
"Aaaakkkh."
Sendawa kecilnya justru membuat dirinya terkejut sendiri. Ulahnya yang memang jelas masih anak-anak membuat Gian menggeleng, sejak istrinya kembali masuk ke ruangannya dengan membawa makanan seadanya tak pernah lepas dari pandangan mata.
Bruk
Tubuh mungilnya menghempas cukup kuat, bukan lelah ia hanya mengantuk kali ini. Mulutnya memang tak lagi bosan, tapi tubuhnya mengatakan demikian. Dengan kaki yang sengaja ia angkat di sandaran sofa semakin membuat Gian menggelutukkan giginya tanpa sengaja.
"Zura,"
"Ehm? Sejak kapan Kakak di sini?" tanyanya tanpa dosa dengan mata yang mulai mengecil.
Ketakutannya pada Gian tak sebesar dahulu, mungkin karena Gian tak sedikitpun memperlakukan Radha dengan kasar. Malah cenderung seperti kakak yang menjaganya dengan setulus hati, meski harus terjadi adu mulut dan perang batin di antara keduanya.
"What?! Ini ruanganku gila, ck ... pertanyaanmu ada-ada saja."
Pria tampan itu tak habis pikir dengan pikiran tak waras Radha. Bahkan tubuhnya sebesar itu, bagaimana bisa ia tak meyadari kehadiran suaminya, pikir Gian.
"Hahaha iya juga," sahutnya pasrah dan tampak begitu lelah.
"Kau mau tidur dengan keadaan seperti itu?"
"Ho'oh, memangnya kenapa?"
"Kau baru saja makan, nanti buncit mau?"
Dalam sekejab, Radha memperbaiki posisinya. Gelagapan dan berhasil membuat Gian menarik sudut bibir. Wajah polos Radha belum pantas untuk menyandang gelar istri orang, masih terlalu dini menurutnya.
"Kakak menakutiku, Kan?"
"Tidak, itu faktanya, Zura."
"Masa iya sih?"
"Buktikan sendiri kalau kau tak percaya, ehm ... tapi tak apa, lambat laun kau akan buncit juga dengan sendirinya."
Tatapan tak terbaca dengan wajah usil itu tampak kembali jelas di sana, Radha menarik napas dalam-dalam, mencoba menebak maksud dan tujuan dari sang suami. Ia raba perut datarnya, sontak Radha mundur dan duduk di sudut sofa dengan posisi sesopan mungkin.
"Ck, kau kenapa? Hm?"
Gian tertawa sumbang, pria itu beranjak dan kini menghampiri istri kecilnya. Jelas sekali Radha terlihat paham namun tertutup rasa malu di sana.
"Istri kakak menggemaskan, berapa lama lagi kau lulus SMA?"
Bukannya berpikir menjawab, Radha justru berpikir keras cara untuk terlihat baik-baik saja dengan pertanyaan Gian. Jemarinya sudah dingin, dan kini ia benar-benar ingin buang air kecil.
"Zura?"
"Oh? 8 bulan lagi, Kak."
__ADS_1
Gian memejamkan mata dan menghempas tubuhnya, ia memijit pangkal hidung sembari menarik napas dalam. Delapan bulan lagi, bukan waktu yang singkat. Bagaimana bisa ia menahan diri dan menepati janji pada Ardi pasca ia melaksanakan akad tentang Radha.
"Huft,"
"Ke-kenapa, Kak?"
"Ehm? Tidak, hanya lelah saja."
Gian beranjak dengan senyum hangat begitu menenangkan, wajahnya terlihat damai dan Radha merasa nyaman dengan ketenangan itu. Namun, semua tak bertahan lama kala Gian kini berlutut di hadapannya dan menatap lekat manik indahnya.
"Segeralah dewasa, Kakak tidak sesabar itu menunggumu, Zura."
Permintaan, ancaman, atau sebuah permohonan yang sebenarnya tengah Gian sampaikan. Manik hazelnya jelas mengungkapkan bahwa itu adalah sebuah permohonan.
Anggukan kecil sembari mengigit bibir adalah jawaban paling pasrah yang mampu Radha berikan. Entah mengapa menatap manik Gian, seakan tertimbun kesenduan yang begitu dalam, namun Radha belum terlalu mengerti maknanya.
*****
"Aaarrrrgghh!! Kenapa harus sekarang?!!"
Bukan hal asing kala Gian emosi dan melampiaskannya ke setir kemudi. Radha yang menatapnya melalui ekor mata terkadang mengurut dada karena ulah Gian.
Pekara kecil, sebuah panggilan masuk dan Gian terlihat tak suka. Entah dari siapa, hanya saja Radha paham bahwa Gian tengah tak baik-baik saja.
"Zura? Bisa menyetir?"
"Hah?"
Karena emosi masih menguasai dirinya, Gian tak suka dengan respon Radha yang terlihat lelet. Pria itu tak bisa jika harus pulang terlebih dahulu, kabar duka dari sahabat karibnya membuat Gian kalang kabut.
"Maaf, Kak," sesal Radha begitu dalamnya.
"Bagaimana? Bisa?"
"Bisa, Kak."
Gian sedikit tenang, setidaknya dia bisa langsung pergi bersama Edward dan Radha pulang sendiri tanpa kekhawatiran.
