Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 273.Seperti Kemarin.


__ADS_3

Dua hari berlalu, dan Gian masih tidak tahu apa-apa. Pria itu mulai menaruh curiga lantaran Jelita selalu menghabiskan waktu di kediaman Randy. Meskipun kembali lagi, selama bukan Radha yang di sana maka Gian tak terlalu peduli.


BRAK


"Aku tidak tau kalau, Gian ... maaf, aku juga sudah menyampaikan hal ini pada mbok Yati."


Ya, siang ini adalah hari Gian kembali masuk kerja. Setelah meminta waktu untuk memulihkan kembali tubuhnya, Gian kembali datang dengan kuasa dan sejuta dendam terpendam pada Reyhans.


"Kenapa juga bisa salah orang? Kau ini bagaimana?!!"


Itu diluar kendali Reyhans, jujur saja mendengar pengakuan Yati, dia sedikit terkejut. Dia tidak mengira hal semacam ini akan terjadi, dan sama sekali tak terpikirkan oleh Reyhans jika kejadian semacam ini akan terjadi pada bosnya.


Sudah hampir 30 menit Reyhans tertahan bak siswa yang tertangkap guru BK. Sungguh malang nasibnya, dia yang menginginkan Gian baik-baik saja, ternyata justru semakin parah.


"Wanita itu, apa perlu aku penjarakan, Rey?"


Dendam, mengetahui bahwa wanita yang memijatnya bukanlah seseorang yang Reyhans maksud, Gian benar-benar dikuasai emosi.


Tatapannya sungguh tajam, dan Reyhans merasa bersalah namun dia juga bingung karena sejak tadi sudah meminta maaf namun tidak juga Gian maafkan.


"Aku serahkan padamu, tapi apa kau tidak malu jika nanti kasus ini terkuak media? Lalu muncul berita CEO Wijaya Group menjadi korban pelecehan tukang pijat, kau mau, Gian?"


Merinding, Gian bergidik mendengar kemungkinan yang diberikan Reyhans. Dasar pria gila, andai kata memang benar seperti itu, alangkah malunya Gian.


"Sialan, kau mengancamku?"


Reyhans menggeleng, ia hanya bicara kebenaran. Karena memang dirinya khawatir akan terjadi hal semacam itu dan dia tidak akan mau menjadi sasaran Gian melemparkan kesalahan untuk kedua kalinya.


"Ck, awas saja wanita itu ... aku kejar sampai ujung dunia," ujar Gian begitu yakin dengan tekadnya.


Karena jika hanya lolos-lolos saja, Gian tak sudi. Begiru banyak kerugian yang ia rasa, membayar jasa itu tak murah, belum lagi tubuh Gian yang digerayami sesuka wanita itu dan justru menimbulkan sakit yang bertshan hingga berhari-hari.


"Sekali lagi, aku mohon maaf, Gian."


Pada akhirnya tetap Reyhans yang merasa salah. Karena semua memang berawal darinya, walau memang kemarahan Gian padanya terdengar tak masuk akal lagi.


Beruntung Gian tak membuat keputusan yang merugikan dirinya. Reyhans menghela napas lega kala Gian mengizinkannya untuk kembali ke ruangannya.


"Aaakkkhh, kenapa semua membingungkan sekali."


Merasa semua orang yang ada di sini tidak ada yang sehat, Gian meraih ponselnya. Menghubungi Radha memang obat dari segala obat.


"Lama sekali, dia sibuk terus sekarang," gerutu Gian tak terima, kesal lantaran Radha tak langsung megangkat teleponnya.


Hingga mulutnya berhenti mengomel begitu wajah Kalila terpampang nyata di layar ponselnya.


"Hai, Sayaang ... mama mana?"

__ADS_1


Meski Gian tahu, sudah tentu Radha berada di sisi putrinya. Biasalah basa basi paling nyata yang kerap Gian lakukan Pada Radha.


"Kenapa? Lagi nggak sibuk ya?"


Radha bertanya, akan tetapi Kalila tak mengizinkan ada wajah lain di sana. Ia hanya ingin dirinya seorang yang berada terlihat oleh sang papa.


"Enggak, Sayang Papa mau liat mama? Ih Kalila, muka kamu semua di sini," ujar Gian berharap putrinya mngerti.


Aakan tetapi bukannya mengerti Kalila justru menempelkan ponsel itu ke wajahnya, hingga yang ada hanya gelap dan Gian tak bisa mendengar dengan jelas lantaran suara Kalila yang tak jelas itu lebih besar daripada suara Jelita.


Tiada kalimat yang bisa Gian dengar, yang ada hanya hembusan napas Kalila. Dan itu cukup memekakkan telinga.


Cukup sabar dia menunggu, hingga Radha berhasil merayu putrinya. Perihal ini saja mereka butuh waktu lama, baik anak maupun orang tua sama saja.


"Kakak belum makan? Mau pulang atau dianterin makanannya?"


Radha memberikan penawaran emas yang tentu saja dia akan menerimanya. Hal paling membahagiakan yang harus segera ia dapatkan. Di rumah itu ada Haidar, dan fakta itu saja sudah membuat Gian ketar ketir, padahal di antara mereka sudah sedamai itu dengan keadaan sekarang.


"Anterin, kamu tapi yang anterin."


Radha mengangguk, melakukan hal semacam ini tak terlalu sulit. Kalaupun masalah kedua buah hatinya, Asih bersedia jika hanya menunggu beberapa waktu saja.


"Jangan lama ya, minta anterin pak Budi ... awas sembarangan nyetir sendiri."


