Suamiku Mantan Calon Ipar

Suamiku Mantan Calon Ipar
Ganti Profesi


__ADS_3

"Kenapa dia malah jadi guru ya Tuhan ...."


Radha frustasi bukan main, bahkan lebih frustasi dari ujian dadakan yang kerap bu Retno lakukan. Ia menggigit bibir sembari kembali duduk dengan tangan yang sudah penuh dengan keringat dingin.


Pria itu menjadi pusat perhatian dalam sekejab. Tidak ada celah yang menunjukkan ketidaksempurnaan secara visual darinya.


"Silahkan Pak Dirgantara."


"Ganteng kan, huaaaaah ... umurnya berapa ya? Rela jadi selingannya gue mah!!"


Bisik kanan dan kiri mulai terdengar, Radha hanya mencebik kesal kala ia mendengar secara nyata pujian dari teman sekelasnya untuk Gian.


"Dirgantara Avgian, untuk sementara saya akan menggantikan buk Retno selama beliau cuti, mengerti!!"


Ketegasan dan tatapan dinginnya seketika membuat para siswa terdiam. Tidak ada yang berani berkutik, dalam satu kilatan mata Gian berhasil membuat para siswi centil itu terdiam.


"Cuti?"


Tentu saja tak lama berselang dari perkenalan singkat Gian akan muncul pertanyaan itu, Retno terkenal sebagai guru sepuh yang begitu setia mengabdi di sekolah itu, dan tiba-tiba saja cuti dan digantikan seorang Gian yang tak tahu asal usulnya.


"Iya, cuti, apa ada masalah?"


Gelengan pelan sembari menggigit pelan bibirnya menjadi jawaban terbaik bagi para siswa saat ini, mungkin Gian bukan seorang guru yang bisa di ajak berkompromi dan bercanda seperti Rigo, sang guru olahraga.


"Saya serahkan pada Anda, Pak."


Kepala sekolah berbadan berisi dan penuh wibawa itu kini keluar kelas. Meninggalkan Gian yang kini memeluk para siswanya dengan ketakutan. Suasana begitu dingin, bukan karena suhu udara, melainkan adanya pria tak asik itu.


Gian berjalan menuju meja guru dan mengepalkan tangannya sebagai tumpuan di meja guru. Kemeja yang sengaja ia gulung hingga sikunya membuat pria itu semakin tampan.


"Ehem,"


"Ketua kelas mana?"


Layaknya seorang guru baru, Gian mampu berbaur dan menempatkan diri. Belum ia tatap sedikitpun Radha yang duduk tepat di depannya, Gian benar-benar profesional.


"Saya, Pak."


"Kenapa kau duduk di sana? Pindah!!"

__ADS_1


Sekelas tentu saja bingung, ada apa dengan guru baru. Selama beberapa bulan sejak tempat duduk di atur oleh wali kelas, baru dia yang protes.


"Tapi kenapa, Pak?"


"Ck, jangan banyak bicara, telingamu masih berfungsi dengan baik kan?!!"


Bagaimana tidak kesal, Rendra yang duduk di sebelah Radha terpaksa pindah lantaran perintah menyebalkan sang guru baru. Dengan langkah kaki tak suka, Rendra mencari bangku kosong lainnya.


"Kau yang di sana, pindah ke depan."


Saat ini, seisi kelas justru bertanya Gian sebenarnya menggantikan guru Matematika atau Bimbingan Konseling. Tatapan membunuh yang ia berikan pada siapa saja di kelas itu benar-benar menimbulkan tanya.


"Baik, perhatikan. Saya tidak menyukai basa-basi karena bagi saya waktu adalah uang dan uang adalah_"


KRIK KRIK


Ia lupa, ini bukan perusahaan.Tentulah bukan tempatnya ia melakukan perkenalan semacam itu, beberapa siswa yang memiliki selera humor sebegitu recehnya hanya susah payah menahan tawa.


