
Suasana hatinya kacau, tak sebaik sebelumnya. Reyhans memulainya, dan kini selama pertemuan itu digelar, Gian hanya mengangguk dan mengiyakan apa yang menjadi kesepakatan. Sembari memperkenalkan diri dengan aktor yang dipercayai Raka kali ini.
Wajah lebam, Gian hanya kesal menatap bagaimana keadaan wajah pria di depannya. Dan tentu saja semua harus diundur lagi karena lebam di wajah Harry cukup parah dan takkan pudar hanya dengan make-up saja.
“Terserah kalian saja, Papa juga tidak meminta untuk buru-buru selesai.”
Bukan karena ia memaklumi, akan tetapi lebih kepada tak mau banyak masalah lagi. Yang ia pikirkan bukan hanya ini saja, tapi juga pekerjaan lain yang sama pentingnya. Meski sempat perang, namun perihal pekerjaan Gian masih mampu percaya pada Reyhans, karena memang Reyhans menandatangani surat perjanjian itu di atas materai.
“Maaf, Pak … ini kesalahan kami, tapi percayalah kesabaran anda tidak akan sia-sia,” tutur pria berkumis tebal yang sejak kemarin membuat Gian kesal saja.
“Iya … kita akan lihat nanti hasilnya.”
Senyum Gian masih sempat ia lemparkan pada Harry yang sesekali menatapnya, mungkin mencoba mengenal secara intens, pikir Gian tak terlalu merasa terganggu. Dan baginya, kerja sama kali ini bukan semata-mata di tangannya, melainkan Reyhans bertanggung jawab juga.
“Maaf, saya tidak bermaksud membuat kesan pertama kita tidak baik,” ucap Harry secara pribasi karena jujur saja ia merasa tengah merusak citranya sendiri, keadaan wajahnya yang kini tak setampan biasanya membuat Harry kesal bukan main.
“Tidak masalah, sembuhkan dulu lukamu,” ujar Gian sopan layaknya Harry yang juga sopan berucap padanya, seakan tiada kemarahan di sana. Padahal Reyhans tahu saat ini mungkin Gian tengah mengutuk Harry dengan seribu bahasa.
Tiada ucapan terima kasih, pria itu tampak tak fokus dan pikirannya berbeda dari tempat ini. Gian yang sejak awal tak suka, makin tak suka. Rasanya dana ratusan juta hanya untuk iklan sebuah produk akan sia-sia.
-
.
.
"Dia pemakai?"
"Ha?" Reyhans heran tentu saja, pasalnya pertanyaan itu ceplas ceplos Gian berikan ketika hendak kembali ke ruangannya.
"Anak itu, sepertinya tidak waras ... selidiki, Rey ... aku tidak suka bekerja sama dengan pencandu narkoba."
"Bukankah itu bukan tanggung jawab kita?" tanya Reyhans merasa Gian terlalu ikut campur.
"Ck, lakukan saja tanpa banyak tanya, Reyhans. Kau tidak lihat bagaimana caranya bicara? Persis orang ayan."
Ingin rasanya Reyhans berteriak, dari mana Gian mendiagnosa sembarangan orang yang baru pertama kali ia temui. Sebesar itu curiganya Gian hingga masalah hidup aktor itu ia pikirkan.
Pria itu berlalu, masuk ke dalam ruangan kebesarannya. Dan tentu tugas yang Gian berikan adalah tanggung jawab Reyhans detik ini juga. Secepar kilat ia harus mendapatkan semua informasi terkait Harry, apapun itu.
__ADS_1
"Baiklah, kembali profesional, Reyhans."
Saat ini, keduanya tengah berusaha untuk tetap menjalin hubungan baik antara atasan dan bawahan. Tanpa memasukan urusan pribadi di dalamnya, meski urusan pribadi itu memang tak kelar-kelar juga perkara Gian yang batu dan tak mau menerima penjelasan dari kedua belah pihak.
"Kau harusnya percaya aku, Gi! Bukan wanita itu." Rasanya masih belum ikhlas, Reyhans menatap lekat pintu ruangan Gian yang kini tertutup rapat.
-
.
.
"Aku mencintainya, Gian ... kau terlalu sibuk, dan gaya kita pacaran terlalu monoton!! Aku juga butuh sentuhan, dan hanya Reyhans yang mengerti." Kalimat yang keluar dari bibir Adinda masih jelas Gian ingat.
BRAK!!
"Dasar brengshek!! Kenapa kau harus hadir lagi di hadapanku, Reyhans."
Nyatanya meski Gian telah melupakan perasaannya, dendam dan amarah yang bergejolak di jiwanya masih sama. Apa yang ia terima beberapa tahun lalu terlalu menyakitkan, sosok Adinda Maharani yang merupakan wanita pertama dalam hidup Gian menjadi luka pertama juga bagi pria itu.
