
Randy dan Gian tampak turun bersamaan, dan keduanya telah tampak lebih santai. Mungkin karena situasi telah terasa semakin aman dan terkendali, toh Caterine juga sudah berasamanya, jadi Randy hanya fokus merawat putrinya itu.
"Eumm, wangi sekali, mereka masak apa ya."
Sungguh tajam, bahkan Randy yang tengah mempertanyakan perihal perusahaan tak lagi Gian jawab. Pria itu kini berlalu dan mencari sumber aroma khas yang menggugah seleranya itu.
"Ma? Sendirian?"
Gian mengerutkan dahi, pasalnya di dapur hanya ada dia sendiri. Tanpa Radha ataupun Caterine di sana, jelas saja Gian mencari-cari.
"Iya, cari Radha kah?"
"Iya lah, memang aku cari apalagi," ujarnya yang bahkan lupa jika tujuan awal dia menemui mamanya justru untuk bertanya apa yang kini tengah mamanya masak.
"Di belakang, dia berenang sama Caterine, udah hampir setengah jam nggak balik-balik," jelas Jelita dengan santai namun ia sedikit khawatir sebenarnya, pasalnya ia tak mengetahui apakah Radha bisa berenang atau tidak.
"Mama?!! Kenapa nggak dilarang?"
Gian panik bukan main, segera ia berlari meninggalkan Jelita yang kini menatap punggung putranya yang kabur sebelum menyelesaikan pembicaraan.
"Hm, baru awal menikah, Kak Raka juga begitu dulu."
Randy berucap santai, ia berpikir jika saat ini mungkin Gian tengah dimabuk asmara dan tak bisa lepas dari Radha, persis seperti Raka ketika dahulu tak mampu lepas dari Jelita.
"Aku rasa dia memang beda, Ran ... aku juga heran dia kenapa seperti itu."
"Jangan heran, Gian punya ketakutan di masa lalunya, jadi wajar saja jika sekarang ia setakut itu istrinya kenapa-kenapa," tutur Randy menghela napas pelan, karena kini ia benar-benar rasakan bagaimana ia memiliki ketakutan amat besar kala musibah yang menimpa Caterine.
"Mungkin, hm ... semoga saja."
"Ente ngapain? Rajin banget lagi masak mulu, berasa punya istri."
Randy berucap asal, karena memang Jelita benar-benar berperan menjaga Caterine dan menyiapkan segala sesuatu untuk dia. Walau hal ini sempat membuat Raka khawatir lantaran kesehatan Jelita yang ia takutkan akan menurun.
"Menikahlah, Randy ... Caterine butuh Mama sambung sepertinya," ujar Jelita tanpa menatap Randy, meski demikian ia benar-benar serius mengatakannya.
"Sama siapa? Aku takut jika nanti menikah hanya memperdalam luka, lebih baik sendiri saja, Kak."
"Kalau misal ada jodohnya mau?"
Jelita bertanya serius, mengingat sang adiknya menduda sejak lama. Sungguh mubazir wajah tampan itu, pikir Jelita.
"Tergantung," jawab Randy biasa, sampai tua masih saja jual mahal, pikir Jelita.
"Maunya umur berapa? Seusia denganmu atau lebih muda?"
"Heih? Kenapa tiba-tiba wawancara segala, mau cariin?" Randy menarik sudut bibir, ia berdesir begitu membahas hal semacam ini.
__ADS_1
"Nggak sih, cuma nanya."
Jelita tak yakin sebenarnya, karena saat ini keadaan telah berbeda. Caterine berada dalam perlindungan Randy, dan jika hendak mencarikan Randy istri tentu harus sosok wanita yang mampu menerima dan menjaga Caterine layaknya anak sendiri.
"Dih, sialan."
Randy juga berlalu, sepertinya mengikuti langkah Gian lebih baik. Dan juga sekalian, mengingat Caterine sudah sangat lama berenang, khawatir putrinya malah masuk angin.
-
.
.
.
"Ahahaha yang cepet dong, Kak."
Sungguh pemandangan paling menarik, apa yang ia duga nyatanya berbeda. Putrinya sudah naik dan mengenakan handuk untuk menyelimuti tubuhnya.
Sedangkan di kolam, justru tengah di isi pasangan pengantin yang kian hari kian mesra tiada habis, Randy menganga begitu melihat Gian berenang hanya mengenakan boxer minionnya tentu saja. Dia tidak malu atau bagaimana, pikir Randy.
Caterine yang sudah dingin hanya tertawa sesekali melihat tingkah Radha yang mengeluarkan segala gaya mengelilingi Gian yang tampak kebingungan hendak menangkap istrinya.
