Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 188. Sadar Posisi (Karma Perlahan)


__ADS_3

Jauh berbeda dari Radha yang setiap hari merasakan kasih sayang Gian yang kian bertambah, kini Celine tengah merutuki nasibnya yang dibuat malu lantaran sang papa memblokir semua kartu kreditnya.


"Ays!! Ini semua pasti gara-gara Radha ... awas aja kalau ketemu."


Wanita itu kini mengepalkan tangan, tak peduli dengan tatapan aneh yang kini tertuju padanya. Niat hati ingin menenangkan diri dengan berbelanja barang mewah, kini Celine semakin kacau saja.


"Aaaaarrrggghhhh Papa!!!"


Benar-benar tak peduli situasi, orang-orang mungkin akan menganggap dirinya gila. Dan dia sama sekali tak peduli, karena bagi Celine, tak ada yang lebih penting selain dirinya di dunia ini.


Mau kemana dirinya sekarang, tak punya pilihan lain, Celine akan ke rumah sakit untuk menemui Ardi. Karena sejak tadi baik Ardi maupun Dewi sangat sulit dihubungi.


Dengan kecepatan tinggi, Celine melaju menuju rumah sakit tempat papanya bekerja. Tak peduli meski sudah Ardi larang berkali-kali karena memang akan menganggu jam kerjanya.


Tak butuh waktu lama bagi Celine, karena memang jarak rumah sakit tak terlalu jauh. Belum lagi kecepatannya juga tak main-main, wajah Celine masih merah padam, ingin ia amuk papanya itu saat ini juga.


Selama ini Ardi tak pernah membatasinya, bahkan semua yang ia minta dengan mudah Ardi berikan. Lantas kenapa perlahan Celine merasa seakan kehilangan sosok papanya.


Dengan langkah panjang ia menuju ruangan papanya, penampilannya yang memang cukup elegan membuat Celine dikagumi sekali pandang.


"Pa!"


"Celine!"


Ardi terkejut, kedatangan putrinya yang tiba-tiba membuka pintu dengan kasar dan suara cukup keras membuatnya naik darah.


Tak pernah ia membentak Celine sebelumnya, tapi kini memang dia yang benar-benar di luar batas.


"Kenapa? Bukankah Papa bilang jangan kemari di jam kerja, Nak."


"Kartuku, Papa yang blokir? Kenapa?!!"


"Hm, kenapa memangnya?"


"Kok tanya kenapa, Papa yang harusnya jawab bukan balik tanya!!"


Ardi memejamkan mata, kepalanya terasa sakit mendengar suara putri tirinya. Nampaknya keputusan Ardi sudah sangat benar, bahkan disaat ia memberikan teguran seperti ini, bukannya sadar malah Ardi yang menjadi bahan amukannya.


"Celine, tagihan kamu bulan lalu sangat besar, entah kamu gunakan untuk apa, tapi Papa masih tahan dan berharap memang kamu punya kepentingan mendesak, dan bulan ini ... kamu melakukan hal yang sama, bahkan dua kali lipat dari sebelumnya."


"Tapi kan biasanya Papa nggak pernah perhitungan sama aku? Kenapa Papa membatasi kesenanganku," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf, Celine ... tapi memang Papa harus tegas kali ini."


"Tegas? Bilang aja semua ini karena Radha kan!! Papa pilih kasih, dia tidak pernah diperlakukan seperti aku, Papa memberikan dia kebebasan dan sama sekali tid...."


"Diam, Celine!!"


Ardi berada di puncak amarahnya, emosi yang sejak beberapa waktu itu tertahan kini keluar juga. Bagaimana Celine masih membandingnkan dirinya bersama Radha yang nyata-nyata tak Ardi perhatikan sejak dahulu.


"Papa? Papa bentak aku lagi?"


"Iya!!! Kamu bisa dengar kan, selama ini apa Papa pernah marah sama kamu? Tidak kan!" Napas Ardi kini memburu, sebisa mungkin ia tahan agar tangannya tak menyakiti Celine.


"Radha, sejak dahulu Papa selalu berusaha agar kamu tidak cemburu dan merasakan kasih sayang Papa. Tapi sepertinya, cara Papa justru membuat kamu berkuasa dan lupa posisimu seharusnya," lanjut Ardi.


Dada Celine terhenyak, sebelumnya Ardi tak pernah marah sama sekali padanya. Dan memang, perihal cemburu Ardi selalu berusaha agar ia bisa berlaku sama, dan tanpa sadar bahwa sesungguhnya yang ia sakiti adalah putri kandungnya.

__ADS_1


"M-maksud Papa apa?"


"Aku rasa kamu sudah cukup dewasa untuk paham ucapan Papa, berhenti merengek dan meminta selalu diperlakukan istimewa ... yang Papa pikirkan bukan hanya tentang kamu saja."


Tak bisa berkata-kata, Celine hanya mampu menatap kepergian Ardi dari ruangan dengan air mata yang kini mengalir tiada habisnya. Tak pernah ia duga, jika hari ini akan terjadi dalam hidupnya.


"Aaarrrggghh!!! Papa!!"


-


.


.


.


.


"Mas, kamu keterlaluan!! Dimana letak hati kamu? Celine masih kecil, Mas!!"


Ardi menghela napas kasar, kini istrinya semakin membuatnya kacau. Sepertinya Dewi telah bertemu putrinya hingga saat ini ia bahkan meninggalkan pasien untuk sementara.


