Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
BAB 193. Penting (Jika Perihal Kamu)


__ADS_3

Hanya butuh waktu sebentar, suaminya itu kini terlelap damai. Dengan lengan yang ia gunakan untuk menutup matanya, wajah Gian terlihat sangat sempurna di mata Radha.


Ia menopang dagu, sudah beberapa menit ia menghabiskan waktu untuk menikmati ketampanan Gian. Sejak dulu ia tak terlalu memperhatikan kesempurnaan yang kini menjadi miliknya, wajar saja Helena berubah menjadi ulat nangka jika membahas Gian.


"Cakep banget si, tapi banyak mau."


Radha tertawa renyah, ini adalah kesenangan baginya. Karena biasanya hanya Gian yang kerap melakukan hal sebaliknya.


Dirgantara Avgian, adalah anugerah Tuhan yang paling indah bagi Radha. Takdir mereka cukup unik, berawal dari perhatian Gian yang ia ketahui sebagai calon iparnya, nyatanya justru menjadi suaminya.


Perubahan sikap, hati serta perasaan Gian seakan menjadi hal yang bertambah baik setiap harinya. Rasanya memberikan perasaan yang sama belum cukup untuk Gian, bukti cinta yang bisa Radha tunjukkan mungkin hanya dengan memberikan apa yang Gian inginkan, anak terutama.


"Tapi aku masih kecil, Kak, sakit perut aja aku nangis."


Jujur, ia benar-benar ragu jika harus menerima kenyataan kalau terlambat datang bulannya kali ini benar-benar hamil. Ia hanya tak bisa membayangkan bagaimana nanti Gian jika sudah memiliki belahan jiwa selain dia.


Radha belum puas menjadi ratu dan diperlakukan layaknya tuan putri oleh Gian, baru beberapa bulan dan ia masih ingin menikmati masa itu untuk saat ini.


"Kalau nanti punya anak, Kakak pasti lebih sering manjain anak, Papa aja sampai lupa sama anaknya gara-gara dapat anak baru."


Berucap sangat kecil, kebebasan, perhatian Gian, berubahnya bentuk badan dan hal-hal semacamnya menjadi alasan Radha belum mau memiliki anak.


Tanpa ia tahu, jika sejak tadi apa yang ia ucapkan terdengar jelas oleh Gian. Pria itu masih bertahan dengan posisinya, sama sekali ia tak tidur lantaran Radha terus saja menyentuh wajahnya.


Gian tak punya pilihan untuk saat ini, karena memang sejak tadi Radha tampak sedikit murung jika dia membahas anak. Ia paham, istrinya ini butuh kasih sayang untuk waktu yang lama. Akan tetapi, tak dapat Gian pungkiri jika dia menginginkan putra.


Merasa Radha beranjak dari tempat tidur, Gian membuka matanya perlahan, menyaksikan apa yang kini istrinya lakukan.


Meski sedikit egois, tapi Gian tak sama sekali menyesali perbuatannya. Tak sedetikpun ia lepaskan istrinya dari pengawasan, nampaknya Radha bernapas lega usai menghitung jumlah obatnya.


"Apa yang kamu lakukan, Radhania ... membohongiku adalah hal yang justru membuatmu jatuh dalam jebakanmu sendiri."


Masih pura-pura tidur, istrinya itu kembali usai menyembunyikan benda itu kembali ke tempatnya. Senyumnya terbit, mungkin sedikit tenang lantaran ketakutannya tidak terjadi.


"Oke, bisa dipastikan gue nggak lupa, mungkin gue capek karena mau datang bulan kali ya. Telat semingu dua minggu juga gue sering," tuturnya menenangkan diri.


Radha lupa jika keadaannya berbeda. Jika dahulu mau dia telat satu bulan pun memang tak mengapa karena tidak melakukan hubungan dengan lawan jenis, sekarang jelas berbeda.


Akan tetapi ia tak ingin ambil pusing, toh dirinya juga tidak mual-mual seperti tanda yang kerap ibu-ibu hamil rasakan. Kembali ia menghampiri Gian yang masih terpejam, dengan santainya ia menarik lengan kanan Gian untuk dijadikan bantalnya.


"Ah, nyamannya."

__ADS_1


Pelukan Radha yang tiba-tiba dapat Gian rasakan, ingin ia balas namun takut nanti Radha akan berpikir macam-macam tentangnya.


"Aakkhhh!!"


Sakit sekali, namun Gian hanya bisa diam kala kaki istrinya juga turut naik di atas tubuhnya. Masih menjadi pertanyaan sebenarnya Radha hanya berniat memeluk atau balas dendam, pikir Gian.


-


.


.


.


Menjelang sore, Gian bangun lebih dulu dan ia tatap istrinya masih lelap di lengannya. Tangan Gian rasanya sangat keram, bahkan sulit di gerakkan. Namun adanya Radha yang tampak lelap tak tega jika harus ia bangunkan.


