Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 181. Lebih Bahaya Dari Hantu.


__ADS_3

Was-was, jujur saja ia memang penakut jika berhubungan dengan hal semacam ini. Radha yang menyaksikan dengan teliti langkah suaminya mendadak tak nyaman.


Di luar dugaannya,tempat itu bahkan lebih gelap dari yang ia bayangkan. Dingin menyelimuti seakan menembus pertahanan kemeja dan jasnya, dengan langkah pelan Gian mendekat.


"Maaf, Nona ... apa kau butuh tumpangan?"


Percayalah, bibirnya berkata demikian tapi hatinya tengah melantunkan ayat-ayat suci. Sungguh Gian setakut itu, tangannya kian dingin bersamaan dengan lehernya kian meremang.


"Hm? Tidak, aku nunggu seseorang ... mungkin sebentar lagi dia datang."


Huft, syukurlah ... dia bisa bicara. Gian bahkan lebih takut dengan keberadaan wanita ini dibandingkan pohon beringin di atasnya.


"Yakin? Tapi ini sudah larut malam, tunggu di tempat lain saja, bahaya jika di sini."


Gian serius, memang hari sudah benar-benar larut, dan wanita ini tampaknya masih sangat muda. Bahkan bisa Gian katakan sebaya dengan istrinya. Akan tetapi sosoknya yang misterius dengan jaket tebal dan topinya membuat Gian tetap takut.


"Tapi dia memintaku menunggu di sini, nanti dia bingung kalau aku pergi," ujarnya tampak ragu dan masih terlihat menghubungi seseorang.


"Ck, sudah nunggu berapa lama? Yakin temen kamu akan datang?" Gian mulai geram, pasalnya dia saja merinding, bisa-bisanya gadis seperti dia tampak tenang di tempat ini.


Tetap berusaha menyakinkan, meski gadis ini hanya menatapnya bicara sesekali. Selebihnya ia fokus pada benda pipihnya, tampak menghubungi seseorang beberapa kali.


Hingga ia tampak mengangguk memutuskan pertimbangannya. Gian bernapas lega, setidaknya dugaan dia tak terjadi.


"Masuklah," titahnya membukakan pintu mobil, kurang baik apa dirinya, lebih tepatnya dia yamg terlampau takut tak ingin lebih lama berada di tempat ini.


Radha yang sejak tadi menunggu dapat bernapas lega begitu seseorang yang ia khawatirkan kini kembali. Ia menoleh dan menatap teliti wanita di belakangnya, mencurigakan sekali.


Hingga, ia membuka jaket dan topinya. Radha membeliak dan sontak berteriak dengan apa yang ia lihat kini. Ini lebih mengerikan dari setan penjuru alam.


"Aaaaaarrrrrrgggghhhh!!!"


Sialnya, dua-duanya berteriak dan membuat Gian kaget bukan main. Ia menatap wajah kedua wanita itu bergantian, memastikan apa yang membuat Radha berteriak sekeras itu.


"Ngagetin aja lu, Helena!!!!"


"Ya elu ngapain pakek teriak segala!!"


Radha terkejut, ia tak mampu menyembunyikan betapa kagetnya dia ketika mengetahui bahwa yang berada di belakangnya adalah Helena, teman sekolahnya.


"Kamu kenal dia, Ra?" tanya Gian di tengah kepanikan istrinya yang terngah mengatur napas, bahkan cake yang ada di tangannya ia lemparkan tepat di wajah Helena.


"I-iya, Kak ... temen aku."


Meski hati Gian bergemuruh, ia luar biasa lega kala menyadari bahwa yang ia tolong adalah manusia baik yang tidak membahayakan mereka.


Helena masih membersihkan wajahnya, sial sekali hidupnya. Di minta menunggu di tempat semenyeramkan ini oleh kekasihnya, dan kini mendapat lembaran tiba-tiba dari orang yang berniat baik padanya.

__ADS_1


"Ya Tuhan ... syukurlah, gue pikir mau di culik, ternyata elu, Ra."


Drama macam apa ini, keduanya sama-sama takut. Baik Gian maupun Helena berpikir jika satu sama lain adalah seseorang yang membahayakan. Helena mengelus dadanya berkali-kali, dan Radha yang kini justru gelagapan jika Helena semakin curiga terhadapnya hanya berusaha tenang.


"Ada-ada saja kalian," tutur Gian pasrah, satu yang seperti Radha saja sudah membuatnya sakit kepala, dan kini berdua berada di dekatnya.


-


.


.


"Sayang, kamu tidur?"


"Sa-sayang?!!"


Radha menggigit bibir, dia baru saja tenang lantaran Helena mulai tenang dan tak bertanya tentang siapa Gian. Dan sialnya, diamnya justru membuat Gian khawatir dan bertanya dengan kalimat yang membuatnya terjebak dalam masalah.


