Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Berjalan Di Atas Luka (Nya)


__ADS_3

Matanya masih terasa berat, percikan air yang menyapa lembut wajahnya terasa dingin. Cepat sekali, bukankah dirinya baru saja tidur beberapa saat lalu? Ehm mungkin ini mimpi, bunga tidur karena memang suasana di sini begitu dingin.


"Kak."


Sejak tadi Radha mencoba, namun suaminya tertidur begitu lelap. Mungkin terlalu lelah, dan Radha tak paham kapan suaminya tertidur tadi malam.


Tak kehabisan cara, Radha menutup hidungnya berharap pria itu akan segera membuka mata. Karena sejak tadi, apapun cara yang Radha lakukan hanya berhasil membuat Gian bergerak sedikit karena merasa terganggu.


"Kak," panggilnya lagi, sembari tak berhenti berusaha menggoyangkan bahu Gian.


Radha menghela napas pelan, ia telah banyak memberikan waktu untuk Gian melanjutkan tidurnya walau matahari telah beranjak naik. Bahkan dirinya telah selesai membersihkan diri, dan itu tidak sebentar.


Bukannya ia tega, tapi tidak mungkin jika Gian harus melewatkan sarapan pagi ini. Jelita telah memanggilnya beberapa menit lalu, namun karena tak ada respon dari putranya, wanita itu kembali tanpa mengatakan apa-apa.


Merasa kehabisan stok sabar, Radha memilih menyerah. Ia terdiam sejenak dan masih memandangi wajah teduh suaminya yang terlihat lelah. Tidak!! Radha tak ingin liburan yang mereka lakukan hanya di habiskan semata-mata untuk tidur.


"Kakak!! Bangun, gempa bumi!!."


"Hah?"


"Gempa bumi!! Bangun, Kak!! Bawa bantalnya cepat!!"


"Apa? Mana gempa?"


Teriakan Radha cukup kuat, hingga membuat Gian cepat-cepat bangun dari tidurnya. Napasnya tak teratur, teriakan Radha membuatnya bergetar, dengan wajah ngantuk dan nyawa yang masih ia kumpulkan Gian berlari dan membuka pintu dengan kekuatan maksimal.


"Ra??"


Tersadar, bahwa Radha tak mengikuti langkahnya. Menatap penuh tanya, dengan memeluk bantal yang secara tak sengaja lantaran spontan mengikuti perintah Radha beberapa saat lalu. Ia terlihat pucat, matanya membulat dan napasnya masih tak teratur.


"Kau ... astaga." Tak habis pikir, Gian sudah sepanik itu sedangkan Radha hanya mengulum senyum, benar-benar di luar kebiasaannya.


"Radha!!!" teriak Gian menahan kesalnya, jika saja Radha laki-laki, sudah pasti ia akan memukul istrinya hingga pingsa.


"Apa?" Radha terbahak, semarah apapun Gian pagi ini takkan membuatnya takut sedikitpun. Pada faktanya, ia masih membayangkan betapa lucunya Gian panik dan terbawa suasana pagi ini.


"Huft, bagaimana jika itu sungguhan? Lucu bagimu kah?"


Tidak marah, ia hanya masih tak habis pikir kenapa istrinya seusil itu. Tawanya begitu renyah di telinga Gian, meski sekesal itu ia hanya bisa tersenyum pagi ini.

__ADS_1


"Ya jangan dong, kalau gempa beneran ...."


"Apa?"


Bugh


Tanpa pikir panjang, Gian melempar bantal yang ada di pelukannya. Tepat mengenai wajahnya, sejak tadi tawanya tak usai. Bahkan makin menjadi dan Gian khawatir istrinya akan kesulitan bernapas sebentar lagi.


"Cukup, Ra, habis napasmu nanti."


"Ehm, ehem ...."


Ia menetralkan suasana, Radha mengibaskan tangannya. Wajahnya terasa panas lantaran tertawa terlalu banyak, bahkan kini ia berkeringat.


