Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 241. Tidak Bisa Diam.


__ADS_3

Tak butuh banyak persiapan, karena memang sejak tadi penampilan mereka sudah cukup baik. Setrlah meminta persetujuan Gian dengan sejuta perjuangan dan mengatasnamakan keinginan anaknya akhirnya Radha dapat pergi tanpa rasa ragu.


"Aku waktu sekolah sering ke arah sini, Ma," tutur Radha kala melewati jalan raya yang cukup ramai itu.


Masih ia ingat, pertemuan pertama dengan sang suami yang membuat kakinya celaka. Iya, Gian memang beberapa kali menabrak Radha dan tentu saja ia tak mau disalahkan atas perbuatannya.


"Oh iya? Sekolah kamu yang lama, Ra?"


Sama halnya dengan Radha, Jelita juga antusias. Ia sudah cukup lama tak berkunjung ke tempat ini secara sengaja, karena biasanya Jelita hanya melewati tempat itu sesekali saja.


"Iya, Ma ...ah aku suka tempat ini," ujar Radha tak bisa menutupi rasa bahagianya, karena memang ia cukup merindukan tempat ini.


Tak butuh waktu yang lama, mereka sudah tiba di warung bakso itu. Bagai merasakan angin surga, Radha sebahagia itu memasuki tempat yang amat bersih dan terjaga itu, selera Jelita memang tak perlu diragukan.


"Pilih sesuka kamu, tapi bukan berarti bebas mau makan yang pedes-pedes ya." Jelita mengingatkan menantunya untuk tak lupa batasan, jangan karena diberikan izin Radha justru sesukanya.


"Okay, Mama mau juga nggak?" tanya Radha sedikit heran karena sepertinya Jelita tampak tak memiliki rencana untuk makan juga.


"Enggak, Mama nggak boleh, Ra, kalau sakit nanti merepotkan," tutur Jelita sangat menyayangkan keadaannya, ia tak sebebas itu lagi menikmati kehidupan seperti beberapa tahun lalu.


"Yaah, masa Mama liatin aku doang," sesal Radha merasa bersalah jika Jelita hanya melihatnya, dan ia tak setega itu tentu saja.


"Gak apa-apa, Mama kan bisa makan yang lain, Ra."


Dapat ia tangkap jika memang Radha merasa tengah merepotkan dirinya, padahal tidak sama sekali. Jelita hanya ingin memberikan yang terbaik untuk wanita yang paling disayangi putranya.


Setelah menimbang keputusan matang-matang, Radha akhirnya memesan 3 porsi hanya untuk dirinya sendiri. Sempat terkejut dengan apa yang ia minta, namun kembali lagi semua ini mungkin keinginan calon cucunya, pikir Jelita.


Meninggalkan Radha yang kini tengah bahagia lantaran apa yang ia mau akhirnya tercapai juga, di kantor kini Gian bersama Reyhans tengah membicarakan hal serius, sangat amat serius.


Jika perihal pekerjaan, mereka memang berbeda. Akan tetapi terkadang tingkah Gian yang tak bisa ditebak kapan berubahnya membuat Reyhans harus benar-benar siap dalam mengambil langkah.


"Aduh, panas sekali ... apa kau tidak merasa panas, Rey?" tanya Gian kini mengibas-ngibaskan beberapa lembar kertas yang baru saja Evany kerjakan dengan penuh pengorbanan.


"Panas? Panas bagaimana? Sejuk begini, bajumu yNg salah mungkin, Gi."

__ADS_1


Reyhans menatap penampilan Gian mencoba mencari sebab dari rasa panasnya yang tiba-tiba Itu. Gian membuka jasnya, tak lupa kemeja yang ia gulung hingga siku, merasa sedikit heran kenapa tubuhnya seakan tak normal begini.


"Kulit kalian ada masalah apa? Kenapa bisa sepanas ini bisa santai," omel Gian yang merasa kesal karena ia menderita sendirian.


"Memang kami tidak merasa panas, Gian, cuma kau saja yang merasakan." Reyhans lagi-lagi memberi penjelasan.


Evany bahkan sedikit bingung kenapa juga Gian menjadi begini, keningnya basah akibat keringat yang kini mulai bercucuran, akan tetapi dia sama sekali tak merasakan hal yang sama dengan Gian.


"Ck, sialan ... aku tidak bisa menahannya, tolong cari baju ganti untukku, Rey, panas sekali ... apa ada yang mengirimkan guna-guna untuku ya?"


Pikiran Gian mulai kemana-mana, dan hal yang paling bertentangan dengan Reyhans adalah pendapat Gian tentang hal ini.


"Iya, secepat mungkin aku akan kembali," tutur Reyhan segera beranjak dari ruangan Gian, dan ia lupa membawa serta sang kekasih.


