
Sepanjang perjalanan pulang, Radha hanya bungkam. Menatap nanar ke luar, pemandangan kota di sore hari memang seindah ini, tapi tidak dengan kacaunya jiwa Radha sekarang.
Bahkan kini, kala keduanya sudah berada di dalam kamar, Radha tak memiliki keinginan untuk membersihkan diri seperti biasa. Memilih menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dan memeluk guling kesayangannya adalah pilihan terbaik.
“Ra? Kenapa … kepikiran yang tadi ya?”
Suara itu teramat halus, Gian sadar istrinya tak sebaik sebelumnya. Pertemuan tak terduga yang berakhir dengan tangis keduanya masih tergambar jelas dalam benak Gian. Bagaimana Maya, sang mertua yang hanya berani bercanda pada Gian meski matanya terus menatap Radha.
“Enggak, Kak.” Hanya itu jawaban Radha yang keluar dari bibir polosnya.
Makan bersama untuk pertama kalinya ketika usianya menginjak dewasa, bahkan status itu sudah berbeda. Gian sebagai pihak yang berada di tengah-tengah dan memiliki peran untuk kembali mempersatukan keduanya meski Gian tahu luka di hati Radha takkan semudah itu untuk sembuh.
Tak tersentuh, jika biasanya Radha mampu menghabiskan makanan dengan cepat meski ia tak begitu lapar, lain halnya dengan makan bersama Maya beberapa saat yang lalu. Sesekali Maya bertanya, tapi nampaknya tak begitu Radha perdulikan.
Sebesar itukah patah hati Radha pada wanita yang menjadi surganya? Atau justru itu adalah bentuk bencinya hingga menatapnya saja Radha enggan. Belum ada kata maaf, namun dapat Gian tangkap seberapa besar rasa bersalah Maya pada Radha.
“Ra … Mama itu mama kamu loh, jangan seperti tadi lagi ya lain kali,” tutur Gian hati-hati.
Ia tahu memang sebesar itu kesalahan Maya pada istrinya, akan tetapi penolakan Radha yang menghempas kasar pelukan Maya tetap tak Gian benarkan. Karena bagaimanapun tetes air mata seorang ibu adalah dosa bagi anak yang telah ia lahirkan.
“Kakak tau apa soal wanita itu, bukankah dia bilang aku hanya kesalahan dalam hidupnya?”
Masih jelas teringat, bahkan sampai matipun Radha takkan lupa perkataan Maya hari itu tentangnya. Di depan suami dan mertuanya, Maya sebesar itu mengatakan bahwa Radha hanya seonggok kesalahan dalam hidup yang sama sekali tak ia inginkan.
“Sayang, sakit hati boleh … begitupun dengan marah kamu juga sangat berhak, tapi jangan membencinya sedalam ini, Ra,” ujar Gian sembari mengelus puncak kepala Radha, duduk manis di sisi sang istri dan berusaha memberikan kekuatan untuknya.
“Kalau aku berhak marah, kenapa sekarang Kakak permasalahkan aku begini?”
Gian menghela napas panjang, memang ucapannya jelas mengatakan bahwa Radha berhak marah. Akan tetapi marahnya Radha benar-benar di luar dugaan Gian, dan cara marah istrinya bahkan lebih menyakitkan daripada ucapan.
Diam, dan menganggap seakan tidak ada orang itu adalah cara Radha marah. Benar-benar bertindak seakan yang ada di hadapannya hanya Gian, dan itu terjadi selama Maya bersma mereka.
“Maaf, tidak seharusnya Kakak membahas ini sekarang.”
__ADS_1
Kristal bening yang kini tumpah dari pelupuk mata sang istri membuat Gian tersadar jika memang dirinya hanya membuat luka itu semakin nyata. Secepat itu Gian menghapusnya agar tak semakin tumpah, menarik istrinya dalam pelukan dan tentu saja kalimat maaf tak henti-hentinya ia ucap.
“Jangan nangis, nanti sembab … orang-orang akan berpikir kalau Kakak KDRT nanti,” ujar Gian yang mampu membuat senyum itu terukir di wajahnya.
“Ya bagus dong, biar Kakak masuk penjara sekalian.”
“Memang rela Kakak di penjara? Kamu tidurnya sendirian nanti gimana coba?” tanya Gian dengan tawa sumbangnya.
“Boneka aku banyak, nggak bakal sendirian.”
“Tapi boneka gak akan bisa buat kamu mendessah, Ra.” Jawaban gila yang keluar begitu lancar dari bibirnya.
