Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 212. Diambang (Kehancuran)


__ADS_3

Malam menjelang, berbeda jauh dari kediaman Radha dan Gian yang mungkin saat ini saling pijit punggung satu sama lain, kini Dewi seorang tengah menanti kepulangan Caline yang tiba-tiba menghilang persis suaminya.


"Bagus!! Kurang malem kamu pulangnya, udah berani kamu ya, Celine?!!"


Di waktu yang tepat kini Celine datang dengan penampilan yang tak rapi. Kancing kemeja yang sedikit terbuka dan rambut acak-acakan yang membuat Dewi murka tentu saja.


"Dari mana kamu?" tanya Dewi dengan nada tinggi, ia membentak putrinya yang kini tengah mabuk, aroma minuman itu menyeruak dan sungguh Dewi tak menyadari sejak kapan Celine berani bertindak semacam ini.


"Ays, lepaskan aku!! Mama urus saja laki-laki sialan itu."


PLAK


"Apa maksud kamu, Celine?"


Keduanya sama-sama kacau, Celine yang merasa mamanya lebih fokus pada selingkuhan di belakang Ardi, dan Ardi juga yang memilih pergi bahkan terlihat tak peduli sejak Radha menikah menjadi alasan Celine mencari cara untuk merasakan kasih sayang kembali.


"Aku capek, Ma. Mau tidur, udah sana."


Celine menghempas tangan Dewi, sepertinya mulai berani kurang ajar. Dan mungkin bentuk berontaknya lantaran Dewi maupun Ardi tak bisa fokus lagi padanya.


"Kamu masih berpacaran dengan pria itu?"


"Huft, bukan urusan Mama! Sejak kapan Mama peduli aku?"


Matanya membasah, ia tengah terluka dan seakan lupa bahwa dia lah yang melukai hati lainnya. Seakan tak sadar bahwa dirinya adalah duri dalam kehidupan Radha sejak awal.


"Sejak kapan kamu tanya? Celine!! Mama mencari kehidupan yang lebih layak sejak Papamu meninggalkan kita itu demi masa depan kamu! Bahkan aku melakukan apapun agar kamu bisa memiliki masa depan yang cerah, lebih cerah dari Radha. Dan kamu! Bisa mengatakan Mama tidak peduli kamu, Celine?!!"


Ya, satu-satunya alasan Dewi masuk dalam kehidupan Ardi hanya untuk membuat masa depan putrinya terjamin. Kala itu, dirinya tiba-tiba ditalak kala usia Celine baru menginjak 3 tahun.


Dan saat itu juga, kedatangan Ardi yang merupakan rekan kerjanya membuat hati Dewi mengharapkan hal berbeda. Kebaikan Ardi padanya karena merasa kasihan pada Celine yang waktu itu sedang lucu-lucunya membuat Dewi haus dan memiliki keinginan untuk menjadikan Ardi sebagai Papa dari anaknya.


Dan kini, kala Celine mulai dewasa. Dan perhatian Ardi padanya tampak berkurang membuat Dewi seakan bosan dan memilih untuk mencari cara agar hasrratnya terpenuhi, dan jalan satu-satunya ialah dengan bermain api dibelakang suaminya.


"Kalian berdua sama-sama membuatnya pusing saja! Tidak kamu, papamu juga sama!!"


"Mama tidak berhak membentak aku!!"


Kekacauan ini dapat dengan jelas didengar oleh asisten rumah tangga mereka. Dan bodohnya Dewi tak sadar bahwa wanita itu adalah satu-satunya orang yang menjadi saksi hidup kehidupan Ardi sejak masih menjadi suami Maya.

__ADS_1


"Papaku mana? Kenapa Papa tidak pulang-pulang, semua ini karena Mama!!"


"Karena Mama?! Heh, Celine!! Asal kamu tau ya, papamu pergi itu karena ulah kamu yang semakin kurang ajar dan diluar batas!!"


Dewi berapi-api, putrinya benar-benar tak memiliki sopan sama sekali. Bahkan tak segan membentak dan menunjuk Dewi dengan kasarnya.


"Sudah mama katakan, putuskan laki-laki itu dan kamu masih saja sebodoh itu!!"


"Dan Mama apa bedanya denganku? Selingkuhan Mama juga tidak bisa diandalkan sama sekali!" balas Celine tak kalah pedas, karena meskipun pria itu cukup berada akan tetapi Celine sama sekali tak bisa mendekatinya.


"Setidaknya dia kaya! Dan tidak seperti kekasihku yang hanya bermodalkan tampang itu!"