Amarahnya kini berkecamuk dalam dada, sungguh amat sulit baginya disatukan kembali bersama Reyhans apapun alasannya. Ikut campurnya Raka dalam hidup Gian masih menjadi tanya pria itu.
Ia merogoh ponselnya, memilih salah satu nomor tujuan yang paling utama. Manik tajam itu menatap datar layar ponselnya, wajah Radha dengan mulut terbuka menggelitik hatinya.
"Hah?"
Gian terperanjat, kala ia sadar ponsel yang berdering justru berada di di atas mejanya. Ia benar-benar lupa bahwa tengah menyita ponsel Radha akibat ulah Juan yang mencoba mengeluarkan rayuan maut pada istrinya.
"Ck, apa aku berlebihan ya?" tanya Gian pada diri sendiri sembari menggigit bibirnya, ponsel Radha itu sudah berhari-hari berada di tangannya, dan kebetulan Radha tidak rewel dengan apa yang Gian lakukan. Ya, meskipun Gian harus rela ponselnya menjadi hak milik Radha jika tengah bersama sang istri.
"Maaf, Ra ... Kakak begini hanya terlalu takut jika apa yang aku miliki hilang untuk kedua kalinya."
Marahnya Gian pada Reyhans, bukan terfokus pada masa lalu atau apapun itu. Hanya saja, bagaimana interaksi Reyhans pada Radha yang membuatnya diselimuti amarah dan dendam itu kembali begitu saja.
Drrtt Drrtt Drrrt
"Ck, siapa lagi?" Gian memang tak suka diganggu, tapi dia suka mengganggu.
"Mama?"
__ADS_1
Gian yang tadinya hanya marah dan marah, ciut seketika begitu melihat nama sang mama menghubunginya. Ada dua kemungkinan Jelita menelponnya, kalau tidak khawatir dan bertanya keberadaannya atau jangan-jangan justru mengancamnya untuk keluar dari keluarga Wijaya.
"Ma-mama?"
"Ck, kamu ini kemana? Sesulit itu terima telpon Mama, Gian!!"
Aawww, sudah Gian duga jika Jelita akan ngomel seperti ini. Sejak dahulu jika Gian ketahuan berbuat yang tak benar, Jelita tetap akan memperlakukannya bak anak kecil. Tak perduli meski usianya telah dewasa, dan Gian tak terlalu keberatan dengan cara Jelita mendidiknya.
"Di kantor, Ma ... aku lagi kerja," jawabnya dengan selembut mungkin, seakan tak mau menimbulkan kecurigaan sama sekali.
"Radha dimana? Kamu bawa dia pulang kemana sebenarnya menantu kesayangan Mama itu, Gian?"
"Dia istriku, bebas aku mau kemana," celetuknya seakan lupa dengan siapa dia bicara.
"Masalahnya kamu sama sekali tidak pamit, Gian, Mama khawatir kalian berdua dimana," jelas Jelita terdengar emosi di seberang sana.
"Apartemen, Ma ... maaf, aku tidak bermaksud buat Mama khawatir."
"Ya sudah, Mama ke sana. Hari ini Mama pinjem istrinya sebentar ya, Randy meminta Mama menemani Caterine. Akan lebih baik jika Mama membawa Radha juga."
Permintaan sang mama terasa sulit bagi Gian, seakan tak ikhlas jika Jelita harus membawa istrinya. Namun tak mungkin ia melarang, karena memang Jelita juga berhak untuk menghabiskan waktu bersama istrinya.
"Hm, tapi hubungi dulu telpon rumah, aku melarangnya buka pintu selain aku pulang soalnya."
"Astafirullah, Dirgantara Avgian ... kamu sama saja masukin Radha dalam penjara, tau?!!"
"Ya terserah, zaman sekarang banyak penculik istri orang, Ma. Aku hanya ingin istrinya aman, itu saja."
"Dasar sinting, terus saja begitu kau ... siapa yang mau menculik istrimu?"
"Ada, banyak!! Buktinya tadi malam aku menghajar calon penculiknya."
Jelita hanya tertawa sumbang, pantas hanya tadi malam suasana menjadi panas dan putranya menjadi pusat perhatian.
"Lain kali jangan begitu, Gian ... kamu tidak mengetahui bagaimana sakitnya hati orang, kamu membuatnya malu, Nak."
"Terserah, Mama kenapa jadi membela dia? Atau jangan-jangan Juan anak Mama ya?" Pertanyaan konyol yang membuat Jelita ingin menarik bibir anaknya, masih sama, Gian bahkan kerap cemburu dengan hal-hal semacam itu.
🌻
__ADS_1