Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Kau Yang Menginginkannya.


__ADS_3

Dan nyatanya benar, pria itu memang pergi dan mencoba usai dengan lukanya. Luka di tangannya belum membaik, dan Rury kini menyambutnya dengan wajah penuh kerinduan.


Gian menatap punggung adiknya yang kian menjauh, Haidar tak bercanda dengan ucapannya. Tubuh tinggi dengan jaket yang begitu pas di tubuhnya membuat pria itu terlihat begitu sempurna.


Begitu singkat, bahkan tak ada ucapan selamat jalan dari Radha, ia kini masuk ke mobil usai menganggukkan kepalanya. Entah apa yang Gian katakan, yang jelas itu adalah kalimat yang menjadi salam perpisahan baginya untuk sang Adik.


"Dia masih sama," ujar Gian menatap jauh kedepan.


Baru saja hendak erat, namun Haidar melepas dirinya sendiri dan tak ingin bersama lebih lama lagi. Semua harus berjalan dengan baik, menjalani kehidupan sesuai dengan posisinya dan tak menyiakan waktu hanya untuk hal yang tak bisa menjadi miliknya.


"Om nggak punya rencana ikut Haidar?"


Randy mencebik, lamunannya yang belum jauh terpaksa usai lantaran ucapan Gian yang spontan seakan mengusirnya segera. Walau itu bercanda, tetap saja yang Haidar rasakan itu nyata.


Sebagai saksi interaksi mereka yang kadang hangat namun terkesal sedikit menyebalkan membuat Radha mengukir senyum berkali-kali. Menyadari bahwa Haidar kini memilih pergi, sebenarnya ia sedikit tak enak hati.


Keyakinannya akan hancurnya Haidar adalah akibat takdir mereka masih membekas dalam batin Radha. Namun yang ia jalani kini berbeda, sosok pria yang berada di sisinya lebih berharga dari sejuta kenangan yang dulu pernah ada.


"Zura, kamu mikirin apa?"


"Tidak, Kak ... apa aku terlihat begitu?"


Gian mengangguk, ia tersenyum dan meraih jemari istrinya begitu lembut. Adegan merusak mata mulai terjadi, dan Randy tak ingin kena serangan jantung jika kedua insan ini akan bermesraan di depannya.


"Sayang, aku cemburu."


"Cemburu?"


"He'em, kenapa kamu cuma kasih Haidar kalung itu."


Randy menjulurkan lidahnya, sungguh ia benar-benar mual mendengar suara Gian yang kini persis anak bayi. Cemburu terhadap apa dan prihal apa, yang ia rasa kini hanyalah geli.


"Itu kan sudah lama, Kak ... bahkan aku lupa kapan aku memberikannya," tutur Radha selembut mungkin.


"Benarkah? Kau bahkan lupa tentang benda sialan itu?"

__ADS_1


Wanita itu mengangguk berkali-kali. Senyumnya begitu meyakinkan dan membuat Gian terlampau gemas hingga mengecup bibir ranum itu tanpa aba-aba.


"Ays, Kakak!!"


"Awww, sakit, Ra."


Mukanya kini memerah, serangan Gian yang tiba-tiba membuat Radha salah tingkah. Keberadaan Randy yang tak jauh dari mereka menjadi alasannya, wanita cantik itu mencubit perut suaminya hingga pria itu meringis.


"Dasar kampret, kalau saja tidak babak belur harusnya aku sudah ke Paris saja."


Ocehan Randy terdengar jelas dan tak membuat Gian berniat peduli sedikitpun. Dengan santainya kini pria itu menggendong istrinya dan melewati Randy seakan patung tak berguna.


"Pamer aja terus!!"


"Nikah makanya, iri itu dosa, Om."


"Wajar saja Jelita dulu ngidam yang tidak masuk akal," tutur Randy menggeleng mencoba pasrah dengan kelakuan Gian.