"Haha mereka lucu sekali ya, Pa," ujar Caterine dengan manik sendu namun senyumnya sangat tulus, Randy paham saat ini putrinya sangat lemah, ia kerap menangis walau yang ia lihat adalah sebuah hal yang lucu.
"Papa pernah begitu?" tanya Caterine asal yang ternyata membuat hati Randy terkecat sesaat.
Pernah, tapi bukan bersama Sheina. Melainkan Maya, sang mantan terindahnya. Tak mungkin Randy jelaskan, karena hal ini adalah rahasia hidupnya sendirian.
"Kok senyum-senyum, Pa? Pernah dong ya."
"Iya, gitu ... tapi nggak persis sepetri mereka," tutur Randy menggeleng pelan.
Gian belum sadar saja jika dirinya berada di tempat ini dan melihat Radha yang mengenakan pakaian minim, jika pria itu tahu mungkin matanya akan di congkel, pikir Randy.
"Zura, belum capek?"
Istrinya yang berenang tapi dia yang justru lelah. Gian mulai kedinginan, tanpa pemanasan ia masuk ke dalam kolam ini hanya karena kaget melihat pakaian istrinya sudah terkapar tak berguna di lantai begitu saja.
Dengan alasan takut Radha tenggelam mengingat tingginya yang cukup minim, Gian meminta Caterine untuk naik sementara.
"Belum, Kakak duluan aja kalau mau, aku masih mau."
"Dia belajar beranang dari mana, persis ikan sapu-sapu," omel Gian tak habis pikir kapan Radha akan berpikir untuk naik.
"Bibir kamu udah biru, Sayang, udah ya."
__ADS_1
Gian tak bisa lagi membiarkan istrinya bebas bernenang kesana kemari, Gian menarik Radha ke tepi, tentu saja harus dengan acara kejar-kejaran dulu baru dia mau.
"Dingin kan?"
Melihat istrinya yang kini gemetar dan jemarinya mengkerut Gian ingin tertawa sepuasnya, Radha tak sadar atau bagaimana, padahal matanya sudah merah.
"Belum dingin ah, bentar lagi, Kak ... enak soalnya."
"Jangan berlebihan, Zura, masuk angin nanti."
Radha mencebik, sepertinya kalaupun ia mengamuk takkan Gian biarkan. Kedatangan pria ini benar-benar mengganggu kesenangannya, belum lagi sebelumnya Gian bahkan.meminta Caterine untuk memberikan dia kebebasan bersama Radha.
"Ehem, ini handuk, istrimu kedinginan."
"Heeih!! Sejak kapan om ada di sini?"
Sudah Randy duga, Gian akan kalang kabut jika sadar akan kehadirannya. Pria itu mendekap tubuh Radha agar tak dapat Randy tatap, dan bodohnya sejak tadi Randy sudah lihat.
"Om liat apa? Sana, jangan macam-macam."
"Aduh, Gian ... aku bahkan sudah pernah melihat dirinya versi yang lain, kau tenang saja."
Benar kata Jelita, bagaimana Raka dulu hanya beberapa persen dari Gian sekarang. Jika Raka hanya akan cemburu pada orang yang berpotensi membuat istrinya tergoda, ataupun masih dalam katogeri wajar. Namun Gian tidak demikian, mungkin semua pria di dunia ini akan ia ajak ribut jika melihat istrinya, pikir Randy.
"Jangan keseringan ya, mata kamu merah banget, Ra."
"Iya, kan gak tiap hari."
"Tapi, kamu nggak bilang jago berenang, banyak bakat terpendam ternyata ya," puji Gian dengan makna yang sesungguhnya, karena yang ia saksikan tadi benar-benar membuatnya kagum. Dan hal ini baru Gian ketahui, karena selama di rumah kolam renang seakan tak berguna bagi Radha.
"Aku dulu atlet renang, Kak, tingkat nasional malah."
"Hah? Kamu berenang pakaiannya gimana?" Mulai, sudah Radha duga pertanyaan Gian hanya ini.
"Ya pakai baju renang lah," ujar Radha dan berhasil membuat mata Gian membulat sempurna.
"What?!! Yang nonton banyak?"
"Namanya lomba, ya banyak lah."
"Ra, kok jahat sama Kakak?" tanya Gian dengan wajah memelas seakan tengah menjadi korban kerasnya dunia.
"Jahat apanya, Kakak, nggak lah. Itu semua aku lakuin demi Papa, aku cuma mau Papa bangga waktu itu, mana ada aku mikirin, Kakak, kenal aja belum."
"Gitu ya?"
"Hem, gitu ceritanya." Gian mengangguk mengerti, skillnya juga lumayan untuk membuat suami bangga berenang di lautan madu, pikir Gian.
__ADS_1