
"Makasih, Kakak."
Untuk pertama kalinya kalimat terima kasih sebegitu manisnya yang Gian dengar. Meski ia sungguh teramat geli dengan benda yang Radha inginkan, tak begitu mahal namun tetap saja membuat Gian menggeleng kepala dengan apa yang Radha inginkan.
"Hm, t-tapi tolong jauhkan dariku, Zura, benda itu sangat menjijikkan."
Bahkan untuk melihatnya Gian tak sudi, mainan yang sedikitpun tak ada lucunya itu begitu menakutkan di mata Gian. Tak habis pikir, kenapa istrinya sangat menyukai hal-hal aneh semacam itu.
"Aaarrrrrggghh!! Sudah ku katakan jauhkan, Zura Astafirullah!!"
Sungguh Gian benar-benar takut, ia menutup mata dan mengibas-ngibaskan tangannya lantaran Radha semakin menakuti sang Suami.
Ular mainan yang begitu lembut dan benar-benar menyerupai bentuk aslinya itu berhasil membuat Radha berkuasa sore ini. Dasar aneh, Gian membawanya ke berbagai tempat dan bisa-bisanya mainan menjijikkan itu yang menjadi pilihan Radha.
"Hahaha ... ternyata Kakak bisa takut juga ya," ujarnya begitu jahil dan membuat Gian kesal bukan main.
"Bisalah!! Kau saja yang aneh, ya Tuhan Zura ... kakak minta tolong masukkan dulu ke tasmu ya."
Meski Radha tak menakutinya, tetap saja Gian setakut itu akan benda kecil yang Radha pegang. Nyalinya benar-benar hilang kala saat ini, suaranya hampir serak lantaran terkejut akibat ulah Radha.
"Memangnya kenapa, Kak?"
Dengan polosnya ia bertanya, seakan tak mengerti apa sebabnya. Andai saja ia sadar, jemari Gian bahkan terasa dingin saat ini. Dan sungguh tanpa ia buat-buat, ingin rasanya Gian melempar benda itu.
"Masih bertanya? Kau lihat, kakak bahkan tak bisa megemudi dengan baik jika kau terus memainkan benda itu, Azzura."
"Hem, Oke ... Kak."
Layaknya anak kecil yang menuruti perintah Papanya, Radha patuh begitu saja kala Gian memintanya untuk berhenti. Karena jika tetap ia lakukan, maka keduanya akan sama bahayanya.
Sejenak Gian dapat mengemudi dengan nyaman, pria itu bernapas lega kala wanita di sampingnya kini memilih tidur dan tak peduli kepadanya.
Dalam perjalanan yang tak terlalu macet, Gian sesekali melihat istri kecilnya melalui ekor mata. Dan wanita itu tampak begitu lelah walau selama pergi berdua Radha lah yang seakan tak mengenal kata lelah.
"Ck, tidur juga akhirnya kau."
Bagi Gian, memiliki Radha adalah sebuah anugerah terindah yang harus ia jaga. Dan dia paham betul bahwa sebagai orang yang dipercayai Tuhan atas wanita itu adalah dirinya yang harus menjaga Zura sebaik ia mejaga jiwanya.
Dalam diamnya, Gian mengingat banyak hal hari ini. Meski kencan mendadaknya hampir saja kacau karena kehadiran Haidar dan Jelita tadi siang. Di tempat yang sama dan tujuan yang sama, Gian sebisa mungkin mengalihkan pembicaraan agar Radha tetap menatapnya.
__ADS_1
Hal itu ia lakukan agar Radha tak menyadari bahwa kedua orang itu ada di dekatnya. Karena jika sampai Radha tahu, maka jelas wanita itu akan memilih Jelita sebagai temannya untuk berbelanja. Dan dia belum bisa menerima Haidar sebaik itu dan takkan mungkin Gian mau jika harus berjalan beriringan bersama Haidar.
"Apa aku terlalu egois tentang kamu, Ra?"
Sadar betul bahwa Gian menyita waktu Radha hanya untuknya. Bahkan tanpa kehadiran Haidar secara langsung, Gian berniat memisah keduanya sebelum bertatap muka.
********
Cukup lama mereka menghabiskan waktu hari ini, tiba di rumah tampaknya Haidar dan Jelita lebih dulu pulang. Gian menatap wanitanya, masih tertidur lelap dan ia tak tega jika membangunkan wanita mungil itu.
Dengan begitu lembutnya Gian membopong Radha, tentu saja ia tak meninggalkan belanjaan sang Istri yang masih saja ia pertanyakan dimana letak pentingnya.
"Baiklah, dia memang masih kecil, Gian."