"Reyhans, bawa serta kekasihmu ini, sepertinya semua udara disini masuk ke paru-paru Evany sampai aku merasa sesak begini."


Sungguh tidak ramah sama sekali, Gian bahkan jauh berbeda dari dirinya pagi tadi. Evany mencebik dan berlalu dari tempat itu usai menundukkan kepalanya demi mendapatkan maaf dari Gian.


Selepas kepergian mereka, Gian merogoh ponselnya dan kini menghubungi istrinya. Tentu saja hendak mengadu karena kini tubuhnya serasa akan meledak.


"Udah, barusan pulang, Kakak kenapa? Gak enak badan ya?" tanya Radha menyadari suara Gian memang terdengar berbeda.


"Panas, Ra ... rasanya pengen berenang saat ini juga," keluh Gian kembali gelisah, apa lagi yang kurang, bahkan ia sudah melepas celana panjangnya, hanya menyisakan celana pendek saja.


"Panas? Kok bisa?" tanya Radha merasa aneh, karena biasanya Gian tak serepot itu masalah udara di sekelilingnya.


"Nggak tau, tiba-tiba begini," ucapnya lagi.


"Kakak mau aku ke sana sekarang?" tawar Radha sungguh-sungguh.


"Tidak perlu, Sayang, Kakak cuma bilang, bukan mau merepotkan, kamu istirahat ... nanti Kakak pulang lebih cepat," tutur Gian dengan lembutnya, karena memang niatnya menghubungi Radha hanya untuk bercerita saja, tak lebih.


"Yakin?" tanya Radha lagi, sedikit tak yakin sebenarnya.


"Yakin seyakin-yakinnya istriku, kamu di rumah saja dan tunggu Kakak pulang, paham."

__ADS_1


Hanya terdengar jawaban halus dari Radha, walau istrinya itu khawatir Gian tak mau jika Radha terlalu banyak bergerak kemana-mana. Akan tetapi memang sudah menjadi kebiasaannya jika sesuatu terjadi, Radha harus tahu.


-


.


.


.


.


Sore menjelang, dengan alasan tak nyaman di kantor Gian pulang lebih dulu. Dengan hanya mengenakan kaos tipis ia berlalu tanpa peduli tatapan karyawan yang menatapnya penuh tanda tanya.


"Mereka tergila-gila padaku, dasar stres ... mereka lupa jika sejenis denganku atau bagaimana," omel Gian dan dapat didengar dengan jelas oleh Reyhans, memang diantara yang memperhatikan Gian, bukan hanya wanita akan tetapi pria pun sama.


"Entahlah, karyawanmu memang sedikit mencurigakan," tutur Reyhans yang kini bukan menenangkan akan tetapi semakin membuat pikiran Gian macam-macam.


"Waw, sepertinya aku harus memperbarui kriteria pegawai yang boleh bekerja di tempat ini, pastikan mereka normal, Reyhans, mengerikan ... kenapa aku mendadak takut, belum lagi kita sering pulang malam."


Terserah, ocehan Gian tak terlalu ya dengarkan lagi. Karena memang melelahkan pada akhirnya. Gian yang berpikir negatif tentang karyawannya, tanpa sadar jika pikiran mereka juga sama seperti pikiran Gian.


"Berkedok asisten, gue merinding liat mereka berdua," tutur salah satu pria berparas tampan yang sejak tadi memperhatikan Gian.


"Pak Gian punya istri, cantik mana lagi hamil, nggak mungkin dia belok," balas wanita cantik bernama Bella itu, ia masih mampu berpikir secara normal dibandingkan teman-temannya.


"Bisa aja dia suka dua-duanya, lagian gue ga yakin pak Gian macho, lu sadar nggak sih tingkah dia tu akhir-akhir ini kek cewek gitu."


Sontak Gian menjadi buah bibir, sama-sama tak dadar bahwa Gian justru tengah menjadikan mereka bahan ghibah dengan sejuta tuduhan macam-macam bersama Reyhans.


"Ya elah, lu dibentak sama dia kek Sisy kemaren gue rasa diem, udah deh ... belajar dari pengalaman, lu mau jadi pengangguran tiba-tiba, Romi?" sentak Bella agar pria itu diam sesaat saja, bukan karena kesal melainkan ia takut saja jika temannya punah seiring berjalannya waktu.


"Iyeye, kenapa jadi lu yang marah-marah."


"Cuma ngingetin, gue masih baik sama lu, itu aja."

__ADS_1


Obrolan mereka bubar usai sebuah peringatan itu usai, mereka masih sama-sama menyayangi pekerjaan, akan sangat merugi jika hanya karena julid mereka kehilangan pekerjaan.


__ADS_2