Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Aku Harus Apa?


__ADS_3

"Siapa?"


Beberapa orang disana merasa tak asing dengan sosok Haidar. Wajahnya begitu familiar, namun mengenai siapa dia sebenarnya masih menjadi misteri. Beberapa dari mereka menebak bahwa Haidar adalah salah satu putra Raka, namun banyak juga yang tak percaya karena setahu mereka hanya ada Haidar seorang.


Brugh


Haidar menghempaskan tubuhnya di sofa, nyatanya ikut Gian ke kantor membuatnya semakin tak bebas. Begitu berani mereka bertanya hal-hal yang aneh, dan Haidar yang memang telah terbiasa merasa muak tentu saja.


"Kenapa denganmu?"


"Karyawanmu, agresif semua!! Kau tahu, aku merinding melihat bahasa tubuh mereka."


Ia bergidik, kedatangannya ke kantor hanya untuk melihat suasana kantor papanya, namun baru saja ia menghabiskan waktu di beberapa menit saja Haidar sudah merasa terganggu.


"Sudah kukatakan, jika kau sendirian maka kau akan kesulitan, Haidar."


Matanya tetap fokus pada dokumen-dokumen yang harus ia pelajari. Ocehan adiknya sudah ia wanti-wanti sejak tadi, ia tahu akan begini namun Gian enggan melarang Haidar jika harus berkali-kali.


Haidar mendekati Gian, ingin memperhatikan apa saja yang kakaknya hadapi seserius itu. Baru saja beberapa menit, segala hal yang berada di depannya membuat Haidar mengantuk.


"Kau betah dengan pekerjaan seperti ini, Kak?"


"Ck, tidak adakah pertanyaanmu yang lebih penting?"


"Heran saja, terlihat sangat membosankan."


Ia meneliti berbagai berkas yang menumpuk di sana, ia mengerti beberapa namun sedikitpun Haidar tak tertarik pun gaji yang ia dapatkan lebih besar daripada bayarannya.


Merasa terabaikan setelah beberapa menit berada di dalam ruangan Gian, Haidar mulai mencari kesibukan untuk menuntaskan rasa bosannya. Notif pesan di ponselnya membuat dirinya panas seketika.


"Badjingan!!"


Gian terperanjat kaget kala Haidar membanting ponselnya, entah apa yang Haidar lihat hingga ia sekacau itu. Terpaksa, ia menggentikan pekerjaannya sementara.


"Kenapa lagi denganmu?"


Tak ada jawaban, Haidar memijat pangkal hidungnya. Pemberitaan simpang siur tentang tidak profesionalnya Haidar dalam menekuni pekerjaannya menyebar begitu cepat.

__ADS_1


Beberapa iklannya gagal total dan perusahaan yang bekerja sama dengannya memilih untuk berhenti secara sepihak. Sejak kemarin pemberitaan tentangnya memang mulai hadir namun belum separah ini, dan kini dengan pesan berturut dari Rury juga membuatnya semakin rumit.


"Karirku," ucapnya disertai tawa sumbang, Haidar berdecak seakan meremehkan dirinya sendiri. Meski ia sempat masa bodo terhadap karir, nyatanya kini Haidar kalang kabut ketika kehancuran di depan matanya.


"Kenapa dengan karirmu?"


"Ays!! Kau pura-pura tidak tahu atau bagaimana, Kak?!! Televisi sebesar itu dan ponselmu selalu kau bawa, kenapa kau sebuta ini tentangku."


"Aku tidak menyukai infotainment, Haidar, mana aku tahu."


"Dasar primitif," umpat Haidar membuat Gian menarik sudut bibirnya sedikit tak senang, primitif apanya? Bahkan jika dia mau, agensi yang menaungi Haidar dapat ia beli, pikirnya.


Gian membiarkan adiknya menikmati frustasinya sesaat, entah ini kabar baik atau buruk, setidaknya dengan ini Haidar akan mengikuti keputusan sang Papa untuk mengikuti jejak Gian yang bahkan sukses melebihi dirinya.


Ia tahu, entertainment adalah dunia Haidar. Disana jiwanya, layaknya Randy yang bahkan tak bisa hidup dengan baik jika dia keluar dari lingkungan itu. Kacaunya Haidar dapat terbaca, begitu luar biasa.


Tampak bingung, Haidar berniat menghubungi Randy. Dan karena ponselnya telah retak seribu, terpaksa ia meraih ponsel Gian secara paksa.


Gian hanya menggeleng pelan, memilih diam, ia membiarkan Haidar bertindak sesuai dengan caranya. Karena menurut yang ia tahu, karir Haidar sedang berada di puncaknya, persaingan di dunia adiknya juga tak kalah keras seperti dunianya.


