Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Ajari Aku Mencinta (Radha)


__ADS_3

Cantiknya Radha sejak tadi begitu meluluhkan hati Gian, dengan pakaian yang tak terlalu mencolok namun begitu pas di tubuhnya membuat Gian seakan tak puas memandangi istrinya.


"Kita mau kemana?"


"Rahasia, selagi bersama Kakak kau tidak akan tersesat, Ra, santai saja."


"Bentar, ngaca dulu."


"Ah, ayo cepat, Mama cerewet, Ra, telinga Kakak bisa panas kalau dia ngomel."


Tanpa aba-aba, ia menarik pelan pergelangan tangan istrinya. Tak begitu kuat namun sukses membuat gadis kurus itu mengikuti langkah panjangnya.


Tidak pantas lagi di sebut pagi, karena memang matahari sudah cukup tinggi. Liburan yang di janjikan Jelita telah di atur sedemikian rupa, kali pertama Gian menerima beres dan Mamanya telah mengatur semuanya.


"What?!! Mama, kenapa ada dua cecunguk itu?"


"Heh, Gian!! Jaga mulutmu astaga," tutur Jelita berusaha menenangkan putra sulungnya.


Wajah Gian terlihat begitu berbeda, kehadiran Haidar dan juga Randy yang juga telah siap dengan segala keperluannya membuat suasana hatinya rusak. Memang benar, nyatanya terlalu senang itu tak baik, ia menghela napas kasar kala menyadari liburan kali ini benar-benar sekeluarga.


"Dasar kurang ajar kau, Gian."


Gian menatap sengit Randy yang kini berdiri di sisi Haidar. Sejak pria sang Adik mengikuti karirnya Gian memang tak begitu dekat dengan Randy lagi. Entah, ia merasa ada penghalang dalam hubungannya yang membuat dia enggan untuk kembali baik-baik seperti sebelumnya.


"Ck, kalian sama saja ... cepat, Papa tidak suka menunggu terlalu lama."


Memang, sebesar itu pengaruh pria itu. Sekalipun Gian yang tengah di balut emosi akan memilih diam jika Raka sudah bersuara.


Entah akan bagaimana canggungnya, dan bagaimana dia di sana kini menjadi pusat pikirnya. Radha, sejak tadi hanya diam, perdebatan singkat antara Haidar dan juga Gian membuatnya kikuk luar biasa.


Namun genggaman tangan begitu halus dari Gian seketika menangkan. Seakan pria itu paham apa yang tengah istrinya rasakan. Walau, di titik awal perjalanan ia merasa liburan kali ini tidak akan sebaik yang ia kira.


*******


Tak ada semangat untuk detik ini, perjalanan yang cukup menguras tenaga membuat Radha hanya ingin memejamkan mata. Entah berapa lama lagi akan tiba, namun indahnya pemandangan hijau yang mulai menyapa membuat Radha perlahan menikmati suasana.


Ya, sudah dipastikan jika Jelita yang menentukan tempat semacam ini akan menjadi tujuannya. Perkebunan yang seakan menyatu dalam hidupnya tak bisa tergantikan dengan hiruk pikuknya kota.


"Kau lelah?"


Radha menggeleng, lelahnya terbayar tuntas kala ia menginjakkan kaki di tanah subur itu. Teriakan Jelita yang memintanya untuk terlebih dahulu masuk ke villa itu tak ia indahkan sama sekali.

__ADS_1


"Kakak sering kesini?"


"Hm, hampir setiap 6 bulan sekali, Mama sangat suka tempat ini, sampai pemilik villa itu mengenali Mama," jelas Gian apa adanya.


"Wah? Selalu bersama?"


"Tidak juga, Haidar sibuk jadi biasanya bertiga, kalau dulu iya bersama."


"Ooh, Kakak bosan?"


"Mana bisa, Ra, Mama sangat menyukai tempat ini, begitu juga Papa ... dan aku juga."


"Hm ..."


"Lanjutkan pertanyaanmu nanti," ujar Gian meminta Radha secara halus.


"Sebentar, Kak, beberapa menit lagi ya."


Ia ingin berdiam diri untuk sesaat, menghirup udara segar tanpa harus tercekik keadaan. Jujur saja, berada di tempat yang sedemikian indah namun di antaranya terdapat luka membuat Radha jelas tak baik-baik saja.


"Ayo masuk, Mama sudah menunggu," ujar Gian sebegitu lembutnya.


Dimana mereka tidur Jelita yang tentukan, tentu saja ada maksud lain dengan menempatkan Gian di kamar paling jauh dari mereka.


