Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 207. Memperbaiki (Hubungan).


__ADS_3

"Ahahaha gila, hampir mati papamu, Gi."


Randy tak bisa menahan gelak tawanya, cerita Jelita yang baru saja ia dengar benar-benar membuatnya terhibur.


"Diam, Randy!!" teriak Jelita melemparkan bantalan sofa pada adiknya.


"Wajar Papa sampai demam di kantor, dia juga sering ngeluh telinganya sakit, ternyata karena Mama gigit." Gian tak mengetahui kejadian detailnya, karena Papanya juga tak menceritakan detail seperti Mamanya.


"Minta maaf, Kak, kurang ajar itu namanya, Ibu sama Ayah pasti marah di alam sana, bisa-bisa di cekek tau nggak." Randy tak membenarkan apa yang Jelita lakukan, karena bagaimanapun juga Raka adalah suaminya.


"Iya, Ma ... semarah-marahnya, harusnya jangan sekasar itu, Papa masih bugar, tampan lagi, dia selingkuh gimana." Bukannya membuat tenang, Gian membuat suasana semakin panas.


"Bela terus papamu itu, berani selingkuh Mama kebiri dia."


"Jangan dengar, Sayang, tidak baik di dengar istri lemah lembut sepertimu," tutur Gian menutup telinga istrinya, tak ingin Radha terkontaminasi buruknya sifat Jelita.


"Justru Radha harus dengar, suami seperti kalian perlu diberi pelajaran, jangan lemah, Ra."


"Wanita selalu benar, Gian ... sudah kau hati-hati sana, didik istrimu baik-baik ya."


Sengaja Randy ucapkan di depan sang kakak, karena Jelita memang luar biasa jika marah. Wanita ini tak tanggung-tanggung, sifatnya setia tapi sekalinya terluka dia segila itu.


"Maksudmu? Aku istri yang tidak terdidik, Randy?" Jelita menatapnya dengan tatapan menghunus dada, sungguh hal yang benar-benar menjadi ancaman baginya.


"Aku tidak bilang begitu, otakmu saja yang berpikir macam-macam."


Menyisakan Jelita dan Caterine yang kini masih duduk berdekatan. Drama rumah tangga memang tak seindah itu ternyata, Jelita menatap lembut keponakannya yang tampak bingung dengan keadaan, tak ada yang salah, akan tetapi memang apa yang Jelita lakukan tidaklah baik didengar oleh mereka.


"Menikah memang rumit ya, Tan, Papa sama Mama contohnya."


"Hm, tidak, Sayang ... tergantung dengan siapa kamu menikah, terkadang memang menyebalkan, karena tidak mungkin selamanya akan mulus begitu saja."


"Hm, seperti Radha kan contohnya? Dia berada dalam pelukan lelaki yang tepat," tutur Caterine menatap lembut Jelita.


"Iya, nanti kamu juga, Sayang."


Caterine tersenyum kelu, untuk apa dia membahas hal semacam ini. Sedangkan dirinya saja tak punya harapan untuk berada di titik itu. Menikah, sungguh hal yang paling tak ia impikan, bukan tak mau, tapi ia hanya merasa tak pantas.


"Mungkin, jika dunia masih menerimaku."

__ADS_1


Wajah Caterine secepat itu berubah, ia sakit, terluka dan perih terasa membelai dada. Namun Jelita menariknya dalam pelukan segera, memang tak seharusnya ia membahas hal ini di depan Caterine.


"Jangan begitu, kamu tidak melakukan kesalahan, tidak ada alasan dunia tak menerimamu, Cate."


"Tapi nyatanya memang begitu, siapa yang mau terima aku, dari mana aku bisa dapatkan pelindung seperti kak Gian dan Papa, tidak mungkin ada," ucap Caterine dengan sejuta kekecewaaan yang tergambar jelas dalam jiwanya.


"Suatu saat, jangan menganggap dirimu tak berarti, Sayang, kamu cantik bahkan hampir sempurna, bangkit dan nikmati duniamu, Caterine. Hidupmu masih panjang, masih banyak laki-laki baik diluar sana." Jelita tahu ketakutan Caterine, mungkin memang wajar ia rasakan, karena bagaimanapun juga apa yang ia terima benar-benar tak adil.


"Baik belum tentu tulus, Tante ... semua berawal dari kebaikan, tapi ternyata itu adalah awal dari kehancuran." Terlihat jelas bagaimana traumanya Caterine akan dunia yang sejahat ini padanya.