Sedangkan Radha hanya terdiam menatap heran Gian yang menyembukan wajahnya karena malu yang tak dapat ia bohongi. Antara gugup atau terlalu bersemangat, Gian hanya memukul angin dengan gerakan tertahan.


"Diam!! Kembali fokus anak-anak."


Suasana kelas mulai kondusif, dengan penjelasan yang begitu teliti Gian menyita perhatian para siswa. Kesalahannya di awal bahkan termaafkan begitu saja, kesempurnaan pria itu begitu terlihat semakin jelas.


"Dia benar-benar luar biasa," puji Radha tanpa sadar kala menatap Gian yang tengah mengoceh di depannya.


******


"Ra, pulang bareng gue ya?"


Abian, telah siap dengan motor gedenya di depan Radha. Hari ini bahkan ia membawa dua helm yang sengaja ia persiapkan untuk Radh Seorang.


"Gak, Bi, gue naik ojek aja ya."


Radha menolak dengan alasan klasik yang tak mungkin ia terima, pria menatap kecewa Radha di depannya. Lagi dan lagi ia menolak, pun hanya untuk pulang bersama, Radha menolak begitu saja.


"Ayolah, Ra, kan udah lama ga sama gue."


"Eng-enggak, Bi, beneran gu_"

__ADS_1


Tiit tiiit


"Zura,"


Sudah ia duga, adanya Gian di sekolah ini membuatnya semakin tak bebas. Radha semakin terjebak, jangankan dengan laki-laki. Bersama teman dekatnya saja mungkin akan berjarak.


Tanpa perintah, Radha berjalan dan berlalu dari hadapan Abian. Jelas saja hal itu menimbulkan tanya, ia tak mampu berkata lantaran ia mengenal sosok Gian sebagai seorang Kakak bagi Radha.


"Dasar Om-om rese," umpat Abian memukul angin.


*******


"Kak,"


"Ehm?"


Deru mobil bahkan terdengar lebih merdu daripada alunan musik yang ia dengar di ponselnya. Radha tak dapat menahan rasa penasarannya lebih lama, hal semacam ini harus ia pertanyakan.


"Kenapa Kakak tiba-tiba ganti profesi?"


Pertanyaan spontan Radha membuat Gian tersedak angin, bisa-bisanya ia berpikir Gian benar-benar berganti profesi.


"Ehem, bosan saja."


"Oh, lalu bagaimana dengan bu Retno?"


Ia diam sejenak, pria itu sejenak mencari jawaban agar tak membuat runyam masalah. Pasca amarahnya lantaran Radha sampai sakit akibat menyelesaikan tugas darinya membuat Radha sakit berakhirlah karir bu Retno di tangan Gian.


"Bu Retno? Aah dia ... wanita itu butuh istirahat, Ra."


Ia mengangguk tanda mengerti, baginya pria itu takkan berbohong. Karena di lihat dari perawakannya memang ia telah lanjut usia, amarah setiap hari juga membuat jiwanya semakin renta.


"Istirahat?"


"Iya, kamu tenang saja, Kakak memberikan tempat terbaik untuknya," ujar Gian dengan senyum tipis hampir tak terlihat, senyum penuh tanya dalam benak Radha.


Gian melirik istrinya melalui ekor mata, wajah imut Radha membuatnya tak menyesal menggantikan Retno sementara waktu. Perjalanan bisnis yang Raka perintahkan rela ia tunda demi menyelesaikan masalah istrinya, lebih tepatnya ia hanya ingin memberikan pelajaran bagi tenaga pengajar yang menurut Gian tak berperasaan.


Meski ia sadar betul Raka akan semarah apa, bisa saja berdampak pada karirnya, hanya saja demi Radha ia rela melakukan hal tak wajar itu. Mengeluarkan banyak uang demi bisa masuk kelas Radha adalah hal konyol yang paling gila bagi Gian.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2