Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Begitu Berarti (Dia)


__ADS_3

"Semoga beruang madu itu belum selesai," ucap Radha memelankan langkahnya.


Ia mendorong pintu kamar begitu pelan, berharap Gian takkan sadar akan kehadirannya. Nasi sepiring penuh dengan lauk pauk yang menggunung itu dia bawa dengan hati-hati, takut hartanya itu akan tumpah nantinya.


"Oh, lama juga dia mandi, apa mungkin karena bulunya banyak ya? Eh perasaan gak juga sii," ujarnya ngelantur kala mendengar gemericik air masih begitu derasnya, memang terkadang pria itu menghabiskan waktu cukup lama di kamar mandi.


Radha menggigit bibirnya, menutup kembali pintu itu begitu pelannya dan melangkah menuju sofa di sudut kamar. Tempat Gian biasa membaca majalah dan juga mengecek pekerjaan kini ia alih fungsikan menjadi restoran sementara.


"Aah, pasti endoul ni makanan, ays gara-gara berantem ama si Nyai gue laper lagi kan."


Ia mulai menikmati makanannya, setelah sesaat menyempatkan diri untuk berdoa meski dalam hati. Radha dengan nafsu yang bahkan lebih besar dari tubuhnya menggebu-gebu ingin segera menghabiskan makannya.


"Kan apa gue bilang, eeuum ini lebih enak dari masakan Mama tiri," ujarnya lagi sembari menggoyangkan bahunya lantaran terlalu enak dan begitu pas dengan lidahnya.


Gemericik air tak ia dengar lagi, dan Radha masih tak menyadari hal itu. Kehadiran Gian yang hanya mengenakan handuk di pinggul hingga lututnya itu tak ia sadari.


Wajah Gian tak dapat di kondisikan, langkahnya bahkan terhenti kala menangkap pemandangan yang ada di depannya. Porsi makan yang kini Radha hadapi bahkan melebihi porsinya, jelas saja ia heran dengan makhluk kecil itu.


"Zura?"


Gian menatapnya penuh tanya, wanita itu mengangkat wajahnya dan menatap balik Gian dengan mulut penuhnya. Makan malamnya memang terasa kurang, di tambah kesempurnaan rasa dari makanan itu begitu cocok di lidahnya.


"Hm? Kenapa, Kak?"


"Kau akan makan itu sendiri?"


Radha mengangguk, Gian yang terheran masih berdiri sembari menunjuk makan malam Radha yang menggunung. Rambutnya bahkan masih acak-acakan, dan kini Gian memilih duduk tak jauh dari Radha.


"Sendirian?"


Masih belum percaya, karena porsinya memang tak begitu wajar. Apa mungkin ia kurang kenyang, karena yang Gian ingat, Radha menghabiskan makan malamnya.


"Ha'ah, Kakak mau juga?"


"Hm, tidak, terima kasih ... kau habiskan saja sendiri."


Gian menggeleng cepat ketika Radha hendak mengangkat sendok di hadapannya. Bahkan satu butir nasi saja rasanya sudah tak sanggup masuk dalam perutnya. Bisa-bisanya Radha bernafsu makan sebanyak itu.


"Kenapa kau makan di kamar, Sayang?"


"Ehm, di ruang makan gelap, aku takut eeenggh dan juga aku memikirkan Kakak," ujar Radha berdalih mencari jawaban paling tepat. Kali ini ia sengaja tak jujur, karena tak mungkin memberikan jawaban yang sebenarnya.


"Oh, begitu?"

__ADS_1


"He-em, Kakak yakin tidak mau? Coba dulu, ini masakan paling enak setelah masakan, Papa ...." Dengan mulut penuhnya, ia begitu semangat menceritakan apa yang ia rasa.


"Aarrrghh, jangan makan sambil bicara, Zura."


Radha memutar bola matanya malas, bukankah sejak tadi Gian lah yang banyak bertanya, pikirnya. Namun karena makanan ini terlanjur enak, Radha tak akan banyak bicara lagi.


Radha makan dengan nyaman tanpa gangguan, karena Gian memilih menunggunya sembari berbaring di tempat tidur. Pria itu menatap langit, sesekali matanya menatap lekat sang Istri yang menikmati makanannya begitu lahap.


"Kenapa dia selucu itu, Tuhan."


Gian menarik sudut bibir kala Radha justru terkejut karena sendawanya sendiri. Dasar bodoh, tingkahnya melebihi balita, pikir Gian menggeleng pelan.


Hendak mengembalikan piring kotor ke dapur, namun Gian melarang Radha untuk keluar kamar. Ia hanya memerintahkan istrinya untuk segera menggosok gigi dan mencuci kakinya.


"Nanti ada semutnya, Kak," ucap Radha ragu menatap piring kotor di hadapannya. Namun, gelengan Gian membuat wanita itu harus menurut.


"Ck, nanti biar Mba yang bersihin, Sayang."


Yaya, memang begitulah pada akhirnya. Gian menyimpulkan segalanya dengan prinsip demikian. Senyum manis dan tatapan dambanya begitu menanti kehadiran istrinya.


