Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Desakan Haidar


__ADS_3

"Azura, jawab Kakak ...."


"Radha!! Kau masih milik Kakak, Kan ... katakan di depannya. Cepat!!"


Radha tergagap kala Haidar kini justru mengguncah pundaknya menuntut penjelasan. Jelas saja hal itu membuat Gian marah, ia sungguh tak suka, bagaimanapun keadaannya, Radha kini adalah istrinya.


"Haidar!!" bentak Gian sembari mendorong kuat tubuh Haidar, pria itu hampir saja tumbang karena Gian sungguh kasar kali ini.


"Apa kau tidak bisa mengerti bahasa manusia? Haaa?!!!"


"Damn it!! Diam kau, dasar picik!!" Haidar menatap Gian tajam seakan hendak mengulitinya.


"Berani kau, Haidar?!!"


"Haha ... kau yang merencanakan semua ini kan?"


"Kak."


Radha menahan Gian yang kini hampir melayangkan pukulan untuk Haidar. Perlakuan kasar Haidar pada Radha membuatnya meradang, belum lagi Jelita yang terlihat hanya diam lantaran kecewa yang masih mendalam membuat Gian tak berpikir panjang jika hendak memukul Haidar.


"Ma, kenapa diam? Jelaskan padaku."


Jelita hanya menghela napas panjang, pertanyaan Haidar tak harus ia jawab lagi. Pun dijawab tentu Haidar akan lebih mengamuk lagi.


"Masuklah ke kamarmu, Haidar ... kau butuh istirahat."


Hanya kalimat itu yang mampu Jelita lontarkan, putranya tengah di kuasai amarah. Sedari tadi tangannya mengepal keras, wajahnya merah padam menatap Gian penuh dendam.


"Tidak, Ma ... badjingan itu harus bicara denganku."


Gian membuang napas kasar, Menghadapi adiknya yang kini dikuasai emosi sama saja dengan memperpanjang masalah. Gian terbiasa menghadapi segala sesuatu dengan emosi dan kekerasan, tentu saja pancingan Haidar membuatnya tak bisa menahan diri lebih lama nantinya.


"Bicara? Apalagi yang kau butuhkan, Haidar? Bukankah sudah jelas," ucar Gian menatap datar manik hitam sang Adik.


"Aku perlu tau, Gian!! Kenapa kalian, aaarrrggghh Apa yang kalian rencanakan padaku?"


Haidar masih belum mengerti keadaan, belum terlalu paham dan ia masih perlu penjelasan.


"Baiknya kau minta penjelasan Papa, pergilah istirahat, Haidar."


Jelita berlalu, tak peduli Haidar akan menurut atau tetap akan membantahnya. Ia serahkan semua keputusan ditangan putra bungsunya itu, kecewa dan amarah yang tak bisa ia luapkan masih bersemayam dan mungkin akan semakin dalam.


"Kenapa harus Papa, Ma, bukankah kalian juga bisa bicara?!" desak Haidar berusaha mengejar Jelita, namun ia tak dapat melakukannya lantaran Gian menahan pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Haidar!! Bisakah kau bersikap sopan pada Mama?!!"


"Diam, kau ... aku tidak mengajakmu bicara saat ini."


Dalam hidupnya, Haidar tak pernah bersikap sekeras dan sekasar itu. Semarah-marahnya dia berusaha untuk tetap diam dan bersikap lembut pada Jelita. Namun perkara Radha rasanya ia benar-benar ingin marah.


Haidar mengempas tangan Gian, ia tak suka bahkan ketika Gian menyentuhnya. Radha turut mengiringi langkah Gian yang kini berusaha mengejar langkah Haidar.


"Dengar aku!!"


"Jangan menuntut penjelasan Mama, pikirkan perasaanya, Haidar."


"Lalu perasaanku bagaimana, Kak?" tanya Haidar begitu sendu sembari menatap Radha yang kini berada di belakang Gian.


Takkan ia lepaskan netra itu, ia merindukan Radha teramat dalam namun mengapa pertemuan yang ia rasakan justru sangat menyakitkan.


Haidar terpaksa menelan pil pahit, kenyataan yang ia terima secepat kilat itu seakan mengguncang jiwanya. Belum sempat ia memeluk rindunya, kini cintanya terhempas dan terhalang jarak begitu tingginya.


Tatapan pilu Haidar membuat Radha turut merasakan sakitnya, takkan ia sanggup menatap wajah kekasihnya lebih mata. Mata yang kini memerah dan gurat kemarahan itu membuat Radha mengalingkan pandangannya.


