Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 151. Dia Istriku


__ADS_3

Perjalanan yang mereka tempuh tak begitu lama, yang lebih lama justru persiapan mereka. Radha kini tampak senang dengan senyum mengembang sesekali mengikuti alunan lagu yang mereka dengarkan.


"Dan izinkan aku, memeluk dirimu sekali ini sajhaaaaaaaaah!!!"


Mulutnya berkicau, tak lupa tangannya yang sedari tadi bergerak seakan tengah menguasai panggung. Sebuah lagu dengan makna sedalam itu, Radha buat sebercanda itu.


Gian yang melihat bagaimana Radha hanya menggeleng pelan, untung saja di dalam mobil ini hanya mereka berdua. Ekspresi Radha yang kini menjadikan Gian sebagai model dalam lagu itu membuat pria itu tak bisa berkata-kata.


"Tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya."


Suaranya memang bagus, dan nyata bagus. Gian mengakui itu, namun tangannya yang tak henti bergerak membuatnya sedikit terganggu.


"Ck, Zura."


"Iyaaa, kenapa?"


Ia berhenti sejenak, mulutnya bungkam beberapa detik dan mengecilkan volume musik yang menggelegar itu.


"Tanganmu menjengkelkan," tutur Gian dan membuat Radha mencebik, padahal itu adalah gestur tulus yang ia berikan pada objek dalam seninya.


"Ah nggak asik, masa nyanyi diem aja ... Kakak belajar nggak sih, itu namanya bahasa tubuh."


Menyepelekan Gian, padahal memang tangannya yang mengganggu. Sebagai suami yang tidak emosian, Gian hanya menarik sudut bibir. Biarkan istrinya berkata apa, ia hanya mengiyakan saja.


"Kak, masih lama?"


Gian menggeleng, memang tidak begitu jauh lagi. Hanya beberapa rumah yang belum mereka lewati untuk tiba ke rumah Randy, Radha yang sejak tadi dibuat kagum hanya melongo menatap bagaimana mewahnya rumah-rumah di tempat ini.


Padahal, hidup Radha termasuk kaum menengah ke atas. Dan bahkan kehidupan Ardi tergolong keluarga kaya dan berpengaruh, namun tak membuat wanita itu merasa segalanya. Akan ada kekaguman setiap dia melihat hal baru dalam hidupnya.


"Woah, rumahnya unyu."


Gian menoleh sekilas, memperhatikan rumah yang Radha lihat. Baru saja beberapa detik ia sadar, Gian kini susah payah menahan tawanya.


"Kenapa?" Radha heran tentu saja, ia tak merasa tengah mengatakan hal lucu tapi Gian justru tertawa.


"Itu kandang kelinci, Zura."

__ADS_1


"Masa iya?"


"Ck, kalau kau tak percaya buka sana."


Radha memilih untuk percaya apa yang Gian ucapkan, jika memang iya itu kandang kelinci ya wajar saja bentuknya sekecil itu, tapi kenapa harus di depan rumah, pikir Radha.


Tak berhenti di sana kekaguman Radha, kala memasuki pintu gerbang rumah Randy ia justru dibuat terpukau dengan suasana rumah Randy yang begitu asri, layaknya sebuah taman dengan pepohonan dan bunga yang menyehatkan mata, Radha bahkan betah kala menginjakkan kakinya untuk pertama kali.


"Woah, Om Randy suka tanaman ternyata."


Maniknya menatap kagum tumbuhan hijau yang berada di sana, sungguh tak ia duga Randy yang merupakan aktor super sibuk itu memiliki rumah secantik ini.


"Suka semua dia, Janda aja dia suka."


Radha berdecak mendengar jawaban asal yang keluar dari bibir Gian. Pria itu hanya tertawa sumbang dan menarik pergelangan tangan Radha agar langkah istrinya itu lebih cepat.


"Ish!! Kenapa harus berkali-kali, Kakak tidak sopan."


Bahkan di depan pintu saja mereka masih bertingkah sebagai tamu yang memang tidak diharapkan. Gian menekan bel berkali-kali padahal penjaga rumah sudah mengatakan bahwa Randy ada dan Gian dapat membuka pintu itu tanpa harus menunggu seseorang dari dalam.


"Sesekali, Kakak sudah lama tidak kemari."


"Karena Om Randy selalu di luar negeri, ngapain Kakak kemari, masa cuma nyamperi Ucok sama Siti."


Jawaban tambahan dari Gian membuat Radha menghela napas kasar, ya wajar saja, untuk apa Gian berkunjung jika memang Randy tidak berada di tempat ini. Memang dasar pria kurang kerjaan, batin Radha.


