Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 285. Hari Pertama


__ADS_3

"Bangun-bangun!! Ayo nanti keburu imsak!!"


Suaranya lebih besar daripada toa masjid, telinga Radha sudah sakit akibat teriakan Gian. Beruntung saja ini sudah di lantai satu, jika saja masih dekat dengan kamar si kembar, sudah pasti Radha akan memukul pria itu hingga terkulai lemas.


Sahur kali ini benar-benar semakin berbeda, jika sebelumnya memang sudah heboh, kini lebih heboh lagi lantaran Gian sengaja mengetuk pintu penghuni rumah ini.


"Mama!! Papa!! Ayo bangun," teriaknya sembari mengetuk pintu kedua orangtuanya.


Masih pukul 02 dini hari, dan Gian sudah lebih heboh dari ayam jago di pagi hari. Tak hanya sibuk membangunkan keluarganya, dia bahkan mengetuk kamar pekerja di rumahnya.


"Pak Budi, yuhu!!! Bangun, Pak!! Mari semangat, hari pertama."


"Kita dimana? Kenapa ada den Gian di kamar kita?"


Masih setengah sadar, namun Gian memaksa Budi harus bangun bahkan membuat tubuhnya duduk meski mata Budi terasa lengket dan sangat sukar untuk dibuka.


"Di rumah dong, Pak, ayo bangun!! Kita sahur sama-sama."


Niatnya memang baik, bahkan sangat baik. Sementara Budi dan Aryo yang tadi malam begadang kini hanya tersiksa dengan segala tingkah Gian yang luar biasa membuat tidur mereka terganggu.


"Nggak, Den, saya nggak kuat puasa."


Penolakan macam apa itu, Gian tak terima, dan dengan usilnya dia memercikkan air tepat di wajah Budi yang hendak tidur lagi.


"Bangun-bangun, setelah sahur tidur lagi!! Tapi sekarang ayo bangun dulu."


Wajah gelagapan Budi berusaha sadar sesadar-sadarnya. Sungguh apa yang Dilakukan Gian membuatnya terdiam sejenak.


"Iya, Den ... nanti saya bangun," ujar Budi dengan kantuk yang luar biasa itu.


"Tidak ada nanti-nanti, sekarang!!"


Dasar tidak waras, pikir Budi. Di masjid saja masih tenang dan Gian sudah seheboh ini. Sepertinya tugas Gian bukan hanya jadi penceramah, alangkah baiknya dia menjadi pemeran utama yang membangunkan sahur warga sekitar.


Berbeda dengan Gian, kini di dapur tampak terpaksa dengan keadaan karena tidak mungkin juga tidur lagi. Asih membantu Jelita menyiapkan hidangan sahur, begitupun dengan Radha.


Sementara Raka yang kini duduk diam, hanya berusaha menahan kantuk namun untuk kembali ke kamar dia sudah sangat enggan.

__ADS_1


Memiliki putra seperti Gian terkadang membuatnya trauma, sungguh menyesal dia tidak memaksa Azzam untuk memberikan tugas membangunkan orang sahur di masjid saja agar yang jadi korban bukan hanya mereka saja.


"Nah begini dong, kan mantap!! Ra, buatin Kakak kopi dong," pinta Gian seenak jidat dan langsung mendapat penolakan dari Radha.


"Jangan macem-macem, Kakak mau pingsan besok?" Radha menghela napas pelan, padahal sudah jelas siang hari saja Gian tak dia izinkan minum kopi, dan kini sahur dia meminta tanpa pikir panjang.


"Astaga, yasudah air saja ... capek bangunin para umat-umat di belakang, apalagi pak Budi."


Seakan itu menjadi beban sekali, padahal dirinya lah yang membuat semuanya seakan sulit. Pria itu duduk tepat di samping Raka, menyadari tatapan datar sang papa, Gian mengerutkan dahinya.


"Papa kenapa? Ngantuk ya? Makanya Pa, jangan begadang."


"Diam kau, Gian, membangunkan orang tidak tahu waktu, ini masih waktunya tidur kau tau!!"


"Astafirullahaladzim, Papa ... aku berbuat kebaikan dan Papa malah merasa terganggu," ucapnya seakan merasa menjadi korban, padahal sudah jelas-jelas dia yang pelaku utama.


"Kebaikan lihat-lihat keadaan, Gian, ini masih jam berapa, dan mulutmu itu benar-benar mengganggu luar biasa."