"Astaga, kemana kaliaaaan." Haidar mengusap wajahnya kasar, baik Rury maupun Randy tak ada yang menerima panggilannya sejak tadi. Hanya dua orang itu yang Haidar hapal nomornya, selebihnya ia bahkan acuh walau hanya untuk bertegur sapa lewat telepon.


Beberapa waktu, Haidar masih mencoba lagi dan lagi. Dan ia mencoba menjelajahi sosial media, dan lebih parah lagi. Secepat itu, bahkan beberapa foto masa lalu yang sangat ia jaga privasinya turut dijadikan bahan gunjingan.


Ia bergetar, manakala akunnya diserang netizen maha benar. Beberapa di antara mereka menyampaikan kekecewaannya lantaran Haidar berhenti sepihak dari salah satu drama yang mereka nantikan hanya karena wanita.


"Kenapa jadi begini?"


Pria itu menelan salivanya pahit, tak sedikit dari mereka yang menghujani sosok wanita di samping Haidar sebagai perusak yang wajib di musnahkan. Foto lama yang memperlihatkan kedekatan antara dia dan Radha menjadi perbincangan hangat.


"What?!! Dasar gila!!"


Kecewa, para penggemarnya yang sebagian besar wanita meluapkan emosi lantaran mengetahui bahwa Haidar telah memiliki kekasih. Selama ini, Haidar terlampau menjaga privasi tentang kehidupan pribadi, baik keluarga maupun asmara.


Dan kini, tak hanya dirinya, Radha yang tak tahu apa-apa bahkan tak lagi menyandang status sebagai kekasih Haidar menjadi sasaran jahatnya jari mereka. Dan bodohnya, berita sebegitu mengerikan ini, belum sampai pada Gian.


"Ck, waktumu habis, Haidar."

__ADS_1


Gian menarik paksa ponselnya, jujur saja ia juga penasaran hal apa yang membuat adiknya memerah dengan gurat kemarahan yang terlihat jelas.


"Kau?"


Pria itu lebih terkejut lagi kala membaca dengan teliti pemberitaan tentang adiknya yang menyeret Radha juga. Jelas saja, bukan hanya sekadar kemarahan tapi juga kebencian di benak Gian.


"Haidar!!!"


"Berhenti berteriak!! Kau kira aku yang mau?"


"Foto ini, hanya kau yang punya!!!" Fakta yang ia yakini, foto itu hanya Haidar yang memiliki.


"Kau gila?!! Maksudmu apa, Kak?!!"


Hujatan yang tertuju pada Radha membuat Gian tak bisa berpikir dengan jernih. Kemarahan dan segala hal negatif menerpanya. Ingin ia patahkan satu persatu jemari yang justru menyalahkan Radha.


Gian memijat pangkal hidungnya, walau tak dapat ia pungkiri ada kecemburuan di sana, yang membuat dia sekesal itu. Kehangatan Haidar pada Radha terlihat tulus di sana, manik indah Radha yang menatap teduh Haidar membuat panas jiwanya.


"Selesaikan masalahmu, Haidar!! Aku tidak ingin melihat foto istriku tersebar luas seperti ini."


"Hah? Kau hanya peduli Radha, Kak? Lalu, aku bagaimana?"


Tidak ada wajah ramah, Gian menatap Haidar layaknya musuh yang tengah membahayakan Radha. Banyak hal yang Gian pikirkan, saat ini Radha baru saja pindah ke sekolah barunya. Dan bagaimana nasibnya jika para siswa disana, berita unfaedah menurut Gian ini jelas menjadi penting bila berurusan dengan penggemar Haidar.


"Kak?"


"Aku hanya bicara satu kali, Haidar, segera berikan klarifikasimu. Jangan kau seret istriku dalam masalahmu, dia tidak salah apa-apa."


Gian berlalu, menutup pintu dengan begitu kasarnya. Meninggalkan Haidar yang kini tertunduk, diam membisu dan sebegitu pusingnya. Mengapa sekacau ini, ia baru berusaha sembuh, dan perlahan menerima saran sang Papa. Namun, hantaman bak peluru menyerangnya.


Teman, keluarga, bahkan kakak kandungnya seakan tak peduli bagaimana posisinya. Sendiri, entah siapa biangnya, Haidar merasa sesakit itu, jika dahulu ada Radha yang sejenak menjadi sebab senyumnya. Kini, tak ada lagi, seakan di renggut secara paksa, semuanya.


"Aku harus apa?"


Ucapan itu keluar begitu lirihnya, dengan air mata yang mengalir tanpa ia minta. Mata memerah, bukan hanya karena terancam karirnya. Tapi juga sosok yang menjadi penguat, yang ia harapkan akan ada nyatanya seakan tak peduli bagaimana dirinya.


............ Bersambung

__ADS_1


__ADS_2