Ceklek


Pintu terbuka, tatapan mereka sontak tertuju pada pria tampan yang kini tengah menguap dan megacak rambutnya. Randy baru saja bangun tidur, dan Radha yang melihat om nya itu sejenak kagum dan mulutnya tak bisa berbohong.


Randy memang benar-benar tampan, penampakan Jelita versi laki-laki ini membuat Radha sejenak terdiam. Memang tak salah pria itu dijuluki duda tertampan seperti yang kerap diberitakan.


"Kalian berdua ternyata, kupikir orang penting mana," canda Randy yang membuat Gian mencebikkan bibirnya, pria itu masih saja sama, di saat ngantuk luar biasa pun ia masih mampu bercanda dengan begitu santainya.


"Om ini bagaimana, jelas aku penting ... Direktur mana yang rela meluangkan waktunya untuk menemui Om selain aku," ucapnya tak lupa menyombongkan sejenak status yang Raka berikan padanya beberapa tahun lalu.


"Hahaha bisa saja kau, iya juga ... hanya kau sepertinya yang mau, sisanya cuma produser, sutradara dan ya beberapa aktor muda yang berbakat di bidangnya saja mendatangi rumahku," jawab Randy begitu santainya.

__ADS_1


Radha membeliak, jawaban apa itu? Cuma? Produser cuma?!! Ini jawaban benar-benar begitu adanya atau memang Randy yang tengah menyombongkan diri, pikir Radha.


"Om bisa saja, aku jadi tersanjung."


Tersanjung apanya, dirinya dan Randy tengah menyombongkan diri masing-masing. Dan Radha yang berada di antara mereka hanya diam sembari menghayal rumahnya di datangi aktor idolanya suatu saat.


"Ayo masuk, Ra ... aku sangat tersentuh dengan kedatangan peri cantik ini, ayo masuk."


Hanya Radha, dan Gian menatap kesal pamannya yang kini menarik pergelangan tangan istrinya. Ia seakan tak dianggap di tempat ini, benar-benar paman idaman memang.


Meski begitu, Gian tetap melangkah dan memasuki rumah itu. Cukup lama ia tak kemari, suasana di dalamnya masih sama, dan tujuan Gian kemari untuk bertemu Caterine tentu saja.


"Kalian tunggu di sini, Om panggil Caterine dulu, Radha ... anggap rumah sendiri ya,"


Caterine, mendengar nama itu Radha berpikir keras. Bukankah nama itu yang mertua dan suaminya bahas ketika sarapan, ia sontak terdiam. Meratapi sebenarnya ia salah bertindak atau apa.


"Caterine siapa?"


"Putri om Randy," jawab Gian santai, ia sejenak merapikan rambut sang istri yang menurut Gian tak rapi.


"Yang tadi Mama bilang?" tanya Radha kemudian, ia tak mampu menahan rasa penasarannya, pasalnya nama itu yang membuatnya uring-uringan dan meminta untuk selalu bersama Gian hari ini.


Langkah mereka terdengar jelas, semakin mendekat dan Radha mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Wajah cantik itu, rambut lurus tergerai dan tubuh tinggi, persis seperti yang Jelita sampaikan tadi pagi.


"Omaygat!! Dia cantik banget," batin Radha tak mampu menolak ketika wanita itu semakin dekat dengannya.


"Caterine?"


Gian menatap wajah Caterine cukup lama, ia perlu mengenali sepupunya yang beberapa tahun tak pernah bertemu ini. Begitu pula dengan Caterine, menyadari kakak sepupunya tumbuh menjadi pria setampan ini ia terpukau.


"Sayang, ini Gian ... dan ini ...."


"Istriku," sahut Gian meneruskan ucapan Randy, sontak manik Caterine tertuju pada Radha yang kini tengah ia kenali, wajahnya sangat asing dan sejenak Caterine dibuat bingung.


"Istri? Kak Gian menikah sejak kapan? Benar istrimu?"


"Iya, Zura kenalkan dirimu," tutur Gian dan mendapat respon sekaku itu oleh Caterine, ia terkejut dan benar-benar kaget dengan berita ini, karena memang Jelita tak mambahas bagaimana perkembangan anak-anaknya. Ia menunggu Gian sejak tadi pagi, namun benar-benar tak ia duga jika sepupunya itu telah menikah.

__ADS_1


"Zura, hai ... Caterine," sapanya membalas uluran tangan Radha, bukan tak suka, hanya saja Caterine terkejut melihat Radha yang menurutnya lebih pantas ia sebut adik, meski sesaat ia sadar bahwa wanita mungil ini adalah nama yang Jelita banggakan tadi malam.


Maaf telat yađź’¦


__ADS_2