Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 200. Selesaikan Sendiri, Pa (Gian)


__ADS_3

"Mampush!! Ra, kita naik."


Gian tak mau ikut campur, ia memilih mengajak Radha kembali ke kamar. Karena jika tetap di sini, ia tak mau Radha melihat perang badar jilid kesekian yang akan Jelita mulai.


"Gian, jangan tinggalin Papa."


"Maaf, Pa ... aku hanya bantu sebisaku, sisanya Papa selesaikan sendiri ya."


Meski ia berbakti seluar biasa itu pada Raka, tapi untuk kali ini ia ingin lepas tangan. Tak mampu jika harus adu mulut untuk kesekian kali pada Jelita, dan juga sejak tadi Gian sudah mencoba memberi pengertian pada Jelita agar tak egois dengan amarahnya.


"Dan ingat jangan KDRT kalian, ingat umur."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Gian benar-benar berlalu dengan menggendong Radha ke kamar mereka. Sebagai istri solehah dan baik, Radha tak berniat memberontak lagi.


Karena memang untuk hal ini, adalah tanggung jawab Raka sepenuhnya. Kalaupun dia ada di sana juga tak akan banyak membantu, pikirnya.


"Jangan liat sana, Ra, nanti kamu sawan."


"Hah? Masa begitu?"


"Iya, nggak baik ibu hamil liat keributan, bisa sakit nanti."


Radha mengangkat alisnya, dari mana Gian menemukan teori semacam itu. Dan bisa dia percaya dengan hal-hal yang tak pernah Radha pikirkan sama sekali.


"Kakak kenapa lambat jalannya?" tanya Radha menatap wajah suaminya, tangannya melingkar di leher Gian, meski tak lelah tetap saja ia merasa sedikit pegal.


"Hm, kan harus hati-hati, kalau cepet-cepet nanti bayi kita kagetan, Ra, lahir-lahir dia latah, kamu mau?"


Ini lagi, dari mana juga dia memahami hal-hal kecil semacam ini. Bahkan terasa sedikit tak masuk akal dan bertentangan dengan logikanya, pertama kali ia mendengar sebuah pernyataan aneh begini.


"Bayi mana yang lahir tiba-tiba bilang copot!! Kan gak ada."


Jika yang sebelumnya Radha masih terima, tapi tidak untuk kali ini. Terlalu aneh dan sulit untuk dimasukkan logika.


Ia mencebikkan bibir, menatap suaminya yang kini hanya tersenyum tipis. Entah itu hanya menghibur atau memang sebuah pengetahuan yang Gian ketahui entah dari mana.


-

__ADS_1


.


.


.


.


Pelan-pelan, ia menurunkan Radha sangat hati-hati. Radha merasa bukan tengah hamil, melainkan sakit. Gian benar-benar tak memberikan izin Radha untuk turun ataupun naik tangga sendiri sejak kemarin-kemarin.


Tentu saja dengan alasan ditangga itu Radha pernah terjatuh kala awal pernikahan, dan Gian tak mau itu terulang lagi pada istrinya.


"Tadi Kakak ngajakin aku kemana?" tanya Radha yang tiba-tiba ingat jika Gian memang hendak mengajaknya pergi, namun berakhir penolakan dan membuat Gian kusut tadi sore.


"Udah malem, nggak berlaku lagi, Sayang ... besok aja ya," tutur Gian selembut mungkin, memang tadi ia sempat ingin membawa Radha ke pusat perbelanjaan untuk memenuhi keinginannya, sebagai permintaan maaf menurutnya.


"Besok Kakak kerja, jangan bilang nggak masuk lagi ya?"


Radha curiga jika apa yang Gian pernah katakan akan benar-benar ia lakukan. Pasalnya, Gian mengatakan jika dia tidak akan bekerja jika memiliki anak, dan ini adalah masalah yang harus Radha selesaikan.


"Haha, kenapa mukanya gitu? Nggak suka ya Kakak di rumah sama kamu?" Pertanyaan Radha sebenarnya sah-sah saja, tapi entah kenapa Gian justru memikirkan hal lain karena perubahan wajah istrinya.


"Kakak hanya ingin berusaha ada, Ra, kalaupun memang hanya kerjaan, Papa ada ngapain aku kerja."