******


Radha menahan tangan suaminya yang kini mulai lancang membuka kemeja. Baru juga usai sarapan, dan rambutnya bahkan masih basah. Kini pria itu berani menggoda setelah sejak tadi pelan-pelan merayunya.


"Mau apa lagi memangnya, hm?"


Ia menarik sudut bibir, menatap lekat istrinya dan berhenti sejenak menunggu jawaban Radha. Wajah panik Radha tertangkap jelas dan Gian semakin merindukannya.


"Kakak, ini masih pagi," bisiknya menekan kalimat begitu dalam, mereka tak sendiri di sini, ada Randy yang Radha sangat yakin pria itu takkan pergi hari ini.


"Memangnya kenapa?"


"Kita tidak sendiri di sini."


Semakin panik kala satu kancing kemejanya telah berhasil Gian buka. Senyum licik pria itu membuatnya takut, dan kesal tentu saja.


"Terserah, Om Randy tidak mungkin menguping, Zura."

__ADS_1


"Ya tapi tetap saja aku malu, seperti tidak ada waktu lain saja."


Ia menahan dada Gian yang semakin dekat saja, berusaha mempertahankan diri dari pria itu. Tak peduli bagaimanapun akhirnya, berusaha lebih dahulu adalah pilihan terbaiknya.


"Bentar aja," tawarnya mengedipkan mata, Gian tak mau mengalah begitupun dengan Radha.


"Ck, bohong!! Mana ada bentar, Kakak kira aku sebodoh itu?"


Ia menggeleng pelan, tak ingin terjebak dalam jebakan Gian di balik kata sebentar. Ia tak ingin menyesal seperti tadi malam, sebentar versi Gian adalah waktu yang cukup untuk menonton drama lebih dari satu episode.


"Hahah, ini beda ... janji," rayunya lagi sembari menautkan jemarinya sedikit memaksa.


Radha diam, nampaknya memang ia takkan bisa lepas. Gian mengunci tubuhnya bahkan untuk bergerak saja ia sulit, tidak ada anggukan ataupun kalimat yang memberikan izin, dan sepertinya ia tak butuh itu saat ini.


Baru saja beberapa menit, Gian kembali memulai aksinya. Wanitanya hanya memejamkan mata di bawah tekanan Radha harus rela tentu saja. Gian tersenyum tipis kala Radha mulai menunjukkan keinginan yang sebenarnya ia tutupi.


"Dasar jual mahal," bisiknya tertawa sumbang yang membuat Radha memerah bak kepiting rebus.


"Dasar begok!! Gue kesurupan apa?!!" Radha membatin sembari mengutuk dirinya kala tak mampu menutupi bahwa jiwanya menginginkan hal yang sama seperti Gian.


"Lanjut?" tawarnya sengaja berhenti sejenak, yang ia inginkan kini adalah Radha yang meminta sendiri.


Tak ada jawaban, Gian hendak menjauh namun naluri yang ada dalam benak Radha keluar tanpa ia mau. Dengan begitu kuatnya, Radha menarik kemeja Gian dan meminta suaminya untuk tetap bersamanya.


"Kenapa?"


"J-jangan pergi," tuturnya meyembunyikan wajah di dada bidang suaminya, dan kini senyum kemenangan tergambar di wajahnya.


"Baiklah, kau yang memintaku, Ra."


Bersamaan dengan matahari yang kian meninggi, kamar yang tak begitu luas dan liburan tak sengaja yang mereka lalui menjadi saksi tumbuhnya benih cinta secara nyata dalam ikatan sucinya.


Mencapai tujuan yang sama, tubuhnya kembali basah dan sudah tentu membuatnya harus mandi untuk kedua kali pagi ini. Sedikit heran namun cara Gian yang mencintai begitu dewasa membuat Radha harus membalasnya sedemikian rupa.


🌚🌚

__ADS_1


__ADS_2