*******


Tak sabar menanti sang Istri, Gian berbinar begitu Radha naik ke tempat tidur. Wajahnya terlihat segar, dan senyumnya membuat luluh Gian yang memang sejak tadi menantinya.


Radha terperanjat kaget manakala Gian menarik pergelangan tangannya. Ia telah bergerak normal namun Gian tak begitu sabar, dalam hitungan detik wanita itu telah berada dalam pelukannya.


"Ehm, bau ikan," ujar Gian usai mencuri kecupan bibir istrinya.


"Ish, aku sudah gosok gigi, Kak."


Radha tak terima, spontan ia memukul dada suaminya cukup kuat. Bahkan ia menggosok gigi tak hanya sekali, kenapa Gian masih mengatakan dirinya bau amis, pikirnya.


"Hahaha, bercanda, kau ganas juga kalau marah."


Gian tertawa sumbang, meski memang pukulan sang Istri cukup kuat bahkan membuatnya meringis sesaat. Wajah cemberut Radha terlampau gemas, hingga pria itu membuat Radha berteriak tiba-tiba.


"Aaarrrrgggghhhh!! Kakak, jariku!! Haaaa ... Lepaskan."


Entah karena terlampau gemas atau memang Gian yang kurang waras, ia menggigit jemari Radha. Perlahan kuat dan semakin kuat yang membuat istrinya benar-benar merasakan sakit.


"Ya Tuhan, Ra, sakit ya?"


Gian tersadar dan melepaskan jemari sang istri, memeriksa apakah jarinya terluka atau tidak. Sungguh ia tak sadar jika akan sekuat itu, bentuk gigi runcingnya tergambar sempurna di jemari Radha.

__ADS_1


"Masih saja tanya, coba Kakak aku gigit ...."


Hendak membalas, Radha menarik paksa telapak tangan suaminya. Namun karena Gian takut istrinya akan membuat jemarinya putus, ia berusaha bertahan hingga terjadilah gulat kecil lantaran Radha kesal bukan main.


"Kembali, cepat, Kak!! Berikan jarimu sebentar saja ...."


"Jangan banyak mengeluh, kejar saja jika kau mampu."


Seketika tempat tidurnya berubah, seakan tak layak di sebut tempat untuk beristirahat. Radha masih berusaha mengejar Gian, berlari mengelilingi tempat tidur dengan guling sebagai senjatanya.


"Huft, aku lelah, Kak."


Radha menyerah, tubuhnya terasa gerah dan keringat tubuhnya mulai basah oleh keringat. Mengejar Gian ternyata tak semudah itu, dan Gian dengan sengaja mempermainkan istrinya hingga wanita itu tampak lelah.


Nyatanya Gian lah yang membuat istrinya menunda tidur, setelah sebelumnya ia memerintahkan Radha untuk tidur cepat dengan alasan besok akan sekolah, kini ia justru membuat istrinya lelah.


Malam yang semakin larut, namun kantuk belum juga menghampiri. Gian memunguti bantal dan semua boneka yang entah Radha dapat darimana. Yang jelas, ranjang king size itu terasa penuh dengan kehadiran boneka berbagai bentuk itu.


"Ra, kamu ngantuk?"


"Hm? Belum, tapi aku panas, Kak."


"Sini buka bajunya," ucap Gian dengan usilnya hendak membuka kancing bajunya.


"Hih, Kakak mau apa?" Radha menepis tangan usil Gian yang kini telah berada di atas tubuhnya.


"Katamu panas, Kakak hanya berniat membantu."


Senyumnya terukir tipis, menyeka keringat di kening Radha begitu lembut usai Radha menepis tangannya. Ia hanya bercanda, Radha menatap manik indahnya. Sedikit mendongak karena Gian mengambil posisi tidur yang sedikit berbeda dari istrinya.


Selama beberapa malam terakhir, Radha lebih nyaman tidur di lengan sang suami daripada bantalnya. Tangan kecilnya mulai berani melingkar di tubuh Gian, semakin mendekat dan menempelkan wajahnya di dada bidang Gian.


"Kenapa kau selalu tidur seperti ini?"


"Kakak wangi," jawabnya jujur, memang itu yang menjadi alasan Radha. Tidur dengan posisi menyamping dan memeluk tubuh Gian seakan membuatnya lebih nyaman.


"Tapi Kakak tidak bisa melihat wajahmu," keluh Gian yang merasa tak puas karena Radha selalu menyembunyikan wajah cantiknya.


"Ays, sejak kapan tidur itu membuka mata."


"Awww, tanganmu berani sekali, astaga." Cubitan itu terasa panas, sangat kecil dan membuat perutnya terasa sakit.


Tak ada jawaban dari sang Istri, pura-pura tidur atau memang ia mengantuk. Gian hanya tersenyum penuh makna menatap langit-langit kamar, mengelus rambut indah Radha penuh kelembutan hingga nanti ia tertidur dengan sendirinya.

__ADS_1


......... Bersambung❣️


__ADS_2