Jika dilihat saat ini, mereka lebih persis teman yang tengah saling menjatuhkan. Tak ada ketenangan dan lembutnya sama sekali, baik Dewi maupun Celine keduanya sama-sama dikuasai emosi.


"Jangan menghinanya!! Mama tidak berhak untuk menilai apapun tentangnya."


"Terserah, tapi nyatanya emang begitu. Kau terlalu baik, Celine ... pria itu tidak mencintaimu, kau sadar itu!!" Ucapan Dewi begitu menohok, dan sedikit menyakitkan bagi Celine.


"Terserah Mama, memangnya aku peduli? Tidak sama sekali!!"


Berlalu begitu saja, dengan langkah yang sedikit tak seimbang. Kepalanya terasa sedikit pusing, namun ia masih mampu untuk kembali ke kamarnya.


Hendak kemana ia meluapkan amarah, karena memang Ardi sangat sulit untuk dihubungi. Pikirannya kembali macam-macam, karena biasanya Ardi tak pernah begini.


Jujur saja, Dewi setakut itu jika Ardi bermain api, walau dia sendiri justru tengah berbuat curang dalam hubungan pernikahannya, tapi ia tak bisa terima jika Ardi berbuat macam-macam padanya.


-


.


.


.


Pagi-pagi sekali, Gian sudah terbangun. Sementara bidadarinya masih tenggelam dalam mimpi. Entah seindah apa hingga tidur Radha luar biasa Nyenyaknya.


"Hey, bangun ... udah siang, Ra, nanti rezekinya dipatok ayam."


"Eengh," lenguhnya merasa sangat amat terganggu, Gian mengusap pelan pipi mulusnya, meski Radha tak suka namun Gian tetap melakukannya.

__ADS_1


"Bangun-bangun!! Istri bos nggak boleh males, bangun ayo!! Kita harus kerja, semangat untuk masa depan bayi kita!!!" Satu jam menatap wajah istrinya membuat Gian merasa tak bisa lebih lama lagi untuk menunggu.


"Adoooh!! Kakak bisa diem dulu nggak? Ribut banget dah kek alarm sahur!"


Terpaksa, mau tidak mau bagaimana bisa Radha tetap bertahan dalam tidurnya jika Gian mengguncang tubuhnya bahkan dengan dengan sengaja menarik istrinya yang masih sangat ingin terlelap agar duduk sepertinya.


"Ya Allah, Kak!! Masih pagi, ngapain sih ... kan aku masih mimpi loh."


Seperti biasa, jurus andalan Radha. Ia akan terlihat memerah bahkan hampir menangis dan memukul dada Gian dengan tenaga super lemahnya.


"Jam 5, udah pas buat bangun, Sayang." Tanpa rasa bersalah, Gian menarik sudut bibir dan mengecup paksa pipi istrinya hingga terdorong ke belakang.


"Sumpah ganggu banget, masih ngantuk juga."


"Eeh, mau apa? Kakak kawinin kalau tidur lagi, beneran," ancam Gian kala Radha hendak kembali merebahkan tubuhnya.


"Ih, bilang aja memang itu maunya."


Radha memukul wajah suaminya dengan bantal, entah kenapa ancaman Gian tak lari dari masalah itu.


"Kamu kali yang mau, Kakak mah enggak." Bisa saja dia mengelak, ingin rasanya Radha cakar pria itu.


"Iyaya, terserah Anda."


"Ra, bikinin Kakak nasi goreng dong, tapi jangan pedes ... bisa?"


Hah? Radha sejenak menganga, pertama Kalinya Gian tertarik untuk makan nasi sebagai sarapannya. Sedangkan sejak awal menikah, Gian paling menghindari makan nasi di pagi hari, terutama nasi goreng.


"Tumben? Beneran mau?" tanya Radha ragu, yang ia takutkan nanti Gian justru tak berniat memakannya.


"He'em, please!!" pintanya mengatupkan kedua telapak tangan, ia benar-benar ingin dan tak bisa diganggu gugat.


"Hem, awas nggak di makan," ancam Radha dengan sorot mata tajamnya.


"Iya, Kakak makan sama piring-piringnya nanti." janji paling konyol yang pernah Radha dengar.


Meski terasa sedikit berat, Radha akan lakukan dengan segala kemampuannya. Bagaimana nanti rasanya ia tidak tanggung jawab, selagi suaminya tidak masuk rumah sakit, sepertinya akan aman-aman saja, pikir Radha.


Kali pertama ia lakukan, dan memang sejak dulu Gian tak pernah meminta Radha melakukan hal-hal semacam ini karena takut istrinya akan terbakar. Kejadian buruk yang dulu sempat membuat Radha terluka juga menjadi alasan Gian melarang istri berperang dengan alat dapur.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2