
“Woah!! Papa sendirian di rumah sebesar ini?”
Ia menatap takjub tempat kediaman Randy, tampak begitu nyaman dan ini adalah hal yang sejak dulu ada dalam bayangan Caterine. Tidak ada bodyguard ataupun penjaga rumah yang berlebihan, namun ia bahkan merasa lebih aman berada di tempat ini dibandingkan rumah Sheina bagaikan istana namun ia rasa sekaan neraka itu.
Masih mengagumi rumah mewah itu, Randy tak melepaskan tangan putrinya. Membiarkan anak itu kagum untuk beberapa saat walau Randy sadar, kehidupan Caterine bahkan lebih mewah darinya. Namun senyum putrinya itu terlihat Nampak jujur bahwa dia memang nyaman di rumah ini.
“Daebak!! Rumah Papa terinspirasi dari Drakor ya? Haa cantik sekali.”
Hati Randy menghangat menatap keceriaan putrinya yang kini berlari kesana kemari mengelili sisi rumahnya. Tak jarang ia menyentuh berbagai koleksi mainan Randy yang dari masih muda ia tata di lemari kaca. Dan, ini seakan menjadi surga bagi Caterine.
“Rumah kamu juga, Sayang ….” Ia berucap menghampiri sang putri yang kini tengah fokus dengan beberapa miniatur yang Randy beli dengan harga di luar nalar.
“Haaa, aku suka di sini, it’s my dream, Papa.”
Matanya seakan haus, belum usai denga napa yang ia lihat di depannya, Caterine melangkah dan mencari lebih banyak hal yang bisa membuatnya kagum. Kolam renang, ruang baca ataupun taman dengan berbagai tumbuhan hijau di sisi rumahnya seakan memukau bagi Caterine, meski di rumahnya bersama Sheina bahkan lebih mewah dari ini, namun tetap saja baginya milik Randy lebih bermakna.
“Kau senang?”
“Ehm, kenapa nggak dari dulu Papa ajak aku kesini.”
Randy hanya diam, pertanyaan itu sebenarnya simple, tapi entah mengaja rasanya sangat sakit menusuk jiwa. Belum usai kekagumannya dengan pernak Pernik Randy yang ia anggap unik dan berbeda, kini ia kembali di buat takjub begitu memasuki ruang keluarga.
“Papa, itu aku?” Caterine melongo begitu menatap foto gadis kecil yang terpajang begitu besar di sana.
Randy mengangguk, foto terakhir yang ia ambil ketika Caterine merayakan ulang tahunnya yang ke-8, beberapa waktu sebelum ia resmi bercerai dari Sheina. Randy menyimpannya cukup lama, hingga dalam kesendirian ia membangun semuanya dari awal.
Meski tak punya harapan akan dapat memeluk putrinya kala itu, namun dalam setiap usahanya Randy selalu mengatakan bahwa salah satu tujuan ia bekerja adalah untuk Caterine.
“Ah so cute,” ia tersenyum menatap betapa sucinya mata gadis itu, gadis yang ia pandang kini bukanlah Caterine yang saat ini, tampaknya tak ada air mata disana, senyum tulus dan penuh arti terpancar dari wajah cantik gadis itu.
__ADS_1
“Aku tidak pernah tau foto ini, cantik sekali.” Caterine tengah mengagumi dirinya sendiri, sungguh jika di izinkan ia ingin kembali ke masa itu, masa dimana ia hanya mengerti perihal tawa dari orang-orang sekelilingnya.
Masih banyak hal yang belum Caterine lihat, lantai dua yang setiap ruangannya selalu memiliki makna tentu akan membuatnya semakin tak ingin jauh dari papanya. Menatap kekaguman Caterine, Randy mendekat dan ia pun tersenyum menatap putri kecilnya dalam senyum yang abadi itu.
“Caterine yang Papa punya akan selalu tersenyum seperti itu, tidak satupun boleh menjadi penyebab tangismu,” tutur Randy memeluk putrinya kini, memberkan kekuatan bahwa semuanya dapat kembali baik seperti sebelumnya, dan lebih banyak alasan untuk Caterine bahagia jika ia bersama Randy.
“Siapa, Pa?” tanya Caterine dengan cemas dan tangannya sontak mengeratkan pelukan pada sang papa, nyatanya trauma dan ketakutan itu masih ada.
“Entahlah, tunggu sebentar ya, Papa lihat dulu.”
“Randy!! Hai-hai, kita lihat siapa ini?!!”