"Kenapa denganmu?" tanya Gian dingin, telinganya sampai sakit mendengar keterkejutan Helena.


"Ti-tidak, aku hanya terkejut."


Sedekat-dekatnya dia pada Radha, jujur saja pria ini membuatnya takut. Meski tadi hatinya berdebar bahkan tak kuasa menatap Gian, kini kekecewaan bercampur takut karena dinginnya Gian menjadi satu.


Kecewa, karena panggilan itu Gian berikan untuk Radha. Artinya pria ini bukan sekadar Kakaknya, mana ada Kakak yang semesra itu, pikir Helena.


"Rumahmu dimana? Sepertinya temanmu tidak akan menemuimu kan?"


"Jawab saja pertanyaan pentingku, rumahmu dimana, Helena?"


Radha menahan tawa dalam diamnya, polosnya Helena ternyata membuat Gian kesal juga. Andai saja situasinya berbeda, tentu dia akan mengejek Helena sejadi-jadinya.


Tanpa menjawab, Gian melaju usai Helena menunjukkan alamat lengkapnya, bahkan sampai nama RT-nya Helena sebutkan, sungguh tiada berguna.


Cukup menyita waktu, Gian tak habis pikir kenapa gadis seusia Helena bisa keluar dan menunggu seseorang di tempat segelap itu. Benar-benar tak masuk akal.


"Dimana?"


"Yang pagar hitam," jawab Helena ketika hampir tiba di depan rumahnya.


Sebuah fakta yang kini Radha temukan, anak ini bukan sembarangan. Jika dilihat dari rumahnya, ia memang orang kaya. Wajar saja sekolahnya tampak santai, pikir Radha tetap setia dalam diamnya. Pura-pura tidur adalah pilihan utamanya.


"Terima kasih, Kak ... sampaikan juga makasihnya buat Radha."


"Iya, sama-sama ... nanti saya sampaikan kalau istri saya sudah bangun."


Yes!! Terjawab dan Helena bisa tidur dengan tenang, meski cinta pada pandang pertamanya malam ini kandas sebelum berlabuh tapi tak apa.

__ADS_1


Berbeda dengan Helena yang kini puas luar biasa, Radha justru tengah meratapi bagaimana nasibnya ketika bertemu Helena di sekolah. Belum lagi sejak pertemuan terakhir Helena telah mencurigainya, habis sudah, pikir Radha.


"Ra? Tidur beneran?"


"Enggak, Kak ... tanya mulu is."


Gian mengerutkan dahi, kenapa juga istrinya ini. Apa mungkin cemburu karena dia memperlakukan Helena dengan sebaik itu, entahlah Gian menerka-nerka kemungkinan.


"Sayang, Kakak buat salah kah?"


"Huft, enggak ... ayo pulang, matamu tinggal 5 watt."


Gian menarik sudut bibir, ada saja istilah yang istrinya berikan. Mereka kini berlalu, dengan perasaan tenang dan baik-baik saja.


-


.


.


.


"Dasar bodoh!! Aku memintamu untuk tetap menahannya sebelum aku datang, Helena!!"


"Kenapa aku yang salah? Kamu cuma minta aku untuk nunggu di tempat itu."


"Dan kau tidak melakukan sesuai perintahku, Helena!! Kau paham arti kata tunggu tidak?!"


"Aku takut! Dan kamu, sudah berapa kali aku minta untuk cepat, sendirian di tempat segelap itu ... kamu pikir aku baik-baik saja?!"


"Ayss!! Dasar tollol! Percuma aku memiliki kekasih bodoh sepertimu."


Helena terhenyak, pria yang selama ini ia kira dewasa dan sabar menghadapinya kenapa bisa berubah secepat membalikkan telapak tangan. Jemarinya bergetar, ponselnya hampir terlepas.


Ia tak mematikan sambungan teleponnya, ia hanya diam dan bingung hendak menjawab apa. Karena memang kekasihnya hanya memintanya untuk datang dan menunggu dia datang, ia tak mengerti apa tujuannya meminta menunggu di tempat gelap seperti itu.


"Maaf, aku salah."


"Iya!! Memang kau salah, wajar saja keluarga besarmu hancur! Anaknya membawa sia."


Ya Tuhan, apalagi ini. Kenapa setega itu kalimat menyakitkan Helena dengar dengan nyata. Dan itu dari pria yang menjadi tempatnya pulang selain rumah, hancurnya bertubi-tubi malam ini.


PRAANK


"Kamu mau apa?"


"Bukan urusanmu!!"

__ADS_1


Helena mendengar jelas suara gaduh di seberang sana, sepertinya memang kekasihnya tengah marah besar. Apa mungkin karena salahnya? Padahal, ia hanya menerima bantuan dari seseorang yang berniat baik padanya, pikir Helena.


🌻


__ADS_2