Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Sandiwara?


__ADS_3

"Aku tidak ingin menjawabmu, lebih baik aku pulang."


Radha berlalu, meninggalkan Haidar yang masih terpaku dalam diamnya. Tidak, ia tak ingin kehilangan waktu bersama Radha, ia mengeluarkan uang beberapa lembar dan ia tinggal begitu saja di atas meja. Jika harus menunggu ia akan kehilangan Radha dalam waktu singkat.


"Zura tunggu!!"


"Ra, tunggu Kakak."


Setengah berlari ia mengejar sang Kekasih, bahkan Radh Tak takut ia akan terkena flu lantaran menerpa gerimis yang masih sesetia itu menyapanya. Haidar menarik paksa pergelangan tangannya dan membuat tubuh mungilnya terhempas dalam pelukan Haidar.


"Sudah kukatakan jika hari ini kau harus bersamaku, Ra."


Kalimat itu ia ucapkan dengan wajah datar menatap Radha penuh tuntutan. Tak peduli seberapa kuat genggamannya, Radha meringis dan pergelangan tangannya mulai memerah, Haidar tak pernah menyakitinya pun hanya sejengkal saja.


"Kak, lepaskan ...."


Ia bergetar, paham betul bahwa yang di depannya kini tak ia kenali lagi. Wajah yang ia rindukan itu tak seramah dulu, ia tahu memang Haidar tersakiti, begitupun dengan dirinya. Tanpa harus ia jelaskan, seharusnya Haidar tahu bahwa dirinya juga hancur.


Menikah di umur yang begitu muda, bahkan KTP nya pun masih hangat, ia berganti status secepat itu dan kebebasannya di renggut aturan hidup yang Gian terapkan perlahan untuknya.


"Jangan coba-coba pergi dariku, Ra, aku terlalu bebas melepasmu hingga kau masuk di kandang yang salah," ujar Haidar menatap manik indah itu, wajah Haidar terlampau menyeramkan untuk menghadirkan senyum di wajah Radha.


"Bukankah Kakaklah yang meninggalkan tempat yang seharusnya menjadi milikmu? Tempat dimana aku tersesat dan Kakak pergi meninggalkan aku sendiri tanpa tahu takutya aku ketika Kakakmu itu membunuhku dengan tatapannya?"


Haidar takkan berucap lagi, mau berapa kali ia menjelaskan mereka akan tetap berada dalam lingkup pertanyaan "Kenapa". Jika memang Radha menyukainya, tentu takkan banyak pertanyaan yang menunjukkan bahwa ia juga tak terima dengan tuntutan Haidar.


"Kak," panggil Radha kesekian kalinya, Haidar masih tenggelam dalam diamnya usai pertanyaan yang sengaja ia lontarkan kembali.


Entahlah mengapa, ucapan itu begitu saja terucap lagi dan lagi. Rasa itu seakan tak berubah, namun harapan untuk bersama lagi seakan tak ada.Entahlah, mungkin nyaman akan status pernikahan, atau memang perlahan cinta Radha telah berpindah pemiliknya.


"Kak, tolong lepaskan, tanganku sakit."


Radha menghempas tangannya, genggaman Haidar yang sedari tadi tetap sama kini terlepas tanpa ia duga. Haidar tersadar dan kini menatap lekat pergelangan tangan Radha yang tampak memerah. Seketika rasa bersalah menyeruak dalam benaknya, tak pernah terpikir hari ini sudah berapa kali ia menyiksa Radha tanpa disengaja.


"Maaf, Ra, maafkan aku."


Tidak ada jawaban darinya, wanita itu memilih bungkam sembari menatap lingkungan sekitarnya. Tak ada yang dapat ia temukan cara untuk pulang tanpa Haidar, sejenak ia menatap Haidar yang sedari tadi tak melepaskan pandangan darinya.

__ADS_1


"Apa yang kau cari?"


"Tumpangan," jawabnya polos namun berhasil membuat senyum itu terlukis di wajah tampan Haidar.


"Tumpangan? Kau tidak ingin pulang bersamaku, Ra?"


"Tidak, aku tidak akan mau jika hanya itu-itu saja yang Kakak bahas!"


Haidar terdiam, sekesal itu kah Radha terhadapnya. Bukannya marah, ia justru tertawa sumbang. Ekspresi marahnya Radha masih sama, layaknya dulu kala Haidar mengucapkan perpisahan.


"Kenapa aku justru mengingatnya," batin Haidar lagi-lagi tersakiti, ia menghela napas perlahan dan kini melempar senyum sehangat mungkin.


