
"Minum dulu, emosi banget sepertinya," tutur Radha menenangkan Helena sesaat, sungguh melihat bagaimana temannya kini, ia merasa sedih.
"Gue harus gimana coba, mana duitnya gak dikit, malu banget sumpah, Mama tiri gue nari-nari liat gue dimarahin tau gak."
Radha hanya bisa mencoba untuk membuat Helena tenang. Walau sama sekali tak berpengaruh, sepertinya Helena melebihi frustrasinya korban investasi bodong.
"Selain materi, lu dirugikan apa sama dia?" tanya Radha singkat dan membuat Helena terdiam sejenak.
"Waktu, perasaan ... itu aja kali."
"Dia nggak ngapa-ngapain lu kan?" selidik Radha dengan teliti, berharap jika temannya ini tak merasakan kerugian yang menyangkut harga diri.
"Nggak sih, ketemu aja kadang-kadang ... alasannya jaga toko, basi banget kan."
"Syukurlah kalau nggak, setidaknya lu masih beruntung," ucap Radha usai menyesap minumannya, berperang dengan hari ini cukup membuat tenggorokannya kering.
"Beruntung apanya, Ra ... rugi gue yang ada," keluh Helena menghela napas panjang, kalau dihitung-hitung uang itu cukup untuknya perawatan berbulan-bulan.
"Iya tapi setidaknya dia nggak buat lu jadi murahaan, Ele." Radha menjelaskan dengan transparan apa maksud perkataannya.
"Iya juga sih, tapi tetap aja tu cowok pengen gue bakar."
-
.
.
.
Jauh dari keberadaan Radha, kini di kantor Gian menajamkan pendengarannya sembari menatap teliti layar ponselnya. Tak sia-sia dia meminta Aryo untuk membuntuti Radha, karena kini ia bahkan merasa tengah berada di antara mereka.
"Pak, mohon kesediaannya untuk tanda tangan di sini," pinta Reyhans sudah sangat sopan, pasalnya sudah sejak beberapa menit yang lalu, Gian mengiyakan tapi tidak melakukannya.
"Letakkan saja di sana, nanti aku tandatangani."
Ia berucap tanpa menatap Reyhans walau sejenak, sungguh menyebalkan pria berjas biru muda ini, pikir Reyhans.
__ADS_1
Dengan wajah kusutnya, Reyhans keluar ruangan dan menghampiri Evany. Wanita cantik yang kini memasang wajah masam lantaran terkena amukan Gian di pagi hari.
Hanya masalah sepele, ia tak sengaja menginjak kaki Gian dan membuat pria itu sangat marah bahkan mengancam dengan pemotongan gaji yang tidak pernah Evany bayangkan.
"Kenapa wajahmu?" tanya Reyhans seakan menambah kacaunya Evany, tak mengerti jika kini wanita itu kesal bukan main.
"Tidak perlu bertanya, kau mau gajiku dipotong habis bulan ini?"
"Hm, makanya jalan pakai mata, Eva ... sudah tau dia begitu," tutur Reyhans merasa tak tega namun lucu juga, karena siapapun yang berada di posisi itu jelas akan merasakan hal sama.
"Aku tidak tau hari ini akan terjadi, lagian aku jalan sudah benar, pak Gian saja sudah dewasa ikutan lari-lari."
"Sabar saja, di jam kerja tidak ada yang benar kecuali dia, ingat itu."
Memang fakta yang tak bisa dipungkiri, Gian tak pernah berada diposisi salah. Sekalipun yang menjadi lawannya adalah Raka, pasti saja ada cara dia mencari celah.
"Demi Tuhan aku lelah!!! Apa aku menikah saja ya?"
Ucapan asal yang berhasil membuat bola mata Reyhans membulat sempurna. Sejenak dia terdiam dan pandangan itu terkunci pada Evany.
"Kau kenapa?" tanya Evany kala menyadari Reyhans yang tiba-tiba membeku seakan kehilangan arah.
"Oh iya? Bukan karena hal lainnya?" selidik Evany yang terkadang memang terlalu percaya diri.
"Memangnya kau berpikir apa? Aku hanya terkejut ada pria yang menyukaimu." Perkataan santai yang sama halnya melukai harga diri Evany, sungguh mematahkan semangat, pikir wanita itu.
