Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 249. Kecurigaan (Ciut)


__ADS_3

"Aakhhh, Reyhans ... bisakah pijat kepalaku sebentar saja," pinta Gian tiba-tiba berhenti melangkah, entah apa yang membuat pria itu tiba-tiba terpejam seakan sedang tersiksa lahir batin.


"Kau kurang tidur, jam berapa memang kau tidur, Gi?"


"Ah biasa saja, aku juga sudah biasa tidur di atas jam 12, sepertinya aku butuh jasa pijat."


Reyhans mengerti, mungkin Gian memang cukup lelah. Terlalu bahagia memiliki kedua buah hatinya sekaligus, dan juga pekerjaan yang tak berhenti jelas menyita waktu dan tenaga Gian.


"Seperti ini?"


Mulai menyentuh kepala Gian, pria itu tampaknya terima saja kepalanya di jamah. Biasanya dia akan marah walau hanya kakinya yang terinjak, dan kini kepalanya Reyhans sentuh nyatanya tak marah sama sekali.


"Hm, seperti itu ...."


Gian menikmati, sedikit terasa lebih baik. Biasanya dia akan meminta Radha melakukan hal ini, akan tetapi saat ini yang ada di sisinya hanya ada Reyhans. Mana mungkin dia memaksakan diri harus menunggu nanti, bisa-bisa kepalanya semakin sakit.


Tak lama, hanya lima menit saja. Gian menggerakkan punggung dan kepalanya ke kanan ke kiri usai mendapat pijatan dari Reyhans, terasa lebih baik tentu saja.


"Lebih baik?" tanya Reyhans seperti biasa, memastikan apa yang Gian minta sesuai dengan harapannya.


"Mendingan, terima kasih, Reyhans."


Kembali melanjutkan langkah, keduanya memasuki lift dengan menyisakan sejuta tanya bagi para pekerjanya. Evany yang melihat dengan mata kepalanya sendiri akhirnya mulai termakan gosip yang kerap ia dengar dari teman-temannya.


"Reyhans selingkuh? Apa maksudnya? Oh wajar pak Gian mulai baik padaku, ternyata ada udang dibalik batu."


Evany mengepalkan tangannya, sungguh ia tengah emosi luar biasa, wajahnya tak bisa dipungkiri jika memang tengah menyimpan amarah yang luar biasa, sebelumnya hubungan mereka memang semakin baik.


Gian menerima Evany bahkan sangat baik, beberapa kali juga sempat menemui Radha demi mengunjungi si kecil, dan Evany merasa dia tengah dikhianati Reyhans dan Gian secara bersamaan.


"Mereka sama-sama halal untuk dipukul, awas saja."


Dengan langkah pasti, dia segera berlalu dan menuju lantai tempat penguasa menyebalkan itu hidup. Evany sudah mengumpulkan sejuta keberanian, ia tak takut lagi kalaupun harus kehilangan pekerjaan.


Saat ini, yang ada di ingatannya hanya ada dua pria tampan menyebalkan itu. Dadanya terasa sesak, pasokan udara di tempat ini seakan tak cukup untuk Evany dapat bernapas dengan baik.


"Huft!! Calm down, Eva ... ini semua tentang harga diri, memang salah mereka, kau benar di sini."

__ADS_1


Nyatanya keberanian yang tadinya sebesar gunung, kini menciut hanya seonggok gundukan tanah. Evany gemetar, pintu ruangan Gian kenapa lebih menakutkan dari sebelumnya, padahal tadi dia sudah sangat yakin untuk melabrak Gian.


"Dorong pintunya, Evany!! Ingat, dia hanya manusia biasa," tutur Evany meyakinkan diri, hendak mendorong pintu namun hingga detik ini ia belum berani melakukannya.


"Persetan dengan profesi, kau ingat!! Dia merebut kekasihmu."


Kesalahpahaman yang ia rasakan, kecemburuan dan juga kemarahan kini menyatu. Tak punya waktu lebih lama, toh dia sudah bertekat kalaupun harus berhenti bekerja ia tak mengapa.


BRAK!!


"Heh!!! Apa yang kalian lakukan dibelakangku sebenarnya? Dasar perebut, laknat!! Aku membencimu!!"


Dapat Evany lihat dengan jelas, Gian panik dan tak bisa mengelak lagi. Karena kini bukti sudah sangat cukup, jelas Evany yang berada di posisi benar.


"Kamu juga, Reyhans!! Wajar saja semakin kasini semakin sibuk, ternyata benar ... kamu memang tidak sayang aku," jerit Evany yang sama sekali tak menerima penjelasan apapun lagi.


-


.


.


.


Pyar!!