"Istirahatlah, istrimu terlihat lelah, Gian."


"Iya, Ma ... mungkin hingga sore dia akan terus menerus tidur."


"Iya, tak masalah, kesehatannya paling utama, Gian."


Mengapa harus sekarang, Haidar bahkan belum masuk ke kamarnya. Ya memang seharusnya ia paham hal semacam ini akan terjadi, dan lebih menyakitkan lagi kala Jelita berusaha membuat mereka seakan tengah berbulan madu.


Sungguh, Haidar sangat menyesal mendengar rencana kedua orangtua nya. Sebegitu inginkah Jelita mempunyai cucu hingga membuat Gian merasa terbebani dengan keinginan yang ia bahas di perjalanan.


Ia sempat menoleh sebelum benar-benar hilang, tatapan matanya sempat terfokus pada manik indah Radha. Ia paham istri kakaknya itu mungkin tak sengaja melihatnya, terbukti dengan secepat itu Radha mengalihkan pandangan dan tersenyum sembari menatap Gian.


"Ck, ayolah Haidar ... ini juga demi kebaikanmu, ini terakhir kalinya!! Mari nikmati."


Kalimat yang ia ucapkan untuk diri sendiri sebelum masuk ke dalam kamar. Karena di sore hari ia ingin ke suatu tempat, sendiri tentu saja.


Berbeda jauh dengan suasana hati Haidar, Gian tengah terlelap tenang di pangkuan istrinya. Apa itu istirahat, perintah Mamanya untuk membiarkan Radha tidur nyatanya tak ia realisasikan.

__ADS_1


Pada kenyataannya ia yang tertidur di pangkuan Radha, mungkin bantal yang tersedia tak menarik di mata Gian hingga lebih memilih pangkuan istrinya sebagai pengganti.


Hembusan angin yang mencuri kesempatan membuat Radha begitu damai, wajah tampan yang kini ia pandangi tengah tertidur pulas. Pria itu sempat bertanya apakah ia lelah, namun akhirnya ia lah yang kalah, pikir Radha sembari tersenyum tipis.


Rambut halusnya mempunyai daya tarik tersendiri bagi Radha, pria garang yang bahkan bisa segila itu karena hal kecil ini terlihat begitu lembut di mata Radha.


Deru napasnya teratur, dan keringat di keningnya ia usap lembut dengan telapak tangan. Tak bisa ia defenisikan, berada di dekat Gian membuat Radha begitu aman.


Entah sudah berapa lama, namun Radha tak merasa terganggu ataupun pegal sama sekali. Lelahnya seakan usai kala udara segar dan wajah teduh Gian menyatu dalam benaknya.


"Ajari aku cara mencinta tanpa menatap luka lain, Kak."


Ucapan itu terucap begitu saja, tanpa ia sadar namun hatinya megatakan demikian. Perasaan bersalah membuatnya bungkam, apa yang ia rasa pada Gian seakan terhalang.


"Ulangi."


Radha terperanjat kaget kala bibir prianya berucap namun matanya tetap terpejam. Ia salah bicara dan bagaimana setelahnya, Radha menelan salivanya pahit, kenapa juga tiba-tiba jiwanya jadi sok puitis sedemikian rupa, pikirnya.


"Kak?"


"Ulangi, Radha, apa yang kau ucapkan beberapa detik yang lalu."


Manik keduanya terkunci, Radha terdiam dan Gian menautkan alis lantaran apa yang Radha ucapkan membuat hatinya tak nyaman. Ia beranjak dan kini duduk tepat di hadapan Radha.


"Hm, coba katakan lagi, kau ingin Kakak mengajarkan apa padamu?"


"Cara ...."


"Baiklah kau tak perlu bertanya ulang, akan aku ajarkan tanpa kau minta, Zura."


"Ehm? Maksud Kakak?"


"Kau ingin tau caranya kan? Cintai aku dan abaikan luka yang kau maksud, semudah itu jika kau mau," ujarnya menatap tajam manik Radha yang kini terlihat takut.


Entah mengapa ia tak mampu membawa diri, cengkraman tangan itu mungkin terlalu menyakitkan dan membuat Radha meringis.


"Kau mau Kakak ajari dengan cara yang bagaimana?"


"Kak, sakit," keluhnya dan membuat Gian meregangkan cengkramannya. Ia memejamkan matanya kuat-kuat, entah apa yang salah, namun kalimat Radha begitu sensitif dan membuatnya marah begitu saja.


............ Bersambung

__ADS_1


__ADS_2