"Cih, kau sama saja seperti bosmu itu, pergi sana!! Menyebalkan sekali." Evany mencebikkan bibir, nyatanya Gian maupun Reyhans sama saja, hanya karena berbeda kekuasaan saja membuatnya sedikit berbeda dari Gian.
******
Menjelang siang, Gian pulang ke rumah hanya untuk makan bersama istrinya. Setelah memaksa Radha untuk mengakhiri pertemuan bersama Helena, Gian berlalu begitu saja.
Karyawan di kantornya sudah memahami bagaimana Gian, dan tak satupun diantara mereka yang mau untuk bertanya, karena sorot mata Gian membuat mereka takut lebih dulu.
Belajar dari pengalaman, Reyhans menemaninya walaupun hanya sekadar pulang. Karena takut jika ada kejadian yang lebih tak mereka ingini lagi.
"Kau kenapa?" tanya Gian menatap Reyhans yang sejak tadi curi-curi pandang terhadapnya.
__ADS_1
"Tidak ada, memangnya aku kenapa?" Reyhans merasa dirinya tak salah, dan juga sejak tadi Gian hanya fokus dengan benda pipinya, kenapa bisa dia sadar jika tengah diperhatikan.
"Sudah kuingatkan padamu, Reyhans ... jangan coba-coba menyukaiku, di dunia ini masih banyak wanita," tuturnya tanpa menatap Reyhans kini, tatapannya hanya fokus pada benda pipih itu, foto wanitanya lebih menarik dari segala pemandangan dunia.
"Dasar gila, siapa juga yang menyukaimu," ucap Reyhans kesal bukan main, ucapan yang dulu Reyhans kira hanya Candaan ternyata masih kerap Gian bahas.
"Kau!! Memangnya siapa lagi," celetuknya tanpa sama sekali merasa berdosa, hingga kini tiba di kediamannya, Gian berlalu turun usai meminta Reyhans untuk turut makan bersama.
Sayangnya, Reyhans tak semudah itu patuh, nafsu makannya sama sekali tidak ada. Ia memilih untuk bergabung bersama Aryo dan juga Budi, kedua pria yang berbeda usia darinya.
"Kok pulang?" tanya Jelita yang kini kembali merapikan bunga-bunga yang kemarin hanya puing-puing.
"Makan siang, kenapa Mama tanya gitu?" Seakan tak suka ditanya, Gian bertanya demikian.
"Memangnya salah kalau Mama tanya? Kan biasanya Radha yang anterin," jelas Jelita tak ingin putranya salah sangka, entah kenapa Gian kerap menyalahartikan ucapan orang akhir-akhir ini.
"Enggak sih, bunganya baru ya, Ma?" Benar-benar santai tanpa sedikitpun merasa bersalah atas perbuatannya, janjinya pun ia ingkari.
"Iya, kemarin ada monyet yang hancurin tanaman Mama, Gi," ujar Jelita sama santainya, mereka memang sama saja, tak heran jika Gian memiliki sifat seperti itu.
"Ahahah wajar hancur, besok-besok sepertinya orangutan yang datang, Ma, hati-hati aja."
"Dasar kurang ajaar!!" Berusaha memukul putranya namun tak sampai, Gian sudah terlanjur jauh dengan tawa yang tak lepas dari wajahnya.
"Love You, Ma," teriak Gian seraya berlari ke dalam rumah, menemui bidadari cintanya yang terpisah hampir 6 jam lamanya.
Gian meniti anak tangga dengan langkah panjangnya, tujuan utamanya adalah Radha yang ia yakini berada di kamar.
"Sayang, kamu dimana?" Gian mengelilingi kamar dengan tatapan mautnya, tak ia temui Radha.
Ceklek
"Kamu kenapa, Ra?" Gian panik begitu melihat Radha yang terlihat lelah keluar dari kamar mandi, bisa dipastikan istrinya selesai muntah.
"Kamu makan apa?" desak Gian tiba-tiba kala istri duduk di tepi ranjang, dan mata yang kini memerah dapat menjelaskan jika memang Radha tidak baik-baik saja.
"Jawab, Zura ... kamu makan apa?!!" desaknya lagi semakin tak sabar.
__ADS_1
"Enggak makan apa-apa, cuma kebanyakan minum sepertinya, ewh mulutku pahit."
"Bagus!! Besok-besok minum kopinya segalon ya," ujar Gian sembari menyeka keringatnya yang membasahi, ingin marah tapi tak bisa, dan inilah cara Gian membuat istrinya mengerti bahwa memang salah dia.