"Ra ...." Ucapan itu tertahan, sembilu menyayat hatinya. Ingin rasanya ia dekap kuat tubuh Radha, andai dia mencari tahu lebih dahulu dan tidak ego atas pikirannya beberapa waktu lalu, mungkin ia takkan menghadapi hal gila macam ini.


"Masuklah, bukankah Mama memintamu beristirahat."


Haidar menghela napas panjang, kehadiran Layla yang kini membuka pintu kamar dan mempersilahkan Haidar masuk membuatnya sejenak menyembunyikan air mata, takkan ia biarkan orang lain menilai betapa lemahnya dirinya.


BRAK!!


Tanpa memandang siapapun, Haidar berlalu masuk ke kamar. Ia menutup pintu kamar sekuat tenaga, dalam keadaan kalut mana mungkin ia akan dapat baik-baik saja.


"Zura,"


Gian merangkul pundak Radha begitu lembut, selain Haidar ia juga paham bahwa Radha juga tertekan. Dan dalam diamnya, jelas saja Radha meminta penjelasan.


"Kak?" Radha sejenak menahan pergelangan tangan Gian, teriakan Haidar yang sempat terdengar cukup keras tertangkap inderanya.


"Biarkan saja, dia butuh waktu sendiri."


Radha hanya menurut patuh kala Gian mengajaknya untuk masuk segera, biarlah semua menjadi tanya, namun status mereka tetap menjadi jawabnya.


******


Brugh

__ADS_1


Haidar menghempaskan tubuhnya di sisi ranjang, keringat mengalir di gurat keningnya. Napasnya tak beraturan, wajahnya merah padam. Kamar itu sudah tak berbentuk, tak pernah ia semarah ini sebelumnya.


Kacau, tidak ada lagi yang benar dalam hidupnya. Sengaja ia pulang dengan Radha sebagai alasan yang bahkan membuat karirnya semakin kacau.


"Aaaaaarrrrrggghhhhh!!!"


Haidar menarik rambutnya kuat-kuat, penyesalan tinggal penyesalan. Jika saja ia tak setertutup itu pada Radha, setidaknya Radha akan tahu siapa keluarganya.


Namun dengan alasan yang sama, Haidar enggan membuka siapa keluarganya. Ketakutan akan turut campur tangannya Raka dalam hidupnya membuat Haidar memilih jalan untuk tetap bungkam hingga akhir.


Gelang nama yang kini berada di pergelangan tangan kiri membuatnya tertawa sumbang. Sungguh lucu akhir cintanya, cita-cita untuk membawa Radha usai kekasihnya dewasa kini hanya sebatas angan belaka.


"Tidak, ini bukan akhir."


"Gian hanya memiliki hak atas raga Zura, bukan hati dan jiwanya."


Haidar tersenyum sinis, dengan keyakinan hati ia benar-benar berharap hati Radha masih miliknya dan takkan berpaling darinya, pun ikatan mereka suci.


"Zura tetap milikmu, Haidar ...."


"Iyah ... milikmu," ujar Haidar meyakinkan dirinya sembari membenarkan rambutnya.


Drrrt Drrrt


Haidar sejenak menghela napas kala ponselnya lagi-lagi bergetar. Hidungnya kini membasah bak matanya yang jua memerah, Haidar merogoh ponselnya dan mengangkat teleponnya begitu tak bergairah.


"Apa lagi, hah!!!"


Haidar tak peduli dengan desakan Rury yang lagi-lagi mempertanyakan tentang kepulangannya. Saat ini, ia ingin melupakan pekerjaannya sejenak, dia benar-benar penat.


"Jangan menelponku dulu, Kak, aku lelah."


Tanpa menunggu jawaban Rury, Haidar memutuskan sambungan teleponnya sepihak. Ia tak peduli, bagaimanapun nantinya ia hanya butuh penjelasan saat ini.


"Cepat atau lambat, kau akan kembali padaku, Zura."


Haidar mengepalkan jemarinya, giginya bergemelutuk. Pria itu beranjak dan memilih kamar mandi sebagai tempat mendinginkan perasaannya.


Ia memilih menetap, keberadaan Radha di rumah itu seakan menjadi tali pengikat Haidar yang membuatnya enggan untuk melangkah meski sesaat.


"Papa," ujar Haidar sembari memejamkan mata.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2