Rambutnya masih basah, namun rasanya ia ingin mandi lagi. Melihat wajah Gian sekali lagi membuatnya tertawa, dan memang semudah itu bagi Radha untuk menciptakan tawanya.


"Udah?"


"Iya, udah."


Jawabnya mengangguk mantap, Gian menghampiri dengan langkah lesunya. Wajah datarnya terlihat masih kesal, namun ia tak bisa marah sedikitpun.


"Morning!!"


Sok ramah, Gian menyapa setiap orang di sana. Tak ada satupun wajah yang ia sapa menjawab hal yang sama. Terutama Jelita yang hanya menarik bibir atasnya, tak menyangka kenapa putranya agak sedikit tak beres.


"Morning?"


"Iya, Ma, kenapa?"


"Kau bangun jam berapa, Gian?"


Radha yang sejak tadi berada di belakang suaminya hanya diam, jika Jelita tahu semalam jam berapa Gian tidur jelas akan menjadi petaka. Tentu saja pikiran mertuanya akan bercabang kesana kemari, pikirnya.


"Ahaaa, kalian?"


Nyatanya, apa yang Radha takuti tetap terjadi juga. Benar saja, tingkah usil Gian yang seakan menyembunyikan hal dari Mamanya membuat Jelita mantap akan pikirannya.


"Gimana-gimana?" antusias Jelita mengalahkan panitia lomba 17 an.

__ADS_1


"Sukses dong, Ma."


"Haah? Kamu gak bercanda kan, Gi?"


"Gi?" Raka tersedak, pembicaraan dua orang itu membuatnya bergidik.


Raka yang berada tak jauh dari sana ikut bicara, karena yang Jelita anggap kabar baik adalah ketakutan tersendiri bagi Gian. Kembali lagi, jika ia ingat bagaimana kisruhnya putra dan menantunya tadi malam ia takut Radha tak baik-baik saja.


"Kenapa, Pa?"


"Radha, kau baik-baik saja?"


Radha tak punya jawaban, ia heran kenapa Raka yang panik. Ia mengangguk karena memang ia baik-baik saja, tak ada yang salah bahkan sangat baik.


"Kau tidak bohong?"


"Maksud Papa apa? Papa liat dong, Zura bahkan terlihat sangat bahagia hari ini, iya kan Sayang?"


Sontak, Haidar yang baru saja masuk menghentikan langkahnya. Ia terpaku pada sosok yang berada di dekat sang Kakak, kenapa ia semakin cantik dan menawan di mata Haidar.


Matanya terkunci, namun seketika yang ia pandang berpindah ketika Gian meraih tangan Radha. Dia kehilangan kesempatan itu, manakala ia semakin sakit mendengar kebahagian Jelita dengan bahasan yang sama sekali tak mengenakan di hati Haidar.


Kembali ia ingat, foto yang tadi malam Gian bagikan untuknya. Ia mengepalkan tangan, cintanya dalam genggaman pria lain jelas membuatnya kalut. Gian, semakin membuat panas keadaan, bahkan minum susu pun harus di gelas yang sama dengan Radha.


Kekanakan sekali pria itu, tanpa peduli Haidar memilih berlalu melewati dua orang itu. Walau Jelita beberapa kali memanggil namanya, tak sedikitpun ia gubris, terlalu lama berada di sana membuatnya panas.


"Haidar." Gian megeluarkan suara lantangnya, entah masalah apa yang akan ia timbulkan kali ini.


"Apa?"


"Jangan lupa makan, kau terlihat kurusan."


"Terima kasih!!"


"Lah, dia marah, Haidar kenapa, Ma?"


Dalam hatinya berkata, ia menang lagi. Sok polos seakan khawatir dengan kondisi adiknya, padahal ia sangat suka melihat Haidar bahkan terlihat sesak siang ini.


............... α©α®

__ADS_1


__ADS_2