ra? Kok makannya gitu?” tanya Gian menarik salivanya, reaksi apa ini, Cemburu atau bagaimana, Gian menganga, susu coklat itu baru ia minum. Mana mau dia meminumnya lagi jika remahan roti sudah bersatu di dalamnhya.


“Ga ada rasanya, Kak … selai coklatnya ga ada tu,” jawabnya dengan alasan yang juga masuk akal, Gian membuang napas kasar, nampaknya bukan kecemburuan seperti ini yang ia mau, tapi tetap saja ia tak marah sama sekali.


“Istrimu lucu sekali,” ujar Jelita tersenyum hangat, ia menyayangi Radha sebesar itu, menjadi saksi Radha tumbuh dari kecil adalah hal terindah yang pernah ia rasakan.


“Iya, dia memang lucu … Mama dapet darimana sih?” Gian mengacak rambut istrinya, usai membuat Radha panas luar biasa, kini dia membuat Radha salah tingkah dengan ulahnya.


“Tanya Papamu, dia yang dapat.” Jelita menjawab asal, kehadiran Raka dengan pakaian rapinya membuat wanita itu berdiri untuk menyambut kehadiran suaminya.


“Mama berlebihan,” celetuk Gian yang membuatnya mendapat pukulan di pundaknya, mulut Gian terkadang memang membuatnya terjebak dalam masalah.


******


“Hati-hati ya,” ucap Gian yang kini berdiri di depan istrinya, usai mengecup kening Radha tak lupa ia membelai wajah mulus itu, dan tentu saja Rey harus menyaksikan adegan manis berjilid-jilid itu di depannya.


“Kakak mau kemana?” Radha bertanya sedikit malu, ragu sebenarnya ia mengatakan hal ini, namun entah kenapa rasanya ia sangat mengganggu di kepalanya.


“Tidak kemana-mana, kenapa memangnya?”


Gian menarik sudut bibir, tatapannya tak berani Radha balas. Nampaknya Radha menginginkan sesuatu namun tercekat di tenggorokannya.


“Hm, enggak,” ucapnya kemudian, sesekali menatap kea rah Rey yang sudah menunggunya sejak tadi.


“Ya sudah, pergilah … nanti kamu telat,” titah Gian yang membuat Radha semakin cemberut, sebenarnya ada yang ia inginkan, namun entah kenapa sesulit ini untuk ia mengatakan maunya.


“Ays, ni manusia gada peka-pekanya jadi suami,” teriak Radha dalam batinnya, membiarkan Gian di rumah rasanya ia tak rela, khawatir jika suaminya ini pergi ke tempat yang tak ia ketahui.

__ADS_1


“Zura, apa yang kau tunggu, Sayang?” Gian menggodanya, menatap istrinya yang seperti ini seakan ada keberhasilan yang ia raih.


“Hm, Kakak boleh antar aku ke sekolah nggak?” suaranya terdengar sangat kecil, ia menarik ujung piyama Gian, mengatakan hal ini sesungguhnya ia sangat malu, bahkan ia menunduk mengatakan keinginannya ini.


“Apa, Kakak nggak denger, katakan jelas-jelas, Ra?”


Sebenarnya Gian sudah mendengarnya, bahkan sangat jelas meski suara istrinya sekecil itu. Namun ia menginginkan Radha memohon dengan cara yang lain, dan benar saja istrinya itu tampak kesal, ia menghentakan kaki.


“Hahaha … kau kenapa, Ra?”


Gian menangkup wajah cantik istrinya, ia ingin puas memandangi ekspresi Radha saat ini.


Namun terkejutnya Gian begitu menyadari mata istrinya kini tampak berkaca-kaca, sejak tadi memang Radha menunduk, dan ia dengan sengaja menggoda istrinya berpura-pura tak mengerti apa maunya.


“Ra? Kenapa nangis?”


Radha melepaskan tangan Gian, ia menyeka cepat air matanya kala ia mengalihkan pandangan. Ketahuan menangis seperti ini membuatnya semakin malu saja. Wajahnya kini semakin merah, ada kemarahan, kesal, cemburu dan sedih di dalam dirinya.


“Iyaya Kakak anter,” tutur Gian menahan pergelangan istrinya yang hendak pergi berlalu, mungkin sedikit kecewa lantaran Gian tak segera mengiyakan maunya.


“Jangan nangis, Kakak yang anter,” tambahnya lagi namun dengan senyum yang tak dapat ia sembunyikan, inikah hasil dari usaha yang ia lakukan di depan mamanya, jika iya sungguh Gian benar-benar bersyukur.


Radha hanya diam, namun senyum tipis itu perlahan mengembang meski tak ia pelihatkan. Gian meminta Rey untuk pergi bersama Raka, kebetulan tujuan mereka sama. Sedangkan ia yang akan mengantarkan Radha ke sekolah,


Menatap mobil yang perlahan menjauh, Rey hanya menggelengkan kepala, menyadari betapa besarnya perubahan pria itu sejak memiliki istri. Senyum yang dahulu bahkan tak pernah ia saksikan, kini dapat Rey temukan walau itu bukan untuk dirinya.


“Radhania Azzura, kau benar-benar mengembalikannya.”


Rey menghela napas panjang, ia berterima kasih pada Radha yang berhasil menghadirkan kembali senyum Gian yang dahulu sempat hilang karenanya.

__ADS_1


Babay🌻


Eeeh Radha kenapa tuh😚


__ADS_2