"Jangan pikirkan lagi, kamu masih punya masa depan, okay." Ia mengusap pelan punggung Caterine, karena sakit keponakannya sama saja dengan sakit anak-anaknya.


-


.


.


.


.


"Hai, Kak Rey ... sudah lama nggak ketemu, masuk dulu, Kak Gian masih sarapan."


"Apa dia masih lama, Nona?" tanya Reyhans sembari menatap jarum jam di pergelangan tangan kirinya.


"Hem, dia kesiangan soalnya, Kak, masuk aja, ada Papa juga."


Entah kenapa, ucapan Radha seakan menjadi perintah dan Reyhans turuti tanpa banyak berpikir apapun. Sebelumnya tak pernah ia menghampiri Gian hingga ke ruang makan, sudah cukup lama ia tak melakukan ini, mendatangi Gian secara sengaja karena kebiasaannya yang kerap mengulur waktu.


"Reyhans? Sudah sarapan?"


Baru saja hendak menyapa, Raka lebih dulu menyambutnya. Pria itu hanya mengangguk dan menghentikan langkah setelah jarak mereka cukup dekat.


"Bergabunglah, sepertinya kau semakin kurus saja, banyak pikiran, Rey?"


"Tidak, Tuan, saya baik-baik saja."


Gian tak ikut bicara, ia hanya berusaha menyelesaikan sarapannya yang sudah sejak tadi belum kelar juga. Meneliti Reyhans dari ujung kepala hingga kakinya, pria itu memang terlihat lebih kurus dari biasanya.

__ADS_1


"Kau sakit?" tanya Gian begitu saja, karena Reyhans dan dirinya hampir tiap hari bertemu, tapi tanda-tanda asistennya tak baik tidak pernah ia saksikan.


"Tidak," jawab Reyhans sedikit terkejut, pasalnya ini kali pertama Gian bertanya hal pribadi dan dengan nada bicara yang berbeda.


"Jangan berbohong, Reyhans ... wajahmu pucat, kau tau aku paling benci penipu kan, Reyhans?"


"Gi, jangan begitu caranya, jika memang ingin baik lakukan baik-baik," tutur Raka tegas namun terdengar lembut, meski Gian sudah amat dewasa, begitulah cara Raka menidik putranya.


"Maaf, Pa."


"Reyhans, duduklah, kau belum sarapan kan, om yakin itu."


Sedikit ragu, Reyhans sangat malu untuk kembali bergabung dalam satu meja dengan suasana yang begitu berbeda. Sempat ia rasakan suasana ini, tapi sudah bertahun-tahun yang lalu.


"Jika sakit jangan paksakan, Reyhans ... Gian, kau membuatnya lembur lagi?" Raka beralih pada putranya yang akhir-akhir ini memang kerap bolos kerja.


"Dia yang mau, Pa," jawabnya enteng, tanpa dosa dan seakan paling benar.


"Istirahat, Rey, dia jadi manja jika kau bersedia melakukan semuanya."


Reyhans menarik sudut bibir, memang Gian semena-mena akhir ini. Terutama setelah Radha hamil, bahkan mungkin berkali-kali Gian menyertakan alasan istriku hamil dan itu harus Reyhans maklumi.


"Kau mentertawakan aku, Reyhans? Berani sekali."


"Tidak sama sekali, percaya diri sekali," ujar Reyhans yang membuat Gian memutar bola matanya malas, kembali meraih selai yang sudah sangat tebal di rotinya.


"Gian, kau makan apa sebenarnya? Roti pakai selai, atau selai pakai roti?" Raka tak habis pikir kenapa putranya ini kian menjadi-jadi.


"Enak, Pa, manis."


"Terserah kau saja," ujar Raka menyerah, mau apa putranya ini dia takkan melarangnya.


Radha yang telah selesai dengan kegiatannya kini turut bergabung ke meja makan, bukan untuk sarapan melainkan menyiapkan susu hangat untuk Reyhans. Dan niatnya itu ditangkap oleh Gian sebelum terjadi, sudah jelas takkan ia izinkan.


"Biar Kakak, kamu duduk sana, capek kan abis siram-siram."


Raka menggeleng, putranya tengah dimabuk asmara hingga hal semacam ini tak rela jika istrinya yang melakukan. Untuk pertama kali, Gian menyiapkan hal semacam ini untuk Reyhans.


"Jangan senang dulu, aku hanya terpaksa."

__ADS_1


"Terima kasi walau terpaksa," ujar Reyhans menjawab ucapan Gian.


🌻


__ADS_2