"Bisa mati maksudnya," lanjut Radha meretakkan seluruh ketenangan Gian yang baru saja hinggap di benaknya.
"Zura!! Kakak tidak sedang bercanda, kau tahu?!!"
Ia membuang napas kasar, dalam keadaan terdesak dan begitu paniknya Radha masih sempat bercanda. Namun hendak marah tak mungkin juga, bagaimana ia tega pada gadis kecil itu.
"Kenapa dia se-emosi ini," tanya Radha dalam hati, sungguh ia tengah di cekam rasa takut.
Gian dapat berubah secepat itu, dan wajah yang tadi terlihat tenang bisa berubah semenakutkan itu.
"Baiklah, tak ada jalan lain."
__ADS_1
Gian memutar arah dan melaju dengan kecepatan tinggi, jika Radha lihat pria itu terlihat mengejar suatu hal. Entah apa dan tak mungkin ia bertanya untuk saat ini.
"Edward, kita pergi sendiri-sendiri saja ... hem, mungkin 1 jam aku akan tiba."
Begitulah kira-kira percakapannya dengan seseorang di seberang sana. Radha menjadi saksi seberapa fokusnya Gian melajukan mobilnya, jika jendela itu di buka, sudah pasti ia akan masuk angin, pikirnya.
"Radha, jika tiba disana jangan banyak bertanya dan jangan sedikitpun menjauh dari Kakak, mengerti!!"
"Ah? I-iya, Kak."
Jika sudah seperti ini, terlihat sekali watak Gian yang tak mau di bantah dalam segala hal. Dan memang tidak ada jalan lain selain menurut tanpa banyak tanya, pikir Radha.
Untung saja, ia sempat pipis beberapa saat sebelum meninggalkan kantor. Jika tidak, mungkin ia akan tersiksa bukan main, tak dapat Radha bayangkan dalam keadaan terdesak seperti ini dan hal itu terjadi.
Perjalanan memang begitu tenang, waktu sore dan jalan yang ia lewati tak terlalu ramai. Gian sebebas itu berkendara karena memang tengah mendesak,
Radha mulai merasa tak nyaman kala mobil memasuki area perumahan, pemandangan di depannya semakin membuatnya bertanya-tanya. Keramaian dengan pakaian serba hitam membuat hatinya terhenyak.
"Kak?"
"Turunlah," perintah Gian begitu lembutnya, wajah datar sang suami membuatnya semakin bertanya-tanya.
Radha hanya menurut, ia turun dan berjalan mengikuti pundak sang Suami. Ia tak nyaman berada di sini, tangisan sendu dan jeritan pilu adalah hal yang paling Radha benci.
Memasuki rumah bercat putih itu, Gian tetap menggenggam jemari Radha. Berjalan pelan dan mencari sosok yang saat ini ia khawatirkan.
Brugh
Tak dapat Radha pungkiri, kehadiran seseorang yang kini menghambur ke pelukan suaminya membuatnya terhenyak. Tangisan itu begitu menyayat di telinga Radha, ia hanya mampu terdiam menatap nanar siapa wanita itu.
"Gian ... aku tak punya siapa-siapa lagi, kan?"
Wajah layu bersimbah air mata itu menatap sendu Gian yang kini berusaha menenangkannya dengan tangan kirinya, ia masih berusaha menjaga hati Radha meski sahabatnya tengah kehilangan separuh jiwanya.
"Laura, kau masih punya aku, tenanglah."
Pelukan wanita itu semakin erat, terpaksa saat ini Gian membalasnya. Pegangan tangan sang istri untuk sesaat ia lepaskan, sejahat apapun Laura adalah wanita yang juga berjasa dalam hidupnya, teman dan sekaligus bisa di anggap keluarga yang tak mungkin Gian lepaskan.
"Aaaaarrrrrgggghhhh ...."
Tidak ada cara lain, Gian hanya mampu menenangkan Laura dengan usapan halus di pundak wanita itu. Ia dapat merasakan bagaimana kesedihan sahabatnya saat ini, dan begitulah kelemahan Gian, ia tak dapat fokus dengan dua hal dalam hidupnya.
Melepas genggaman Radha bisa saja menjadi bencana, namun untuk kali ini, gadis kecil itu mencoba untuk dewasa. Ia tak dapat mementingkan egonya kali ini, jika di posisi Laura ia juga tentu akan merasakan hal yang sama.
"Aww ya Tuhan," keluhnya kala beberapa orang menerobos dan membuat tubuhnya sedikit kesulitan, Radha masih berusaha memegang lengan Gian meski Gian tak menggenggam jemarinya, terjebak di tengah sesaknya lautan manusia yang tengah berduka membuat kepalanya terasa sakit.
"Gapapa, Ra, bentar doang kok," ujar Radha menarik sudut bibirnya setulus mungkin sembari menahan air mata yang mulai berusaha menerobos bentengnya.
Pemandangan yang begitu dekat dengan netranya kali ini cukup menyesakkan, Gian dan Laura terpaut begitu eratnya. Dan Radha terpaksa menelan pil pahit yang merupakan proses pendewasaannya.
__ADS_1
Tbc
Besok Insya Allah Up juga❣️🤗