"Heh, kok gitu konsepnya?" Benar dugaan Radha, dan suaminya mengatakan niatnya.


"Nggak boleh gitu lah, Papa ya Papa, tanggung jawabnya udah banyak. Dan sekarang, Kakak itu udah berbeda, aku itu tanggung jawabnya Kakak, jadi ya harus kerja lah."


"Tapi nanti kamu sendirian, Sayang?"


"Kan Kakak nggak kerja selamanya, sore kan pulang ... masih ada waktu buat aku," tuturnya mantap seakan memang tak menuntut kehadiran Gian setiap detik.


Berbeda, benar kata Gian. Istrinya memang memiliki banyak perbedaan dengan wanita lain. Jika seseorang akan senang berada di sisinya terus menerus dan menuntut waktu untuk selalu padanya, namun pola pikir Radha sangat berbeda.


Ia mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya, meminta Gian untuk melakukan apa yang menjadi tanggung jawab dan tugasnya. Usianya masih semuda ini, tapi pikirannya mengalahkan wanita yang kerap bersama Gian sebelum menikahi Radha.


"Gitu ya?" tanya Gian lagi, ia menatap manik Radha lekat-lekat.

__ADS_1


Bukan berarti Gian tak paham, akan tetapi ia benar-benar menyukai kedewasaan Radha yang melebihi umurnya. Lagi-lagi ia hanya ingin mengetes istrinya, sudah lama tidak mendengar wejangan Nyai Radha, pikir Gian.


"He'em gitu," jawabnya singkat seraya menguap tak henti.


Gian mengangguk berkali, pria itu menghempaskan tubuhnya di sisi Radha. Menatap langit-langit kamar dan jemarinya memainkan rambut panjang Radha.


Wajar saja dia bahkan mampu bertahan bersama Haidar yang bahkan hampir tak punya waktu untuknya. Radha sebetah itu dan mampu menahan diri untuk tak begitu egois dan memikirkan dirinya.


"Zura," panggil Gian menatap punggung istrinya yang kini masih duduk tak tak peka sama sekali, sebenarnya yang istri dia atau Radha, kenapa terkadang justru berbalik, pikirnya.


"Kenapa, Kak?" Radha yang memang tak paham maksud suaminya hanya menoleh tanpa tertarik untuk ikut berbaring.


"Sini," tutur Gian menepuk tempat tidur di beberapa kali.


Hanya senyum tipis yang Radha berikan, suaminya benar-benar tak bisa jauh. Faktanya yang menginginkan Radha seluarbiasa itu adalah Gian.


Dengan alasan istrinya hamil, Gian berpikir jika memang dia ingin menjaga dan mengorbankan waktu untuk Radha, padahal ia hanya mencari kesempatan yang pas untuk terus bersama Radha.


"Kamu umur berapa sebenernya?" tanya Gian konyol, ia hanya ingin memastikan jika yang ia nikahi anak kecil yang dulu sempat ia kutuk atau bukan.


"Kakak kenapa tanya gitu?" Radha mengernyit, ini terasa aneh, dan sedikit berbeda dari pertanyaan biasanya.


"Tanya aja, kamu makin dewasa." Baru kali ini ia memuji Radha, jika biasanya ia hanya mengatakan Radha sebagai anak kecil, kini yang ia cintai justru kepribadiannya yang kian dewasa.


"Kan memang dewasa, kalau tua ya Kakak."


"Heh!! Sembarangan," tutur Gian menepuk bibir istrinya pelan, kenapa jadi ketularan Jelita, pikirnya.


"Lah kan memang nyatanya begitu." Tak mau kalah, Radha berpikir bahwa dirinya sudah sangat benar.


"Hm, terserah kamu saja, yang penting senang ... jangan terlalu sering ngobrol macem-macem sama Mama ya."


"Kenapa memangnya?" tanya Radha dengan manik polos yang kini menatap suaminya.


"Hm, nggak ... Mama suka ngarang soalnya, Ra, jangan percaya."


Antisipasi agar istrinya tak semakin menjadi-jadi, pasalnya kini istrinya mulai berani mengatakan hal-hal yang tak memikirkan perasaannya, dan tentu ini akibat terkontaminasi mamanya, pikir Gian.

__ADS_1


🌻


Bagaimanapun, tetap kamu pemenangnya, karena kamulah pemeran utama❣️


__ADS_2