Mencoba bersabar dan tak mau menjadikan semua ini sebagai masalah, Gian melangkah dengan begitu gagahnya seakan tak ada beban. Bahkan ia sempat berpikir kemana perginya makanan yang masuk dalam tubuh wanitanya itu.
Memasuki ruang tamu, raut Gian berubah seketika kala menyadari Haidar yang kini duduk di sofa sembari menonton televisi. Dan dengan sengaja ia memperlambat langkahnya agar Haidar melihat lebih puas ia berkuasa atas tubuh mungil Radha.
Tak biasanya Haidar berdiam diri di ruang tamu, karena pria itu adalah seseorang yang lebih suka menikmati waktu di dalam kamar sendiri. Dan Gian dapat memahami bahwa pria itu sengaja duduk di sana demi menanti kedatangan Radha.
"Ehem, apa yang kau lihat, hm?"
Haidar mengalihkan pandangannya, sadar ketika sang Kakak mulai mengeluarkan taring atas apa yang ia lakukan. Jelas saja ia terkejut, sebisa mungkin Haidar berpura-pura tak menyadari kehadiran Gian.
"Lalu kenapa matamu bahkan tak berkedip menatapku, Haidar?!!"
"Aku tidak melihatmu, Gian, aku hanya memastikan dia baik-baik saja sehabis pergi bersamamu."
Mulai panas, begitu cepatnya emosi Gian terpancing jika sudah berurusan dengan Radha. Dan kali ini memang benar Haidar memancingnya, hingga tanpa ia sadari tangannya terlalu kuat dan membuat Radha merasa tak nyaman.
"Aaarrghhh ... Kakak," keluh Radha kala merasakan sakit di pinggangnya.
Ia membuka mata, dan wajah yang memerah itu tengah menunduk menatapnya. Radha, dengan rasa kantuk berpadu dengan keterkejutannya mulai menyadari dimana dia berada.
"Hey, kau bangun, Sayang?"
Sengaja ia melakukan hal kekanak-kanakan yang tentu saja membuat Haidar mendidih. Radha mengangguk dan meminta pria itu segera menurunkannya.
"Kakak, aku benar bisa jalan sendiri."
__ADS_1
"Jangan membantah, Zura, kau hanya perlu diam."
"Baiklah besok aku tidak mau sekolah lagi."
Haidar mengepalkan tangannya, bahkan kala Radha yang meminta Gian tetap sekeras itu untuk tetap menggendongnya. Rok Radha terlihat begitu pendek, dan Haidar tak tahan dengan pemandangan yang seharusnya memang menjadi miliknya.
Hingga senyum itu terbit kala Gian mengalah dan memilih menurunkan Radha. Ancaman anak kecil yang sebegitu berhasilnya membuat Gian luluh.
"Hm, Zura tunggu!!"
Haidar segera berdiri dan menghampiri pasangan itu. Ia merasa tak nyaman dengan apa yang kini ia saksikan, mulutnya sudah terasa gatal dan ingin menghadiahkan pukulan di kepala kakaknya.
"Ada perlu apa? Kau tidak melihat suaminya berada di depanmu?"
"Aku tidak punya urusan denganmu, Kak. Aku hanya ingin bicara dengannya."
Gian tak peduli, segera mungkin ia berbalik dan merangkul Radha agar segera ke kamar. Karena satu kalimat pun takkan ia biarkan Radha bebicara dengan Haidar jika berada di depannya.
"Dasar egois, perhatikan pakaian Zura, Gian!! Setahuku pakaiannya tak sekecil itu."
Radha terhenyak, perhatian yang Haidar berikan masih sama. Tentang hal kecil yang dahulu merupakan alasannya jatuh cinta.
"Apa pedulimu? Kau pikir aku sengaja memberikan pakaian balita ini kepadanya!!"
Lagi dan lagi, amarah keduanya sama mendidih. Pancaran kemarahan sama menyalanya dari manik kedua pria tampan itu. Dan di saat seperti ini, Radha bingung harus berbicara apa.
"Dia kekasihku, lalu kena ...."
"Kak."
Ucapan Haidar terhenti kala Radha kini angkat bicara, pria itu terdiam seketika dan tak mampu untuk terus berbicara sesuai kehendaknya.
"Maaf, tapi bisakah kau berhenti menganggapku kekasihmu?"
"Ra, apa maksudmu?"
"Kita tak lagi sama, Kak, maaf aku harus menyakitimu untuk kesekian kalinya."
Bak tersambar petir, sesakit itu ucapan Radha yang ia terima. Di hadapan Gian yang kini memandangnya dengan wajah datar khasnya.
__ADS_1
"Ra, kau ...."
............ Bersambung❣️