"Tidak akan, tadi yang terakhir ... ayo pulang, suamimu akan membunuhku setelah ini."


Radha terhenyak, mengapa di saat ucapan itu terlontar ia justru balik merasakan sakit. Dadanya seakan sesak menatap wajah sendu Haidar yang berucap begitu entengnya.


Sebenarnya kenapa dia, apa yang ia rasa. Kenapa hatinya tak rela berada di antara kesakitan dua pria ini. Ucapan Gian beberapa waktu lalu, serta perlakuan manisnya yang membuat Radha seakan ratunya membuat wanita itu tak mengerti akan perasaannya.


"Kak,"


"Kakak baik-baik saja?" tanyanya kemudian, takut jika ada yang tidak beres dengan pria yang kini menjadi adik iparnya itu.


"Kenapa dengan pertanyaanmu, harusnya kau tanyakan itu dari dulu, Sayang."


Ia tersenyum, makna di balik senyum palsunya hanya ia yang tahu. Radha tak menolak kala ia menarik tanganya begitu halus, kedua pria yang berada di sisinya seakan sama. Baik Gian maupun Haidar, keduanya tak dapat di prediksi kapan akan bersikap lemah lembut dan terkadang marah tanpa bisa ia kendalikan.


********


Perjalanan terasa begitu hening, tanpa ada pembicaraan dan tawa di selanya. Radha hanya berfokus pada pemandangan luar, dedaunan yang tampak basah akibat pertemuan dengan air hujan melambai indah. Ia tersenyum, suasana ini ia rindukan.


"Masuk angin, Ra."


Bahkan kebiasaan keduanya sama, sewotnya kedua orang ini membuat Radha merasa lucu. Sepertinya larangan membuka jendela kala perjalanan adalah hal turun temurun, pikir Radha.


"Kan cuma sebentar, Kak."


"Bisa saja kau menjawab, udara luar terlalu dingin," ujarnya menatap lekat mata penuh tanya itu.

__ADS_1


Tak ada jawaban, Radha memilih untuk bersandar dan menikmati perjalanan yang teramat lambat melebihi keong sakit. Sungguh menyebalkan, Haidar benar-benar sengaja membuat mereka semakin lama bersama.


Pria itu paham kesalnya Radha, memang ia belum menginginkan keduanya kembali, hanya saja jika ia terus menahan Radha di tempat jelas saja wanita itu akan memiliki pergi tanpa dirinya.


"Kak, bisa cepat sedikit?"


"Kau pikir aku supir pribadimu, tidak bisa!!"


Tak jauh berbeda, kedua makhluk ini memang menyebalkan. Baik Gian maupun Haidar sama saja, Radha tak bisa berkata-kata menatap senyum usil Haidar yang kini terlukis namun terlanjur indah.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Baru menyadari bahwa ketampananku jauh di atas suamimu itu?"


Kalimat canda yang memang benar adanya menurut Haidar namun berbeda menurut Radha, baginya keduanya bahkan tak sempat ia bandingkan. Suatu hal yang tak penting dan mungkin takkan ia pikirkan.


"Ck, jangan banyak bicara, Kak. Kau lihat sudah jam berapa, bisa di pastikan aku akan mati setelah ini jika kak Gian tau aku pergi bersamamu."


"Dasar bodoh!! Tidak akan ku biarkan dia menyakitimu seujung kuku pun."


Mata itu fokus menatap tajam kedepan, memang benar adanya ia takkan rela jika Gian melempar amarah pada Radha nantinya. Dan sedikitpun takkan ia biarkan itu terjadi, meski ia sendiri khawatir dengan nasibnya sewaktu pulang nanti.


"Lalu bagaimana denganmu?"


"Kau meremehkanku? Kalu lupa bahkan dia terluka di tanganku waktu itu."


Dasar sombong, itu terjadi karena Raka dan Jelita yang menahannya untuk membalas.


"Kita pulang ke rumah."


Demi meminimalisir kemarahan Gian pada Radha, Haidar memilih pulang ke rumah utama. Karena di sana sudah tentu ada Raka den Jelita, meski ia tahu amarah mereka sudah pasti tertuju pada mereka. Dan saat ini, bakatnya di dunia hiburan akan ia perlihatkan.


"Kau hanya perlu diam dan mengiyakan apapun pertanyaan Mama."


"Maksdmu?"


"Kita lihat saja nanti."


.......... Tbc

__ADS_1


__ADS_2