Belum sempat Randy berlajan ke depan untuk membukakan pintu, pemilik suara itu datang dengan wajah kebahagiaan yang tak bisa ia sembunyikan. Bersama Raka yang berada di sisinya, Jelita menghampiri Caterine dengan langkah panjangnya.
Begitu mendengar kabar dari sang Adik bahwa ia sudah tiba, Jelita yang memang terhambat karena menunggu Raka segera mendatangi kediaman Randy.
“Menyenangkan, Tan … te.” Sedikit ragu, karena memang ia tak mengingat dengan benar bagaimana wajah Jelita.
“Ya Tuhan, dia cantik banget, Ran ….” Jelita sejenak mengagumi kecantikan keponakannya, andai Rena dan juga Arman masih hidup, betapa bahagianya mereka memiliki cucu perempuan satu-satunya dan secantik ini.
“Iya lah, siapa dulu Papanya.” Randy membanggakan diri yang membuat Raka menarik sudut bibirnya tipis.
“Hahaha bisa saja kau, tapi putrimu tidak ada miripnya sama sekali denganmu, Ran … 100 persen Sheina.” Raka kini turut bicara, memang menjadi kesenangan pria itu membuat suasana hati Randy sedikit terganggu.
“Eh Mas apaan sih, dia juga ada mirip Randy kok, bulu matanya kamu banget sih, Ran.” Berusaha membuat adiknya senang, Jelita mengungkapkan kemiripan Caterine yang hanya perihal bulu mata.
"Yaya, terserah kalian ... oh iya, kenapa hanya berdua? Pasukan mana?" Randy merasa heran lantaran Gian yang biasanya tak pernah mengabaikan segala sesuatu kini tak terlihat batang hidungnya.
"Gian sakit, udah pucat pasi gara-gara perutnya kesiksa."
__ADS_1
"Emang kenapa lagi dia? Mabuk atau bagaimana?"
Radha duduk meski tak Randy persilahkan, dan tetap dengan mengandeng Caterine di sisinya. Gadis itu masih sejenak mengenali wajah Jelita, perasaannya memang tak seasing ini, ia merasa dekat meski Sheina tak pernah membahas tentang Jelita.
"Kalau kata Radha dia coba-coba makan pedas, Gian lupa diri sepertinya."
Ia menjawab namun pandangannya fokus pada putri Randy yang cantik ini, rambutnya yang tergerai panjang membuat Jelita merasa gemas. Meski sudah beranjak dewasa, bagi Radha keponakannya ini masih seperti Caterine kecil yang dahulu menjadi sebab mata Randy bengkak bak serangan tawon pasca berpisah.
"Hahah lemah sekali dia, begitu saja keok."
Randy tertawa renyah, lupa bahwa yang duduk di sebelahnya juga sejenis seperti Gian. Anti cabai adalah penyakit turunan yang diberikan Raka, sontak hal itu membuatnya mendapat tatapan begitu tajamnya.
"Kau kira putraku ayam atau bagaimana?"
Interaksi dua orang dewasa ini membuat Caterine menarik sudut bibir. Raka, sosok pria yang dahulu kerap menggantikan Randy jika mereka ada kesempatan tak dapat Caterine ingat sepenuhnya. Memorinya terlalu sulit untuk di kenang satu persatu.
Gian, nama itu melekat dalam benaknya. Caterine mengingat beberapa moment jika mendengar nama itu. Namun untuk wajahnya, Caterine lupa bahkan mungkin ia tak mengenali Gian lagi. Berbeda dengan Haidar yang kerap ia lihat di mana-mana.
"Hahah, bukan begitu maksudku, Kak. Astaga," tutur Randy mencoba memperkecil masalah.
"Eh iya lupa, yang aku minta Kakak tidak lupa kan?" tanya Randy memastikan, karena sejak ia pulang tak ia temukan siapapun kecuali satu penjaga di pintu gerbang.
"Oh, udah, Ran ... Layla sama Asih aku minta sekalian buat bantu siapin kamar Caterine, tapi mereka bilang udah rapi gimana sih kamu?"
Sempat menjadi tanya Jelita karena asisten rumah tangga yang ia utus untuk membersihkan kamar Caterine mengatakan bahwa semua sudah siap, jadi mereka hanya membersihkan kembali lantai yang memang sudah bersih itu.
"Syukurlah, aku hanya ingin kamar itu dipastikan sekali lagi agar putriku nyaman saja." Randy berucap santai, karena memang sejak dahulu kamar itu ia siapkan meski tak pasti kapan putrinya akan benar-benar menghuninya.
Menjelang hari-hari terakhir di promoin MT, semoga ntar bisa lagi yak ewkwk. Makasih dukungannya, give away kalau udah end ya!!😚
__ADS_1