“Ih!! Ngaco!”
Dendam kini justru terlimpah pada Gian, cubitan di perutnya cukup menyiksa. Tak ada niat untuk membalas istrinya, sama sekali tak ada. Secepat itu Gian membuat wajah istrinya merah bak kepiting rebus, sungguh pria ini mendewasakannya secara paksa, pikir Radha.
Tak suka pelajaran biologi terutama materi reproduksi karena ia geli, dan kini dunia bahkan membuatnya terpaksa paham tanpa teori. Ia harus berterima kasih atau justru mengumpat pada Raka dan juga Ardi yang telah menjebaknya dalam situasi ini.
“Mandi sana, bau banget.” Merasa sudah semakin malu Gian tatap dengan wajah yang terasa panas, Radha melampiaskannya dengan menepuk dada Gian cukup kuat.
Perdebatan yang berakhir dengan mandi bersama meski harus ada adegan paksa memaksa yang tentu saja Gian tengah mencari kesempatan.
Hingga berakhir dengan jawaban iya setelah sepakat bahwa mereka harus mandi dengan posisi saling membelakangi, otak licik Gian mengiyakan dan otak polos Radha percaya bahwa suaminya takkan macam-macam di dalam sana.
-
.
.
“Ck, kenapa selama ini? Mama selalu saja heboh sendiri.”
Menyesal ia memberitahukan kemana tujuannya malam ini pada Jelita, tentu saja Jelita akan ikut andil agar menantunya itu terlihat makin cantik bahkan kalau bisa mengalahkan kecantikan sang empunya hajatan, begitulah kira-kira keinginan Jelita.
__ADS_1
“Nunggu apa kamu, Gi?”
“Nunggu tukang jamu, Pa,” jawab Gian asal yang membuat Raka mendaratkan telapak tangannya di pundak Gian, pria itu benar-benar persis Jelita dalam beberapa keadaan,
“Papa nanya jawab yang bener apa salahnya, Gian?”
“Ya Papa ngapain nanya lagi, tujuan kita sama juga,” ujar Gian memutar bola matanya malas, pria di sampingnya ini tak sadar atau bagaimana, padahal dirinya juga tengah menunggu Jelita yang tadi sempat pamit untuk membantu Radha siap-siap.
“Oh iya … hahah Papa lupa,” ucap Raka memijit pangkal hidungnya, tampaknya mulai pikun karena faktor U, pikir Raka.
“Erick, pria tua itu akhirnya akan menikah juga.”
“Dewasa, Papa … dia tidak setua itu,” tutur Gian sedikit tak terima karena Raka memang kerap menyebut sahabatnya itu dengan kalimat TUA.
“Ya memang dia tua, kau tau kan umurnya tak jauh berbeda dari Randy, Papa heran kenapa bisa kau berteman dengan pria yang umurnya cukup jauh di atasmu.”
Entah tak suka atau apa, hanya saja memang Raka kerap menyelidiki siapa saja yang berhubungan dengan putranya.
“Papa berlebihan, umurnya baru 35 tua dari mana,” celetuk Gian bak menabuh genderang perang.
“Kenapa kau jadi bela dia? Kamu anak Papa apa bukan sebenarnya, Gian?”
Keributan macam ini memang kerap terjadi, sekaku-kakunya seorang Raka ia terkadang terbuai dalam candaan anaknya. Terkontaminasi dengan adanya Jelita dalam hidupnya juga merupakaan salah satu faktornya. Hingga cekcok itu terhenti kala wanita pujaan kedua pria berbeda usia ini turun dan meniti anak tangga bersamaan.
“Masya Allah, dia secantik itu.”
“Kamu belum berterima kasih sama Papa, kalau tanpa Papa belum tentu Radha mau sama kamu.” Ucapan tanpa beban yang sempat membuat Gian emosi jiwa.
“Terima kasih paling besar adalah untuk Haidar, Pa … coba kalau dulu dia tidak kabur, hm bisa-bisa aku culik istrinya.”
“Dasar kurang ajar,” ujar Raka menggeleng, tak habis pikir kenapa dia punya putra seperti Gian.
Kembali lagi, kalimat itu hanya candaan Gian untuk mengimbangi ucapan sang papa. Ia sadar betul bahwa apa yang terjadi dalam hidupnya adalah skenario Tuhan yang memang telah ditetapkan untuknya.
__ADS_1
Ohayu!! Senin, yuk bantu Gian naik kelas minggu ini wkwk. Vote jika bisa ya, thengkyuu🤗💞