Bersabar menanti, dengan wajah yang sedikit meringis menahan sakit. Gian kini merogoh ponsel di saku celakanya, jelas ingin mengetahui perkembangan ataupun membaca pesan dari Reyhans.


"Dasar anak jin!!"


Mata Gian membulat sempurna kala menatap notifikasi di bagian atas layar ponselnya. Randy semarah itu hingga berani memakinya. Mungkin akibat ulah Gian beberapa jam lalu yang membuat Randy murka.


"Santai, Om ... kenapa memangnya?"


Randy membalas pesan Gian dengan amarah membuncah, tak lupa ia mengirimkan bukti foto wajahnya dengan bekas tamparan yang cukup merah. Sepertinya sangat sakit dan panas.


"Hahah kenapa wajahmu, Om?"


"Papamu menamparku ketika aku masuk ruangannya, memang kau benar-benar gila, Gian!!"


"Hm, jika tidak begitu Papa tidak akan mengetahuinya langsung."


Jebakan yang berikan tepat sasaran, memang itu rencananya. Dan Gian sadar imbasnya mungkin Randy terkena amukan Raka karena menutupi hal itu sendirian dan menganggap semua tak ada masalah.


Meski demikian, bukan berarti Gian ingin Randy dihajar Raka, akan tetapi cara Randy yang menyembunyikan masalah bukanlah hal yang tepat, itu saja.


"Eenggh," lenguh Radha yang mungkin sedikit terganggu dengan tawa Gian yang sebenarnya tak begitu besar.


"Sayang? Kamu bangun?"


"Kakak ngetawain siapa? Aku ya?"

__ADS_1


Matanya sangat merah, wajahnya terlihat marah dan Radha menatap suaminya malas.


"Bu-bukan, Om Randy, Ra ... udah sini, lanjut tidurnya."


Tak ingin membuat masalah, Gian menjauhkan ponselnya. Ia kini fokus pada istrinya yang terlihat marah. Kepala Radha terasa sakit karena di tengah tidur yang amat lelap, teebangun tanpa sengaja.


"Jam berapa, Kak?" tanya Radha dengan suara serak dan menggaruk-garuk lehernya.


"Jam 4, kenapa memangnya?"


"Udah sore juga ternyata," ujar Radha hendak beranjak dari tempat tidur, namun secepat mungkin Gian tahan karena mata Radha yang masih begitu merah.


"Jangan paksakan, nanti sakit kepala."


Memang, hal semacam ini dapat menyebabkan sakit kepala. Dan Gian tak mau istrinya merasakan itu, karena akan berpengaruh untuk kesehatannya hingga beberapa hari.


"Aku haus, mau minum bentar."


"Diem, Kakak yang ambilin."


Gian melarangnya bahkan untuk turun, sungguh aneh. Bahkan ketika pulang, Gian menggendongnya meniti anak tangga. Bergerak pun Gian batasi, terutama ketika Radha berangkat ke sekolah.


"Kenapa sih dia?"


Masih menjadi tanya bagi Radha, bukan karena Gian berlebihan atau apa. Hanya saja, apa yang Gian lakukan memang lebih over dari biasanya. Melirik ponsel Gian yang terlihat tak ada harga dirinya itu, Radha meraihnya.


"Dia kenapa jadi hobi nggak angkat telpon orang sih."


Memeriksa banyaknya panggilan yang tak Gian jawab secara sengaja. Dan di jam itu, Radha mengetahui bahwa Gian sama sekali tak sedang sibuk.


"Ra? Ini minumnya."


Radha yang kaget dengan hadirnya Gian melemparkan asal ponsel Gian hingga memancing kecurigaan suaminya.


"Kenapa, Ra? Ada yang telpon Kakak atau kenapa?"


"Enggak, cuma liat doang tadi." Radha tak menunjukkan kegelisahannya yang merasa aneh dengan banyaknya nomor tanpa nama menghubungi Gian.


"Hm, akhir-akhir ini banyak nomor yang sama sekali tidak Kakak kenal menghubungi terus menerus, apa kamu pernah kasih nomor Kakak ke temen kamu, Ra?" tanya Gian serius, karena memang hal ini sedikit mengganggunya, karena bukan hanya satu, tapi banyak sekali.


"Enggak, temen bisnis Kakak mungkin, atau siapa kan di kartu namanya ada nomor Kakak." Dugaan paling benar menurut Radha ya ini.

__ADS_1


"Semuanya tanggung jawab Reyhans, Ra ... nomor Kakak sifatnya pribadi, sisanya Reyhans yang atur."


Sungguh aneh, karena Gian tak sembarang memberikan nomor ponsel untuk siapapun. Karena baginya, nomor ponsel adalah privasi utama yang hanya boleh ia berikan pada orang-orang yang ia kehendaki saja.


__ADS_2