Dari tadi Evany hanya melamun, nyatanya belum sepatah katapun ia ucapkan pada Gian. Wanita itu dingin tiba-tiba, kini Gian berada tepat di depannya, faktanya pintu itu terbuka bukan karena dorongan Evany, melainkan Gian sendiri karena dia hendak keluar sebentar.


"Hah? Ada apa, Pak? Apa ada yang perlu saya bantu?"


Kemana tadi marahnya, Gian menatap heran Evany dari atas hingga bawah, apa yang tengah wanita ini pikirkan, kenapa wajahnya terlihat pucat, pikir Gian.


"Kau yang kenapa? Mau mengundurkan diri atau apa?"


Evany menggeleng cepat, ia menampilkan senyum seceria itu. Seakan dendamnya terkubur semua, Gian membuatnya ciut seciut-ciutnya. Tak ada yang bisa ia katakan, lidahnya terasa kaku tiba-tiba, dan tujuannya buyar entah kemana.


"Saya pikir Bapak butuh saya, makanya tadi mau ketuk pintu."

__ADS_1


Bohong sekali, sejak kapan juga Gian mengeluhkan hal lain pada Evany. Pria itu masih mengunci Evany dengan tatapan curiganya, tentu saja Evany bergemuruh luar biasa.


"Mencurigakan, sepertinya kesehatanmu perlu diperiksa, terutama otakmu, Evany ... saya khawatir, kau terlihat seperti pencandu obat terlarang, ditanya bukannya jawab tapi planga plongo."


Apa lagi ini, niat hati ingin membuat Gian yang tumbang, kenapa justru malah dia. Evany terbanting dengan ucapan Gian, ia tak bisa menjawab apa-apa meski tuduhan ini lebih hina daripada dituduh tidur bersama kucing jalanan.


"Saya tidak menggunakan obat-obatan seperti itu, Pak, saya sehat dijamin."


Mencoba meyakinkan Gian bahwa keyakinannya tidak benar sama sekali. Akan tetapi, mana bisa secepat itu. Evany sama saja dengan bunuh diri, saat ini citranya mungkin akan dipandang sangat buruk di mata Gian.


"Yakin? Setidaknya kalau malam tidur yang cukup, matamu hitam semua, auramu suram ... apa kau tidak bahagia, Evany?" tanya Gian serius, tapi kalimatnya membuat gendang telinga Evany tertekan, kenapa dia punya bos seperti ini.


"Bahagia, Pak, saya bahagia dengan hidup saya yang seperti ini."


Masih mampu menjawab dengan baik, padahal hatinya tengah bergemuruh dan sama sekali tidak memiliki kekuatan apa-apa. Ia berharap Reyhans segera datang di antara mereka dan menyelamatkan hidup Evany pagi ini.


"Bohong, kalau bahagia tidak mungkin seperti ini," cetus Gian tak mau kalah, ia meneliti penampilan Evany dari atas sampai bawah, tidak ada yang salah, akan tetapi jemarinya yang sejak tadi bergetar menjadi pusat perhatian Gian.


"Tanda-tanda kecemasan berlebih, Reyhans ... kekasihmu tidak kau perhatikan atau bagaimana," ucap Gian kecil, ia bukan bicara pada Evany, melainkan memang memikirkan nasib sekretarisnya itu.


"Istirahat jika kau memang tidak baik-baik saja, Evany, aku akan meminta Reyhans mendampingimu."


Dan dengan bodohnya, Evany mengangguk. Baru sadar jika Gian telah membalikkan tujuannya secepatnya itu. Dan pria itu tidak berbohong, dia menghubungi Reyhans usai merogoh sakunya.


"Kenapa, Pak?" tanya Reyhans ketika tiba di depan mereka, Evany hanya menundukkan kepala.


"Antar pulang kekasihmu, sepertinya dia tidak baik-baik saja," perintah Gian sebelum berlalu ke tujuannya, meninggalkan Evany yang menggeleng pelan namun lidahnya sebodoh itu untuk memberi penjelasan.


"Ays!!! Bodohnya!! Bukan ini yang aku maksudkan," tutur Evany baru bisa bicara dengan mulus usai kepergian Gian.


"Lalu apa?" Reyhans bertanya, ia mengerutkan dahi merasa Evany memang mencurigakan.


"Tidak ada, kita bicarakan saja berdua ... sepertinya memang seharusnya ini aku tanyakan padamu, bukan pak Gian."


Dada Reyhans bergemuruh, tak pernah Evany begini sebelumnya. Entah kenapa, jantungnya seakan mau copot walau dirinya terlihat tetap tenang.


Tbc

__ADS_1


Untuk setelahnya, aku ga akan tetap cuma fokus ke Gian Radha, ya. Tapi yang lain juga, karena butuh banyak idenya buat tembus target haha.


__ADS_2