
Jerit Radha membuat Gian mengurungkan niatnya, ia terlampau jauh dan bahkan tak mengenali dirinya sendiri. Tangis sang Istri yang benar-benar semakin menjadi membuat Gian terhenti, tertahan dan kini ia melepaskan Radha perlahan.
"M-maaf, Ra, kakak terlalu jauh."
Susah payah Gian berusaha menahan gejolak dalam dirinya, sadar bahwa apa yang ia lakukan dapat menyebabkan trauma dalam diri Radha nantinya. Gian menggigit bibirnya kuat-kuat dan kini berpindah ke samping istrinya, memeluk erat dan mengelus pelan bahu Radha yang kini tampak polos.
"Ya Tuhan, apa yang kau lakukan, Gian."
Sesalnya memberontak, mengapa ia bahkan berubah layaknya pelaku kejahatan seksual yang tengah memaksa korbannya. Dalam pelukannya, Radha sesenggukan dan napas yang masih tak sebaik seharusnya.
"Maafkan kakak, Sayang."
Perlahan Radha mulai tenang, hanya isak tangisnya masih terdengar meski tak terlalu menyedihkan seperti sebelumnya. Gian tak dapat berkata lain selain maaf, niatnya marah hanya untuk membuat Radha jera, bukan trauma.
Pria itu hendak meraih selimut untuk membalut tubuh mungil istrinya, sejenak pria itu menarik sudut bibir kala jemari Radha masih terus menggenggam kemejanya. Meski Gian sekasar itu, Radha masih menganggapnya orang yang dapat melindunginya.
"Bentar, Ra," ucapnya memberi pengertian bahwa ia takkan lama.
Gian kembali menenangkan istrinya dengan peluk hangat dan lembut itu, dalam keadaan seperti ini egonya harus benar-benar ditahan. Wajah sendu yang kini terpejam namun Gian tahu wanitanya itu belum tidur, ia mengecup pipi mulusnya yang terasa dingin lantaran terlalu banyak di lalui air mata.
"Tidurlah, kakak tidak akan menyakitimu," ujarnya lirih menatap lekat bibir ranum sang Istri yang tadi sempat ia sakiti.
"Masih sakit?"
Ia bertanya sembari menyentuh pelan bibir Radha dengan jemari kirinya, anggukan pelan istrinya merupakan jawaban paling sakit yang membuat ia merasa bersalah luar biasa.
"Kau mau balas?"
Ucapan itu memang ia lontarkan agar Radha dapat membalaskan sakitnya, bukan modus karena ingin mendapat hal lainnya. Radha menggeleng, napasnya kini lebih tenang dan perlahan hanyut dalam dalam haluan.
Gian hendak beranjak, hal yang harus ia tuntaskan ini bisa jadi akan membuatnya sakit kepala. Baru hendak bangun, Radha mengeratkan tangannya, sejak tadi ia merubah genggaman di kemeja itu menjadi pelukan di tubuh suaminya.
"Jangan pergi, Kak."
Gian tersayat, tampak jelas jika Radha memang takut. Nyatanya benar, kalimat luka dan penyembuh dalam satu waktu itu benar adanya. Radha tak punya tempat berlindung lain saat ini kecuali dia, dan Radha hanya meminta Gian untuk tetap di sampingnya.
__ADS_1
"Sebentar, Sayang, kakak tidak akan lama."
Mencoba meminta pengertian Radha, ia butuh pelepasan segera namun mangsanya membuatnya tak tega. Radha membuka matanya perlahan, mencoba menatap pelan manik suaminya yang beberapa saat lalu tak ia kenali.
"Kenapa? Kau mau ikut?"
"Kakak tidak bisa tetap di sini?"
Gian memejamkan mata, "Radha berhenti memancingku," batinnya menahan sesaknya. Wanita itu kini duduk dan menarik selimutnya hingga leher, bukan karena takut semata tapi memang malu tengah menguasai dirinya.
"Tidak bisa, kau mau Kakak gila lagi?"
Radha menggeleng, ia terdiam sembari menatap lekat wajah kacau suaminya yang berusaha ia tutupi dengan begitu tenang tapi masih kentara.