"Keterlaluan apa? Putrimu yang keterlaluan."


"Mas, hanya materi tapi kamu sampai menyakiti dia, kamu lupa janji kamu sewaktu menikahi aku?"


"Janjiku hanya menjadi ayah yang baik untuknya, bukan berarti membebaskan melakukan segala hal semau dia."


Dewi menghela napas pelan, memang Ardi perlahan berubah. Bahkan perlakuannya tak manis lagi, terutama sejak pesta ulang tahun Celine, perubahan itu kian terlihat.


Radha, seakan nama putrinya benar-benar menjadi pengganggu bagi hidup mereka. Kenapa Ardi tak bebas hanya untuk menyayangi putri kandungnya, sungguh diluar nalar.


"Kenapa dengan putriku?"


"Mas, semenjak Radha menikah aku melihat kamu berubah, memangnya apa yang dia katakan sampai kamu jadi seacuh ini padaku dan Celine?"


"Tidak ada hubungannya, aku menyayangi putri itu hakku, dan kalaupun kamu merasa aku berubah, mungkin otakmu saja terlalu drama."


Tidak, ini bukan drama. Bagaimana Ardi terhadapnya memang sangat berbeda, Ardi bahkan tak segan mengatakan hal-hal yang menyakitkan bagi Dewi sebagai istrinya.


"Aku harus bertindak sebelum terlambat," tutur batin Dewi menatap suaminya yang kini masuk mobil tanpa peduli dengan dirinya, jika biasanya mereka kerap pulang bersama kini tidak demikian.


-


.


.


.


Drrt Drrt Drrt


"Kak, siapa yang telpon?"


"Hm, nanti .... jangan bergerak."


Dalam pelukan Gian, Radha bahkan tak bisa bergerak. Dan posisi mereka sejak usai makan siang tetap seperti ini, suaminya tampak benar-benar nyaman bahkan tak ada keinginan untuk lepas walau sejenak.

__ADS_1


"Tapi siapa tahu penting, Kakak ... ayolah."


"Ck, alasan, kau mau kemana memangnya?"


Gian sadar jika istrinya ini tengah mencari cara untuk bisa lepas darinya. Ia belum puas, dan mungkin takkan pernah puas, mencium pipi istrinya menjadi candu seakan menjadi oksigen yang Gian perlukan setiap detiknya.


"Nggak kemana-mana, tapi itu angkat dulu, nanti penting."


Pria itu sangat amat malas, ia merogoh ponselnya sedikit tak ikhlas. Siapa yang berani mengganggu kesenangannya, pikir Gian.


"Hah? Papa?"


Matanya membulat sempurna, ada apa Ardi menghubunginya tiada henti sejak tadi. Meski hanya mertua, tetap saja Gian gugup karena memang ia sedikit kurang ajar.


"Ha-hallo, Pa," sapa Gian dengan sopannya, sedikit menjauh dari Radha berharap agar tak malu jika nanti Ardi memakinya.


"Ck, dari mana saja kau?! Telingamu itu kemana, Gian?"


"Ada, Pa ... dua kiri kanan," jawabnya asal tapi memang benar adanya.


"Zura bersamamu? Kenapa nomornya tidak bisa hubungi, Gian?"


"Iya, Pa ... dia ada bersamaku, lowbat mungkin, Pa, Papa tau sendiri putri papa semalas apa," ucap Gian yang dapat Radha dengar secara nyata.


"M-malas? Malas apanya, Kakak yang gak kasih HP aku, Pa." Tanpa kabel, tapi Radh Tetap berniat menyambung pembicaraan mereka.


"Apa katanya, Gi?"


"Ah, tidak, Pa ... dia bilang mau ganti HP, istriku sekarang banyak mau, Pa." Ternyata hobi Gian selain sembarangan memukul, juga sembarangan memfitnah.


"Bohong, Pa, aku tid ... Mmmpph."


"Sssstt," tutur Gian sembari menutup mulut Radha dengan telapak tangannya cukup kuat.


"Kalian sedang apa?"


"Biasa, Pa ... mengertilah ya, Papa juga kan pernah muda."


Mulutnya yang kini masih bungkam, namun hatinya mencaci maki Gian. Kenapa suaminya ini benar-benar membuatnya gila, lulus sekolah saja belum tapi Radha merasa dirinya dewasa terpaksa karena menikah dengan pria cabul seperti Gian.


"Issh!! Dasar cabul." Sambungan telepon telah terputus, dan kini Radha tengah emosi tingkat dewa lantaran Gian membuatnya bahkan malu jika harus bertemu papanya.


"Cabul apanya cabul? Kamu juga seneng Kakak cabulin."


"Eewwwwhh, cuci muka sana!! Biar segeran dikit!" Sedikit kesal lantaran Gian justru semakin tak mau melepas pelukannya, ingin rasanya mata Gian ia colok saat ini juga.


"Cuciin dong, sekalian cuci yang lainnya."


"Ogah, minta Kak Rey sana."


"Maunya kamu gimana, Ra."


"Tapi aku yang gak mau, sumpah Kakak sanaan dikit, sesek akunya."


"Apa iya?" Bukannya sadar, Gian malah semakin mengeratkan pelukannya, sepertinya pengaruh tak punya adik perempuan juga menjadi alasan Gian seakan tak pernah merasakan hal ini.


Babay, maaf baru sempet🌻

__ADS_1


__ADS_2