Hal yang kini Gian hindari, istrinya mulai berani keluar sendirian tanpa sopir. Dan Gian tahu bagaimana kemampuan Radha, walau memang tak seburuk itu tetap saja Gian pernah panik luar biasa ketika Radha yang berkendara.


"Iya, tunggu 15 menit lagi, aku siap-siap."


Gian mengiyakan, sementara Radha bersiap dia bertanya banyak hal pada putrinya. Entah Kalila mengerti atau tidak, namun yang jelas putrinya itu tak berhenti berceloteh panjang lebar pada sang papa.


-


Jauh dari keberadaan Gian, suasana rumah Randy semakin menunjukkan tanda bahwa sebentar lagi pria itu akan menikah. Randy yang menikah, tapi putri dan kakak perempuannya yang heboh.


"Ck, kalian berlebihan sekali ... aku rasa tidak perlu begini."


Randy merasa keberatan, akad nikah saja belum tapi Jelita dan Caterine sudah mengatur rencana bulan madu untuk mereka. Membahasanya membuat Randy malu, yang mana setiap mereka membahas itu, Randy justru membayangkan wajah cantik Hulya yang kini belum diperbolehkan untuk bertemu dengannya.


"Ih Papa, biar enak ... bagi Papa mungkin pernikahan kedua, tapi kan bagi Kak Hulya ini pertama," cecar Caterine tak terima lantaran Randy menyepelekan rencananya.


"Mama, Caterine ... bukan kakak."


Randy menyahut secepat itu, sejenak mereka terdiam dan saling melirik. Mereka tak salah dengar bukan? Randy mengingatkan Caterine perihal panggilan untuk Hulya, calon istrinya.


"Iya, Mama Hulya."


Caterine tengah mengejek Randy, belum juga resmi menjadi istrinya tapi sudah menganggap bahwa Hulya bagian dalam hidupnya.

__ADS_1


"Kakak kenapa liatin aku? Aku aneh atau kenapa?"


Hari-hari Randy dihabiskan dengan salah tingkah, besok adalah harinya, akan tetapi pria itu sudah berulang kali latihan untuk akad berharap tidak akan terjadi kesalahan esok hari.


"Nggak, seneng aja karena malam besok kamu nggak tidur sendirian lagi."


Jelita siallan, saat ini wajah Randy merah merona semakin merah. Kenapa juga Jelita terus menerus megejeknya. Dirinya sudah gugup luar biasa, semakin dibuat gugup karena candaan sang kakak.


-


"Selamat siang, istriku."


Di kantor, suasana kini semakin berbeda. Karyawan yang sudah mengenal Radha menyambut mereka dengan begitu hormat. Bukan hanya karena Radha istri dari Gian, akan tetapi Radha memang patut dihormati bagi mereka.


Gian beranjak dari kursi kekuasaannya, menyambut wanita cantik itu dan tentu saja harus mengecup keningnya setiap awal pertemuan.


"Kakak nunggu ya?" tanya Radha menatap manik berbinar itu, kasian saat ini seisi rumah tengah membohonginya, mungkin hanya Kalila dan Kama yang tidak, akan tetapi mereka tidak bisa menyampaikan berita itu pada Gian.


"Enggak kok, kamu sama siapa?"


"Pak Budi," jawab Radha singkat. Tak menunggu lama, Gian yang sudah lapar menarik istrinya pelan untuk segera membuka bekal makan siang.


"Kamu belum makan kan? Makan sama-sama ya," ujar Gian yang sebenarnya tak peduli Radha sudah makan atau belum, yang jelas dia ingin makan siang bersama istrinya kali ini.


"Udah, Kakak aja ... aku udah kenyang," jawab Radha yang membuat Gian menatapnya datar, tatapan tajam yang kini justru membuat Radha geli, bukan takut seperti dulu.


"Buahahah kan emang kenyang, masa mau dipaksa."


Radha terbahak, suaminya terlalu lawak dan pria itu memperlihatkan betapa kesalnya ia begitu Radha menolak tawarannya.


"Dikit aja, masa nggak mau," pintanya lagi, berbagi suap adalah hal yang Gian sukai, ada kepuasan dalam dirinya begitu Radha menerima suapan darinya.


Tak punya pilihan, Radha hanya bisa menerima. Karena pria ini cukup sensitif dan biasanya akan terluka jika Radha tak melakukan maunya, hati kapas memang.


"Sayang, Kama sama Kalila yang jagain siapa?" tanya Gian, baru sadar jika istrinya di sini, lalu kedua buah hatinya bersama siapa.


"Kalila sama bi Asih, kalau Kama sama kak Haidar." Radha menjelaskan apa adanya, karena memang sebelum dia pergi Haidar meminta izin untuk menjaga Kama.


"Haidar saja, tidak ada kakak di depannya, dia adikku ... berarti adikmu juga."


Sudah berulang kali, akan tetapi dengan alasan takut tak sopan dan sudah terbiasa begitu, Radha tak bisa mengubahnya dan tetap memanggil Haidar dengan sebutan kakak.


"Iya, maaf, aku tidak biasa, Kak."


Gian hanya mengangguk, sudah menjadi kebiasaan Gian protes hanya karena masalah sepele. Ia tak suka, karena panggilan itu hanya boleh untuk dirinya, tidak untuk siapapun.


"Buka mulutmu," titah Gian yang kini menyuapi istrinya, dia yang minta untuk diantarkan bekal makan siang akan tetapi justru Radha yang harus makan.

__ADS_1


__ADS_2