Memang benar apa yang Raka katakan, saat ini mungkin hanya Gian yang menganggap dirinya benar. Selain dari itu tidak sama sekali.


"Terserah kau saja," ucap Raka benar-benar menyerah, sepertinya 30 hari kemudian dia harus siap dengan segala keadaan, baru satu putranya, belum lagi nanti jika Haidar pulang, tentu akan lebih membuat bahaya lagi.


-


.


.


.


Cukup lama menunggu, bahkan Gian yang tadinya sibuk membangunkan orang-orang justru luar biasa mengantuk dan bahkan hampir tertidur di meja makan.


Dia menguap berkali-kali, dan Raka berkali-kali juga menutup mulut putranya. Dan tentu saja wajah tak suka itu akan ia perlihatkan.


"Ya Tuhan, ayo makan!! Tunggu apalagi," titahnya yang kini hanya diangguki oleh Jelita, tak mengapa sedikit lebih awal, akan bahaya jika Gian justru tertidur dan wajahnya masuk ke piring lauk itu.


"Kamu ngantuk?" tanya Raka memutar keadaan, jika sebelumnya dia yang bertanya hal seperti itu, kini justru Raka.

__ADS_1


"Tidak dong!! Ngantuk dari mana, lihat mataku, semangat sekali kan, Pa?"


Terserah, menyesal Raka bertanya. Nampaknya makan adalah pilihan terbaik tanpa perlu bertanya ini itu kepada putranya.


Makan sahur yang khusyuk, Gian mengisi perutnya sekenyang-kenyangnya dan minum sebanyak-banyaknya dengan alasan besok perjuangan akan dimulai.


Menjalani ibadah bersama orang-orang tersayang adalah hal yang patut disyukuri. Dan dalam senyum hangatnya, Radha mengingat Ardi yang kali ini mungkin makan sendiri.


Setelah beberapa hari lalu sempat dia kunjungi, Ardi terlihat baik-baik saja dan Radha memastikan hal itu. Akan tetapi, tetap saja kesedihan itu nyata dan Radha merasa bersalah lantaran tidak berhasil membuatnya turut makan sahur bersama malam ini.


Usai makan, Gian yang ternyata justru lebih mengantuk kini memilih kembali ke kamar duluan dengan alasan ingin tidur sebentar saja sebelum subuh. Dan hal itu sempat menjadi bahan candaan Raka, putranya memang di luar dugaan.


"Hadeuh, dia yang paling semangat, dia juga yang jatuh duluan," ujar Jelita menarik sudut bibir, ada-ada saja, Gian bahkan terlihat lambat meniti anak tangga lantaran kantuknya yang luar biasa berat.


"Biarkan saja, Ta, namanya juga terlalu bahagia." Raka berucap demikian sembari menggeleng pelan, kembali ia ingat sebelumnya dia sudah mengisi ceramah dengan begitu semangat perihal menyambut bulan suci ramadhan.


"Kamu naik juga sana, Ra, Mama takut dia ketiduran di lantai, Gian biasanya kalau ngantuk seenak jidat, Ra."


Radha lupa kebiasaan suaminya yang suka asal geletak jika sudah terlalu mengantuk. Dan dengan langkah cepat, dia menuju kamar tidur di lantai dua.


Ceklek


"Astaga!! Dia kenapa tidurnya begitu?"


Benar saja, baru saja Radha membuka pintu justru telah diperlihatkan pemandangan demikian. Gian memilih tidur di sofa dengan posisi kaki menggantung, sungguh Radha kasihan melihat ini.


"Kak, pindah sana, kenapa tidur di sini," tutur Radha hati-hati, takut jika suaminya sudah terlalu lama tidurnya.


"Eeennngg, nanti dulu, tidur dulu sebentar ya, Sayang." Gian sadar jika kini istrinya berada di sisinya, akan tetapi dia tak kuat untuk begerak.


"Tapi jangan di sini, di tempat tidur ya."


"Nggak, ngantuk, Ra."


Radha mencebikkan bibir, dia bisa saja beralasan mengantuk. Sementara orang lain seakan tak berhak sama sekali, Gian membangunkannya seenak jidat bahkan tak menerima alasan ngantuk sama sekali. Sungguh dimana letaknya keadilan bagi seorang istri, pikir Radha.


💙💙

__ADS_1


__ADS_2