"Tidak, baiklah aku akan menunggu."
Sembari menatap sekeliling ruangan, Radha mengizinkan langkah Gian hendak kemana. Pria itu menghela napas berat, bahkan mata itu sebegitu takutnya menatap sudut kamar, padahal yang membuatnya takut justru tak bisa ia lepas, batin Gian begitu herannya.
Tak bisa menahan lebih lama, Gian beranjak ke kamar mandi dengan kecepatan kilatnya. Ia akan menuntaskan semuanya, sendiri tanpa menyakiti sang Istri.
"Kenapa dia selama itu?"
Hampir satu jam Radha menunggu, kini kamar itu kembali tertata seperti sebelumnya. Perlengkapannya bertebaran kemana-mana karena ulah tangan Gian. Tinggal lah ia berpikir bagaimana nasibnya esok hari, roknya hanya satu di rumah ini, sedangkan itu sudah tak dapat di selamatkan lagi.
"Huft, dasar gila."
Radha menatap pantulan dirinya dari cermin besar itu, sungguh luar biasa. Bibirnya sudah di pastikan luka dan tentu akan menjadi sariawan berminggu-minggu, pikirnya.
"Awww, perih, Pa."
Aduan yang biasa ia berikan pada Papanya kini kembali terucap, meski dari maniknya kesedihan itu kembali terungkap. Radha kini beralih menyisir rambutnya, Gian benar-benar berhasil membuatnya seperti singa.
"Belum apa-apa gue dah begini ya Tuhan."
Ia ingin mengucir rambutnya sesimpel mungkin, pakaiannya kini hanya mengenakan kaos oblong sementara karena emang ia belum mandi. Dan keringat yang membasah di tubuhnya cukup membuatnya risih dan tak nyaman.
__ADS_1
Ceklek
Radha menghentikan gerakannya, suara pintu kamar mandi itu membuat perhatiannya beralih. Sang Suami kini muncul dari sana dengan handuk yang menutupi pinggul hingga lututnya.
"Ra?"
Gian menghampiri istrinya sembari mengusap rambutnya dengan handuk kecil di tangannya. Berdiri di samping Radha yang kini masih sibuk dengan surai hitamnya.
"Ka-kakak kenapa kesini?"
Ia menarik sudut bibir, istrinya masih terlihat takut melihatnya. Mungkin terbayang akan hal gila yang tadi ia lakukan. Gian mengambil alih apa yang Radha lakukan, menguncir rambut sang Istri dengan keahlian yang bahkan lebih buruk dari anak SD.
Berkali-kali, hal yang harusnya telah selesai kini semakin lama. Wajahnya tampak kesal karena rambut Radha tak rapi jua. Hingga ia mengikatnya asal dan membuat Radha menghela napas kasar.
"Eeeits, jangan diubah."
Ia menahan jemari Radha yang hendak membongkar mahakaryanya. Pria itu tak rela jika jerih payahnya harus Radha ambil alih.
"Siapkan bajuku sana," ujarnya mendorong pelan bahu Radha agar segera menyiapkan pakaiannya.
Memang nyata benar-benar sesukanya, sebegitu cepatnya Gian berubah. Radha masih memperhatikan gerak gerik pria itu di depan kaca. Masih tak ia duga bahwa pria itu dapat berbuat gila lebih dari apa yang ada di bayangannya.
"Ini, Kak."
"Terima kasih, jangan menunduk ... aku bukan atasanmu."
Radha mengangkat wajahnya, pria itu menatapnya begitu dalam dengan senyum hangat yang ia berikan. Paham betul itu adalah usaha Gian meminta maaf secara nyata pada dirinya.
"Mandi, Ra, tapi jangan terlalu lama."
Tanpa ucapan Radha hanya membalasnya dengan anggukan kecil disertai senyum singkat. Gian tak melepaskan pandangannya dari punggung Radha yang kini menjauhinya.
"Sabar, Gian, tunggu beberapa waktu lagi."
Menatap dirinya, Gian tersenyum begitu dalamnya. Menghela napas lega, ia bersyukur mampu menahan diri sebelum hal itu benar-benar merusak mental Radha.
__ADS_1
......... Bersambung🕊